|
|
Dari bagian 4 "Tante, aku pengin ngentot memek Tante sekarang".
Aku tidak tahu maunya, belum juga aku puas mengulum kontolnya dia
angkat tubuhku. Dia angkat satu kakiku ke meja dapur hingga nonokku
terbuka. Kemudian dia tusukkannya kontolnya yang lumayan gede itu ke
memekku. Aku menjerit tertahan, sudah lebih dari 3 bulan Oke, suamiku
nggak nyenggol-nyenggol aku. Yang sibuklah, yang rapatlah, yang
golflah. Terlampau banyak alasan untuk memberikan waktunya padaku. Kini
kegatalan kemaluanku terobati, Kocokkan kontol Donny tanpa kenal henti
dan semakin cepat. Anak muda ini maunya serba cepat. Aku rasa sebentar
lagi spermanya pasti muncrat, sementara aku masih belum sepenuhnya puas
dengan entotannya. Aku harus menunda agar nafsu Donny lebih terarah.
Aku cepat tarik kemaluanku dari tusukkannya, aku berbalik sedikit
nungging dengan tanganku bertumpu pada tepian meja. Aku pengin dan mau
Donny nembak nonokku dari arah belakang. Ini adalah gaya favoritku.
Biasanya aku akan cepat orgasme saat dientot suamiku dengan cara ini.
Donny tidak perlu menunggu permintaanku yang kedua. Kontolnya langsung
di desakkan ke memekku yang telah siap untuk melahap kontolnya itu.
Nah, aku merasakan enaknya kontol Donny sekarang. Pompaannya juga
lebih mantab dengan pantatku yang terus mengimbangi dan menjemput
setiap tusukan kontolnya. Ruang dapur jadi riuh rendah.
Selintas terpikir olehku, di mana si Idang. Apakah dia masih
berkutat dengan komputernya? Atau dia sedang mengintip kami barangkali?
Tiba-tiba dalam ayunan kontolnya yang sudah demikian keras dan berirama
Donny berteriak.
"Dang, Idang, ayoo, bantuin aku .., Dang..".
Ah, kurang asem anak-anak ini. Jangan-jangan mereka memang
melakukan konspirasi untuk mengentotku saat ada kesempatan disuruh
mamanya untuk mengirimkan oleh-oleh itu. Kemudian kulihat Idang dengan
tenangnya muncul menuju ke dapur dan berkata ke Donny
"Gue kebagian apanya Don?'
"Tuh, lu bisa ngentot mulutnya. Dia mau kok".
Duh, kata-kata seronok yang mereka ucapkan dengan kesan seolah-olah
aku ini hanya obyek mereka. Dan anehnya ucapan-ucapan yang sangat tidak
santun itu demikian merangsang nafsu birahiku, sangat eksotik dalam
khayalku. Aku langsung membayangkan seolah-olah aku ini anjing mereka
yang siap melayani apapun kehendak pemiliknya.
Aku melenguh keras-keras untuk merespon gaya mereka itu. Kulihat
dengan tenangnya Idang mencopoti celananya sendiri dan lantas meraih
kepalaku dengan tangan kirinya, dijambaknya rambutku tanpa menunjukkan
rasa hormat padaku yang adalah teman mamanya itu, untuk kemudian
ditariknya mendekat ke kontolnya yang telah siap dalam genggaman tangan
kanannya. Kontol Idang nampak kemerahan mengkilat. Kepalanya menjamur
besar diujung batangnya. Saat bibirku disentuhkannya aroma kontolnya
menyergap hidungku yang langsung membuat aku kelimpungan untuk
selekasnya mencaplok kontol itu. Dengan penuh kegilaan aku lumati,
jilati kulum, gigiti kepalanya, batangnya, pangkalnya, biji pelernya.
Tangan Idang terus mengendalikan kepalaku mengikuti keinginannya.
Terkadang dia buat maju mundur agar mulutku memompa, terkadang dia
tarik keluar kontolnya menekankan batangnya atau pelirnya agar aku
menjilatinya.
Duh, aku mendapatkan sensasi kenikmatan seksualku yang sungguh luar
biasa. Sementara di belakang sana si Donny terus menggenjotkan
kontolnya keluar masuk menembusi nonoknya sambil jari-jarinya
mengutik-utik dan disogok-sogokkannya ke lubang pantatku yang belum
pernah aku mengalami cara macam itu. Oke, suamiku adalah lelaki
konvensional. Saat dia menggauliku dia lakukan secara konvensional
saja. Sehingga saat aku merasakan bagaimana perbuatan teman dan anak
sahabatku ini aku merasakan adanya sensasi baru yang benar-benar hebat
melanda aku. Kini 3 lubang erotis yang ada padaku semua dijejali oleh
nafsu birahi mereka. Aku benar-benar jadi lupa segala-galanya. Aku
mengenjot-enjot pantatku untuk menjemputi kontol dan jari-jari tangan
Donny dan mengangguk-anggukkan kepalaku untuk memompa kontol Idang.
"Ah, Tante, mulut Tante sedap banget, sih. Enak kan, kontolku.
Enak, kan? Sama kontol Oom enak mana? N'tar Tante pasti minta lagi,
nih".
Dia percepat kendali tangannya pada kepalaku. Ludahku sudah
membusa keluar dai mulutku. Kontol Idang sudah sangat kuyup. Sesekali
aku berhenti sessat untuk menelan ludahku.
Tiba-tiba Donny berteriak dari belakang, "Aku mau keluar nih, Tante. Keluarin di memek atau mau diisep, nih?".
Ah, betapa nikmatnya bisa meminum air mani anak-anak ini. Mendengar
teriakan Donny yang nampak sudah kebelet mau muncratkan spermanya, aku
buru-buru lepaskan kontol Idang dari mulutku. Aku bergerak dengan cepat
jongkok sambil mengangakan mulutku tepat di ujung kontol Donny yang
kini penuh giat tangannya mengocok-ocok kontolnya untuk mendorong agar
air maninya cepat keluar.
Kudengar mulutnya terus meracau, "Minum air maniku, ya, Tante,
minum ya, minum, nih, Tante, minum ya, makan spermaku ya, Tante, makan
ya, enak nih, Tante, enak nih air maniku, Tante, makan ya..".
Air mani Donny muncrat-muncrat ke wajahku, ke mulutku, ke rambutku.
Sebagian lain nampak mengalir di batang dan tangannya. Yang masuk
mulutku langsung aku kenyam-kenyam dan kutelan. Yang meleleh di batang
dan tanganannya kujilati kemudian kuminum pula. Kemudian dengan
jari-jarinya Donny mengorek yang muncrat ke wajahku kemudian
disodorkannya ke mulutku yang langsung kulumati jari-jarinya itu.
Ternyata saat Idang menyaksikan apa yang dikerjakan Donny dia nggak
mampu menahan diri untuk mengocok-ocok juga kontolnya. Dan beberapa
saat sesudah kontol Donny menyemprotkan air maninya, menyusul kontol
Idang memuntahkan banyak spermanya ke mulutku. Aku menerima semuanya
seolah-olah ini hari pesta ulang tahunku. Aku merasakan rasa yang
berbeda, sperma Donny serasa madu manisnya, sementara sperma Idang
sangat gurih seperti air kelapa muda.
Dasar anak muda, nafsu mereka tak pernah bisa dipuaskan. Belum
sempat aku istirahat mereka mengajak aku ke ranjang pengantinku. Mereka
nggak mau tahu kalau aku masih mengagungkan ranjang pengantinku yang
hanya Oke saja yang boleh ngentot aku di atasnya. Setengahnya mereka
menggelandang aku memaksa menuju kamarku. Aku ditelentangkannya ke
kasur dengan pantatku berada di pinggiran ranjang. Idang menjemput satu
tungkai kakiku yang dia angkatnya hingga nempel ke bahunya. Dia tusukan
kontolnya yang tidak surut ngacengnya sesudah sedemikian banyak
menyemprotkan sperma untuk menyesaki memekku, kemudian dia pompa
kemaluanku dengan cepat kesamping kanan, kiri, ke atas, ke bawah dengan
penuh irama. Aku merasakan ujungnya menyentuh dinding rahimku dan aku
langsung menggelinjang dahsyat. Pantatku naik turun menjemput
tusukan-tusukan kontol legit si Idang. Sementara itu Donny menarik
tubuhku agar kepalaku bisa menciumi dan mengisap kontolnya. Kami
bertiga kembali mengarungi samudra nikmatnya birahi yang nikmatnya tak
terperi.
Hidungku menikmati banget aroma yang menyebar dari selangkangan
Donny. Jilatan lidah dan kuluman bibirku liar melata ke seluruh
kemaluan Donny. Kemudian untuk memenuhi kehausanku yang amat sangat,
paha Donny kuraih ke atas ranjang sehingga satu kakinya menginjak ke
kasur dan membuat posisi pantatnya menduduki wajahku. Dengan mudah
tangan Donny meraih dan meremasi susu-susu dan pentilku. Sementara
hidungku setengah terbenam ke celah pantatnya dan bibirku tepat di
bawah akar pangkal kontolnya yang keras menggembung. Aku
menggosok-gosokkan keseluruhan wajahku ke celah bokongnya itu sambil
tangan kananku ke atas untuk ngocok kontol Donny. Duh, aku kini
tenggelam dalam aroma nikmat yang tak terhingga. Aku menjadi kesetanan
menjilati celah pantat Donny. Aroma yang menusuk dari pantatnya semakin
membuat aku liar tak terkendali. Sementara di bawah sana Idang yang
rupanya melihat bagaimana aku begitu liar menjilati pantat Donny
langsung dengan buasnya menggenjot nonokku. Dia memperdengarkan racauan
nikmatnya,
"Tante, nonokmu enak, Tante, nonokmu aku entot, Tante, nonokmu aku
entot, ya, enak, nggak, heh?, Enak ya, kontolku, enak Tante,
kontolku?".
Aku juga membalas erangan, desahan dan rintihan nikmat yang sangat
dahsyat. Dan ada yang rasa yang demikian exciting merambat dari dalam
kemaluanku. Aku tahu orgasmeku sedang menuju ke ambang puncak
kepuasanku. Gerakkanku semakin menggila, semakin cepat dan keluar dari
keteraturan. Kocokkan tanganku pada kontol Donny semakin kencang.
Naik-naik pantatku menjemputi kontol Idang semakin cepat, semakin
cepat, cepat, cepat, cepat.
Dan teriakanku yang rasanya membahana dalam kamar pengantinku tak
mampu kutahan, meledak menyertai bobolnya pertahanan kemaluanku. Cairan
birahiku tumpah ruah membasah dab membusa mengikuti batang kontol yang
masih semakin kencang menusukki nonokku. Dan aku memang tahu bahwa
Idang juga hendak melepas spermanya yang kemudian dengan rintihan
nikmatnya akhirnya menyusul sedetik sesudah cairan birahiku tertumpah.
Kakiku yang sejak tadi telah berada dalam pelukannya disedoti dan
gigitinya hingga meninggalkan cupang-cupang kemerahan.
Sementara Donny yang sedang menggapai menuju puncak pula, meracau
agar aku mempercepat kocokkan kontolnya sambil tangannya keras-keras
meremasi buah dadaku hingga aku merasakan pedihnya. Dan saat puncaknya
itu akhirnya datang, dia lepaskan genggaman tanganku untuk dia kocok
sendiri kontolnya dengan kecepatan tinggi hingga spermanya muncrat
semburat tumpah ke tubuhku. Aku yang tetap penasaran, meraih batang
yang berkedut-kedut itu untuk kukenyoti, mulutku mengisap-isap cairan
maninya hingga akhirnya segalanya reda. Jari-jari tanganku mencoleki
sperma yang tercecer di tubuhku untuk aku jilat dan isap guna
mengurangi dahaga birahiku.
Sore harinya, walaupun aku belum sempat merasakan getuk kirimannya
yang kini berada dalam lemari esku dengan penuh semangat dan terima
kasih aku menelepon Yenny.
"Wah, terima kasih banget atas kirimannya, ya Yen. Karena sudah
lama aku tidak merasakannya, huh, nikmat banget rasanya. Ada gurihnya,
ada manisnya, ada legitnya", kataku sambil selintas mengingat
kenikmatan yang aku raih dari Idanganaknya dan Donny temannya.
Yenny tertawa senang sambil menjawab, "Nyindir, ya. Memangnya
kerajinan tanduk dari Pucang (sebuah desa di utara Magelang yang
menjadi pusat kerajinan dari tanduk kerbau) itu serasa getuk kesukaanmu
itu. N'tar deh kalau aku pulang lagi, kubawakan sekeranjang getukmu".
Aku tersedak dan terbatuk-batuk. Mati aku, demikian pikirku. Ternyata bingkisan dalam kulkas itu bukan getuk kesukaanku.
(Diceritakan kembali oleh Erna Oke) Ke bagian 6
| Title | Author | Views |
| Ngentot dengan Ari, Suami Temanku |
Wika Erlangga |
32,999 |
| Pagar Makan Tanaman - 1 |
robby_g88@yahoo.com |
29,761 |
| Percaturan Birahi Istriku - 1 |
rm4gedon@yahoo.com |
27,748 |
| Percaturan Birahi Istriku - 2 |
rm4gedon@yahoo.com |
26,119 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
24,654 |
| The Fantasy Reality - 1 |
r3n0r4@yahoo.com |
23,833 |
| Skandal Keluarga 4: PRT |
bocahsemarang@yahoo.com |
22,056 |
| Pagar Makan Tanaman - 2 |
robby_g88@yahoo.com |
19,833 |
| Mencoba Tukar Pasangan |
Jayus |
19,202 |
| Perselingkuhan Ibuku 05 |
dave_putu@yahoo.com |
16,828 |
| Mantan Pacarku Tersayang - 1 |
SILKVLVT@YAHOO.COM |
16,479 |
| Selingkuh dengan Ketua RT - 1 |
marini_adit@yahoo.com |
15,847 |
| The Fantasy Reality - 2 |
r3n0r4@yahoo.com |
15,613 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
15,220 |
| Vivi, Istri Cantik yang Kecewa dengan Suami |
Bendot |
14,379 |
|
|
|
|
|
|
|