|
|
Senin, 10 maret 2003, Hotel PP, kamar xx3 dan xx5, Menteng
Sesuai rencana, kami mengambil 2 kamar yang berhubungan. Sengaja kami
ambil hari Senin dengan perhitungan hari kerja dimana semua orang sibuk
dan tidak sempat memperhatikan urusan orang lain. Kami datang check in
pada pukul 15.00 untuk 1 malam.
Dari telepon kamar, kami menghubungi panti pijat di basement, minta
dipinjamkan foto album para pemijat pria. Tidak lebih dari 5 menit,
album foto itu telah diantarkan. Aku dan istriku melihat-lihat
foto-foto yang terpampang. Ada sekitar 20 pria muda (antara 18 s/d 30
tahun) yang nampak ganteng dan macho. Ada yang pakai T-shirt ketat
hingga otot bisepnya menonjol, bahkan juga ada yang bertelanjang dada.
Dari catatan di bawah foto-foto itu disebutkan identitas mereka ada
China, Jawa, Ambon, Batak bahkan ada juga Arab. Disini wajah istriku
nampak nanar. Aku yakin saat ini jantung istriku sedang berdegup keras.
Sekali lagi aku ingin memberikan padanya keleluasaan sepenuhnya. Tanpa
rasa ewuh pekewuh, malu atau sungkan hingga dia benar-benar bisa
mendapatkan apa yang dia dambakan. Dengan alasan aku mau cari rokok,
kutinggalkan dia sendirian dengan foto-foto itu. Aku turun ke lobby dan
sengaja ber-lama-lama di sana. Aku mampir di coffee shop minta
capucchino. Aku yakin apabila istriku sudah menjatuhkan pilihannya,
pasti dia akan menelepon HP-ku.
*****
Jam 17.00 di lobby hotel PP
Ternyata sesudah lebih dari 1 jam istriku belum juga menghubungiku.
Aku kasihan padanya, mungkin dia sedang menghadapi berbagai macam
perasaan dan pikiran. Mungkin dia ragu-ragu atau apa. Biarlah aku
kembali naik ke kamar saja. Sesudah membayar minuman aku beranjak
menuju tangga untuk naik ke kamar. Ternyata HP-ku memanggil.. Istriku.
Dia bilang lama karena mandi-mandi dulu. Gerah, katanya.
Dia sudah memilih, no. 16, Astro namanya. Nggak salah lagi, itu
pasti si Ambon. Sepintas aku tadi mengamati fotonya. Telanjang dada
dengan bulu-bulu yang tipis di dadanya itu. Rambutnya lurus jatuh.
Kulitnya coklat kehitaman. Alisnya tebal dan bibirnya juga tebal.
Memang nampak paling macho dan seksi sekali. Ooo, jadi macam demikian
selera istriku, aku jadi tahu.. Tentu saja aku nggak mungkin menyaingi
si Astro ini. Aku nggak memiliki semuanya milik Astro sebagaimana yang
didambakan istriku itu.
'OK, ma, biar aku jemput saja sekalian, mama tunggu yaahh..'.
Wah rupanya sesudah memilih-milih tadi dia kemudian mandi-mandi.
Semacam mempersiapkan diri, begitulah. Pantas lama sekali. Kemudian aku
berbalik ke arah tangga turun, menuju panti pijat di basement. Di panti
pijat, sesudah aku melakukan check and recheck (kaya paswalpres saja,
he.. he..) aku tunggu si Astro yang sedang menyiapkan alat-alat massage
(mungkin itu hanya formalitas).
Saat dia keluar, aku tertegun. Anak ini woo.. ada kali 175 cm,
gantengnyaa.. Dengan kulit coklat kehitaman dia juga menjadi sangat
macho, jantan, mengingatkanku pada penyanyi Andre Hehanusa. Aku yakin
istriku bergetar saat menemuinya nanti.
Di koridor, sebelum masuk ke kamar aku menyampaikan beberapa pesan
padanya. Aku bilang bahwa istriku ingin mendapatkan pelayanan darinya.
Orangnya sangat lembut, tolong kamu layani dengan halus. Dia juga
pemalu, oleh karenanya kamu harus banyak mendorong, banyak mengambil
inisiatip. Intinya dia ingin mendapatkan kepuasan seks dengan kamu. Dia
mungkin cukup tua, 47 tahun. Apakah kamu bisa menghadapi wanita seusia
itu. Maksudku kamu bisa tertarik untuk melakukan hubungan intim
dengannya?
Aku lebih baik terus terang dengan Astro ini sebelum dia ketemu
istriku. Ternyata hal yang saya sampaikan barusan bukan hal yang baru
baginya.
'Jangan khawatir oom, percaya saja sama saya. Saya biasa melayani
tante-tante. Mereka itu bermacam-macam. Ada yang diam, ada yang
cerewet, ada yang.., Ah pokoknya macam-macam'.
Aku jadi sedikit lega atas jawaban Astro.
Sejak istriku membuka pintu dan langsung melihat Astro, aku
perhatikan wajahnya. Nampak langsung memerah dan gugup. Dia bahkan
nggak mau terlampau langsung memandanginya. Kusenggol si Astro yang
langsung tahu,
'Selamat sore tante.., kenalkan saya Astro..', mengulurkan tangannya.
Nampaknya istriku ragu. Dia tidak langsung menjabat tangan Astro. Nampak serba salah, kaku. Atau malu. Atau sungkan padaku.
'Ma, ayoo.., dia khan ramah.. Baru kemudian dia menyambut uluran tangan itu. Bahkan suaranya juga keluar,
'Mari masuk..', ajaknya.
Kupersilahkan Astro duduk di kursi yang tersedia. Aku senggol istriku, dengan bicara pelan aku bilang,
'Astro ini sabar orangnya ma, jangan khawatir. Lagian khan nggak
buru-buru, ya khan Astro?', ucapan yang terakhir ini aku sampaikan
untuk Astro.
'Ya oom. Saya santai koq. Tante santai juga khan?'.
Aku pura-pura mau kencing ke kamar kecil, untuk memberikan
kesempatan mereka hanya berdua. Terutama untuk istriku yang baginya
merupakan pengalaman pertama bersentuhan dengan lelaki lain yang bukan
suaminya. Dia pasti senewen. Limbung. Pasti jantungnya berdegup dengan
kencang. Mudah-mudahan dia bisa menguasai dirinya.
Saat aku balik, kulihat istriku sudah lebih relaks, dia sedang
menyuguhkan minuman. Kuperhatikan pakaian yang dipakainya. Sore ini
rupanya istriku benar-benar berdandan. Maksudku dia menggunakan
pakaian-pakaian yang selama ini selalu saya komentari, seksi, kamu
sangat ayu dengan baju ini, kamu kelihatan muda saja, ma, aku ngaceng
melihat kamu lho, dan sebagainya dan sebagainya. Jelas dia menyiapkan
dirinya buat Astro ini.
Aku pikir lebih baik meninggalkan mereka berdua.
'Ma, aku masih ada urusan di bawah ya, n'tar kalau ada apa-apa ke HP saja. Astro, titip tante yaa..'.
Astro menjawab, ya oom, tetapi istriku masih terbengong, canggung
atau ragu, matanya melihat bertanya kepadaku, terus bagaimana ini? Aku
mendekat.
'Khan Astro tadi udah bilang agar mama santai saja. OK??'.
'Mama nggak usah pikirin lainnya. Pokoknya semua sudah aku urus.
Mama pijat saja dengan tenang, nggak was-was, nggak khawatir. Lagian
sebentar khan aku sudah balik ke kamar sebelah', aku membesarkan
hatinya sambil aku menunjukkan jempolku yang mengisyaratkan, 'Semuanya
beres'.
Rupanya jempolku ini langsung mengubah wajah ragu istriku berubah
menjadi mantap, hal itu dia tandai dengan senyuman lebarnya. Aku juga
senang dan nggak lagi khawatir. Maklum kami berdua sama sekali nggak
pernah melakukan hal semacam ini.
Sebelum aku meninggalkan ruangan, aku menaruh tas cangkingan tipis,
yang memang biasa saya bawa kesana dan kemari. Dengan kutaruhnya tas
itu semakin membuat istriku tidak ragu bahwa aku akan selalu dekat dia.
Tetapi kali ini dalam tas itu aku taruh tape recorder kecil Sony yang
peka. Omongan atau bunyi sejauh 20 meter masih bisa terekam. Hal ini
memang sudah saya persiapkan jauh sebelumnya.
Dengan rekaman itu nanti, aku akan bisa mendengarkan apa yang akan
berlangsung selama 180 menit ke depan, klik recordingnya telah aku
hidupkan. Kemudian aku langsung keluar, 'Bye, bye', kuraih pintu dan
kututup hingga terdengar "klek", sebagai tanda pintu sudah mengunci
secara otomatis.
Kemudian aku bergegas turun, kembali ke coffee shop. Kali ini aku
minta sebotol besar bir. Aku sendiri ternyata butuh menyelaraskan
hatiku, dan rasa gundah gulana yang sekaligus diiringi oleh perasaan
campur aduk membayangkan istriku digeluti lelaki lain langsung di bawah
sepengetahuanku. Aku sendiri dan dorongan birahiku yang justru ikut
menyeruak keluar sebagai bentuk penyimpangan naluri seksualku.
Penyimpangan? Ya, karena menurut umumnya yang sering kita dengar,
bukan demikian reaksi seorang suami yang istrinya akan dientot orang
lain. Aahh.. cobalah cari nalar yang lebih rasional. Lihat di luar
negeri ini hal macam itu sudah sering kita sama-sama tahu. Bahkan tukar
kunci, kunci rumahnya berikut isinya (yang dimaksud tentu istrinya)
ditukar kunci rumah kawannya berikut istrinya pula. Nilai-nilai moral
tidak semata-mata terletak pada kesetiaan satu lubang, demikian
falsafah mereka. Justru leluasanya memberikan atau menggunakan lubang
milik sesama teman akan membuat kemesraan suami istri lebih
berkualitas, kilah mereka. Sudahkan aku dan istriku juga menganut paham
itu?? Ataukah sekedar mencari pembenaran??
Tapi yang jelas, kontolku jadi benar-benar ngaceng. Sambil minum,
setiap kali kuraba bagian depan celanaku. Terkadang sedikit kutekan.
Membayangkan peristiwa di kamar, sepertinya aku sedang memasuki
petualangan romantis yang penuh ketegangan, dimana targetnya adalah aku
harus menerima kekalahan sebagai kenyataan. Sebagai wujud usaha
meningkatkan kualitas kenikmatan nafsu birahi tinggi, yang berarti juga
kualitas kehidupanku. Merasakan kekalahan, kehinaan, direndahkan dan
dianggap tidak memiliki kemampuan diubah menjadi kemenangan dan
kelapangan dada.
Menuju kualitas puncak kenikmatan birahi itulah yang membuatku
disini sekarang dan menenggak bir ini. Ada bagian-bagian dari
relung-relung hidup ini yang akan kutinggalkan. Aku akan memasuki dunia
baru. Era baru. Dunia yang kunikmati dengan penuh birahi saat
mengetahui bahkan membantu lancarnya kehendak istri untuk merasakan
entotan lelaki lain yang memiliki kontol yang lebih gede, lebih panjang
dan lebih kuat dibanding milikku.
Untuk mengisi waktuku, aku mencoba mengambil stik bilyar. Aku ajak
pelayan bilyar menemaniku. Ternyata aku hanya bertahan 1 game.
Pikiranku tidak bisa lepas pada apa yang saat ini terjadi di kamar. Aku
bayangkan saat ini istriku sudah setengah telanjang. Sedang berpagutan
dengan Astro, sementara tangan kanan Astro berada di sela-sela cawat
istriku, jari-jarinya sedang melumati gundukan menggunung kemaluan
istriku. Pasti ada suaran erangan atau desahan yang keluar dari mulut
istriku. Mudah-mudahan tape recorderku tidak mogok.
Aku kembali ke meja bar di coffee shop, kembali minum birku. Aku
lihat jam. Baru 18 menit. Rasanya lama sekali. Aku mencoba mengobrol
dengan bartender, bertanya tentang minuman, tentang merek wisky,
tentang jam buka-tutup bar, tentang tamu-tamu, dlsb.
Kembali aku melihat jam. Mereka telah melewati 50 menit. Uuhh..,
mungkin pertempuran mereka lagi seru-serunya. Pasti istriku sudah
awut-awutan. Aku bayangkan tubuhnya yang penuh keringat. Juga tubuh
Astro. Aku bayangkan bagaimana istriku menerima kontol itu. Akankah dia
ciumi? Jilati? Kulum? Akankah Astro juga menyemprotkan spermanya ke
mulut istriku? Dan istriku dengan penuh nafsu meminumnya?
Bagaimana gelinjang istriku saat kontol gede Astro menembusi
kewanitaannya? Pasti kenikmatan yang sangat terjadi pada
dinding-dinding vaginanya itu. Mungkin saat ini rasa gatal dan nikmat
itu sedang menyerang istriku. Pasti dia terus menerus meracau penuh
nikmat seperti orang kesetanan. Dia gigiti dada Astro yang gempal
berbulu itu. Mungkin bahkan ketiak Astro juga dia gigiti dan jilati.
Ohh.. gelinjangnyaa.. Pasti dengan energi yang penuh, pantat istriku
diangkat-angkat untuk menjemput kontol gede panjang itu.
| Title | Author | Views |
| Ngentot dengan Ari, Suami Temanku |
Wika Erlangga |
96,342 |
| Pagar Makan Tanaman - 1 |
robby_g88@yahoo.com |
65,818 |
| Percaturan Birahi Istriku - 1 |
rm4gedon@yahoo.com |
56,380 |
| Percaturan Birahi Istriku - 2 |
rm4gedon@yahoo.com |
52,688 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
52,423 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
51,820 |
| Skandal Keluarga 4: PRT |
bocahsemarang@yahoo.com |
45,473 |
| Pagar Makan Tanaman - 2 |
robby_g88@yahoo.com |
42,485 |
| Orgasme dengan Bertukar Pasangan 01 |
tante_mirna@yahoo.com |
40,558 |
| The Fantasy Reality - 1 |
r3n0r4@yahoo.com |
39,163 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 5 |
tante_mirna@yahoo.com |
38,904 |
| Perselingkuhan Ibuku 05 |
dave_putu@yahoo.com |
36,573 |
| Mencoba Tukar Pasangan |
Jayus |
36,253 |
| Vivi, Istri Cantik yang Kecewa dengan Suami |
Bendot |
35,826 |
| Mantan Pacarku Tersayang - 1 |
SILKVLVT@YAHOO.COM |
34,965 |
|
|
|
|
|
|
|