Dari bagian 3 Peristiwa keempat,
ANAK SAHABATKU Saat kuliah aku punya sahabat karib bernama Yenny. Walaupun belum tentu
sekali setahun berjumpa tetapi semenjak sama-sama kami berkeluarga
hingga anak-anak tumbuh dewasa, jalinan persahabatan kami tetap
berlanjut. Setidaknya setiap bulan kami saling bertelpon. Ada saja
masalah untuk diomongkan. Suatu pagi Yenny telepon bahwa dia baru
pulang dari Magelang, kota kelahirannya. Dia bilang ada oleh-oleh kecil
untuk aku.
Kalau aku tidak keluar rumah, Idang anaknya, akan mengantarkannya
kerumahku. Ah, repotnya sahabatku, demikian pikirku. Aku sambut gembira
atas kebaikan hatinya, aku memang jarang keluar rumah dan aku menjawab
terima kasih untuk oleh-olehnya. Ah, rejeki ada saja, Yenny pasti
membawakan getuk, makanan tradisional dari Magelang kesukaanku. Aku
tidak akan keluar rumah untuk menunggu si Idang, yang seingatku sudah
lebih dari 10 tahun aku tidak berjumpa dengannya.
Menjelang tengah hari sebuah jeep Cherokee masuk ke halaman
rumahku. Kuintip dari jendela. Dua orang anak tanggung turun dari jeep
itu. Mungkin si Idang datang bersama temannya. Ah, jangkung bener anak
Yenny. Aku buka pintu. Dengan sebuah bingkisan si Idang naik ke teras
rumah,
"Selamat siang, Tante. Ini titipan mama untuk Tante Erna. Kenalin ini Bonny teman saya, Tante".
Idang menyerahkan kiriman dari mamanya dan mengenalkan temannya
padaku. Aku sambut gembira mereka. Oleh-oleh Yenny dan langsung aku
simpan di lemari es-ku biar nggak basi. Aku terpesona saat melihat anak
Yenny yang sudah demikian gede dan jangkung itu. Dengan gaya pakaian
dan rambutnya yang trendy sungguh keren anak sahabatku ini. Demikian
pula si Donny temannya, mereka berdua adalah pemuda-pemuda masa kini
yang sangat tampan dan simpatik. Ah, anak jaman sekarang, mungkin
karena pola makannya sudah maju pertumbuhan mereka jadi subur. Mereka
aku ajak masuk ke rumah. Kubuatkan minuman untuk mereka.
Kuperhatikan mata si Donny agak nakal, dia pelototi bahuku, buah
dadaku, leherku. Matanya mengikuti apapun yang sedang aku lakukan, saat
aku jalan, saat aku ngomong, saat aku mengambil sesuatu. Ah, maklum
anak laki-laki, kalau lihat perempuan yang agak melek, biar sudah tuaan
macam aku ini, tetap saja matanya melotot. Dia juga pinter ngomong lucu
dan banyak nyerempet-nyerempet ke masalah seksual. Dan si Idang sendiri
senang dengan omongan dan kelakar temannya. Dia juga suka nimbrung,
nambahin lucu sambil melempar senyuman manisnya. Kami jadi banyak
tertawa dan cepat saling akrab. Terus terang aku senang dengan mereka
berdua. Dan tiba-tiba aku merasa berlaku aneh, apakah ini karena naluri
perempuanku atau dasar genitku yang nggak pernah hilang sejak masih
gadis dulu, hingga teman-temanku sering menyebutku sebagai perempuan
gatal. Dan kini naluri genit macam itu tiba-tiba kembali hadir. Mungkin
hal ini disebabkan oleh tingkah si Donny yang seakan-akan memberikan
celah padaku untuk mengulangi peristiwa-peristiwa masa muda.
Peristiwa-peristiwa penuh birahi yang selalu mendebarkan jantung dan
hatiku. Ah, dasar perempuan tua yang nggak tahu diri, makian dari
hatiku untukku sendiri. Tetapi gebu libidoku ini demikian cepat
menyeruak ke darahku dan lebih cepat lagi ke wajahku yang langsung
terasa bengap kemerahan menahan gejolak birahi mengingat masa laluku
itu.
"Tante, jangan ngelamun. Cicak jatuh karena ngelamun, lho".
Kami kembali terbahak mendengar kelakar Idang. Dan kulihat mata
Donny terus menunjukkan minatnya pada bagian-bagian tubuhku yang masih
mulus ini. Dan aku tidak heran kalau anak-anak muda macam Donny dan
Idang ini demen menikmati penampilanku. Walaupun usiaku yang memasuki
tahun ke 42 aku tetap "fresh" dan "good looking". Aku memang suka
merawat tubuhku sejak muda. Boleh dibilang tak ada kerutan tanda
ketuaan pada bagian-bagian tubuhku. Kalau aku jalan sama Oke, suamiku,
banyak yang mengira aku anaknya atau bahkan "piaraan"nya. Kurang asem,
tuh orang. Dan suamiku sendiri sangat membanggakan kecantikkanku. Kalau
dia berkesempatan untuk membicarakan istrinya, seakan-akan memberi
iming-iming pada para pendengarnya hingga aku tersipu walaupun dipenuhi
rasa bangga dalam hatiku. Beberapa teman suamiku nampak sering tergoda
untuk mencuri pandang padaku. Tiba-tiba aku ada ide untuk menahan kedua
anak ini.
"Hai, bagaimana kalau kalian makan siang di sini. Aku punya resep
masakan yang gampang, cepat dan sedap. Sementara aku masak kamu bisa
ngobrol, baca tuh majalah atau pakai tuh, komputer si oom. Kamu bisa
main game, internet atau apa lainnya. Tapi jangan cari yang
'enggak-enggak', ya..", aku tawarkan makan siang pada mereka.
Tanpa konsultasi dengan temannya si Donny langsung iya saja. Aku
tahu mata Donny ingin menikmati sensual tubuhku lebih lama lagi. Si
Idang ngikut saja apa kata Donny. Sementara mereka buka komputer aku ke
dapur mempersiapkan masakanku. Aku sedang mengiris sayuran ketika
tahu-tahu Donny sudah berada di belakangku.
Dia menanyaiku, "Tante dulu teman kuliah mamanya Idang, ya. Kok kayanya jauh banget, sih?".
"Apanya yang jauh?, aku tahu maksud pertanyaan Donny.
"Iya, Tante pantesnya se-umur dengan teman-temanku".
"Gombal, ah. Kamu kok pinter nge-gombal, sih, Don".
"Bener. Kalau nggak percaya tanya, deh, sama Idang", lanjutnya sambil melototi pahaku.
"Tante hobbynya apa?".
"Berenang di laut, skin dan scuba diving, makan sea food, makan sayuran, nonton Discovery di TV".
"Ooo, pantesan".
"Apa yang pantesan?", sergapku.
"Pantesan body Tante masih mulus banget".
Kurang asem Donny ini, tanpa kusadari dia menggiring aku untuk
mendapatkan peluang melontarkan kata-kata "body Tante masih mulus
banget" pada tubuhku. Tetapi aku tak akan pernah menyesal akan giringan
Donny ini. Dan reaksi naluriku langsung membuat darahku terasa serr..,
libidoku muncul terdongkrak. Setapak demi setapak aku merasa ada yang
bergerak maju. Donny sudah menunjukkan keberaniannya untuk mendekat ke
aku dan punya jalan untuk mengungkapkan kenakalan ke-lelakian-nya.
"Ah, mata kamu saja yang keranjang", jawabku yang langsung membuatnya tergelak-gelak.
"Papa kamu, ya, yang ngajarin?, lanjutku.
"Ah, Tante, masak kaya gitu aja mesti diajarin".
Ah, cerdasnya anak ini, kembali aku merasa tergiring dan akhirnya terjebak oleh pertanyaanku sendiri.
"Memangnya pinter dengan sendirinya?", lanjutku yang kepingin terjebak lagi.
"Iya, dong, Tante. Aku belum pernah dengar ada orang yang ngajari gitu-gitu-an".
Ah, kata-kata giringannya muncul lagi, dan dengan senang hati kugiringkan diriku.
"Gitu-gituan gimana, sih, Don sayang?", jawabku lebih progresif.
"Hoo, bener sayang, nih?", sigap Donny.
"Habis kamu bawel, sih", sergahku.
"Sudah sana, temenin si Idang tuh, n'tar dia kesepian", lanjutku.
"Si Idang, mah, senengnya cuma nonton", jawabnya.
"Kalau kamu?", sergahku kembali.
"Kalau saya, action, Tante sayang", balas sayangnya.
"Ya, sudah, kalau mau action, tuh ulek bumbu tumis di cobek, biar
masakannya cepet mateng", ujarku sambil memukulnya dengan manis.
"Oo, beres, Tante sayang", dia tak pernah mengendorkan serangannya padaku.
Kemudian dia menghampiri cobekku yang sudah penuh dengan bumbu yang
siap di-ulek. Beberapa saat kemudian aku mendekat ke dia untuk melihat
hasil ulekannya.
"Uh, baunya sedap banget, nih, Tante. Ini bau bumbu yang mirip Tante atau bau Tante yang mirip bumbu?".
Kurang asem, kreatif banget nih anak, sambil ketawa ngakak kucubit
pinggangnya keras-keras hingga dia aduh-aduhan. Seketika tangannya
melepas pengulekan dan menarik tanganku dari cubitan di pinggangnya
itu. Saat terlepas tangannya masih tetap menggenggam tanganku, dia
melihat ke mataku. Ah, pandangannya itu membuat aku gemetar. Akankah
dia berani berbuat lebih jauh? Akankah dia yakin bahwa aku juga
merindukan kesempatan macam ini? Akankah dia akan mengisi gejolak
hausku? Petualanganku? Nafsu birahiku?
Aku tidak memerlukan jawaban terlampau lama. Bibir Donny sudah
mendarat di bibirku. Kini kami sudah berpagutan dan kemudian saling
melumat. Dan tangan-tangan kami saling berpeluk. Dan tanganku meraih
kepalanya serta mengelusi rambutnya. Dan tangan Donny mulai bergeser
menerobos masuk ke blusku. Dan tangan-tangan itu juga menerobosi BH-ku
untuk kemudian meremasi payudaraku. Dan aku mengeluarkan desahan nikmat
yang tak terhingga. Nikmat kerinduan birahi menggauli anak muda yang
seusia anakku, 22 tahun di bawah usiaku.
"Tante, aku nafsu banget lihat body Tante. Aku pengin menciumi body
Tante. Aku pengin menjilati body Tante. Aku ingin menjilati nonok
Tante. Aku ingin ngentot Tante".
Ah, seronoknya mulutnya. Kata-kata seronok Donny melahirkan sebuah
sensasi erotik yang membuat aku menggelinjang hebat. Kutekankan
selangkanganku mepet ke selangkangnnya hingga kurasakan ada jendolan
panas yang mengganjal. Pasti kontol Donny sudah ngaceng banget.
Kuputar-putar pinggulku untuk merasakan tonjolannya lebih dalam lagi.
Donny mengerang.Dengan tidak sabaran dia angkat dan lepaskan blusku.
Sementara blus masih menutupi kepalaku bibirnya sudah mendarat ke
ketiakku. Dia lumati habis-habisan ketiak kiri kemudian kanannya. Aku
merasakan nikmat di sekujur urat-uratku. Donny menjadi sangat liar,
maklum anak muda, dia melepaskan gigitan dan kecupannya dari ketiak ke
dadaku. Dia kuak BH-ku dan keluarkan buah dadaku yang masih nampak
ranum. Dia isep-isep bukit dan pentilnya dengan penuh nafsu.
Suara-suara erangannya terus mengiringi setiap sedotan, jilatan dan
gigitannya. Sementara itu tangannya mulai merambah ke pahaku, ke
selangkanganku. Dia lepaskan kancing-kancing kemudian dia perosotkan
hotpants-ku. Aku tak mampu mengelak dan aku memang tak akan mengelak.
Birahiku sendiri sekarang sudah terbakar hebat. Gelombang dahsyat
nafsuku telah melanda dan menghanyutkan aku. Yang bisa kulakukan
hanyalah mendesah dan merintih menanggung derita dan siksa nikmat
birahiku.
Begitu hotpants-ku merosot ke kaki, Donny langsung setengah jongkok
menciumi celana dalamku. Dia kenyoti hingga basah kuyup oleh ludahnya.
Dengan nafsu besarnya yang kurang sabaran tangannya memerosotkan celana
dalamku. Kini bibir dan lidahnya menyergap vagina, bibir dan
kelentitku. Aku jadi ikutan tidak sabar.
"Donny, Tante udah gatal banget, nih".
"Copot dong celanamu, aku pengin menciumi kamu punya, kan".
Dan tanpa protes dia langsung berdiri melepaskan celana panjang
berikut celana dalamnya. Kontolnya yang ngaceng berat langsung mengayun
kaku seakan mau nonjok aku. Kini aku ganti yang setengah jongkok,
kukulum kontolnya. Dengan sepenuh nafsuku aku jilati ujungnya yang
sobek merekah menampilkan lubang kencingnya. Aku merasakan precum
asinnya saat Donny menggerakkan pantatnya ngentot mulutku. Aku raih
pahanya biar arah kontolnya tepat ke lubang mulutku.
Ke bagian 5
| Title | Author | Views |
| Ngentot dengan Ari, Suami Temanku |
Wika Erlangga |
3,758 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
3,073 |
| The Fantasy Reality - 1 |
r3n0r4@yahoo.com |
2,346 |
| Percaturan Birahi Istriku - 1 |
rm4gedon@yahoo.com |
2,330 |
| Pagar Makan Tanaman - 1 |
robby_g88@yahoo.com |
2,240 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 5 |
tante_mirna@yahoo.com |
2,223 |
| Percaturan Birahi Istriku - 2 |
rm4gedon@yahoo.com |
2,155 |
| Perselingkuhan Ibuku 05 |
dave_putu@yahoo.com |
1,986 |
| Mencoba Tukar Pasangan |
Jayus |
1,861 |
| Pagar Makan Tanaman - 2 |
robby_g88@yahoo.com |
1,846 |
| Perselingkuhan Ibuku 02 |
dave_putu@yahoo.com |
1,681 |
| The Fantasy Reality - 2 |
r3n0r4@yahoo.com |
1,495 |
| Selingkuh dengan Ketua RT - 1 |
marini_adit@yahoo.com |
1,457 |
| Perselingkuhan Ibuku 04 |
dave_putu@yahoo.com |
1,425 |
| Skandal Keluarga 4: PRT |
bocahsemarang@yahoo.com |
1,419 |
|
|
|
|
|
|