|
|
Dari bagian 2 Peristiwa ketiga,
ZIARAH MENCARI BERKAH Seharusnya Mas Ganjar lebih mensyukuri hidupnya. Keadaan ekonomi
keluarga kami boleh dibilang tidak ada kekurangan. Rumah dan
perabotannya, mobil, beberapa hektar tanah dan sawah di berbagai lokasi
telah kami miliki. Sementara usahanya tetap berjalan baik walaupun
keadaan ekonomi umumnya sedang mengalami kesulitan yang besar. Tetapi
dia selalu merasa kurang, selalu resah dan gelisah. Sampai-sampai dia
nggak pernah lagi menyempatkan untuk menggauli aku sebagai pengisi
kerinduan serta menyalurkan libidoku yang relatip masih tinggi ini. Aku
sih mencoba memaklumi sepanjang upaya untuk meraih harta yang lebih
banyak lagi itu dilakukan secara nalar yang sehat, bukan dengan yang
dia selalu tempuh selama ini.
Setiap ada masalah dia bukan memperbaiki cara kerjanya dan berdo'a
tetapi dia pergi ke dukun-lah, orang sakti-lah, tidur di kuburan-lah,
berendam di kali-lah. Aku sungguh tidak mengerti dari mana dia belajar
cara-cara seperti itu. Minggu depan ini rencana dia akan ziarah ke
sebuah makam keramat Mbah Rogo di desa Melati di lereng Gunung Merapi.
Dia minta aku menemaninya. Menurut Mas Ganjar yang diberi tahu oleh
"orang tua"nya yang diberi tahu oleh "orang tua"nya lagi yang diberi
tahu oleh "orang tuan"nya lagi lagi dan seterusnya, Mbah Rogo adalah
prajurit Diponegoro yang kalah perang kemudian bertapa di lereng Gunung
Merapi tempat dia dimakamkan kini. Karena kesaktiannya banyak orang
yang punya hajat berziarah tidur di samping makamnya. Dia bilang bahwa
para jenderal, para menteri, para gubernur dan bupati yang meraih
sukses pasti sebelumnya ziarah dan tidur di samping makam Mbah Rogo
itu. Aku tertawa bingung dan geli, katanya sakti kok kalah perang. Dan
tak lagi bisa tertahan ketawaku meledak saat Mas Ganjar juga berniat
tidur di samping kuburan Mbah Rogo.
Kalau soal jalan sih, aku senang-senang saja, hitung-hitung
rekreasi, apalagi ke gunung, yang sudah jadi hobby petualanganku sejak
SMP dulu. Setiap liburan sekolah mainanku nggak lain camping ke gunung,
sampai teman-temanku menjuluki aku sebagai "peri gunung". Aku bilang
jangan ajak aku di kuburannya, nanti malahan aku masuk angin jadi
merepotkan. Mas Ganjar menghiburku, bahwa walaupun di lereng Gunung
Merapi, di desa Melati itu sudah didirikan hotel berbintang karena para
kerabat para jendral, menteri dan macam-macam tadi biasanya ikut
mengantarkan mereka yang berniat ziarah. Aku dijanjikan untuk nginap
saja di hotel berbintang itu.
Singkat kata, pada jam 5 sore di suatu hari yang telah ditetapkan
sebuah mobil Kijang di mana Mas Ganjar bersama istrinya, aku, nampak
memasuki gerbang desa Melati. Mas Ganjar yang nyopir seharian itu tidak
menunjukkan kelelahan. AC mobil kami matikan karena udara desa ini
sangat sejuk dan segar. Bahkan aku merasa kedinginan.
Dengan penuh semangat dia menuju alamat rumah dimana temannya yang
juga datang dari Jakarta telah lebih dahulu tiba dan menunggu di sana.
Sesudah tanya sana-sini akhirnya kami memasuki halaman sebuah rumah
joglo yang luas dan indah. Dan semakin indah karena dari beranda rumah
itu kami bisa menyaksikan puncak Gunung Merapi yang selalu mengeluarkan
asapnya.
Sesudah memarkir mobil kami menemui seseorang yang kebetulan berada
di situ, Mas Ganjar menanyakan apakah Mas Tardjo yang temannya sudah
berada disini. Orang tadi bergegas masuk dan tak lama kemudian keluar
disertai dua orang lain. Yang satu gagah dan tinggi besar dengan
kumisnya yang tebal melintang dan yang lain biasa-biasa saja. Mereka
menyambut hangat Mas Ganjar yang kemudian memperkenalkan aku pada Mas
Tardjo, ternyata yang berkumis melintang dan Mas Sardi penduduk asli
dari desa itu. Aku agak terganggu pada cara memandang Mas Tardjo pada
diriku. Matanya sepertinya hendak menelanjangi tubuhku. Aku mudah
tergetar dengan pandangan lelaki semacam itu. Walaupun aku berusaha
untuk tidak menunjukkan kegugupanku tak urung jantungku berdegup
kencang juga. Aku paham dan sering mengalami bahwa pada umumnya lelaki
kalau memandang aku selalu memandang dari segi tubuhku. Aku memang
tidak cantik, tetapi setiap orang baik lelaki atau perempuan selalu
memuji aku sebagai wanita yang manis dan seksi. Apalagi kalau aku pakai
celan jeans seperti sekarang ini. Sehingga aku tidak begitu heran saat
Mas Tardjo memandangi aku sepertinya ingin menikmati tubuhku.
Kemudian Mas Tardjo bersama Mas Sardi menujukkan kamar kami di
rumah itu. Aku langsung komplain pada suamiku, Mas Ganjar, yang katanya
aku akan diinapkan di hotel berbintang. Dia tidak bisa menjawab dengan
jelas kecuali bahwa hotel yang dimaksud masih dalam perencanaan.
Sebentar lagi, katanya dengan enteng. Aku jadi agak sebel.
Tetapi ketika kami memasuki kamar di rumah joglo itu seketika
sebelku hilang. Kamar ini bukan main indahnya. Dengan perabot dan
dekorasi tradisional dari jendelaku kembali aku bisa menikmati Gunung
Merapi yang mengepulkan asapnya itu. Aku langsung senang dan kerasan.
Aku keluarkan dan gantung baju-bajuku untuk ganti selama di perjalanan
ini. Sementara Mas Ganjar mengatur rencananya yang mulai malam ini akan
"prihatin"an, makan, minum dan tidur di samping kuburan Mbah Rogo
selama 3 hari 3 malam berturut-turut sampai hari Jum'at Kliwon yang
kebetulan juga malam bulan purnama yang diyakininya sebagai hari yang
paling keramat.
Sebelum pergi ke makam yang lokasi dan pucuk atapnya nampak dari
rumah joglo ini Mas Ganjar pesan kalau aku memerlukan sesuatu bisa
minta bantuan Mas Sardi yang selalu berada di joglo ini pula.
Selebihnya Mas Ganjar tahu persis bahwa aku adalah perempuan yang
sangat percaya diri karena dia adalah partnerku setiap kali kami naik
gunung dan berbagai petualangan yang lain jaman sama-sama masih remaja
di SMP dulu.
Sepergi Mas Tardjo aku duduk sendiri di pendopo dalam cahaya lampu
minyak di meja kecil di depanku menikmati sejuknya lereng Gunung Merapi
ini. Aku senang dan bahagia berkesempatan mengalami suasana indahnya
pedesaan seperti ini. Dari arah timur bulan menjelang purnama muncul di
langit cerah ini Sesekali dari kegelapan sedikit ke atas sana nampak
lelehan panas yang sangat spektakuler, itulah lahar Merapi yang terus
muntah membawa berkah dan sesekali bencana bagi masyarakat di sekitar
gunung ini. Ah, alangkah nikmatnya seandainya Mas Ganjar bukan tidur di
kuburan tetapi duduk disampingku sini sambil memeluk memberi kehangat
pada tubuhku. Terus terang hampir 2 bulan lebih dia nggak pernah
menyentuhku apalagi menggauliku. Sehari-hari pikirannya hanya dikejar
uang, harta, uang, harta, uang, harta, uang.
Tiba-tiba aku jadi ingat pandangan haus mata Mas Tardjo tadi. Aku
maklum, seorang lelaki kalau sudah lebih dari 1 minggu meninggalkan
istrinya pasti memandang siapapun atau bahkan apapun akan nampak cantik
adanya. Dan dari yang aku dengar tadi hari ini adalah hari yang
kesepuluh dia berada di desa Melati ini. Tentu saat dia melihatku
serasa melihat bidadari jatuh dari langit. Bulu kudukku berdiri,
sepertinya ada angin dingin yang meniupkan birahi di malam dining di
lereng Merapi ini. Kulihat dalam cahaya bulan sesorang bergegas
memasuki halaman joglo. Ternyata dia Mas Tardjo. Dia langsung masuk
rumah, mungkin ada sesuatu yang mau diambil dari kamarnya. Tetapi
beberapa menit kemudian aku mendengar langkah kaki memasuki lantai
pendopo dan mendekat ketempat aku duduk sendiri ini. Aku tebak pasti
dia.
"Bu Ganjar belum ngantuk? Nggak capai sesudah seharian di perjalanan?".
Kemudian dia duduk di kursi sebelah depanku. Dalam cahaya lampu
minyak ini nampak kumisnya yang tebal melintang. Dalam cahaya
remang-remang lampu minyak seperti ini aku tidak perlu menyembunyikan
wajahku yang terasa bengap karena darahku naik terdorong oleh
pikiran-pikiranku tadi dan sedikit banyak juga semakin terdorong saat
tiba-tiba Mas Tardjo, lelaki haus ini kini berada sangat dekat
denganku.
Terus terang hatiku belum pernah merasa sesepi ini. Dan yang lebih
gila lagi belum pernah jantungku bergetar seperti ini saat seorang
lelaki yang bukan suamiku ada di dekatku. Mungkin karena malam yang
dingin ini, atau karena lampu minyak yang remang-remang di pendopo ini,
atau karena cahaya bulan yang menerangi tanah basah halaman joglo ini,
atau karena gairah libidoku yang telah lebih dari 2 bulan tak
tersalurkan ini. Dan tiba-tiba rasa bahagiaku yang mengawali saat aku
duduk di pendopo ini tadi berubah jadi derita dan siksa. Rasa percaya
diriku yang tak diragukan oleh Mas Ganjar suamiku kurasakan oleng. Aku
kehilangan ketegaranku yang sering kurasakan saat-saat pendakian di
karang terjal, tak takut untuk jatuh. Kini aku takut jatuh. Bukan jatuh
dari ketinggian, tetapi jatuh dalam sepi dan kehausan yang nisbi. Tanpa
terasa air mataku menggenang di pelupuk mataku dan tiba-tiba wajahku
tertelungkup di meja kecil di depanku sambil aku menangis sesenggukan.
Tentu saja Mas Tardjo kaget. Pertanyaan yang dia lontarkan padaku tadi
kujawab dengan tangisanku.
"Kenapa bu, Bu Ganjar sakit?".
Kemudian dia menghampiriku, menyentuh bahuku, memeluknya, kemudian mengangkat agar aku tegak kembali.
"Sebaiknya Bu Ganjar istrirahat. Mari kuantarkan ke kamar Ibu".
Aku nggak tahu kenapa aku setuju saja dengan usulannya. Saat aku
dibimbingnya untuk berdiri dari kursi dan kemudian sedikit dipapah saat
menuju ke kamarku aku merasakan semacam ketenangan dari sebuah tempat
perlindungan. Mas Tardjo seakan menggantikan peran Mas Ganjar yang
seharusnya dalam saat-saat seperti ini berada di dekatku. Tanpa sadar
tanganku berpegangan pada pinggangnya dan seketika rasa hangat tubuhnya
mengalir ke tubuhku. Aku merasa kamarku yang hanya beberapa meter dari
pendopo seakan demikian jauh.
Perjalanan dalam papahan Mas Tardjo yang hanya beberapa langkah ini
seakan bermil-mil. Dan saat berada tepat di depan pintu sepertinya aku
masih ingin berjalan lebih jauh lagi, tubuhku semakin menggelendot pada
papahan Mas Tardjo yang kemudian dengan sigapnya meraih kakiku kemudian
menggendongku memasuki kamar dan menidurkan aku ke ranjang. Tanganku
yang otomatis memeluk lehernya saat dia menggendongku tak kulepaskan
ketika Mas Tardjo hendak bangkit turun dari ranjangku. Pelukan itu aku
pererat bahkan kutarik wajahnya mendekat kewajahku. Aku menginginkan
perlindungan yang lebih dari dia. Aku mencium pipinya dan kemudian
bibirnya. Aku belum pernah mencium bibir berkumis karena suamiku tidak
berkumis. Saat aku merasakan aneh pada bibirku karena kumisnya, Mas
Tardjo langsung menyambut ciumanku dengan lumatannya yang aku rasakan
sangat nikmat dan sekaligus menyejukkan gejolak birahiku. Malam itu
kami benar-benar tidak tidur dan saat pakaian-pakaian kami terlepas
dari tubuh kami juga tak sempat memakainya lagi. Menjelang matahari
terbit yang ditandai ayam berkokok di dusun Melati di lereng Merapi ini
kami tertidur telanjang dalam selimut tebal yang tersedia di ranjang
kami. Sejak hari itu, selama 3 hari 3 malam Mas Ganjar "bertapa" di
makam, aku dan Mas Tardjo terus menerus mendayung nikmat dalam samudra
nafsu birahi kami yang melanda bak badai tornado di lautan bebas.
Dalam perjalanan pulang Mas Ganjar menceritakan bahwa dia
mendapatkan wangsit dalam bentuk mimpi saat tertidur di makam. Dia
seakan didatangi seorang kakek berjubah putih, dia adalah Mbah Rogo,
yang memberikan pesan apabila permintaan Mas Ganjar ingin terpenuhi,
dia harus memperbanyak "bertapa" dirumah dan memberikan amal lebih
banyak kepada para karyawannya melalui gaji yang cukup dan membayar
mereka tepat pada waktunya. Sekali lagi aku tertawa geli akan pesan
Mbah Rogo yang begitu teknis dan detail. Dan lebih dari itu seakan Mbah
Rogo tahu akan kehausan birahi dan penyelewenganku.
Sepulang dari dusun Melati di lereng Merapi itu, saat Mas Ganjar
berada di rumah kami hampir-hampir tidak sempat memakai pakaian kami.
Dan Mas Ganjar sendiri lebih sering berada di rumah serta tidak pernah
lagi kluyuran mencari makam-makam keramat.
(Diceritakan oleh Sumiarsih, istri yang selalu merindukan pelukan suaminya) Ke bagian 4
| Title | Author | Views |
| Ngentot dengan Ari, Suami Temanku |
Wika Erlangga |
96,086 |
| Pagar Makan Tanaman - 1 |
robby_g88@yahoo.com |
65,733 |
| Percaturan Birahi Istriku - 1 |
rm4gedon@yahoo.com |
56,306 |
| Percaturan Birahi Istriku - 2 |
rm4gedon@yahoo.com |
52,628 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
52,375 |
| Skandal Keluarga 4: PRT |
bocahsemarang@yahoo.com |
45,421 |
| Pagar Makan Tanaman - 2 |
robby_g88@yahoo.com |
42,433 |
| Orgasme dengan Bertukar Pasangan 01 |
tante_mirna@yahoo.com |
40,501 |
| The Fantasy Reality - 1 |
r3n0r4@yahoo.com |
39,139 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 5 |
tante_mirna@yahoo.com |
38,869 |
| Perselingkuhan Ibuku 05 |
dave_putu@yahoo.com |
36,518 |
| Mencoba Tukar Pasangan |
Jayus |
36,197 |
| Vivi, Istri Cantik yang Kecewa dengan Suami |
Bendot |
35,787 |
| Mantan Pacarku Tersayang - 1 |
SILKVLVT@YAHOO.COM |
34,925 |
| Selingkuh dengan Ketua RT - 1 |
marini_adit@yahoo.com |
31,429 |
|
|
|
|
|
|
|