Besok sorenya, lagi-lagi aku mandi di sungai bareng Akbar.
"Tadi malam kemana lo?" pancingku.
"Biasalah, tugas." Jawabnya.
"Tugas apa?"
"Nyari uang-lah. Ada Ibu yang gatal pengen ku entotin, kan lumayan uangnya."
"Memangnya berapa Ibu sih yang biasa kau entotin?"
"Cuma satu kok."
"Dimana ngentotnya?"
"Kau ini mau tau aja. Rahasialah."
"Ya, bagi-bagi pengalaman kenapa sih."
"Kecuali yang ini, bahaya."
"Kapan kau ajak aku ketemu sama temanmu yang bias dipake?"
"Malam minggu ini aja, gimana?"
"Malam ini aja."
"Nggak bisa, aku masih ada tugas."
"Tugas lagi, sama Ibu itu?"
"Iya, nafsunya gede lo, makanya suka nggak puas, tadi malam aja aku
nggak sempat orgasme kok, mau ngelanjutin malas, nggak bawa pelicin
sih, aku mau ngentotin pantatnya, kalo memeknya udah blong, nggak enak.
Makanya begitu dia kelar, aku selesai juga."
"Nanti malam dimana?"
"Ya ampun, ya rahasialah, nanti kau ngintip pula."
"Ya udah."
Lalu kami mandi berdua, telanjang, kuperhatikan kontolnnya yang sering diisap Ibuku.
***
Malamnya aku udah bersiap-siap dengan kamera. Jam delapan aku udah
masuk kamar. Jam sembilan malam kudengar suara telepon, mungkin itu
dari Akbar pikirku. Setengah jam kemudian kudengar lagi pintu belakang
dibuka. Aku pikir mereka mau melanjutkan yang tadi malam di pondok. 5
menit setelah ibuku keluar, aku langusng keluar dengan menenteng
kamera.
Tapi di pondok tidak kudapati suara-suara maupun cahaya lilin. Aku
ke belakang pondok dan melihat nyala senter di kejauhan. Aku tahu itu
jalan menuju ke sungai yang melewati sawah dan kebun. Aku langsung
bearnjak mengikuti cahaya itu. Untung malam purnama, jadi aku masih
bisa melihat jalan. Aku semakin dekat dengan cahaya itu, kulihat Ibuku
jalan sendiri, mungkin Akbar menunggu di suatu tempat. Tapi dimana, aku
juga masih bingung. Mungkin di salah satu pondok di sawah. Semakin
dekat ke sungai setelah melewati sebuah kebun membuat aku semakin
bingung. Mau apa mereka di sungai?
Jalan itu terus ku lalui, itu jalan ke sungai tempat aku dan Akbar
mandi sore. Lalu kulihat Ibuku turun terus ke sungai, aku mengambil
jalan lain dan mengintip dari atas. Kulihat ada nyala rokok di bawah,
lalu nyala senter. Ibuku dan Akbar. Ternyata di rumput di pinggir
sungai sudah ada sebuah tikar dan Akbar tengah duduk disana. Ibuku
langsung menghampiri. Aku beranjak lagi sedikit ke timur supaya dapat
melihat dengan jelas. Jarakku dengan mereka Cuma sekitar 6 meter.
Untung suara air meredam suara derak kayu yang kuinjak.
Akbar memakai celana pendek, sedangkan Ibuku seperti biasa memakai daster.
Bulan diatas membuat segalanya terlihat jelas dan terang. Mereka mengobrol pelan.
"Jangan-jangan anakmu tahu tentang hubungan kita." Kata Akbar.
"Kok bisa?" Tanya Ibuku.
"Yah siapa tahu aja, dia kan sudah dewasa, mungkin logikannya bisa
sampai kesana, apalagi waktu malam di pondok itu aku mendengar
langakh-langkah orang."
"Kalau dia tahu, kenapa dia nggak bilang?"
"Mungkin dia takut, atau malu."
"Udah ah, nggak usah bahas itu." Kata Ibuku manja sambil merebahkan
kepalanya di pangkuan Akbar. Akbar mengelus rambut Ibuku sambil
membuang rokoknya.
Lalu dia membaringkan tubuh Ibuku di tikar, dia terbaring
disampingnya. Lalu Akbar mulai mengulum pelan bibir Ibuku yang
membalasnya pelan. Tangan akbar bergerilya di payudara dan vagina
Ibuku. Dasternya ditarik hingga terlihat CDnya. Tangan Akbar merogoh
dan mengelus-elus vagina Ibuku yang masih dibalut CD. Cumbuan akbar
turun ke leher dan sekitar kuping dalam Ibuku yang melenguh pelan.
Rmabut Akbar diremas-remas.
Cumbuan Akbar turun ke payudara Ibuku yang dilapisi daster, terus
turun ke bawah, tangannya menyingkap daster Ibuku dari bawah ke atasa,
ibuku sengaja mengangkat badannya hingga Akbar dengan mudah membuka
seluruh daster lepas dari Tubuhnya.
Kini Ibuku Cuma memakai CD dan Bra saja. Akbar membuka baju kaos
dan celananya sekaligus menyisakan CD yang penisnya seolah sudah mau
mneyeruak keluar. Lalu dia mencumbu kaki Ibuku pelan, menciuminya
kearah atas dan bagian dalam Paha Ibuku. Semakin kedalam membuat Ibuku
menggelinjang pelan. Melenguh pelan. Kaki Ibuku satu diangkat akbar dan
diciuminya sampai ke pangkal paha. Sesekali digigitnya paha Ibuku. Lalu
Akbar menggigit CD ibuku dan menariknya hingga terbuka lepas dari kaki.
Akbar berlutut dihadapan Ibuku dan menarik kedua kakinya hingga
selangkangan Ibuku menempel di selangkangannya yang menggumpal. Akbar
mengeluarkan penisnya dari CD dan menggesek-gesekkannya ke vagina Ibuku
pelan. Dengan kepala penis dia memainkan klirotis Ibuku. Ibuku mencoba
menyodok penis Akbar, namun akbar memang sengaja Cuma
menggesek-gesekkan saja.
Aku sudah membuka celana pendekku hingga penisku muncrat keluar.
Kamera dan tripod sudah stand by. Sesekali aku memotret pose mereka dan
setelah itu sibuk dengan penisku sendiri.
Setelah itu, Akbar menjilati vagina Ibuku yang sudah basah, semakin membuat dia menggelinjang dan mengerang hebat.
"Akbarr.. hhmmhhmm.." erangnya membuat Akbar semakin binal.
Lidahnya dijulurkan kedalam vagina Ibuku sementara tangannya meraih
payudara. Setelah puas dan Ibuku terlihat hampir orgasme, giliran
payudara yang dikulum Akbar. Putting susu ibuku dijilati dan diemut
perlahat. Sesekali digigit dan ditarik keatas. Lalu kembali mereka
berkuluman mesra. Penis Akbar yang sejak tadi sudah keluar dari CD,
menempel di perut Ibuku.
Akbar beranjak dari tikar, berdiri dan membuka CDnya, lalu
berjalan ke arah sungai, diikuti Ibuku yang membuka Branya lalu jalan
telanjang ke arah sungai.
Akbar menceburkan dirinya di sungai yang dalamnya cuma sebatas
lutut itu. Lalu duduk disana menunggu Ibuku yang berjalan kearhanya.
Ibuku menceburkan dirinya juga di dekat Akbar. Setelah sama-sama basah,
Akbar memeluk Ibuku, mereka saling berhadapan. Ibuku duduk diatas paha
Akbar. Aku membayangkan penis Akbar yang menempel di selangkangan Ibuku
di dalam air dan membayangkan sensasi badan mereka yang basah dan
licin.
Mereka saling berkuluman sambil tangan masing-masing bergerilnya di
berbagai tempat. Ibuku mencondongkan tubuhnya ke belakang saat Akbar
mencumbui perut dan payudaranya. Lalu akbar membalikkan posisi. Dia
berada di belakang Ibuku dan meremas payudaranya dengan mesra sambil
mencumbui leher belakang Ibuku. Tangan Akbar meremas-remas payudara
Ibuku dengan geraka memutar dan sesekali mencubit pentilnya. Satu
tangan memainkan klirotis Ibuku di dalam air.
Mereka berbalik lagi, Akbar berlutut dihadapan Ibuku hingga
penisnya terlihat jelas, Ibuku mengerti, lalu meraihnya dan mengelus
pelan sambil menjilati bibir Akbar. Lalu cumbuan terus turun ke leher
dan dada Akbar yang bidang menuju penisnya yang menantang. Ibuku
menunduk dan menjilati kepala penisnya yang merah kecoklatan.
Seperti menjilati es krim, sesekali buah pelir Akbar diisapnya
pelan. Akbar mencengkeram rambut Ibuku. Lalu pelan Ibuku memasukkan
seluruh penis Akbar kemulutnya dan Akbar mulai mengocoknya pelan.
Pinggulnya digoyang-goyangkan. Ibuku memegangi pinggang Akbar.
Kupandangi wajah Akbar yang menikmati kuluman.
Lalu dia melepas penisnya dari mulut Ibuku dan menuntun Ibuku
berjalan ke pinggir sungai yang agak tinggi. Lalu ibuku dituntun untuk
duduk disana, lalu kudua kakinya.
***
3 hari sesudah kejadian di sungai, Ayahku pulang. Karena libur,
aku dan adikku biasanya bangun jam 9 atau jam 10 pagi setiap hari. Tapi
hari itu aku kudu bangun pagi karena mau pergi jalan-jalan barengan
temanku termasuk si Akbar. Makanya jam 5 pagi aku terbangun dan
langsung mau mandi. Kamar mandi rumahku dekat dengan dapur.
Waktu aku mau melewati dapur kulihat ibuku sedang masak, sementara
ayahku ada dibelakanganya sedang memeluk Ibuku yang menghadap meja,
mungkin sedang mengoles roti, mereka membelakangiku. Kulihat ayahku
menciumi tengkuk Ibuku dan tangannya memeluk dan sepertinya meremas
payudara Ibuku. Aku langsung mengambil posisi yang enak untuk mengintip
kelanjutan kegiatan mereka.
Kudengar suara kecupan-kecupan ayahku di leher dan tengkuk ibuku.
Lalu Ibuku berbalik dan mereka berciuman dengan liar. Tangan ayahku
meremas kedua belah payudara ibuku yang hanya memakai daster. Tangan
ibuku masuk ke dalam celana pendek yang dipakai ayahku dan meremas
bokongnya.
Mereka terus berciuman, ayahku menciumi leher ibuku sambil
tangannya masuk ke selangkangan ibuku yang dasternya diangkat keatas.
Lalu ayahku menarik daster ibuku ke bawah hingga nampak payudaranya
menggantung dan langsung dilahap ayahku. Putingnya dijilat dan dihisap
membuat ibuku menggelinjang kegelian. Mulutnya mendesah-desah sementara
tangannya meremas rambut ayahku yang semkain ganas manciumi perut ibuku
dan terus turun ke selangkangannya yang juga ternyata nggak pake CD.
Ayahku melahap vagina ibuku sambil tangannya meremas payudaranya.
Lalu ayahku berdiri dan mengambil selai kue dari meja dan
mengoleskannya di vagina ibuku, kemudian menjilatinya pelan. Ibuku
semakin menggelijang hebat.
Ayahku menarik semua daster dari tubuh ibuku dan menaikkan tubuh
ibuku ke meja, lalu mengangkangkan kakinya. Ia sendiri membuka celana
pendek yang dipakainya, lalu CD putih yang sedikit basah diujung
penisnya. Penis ayahku hitam kecoklatan dan nggak terlalu besar, masih
besar punya Akbar dan punyaku juga.
Ibuku memegang pundak ayahku waktu ayahku mendekat dan mencoba menusukkan penisnya ke vagina ibuku yang kakinya mengangkang.
Lalu pelan ayahku mulai mengocok penisnya pelan. Tubuh mereka
bergoyang-goyang, juga meja. Sambil menggoyang, ayahku memegang paha
ibuku dan sambil menjilati payudaranya yang terguncang-guncang. Tangan
ibuku menumpu ke belakang. Tubuhnya terguncang-guncang oleh goyangan
pantat ayahku di selangkangannya. Ia mendesah-desah.
Lalu tiba-tiba kaki ibuku memeluk tubuh ayahku yang terus
menggoyang-goyang, ibuku memeluk ayahku dan ayahku sepertinya tahu
kalau ibuku mau orgasme, lalu dia menghentikan kocokannya dan menciumi
bibir ibuku pelan. Mereka berciuman, namun kali ini pelan dan penuh
perasaan. Lalu ayahku menggendong tubuh ibuku dan membawanya ke ruang
tamu, aku cepat-cepat sembunyi di balik tirai supaya tidak ketahuan.
Ayahku lalu duduk di sofa dan membiarkan ibuku naik ke pangkuannya.
Aku melihat pemandangan itu dari posisi samping, hingga bias kulihat
jelas waktu penis ayahku masuk ke vagina ibuku.
Dengan posisi saling memangku dan berhadap-hadapan, ibuku
menggoyangkan pantatnya di atas ayahku yang sibuk menjilati
payudaranya. Tangan ibuku menumpu pada pegangan sofa, ayahku memegani
punggung ibuku dan mengusap-usapnya. Ibuku terus mengocok vaginanya di
penis ayahku sambil melenguh dan mengerang.
Goyangan ibuku semakin kecang dan membuat ayahku melenguh keras dan menggigit payudara ibuku yang tepat dihadapannya.
Lalu tubuh ibuku mengejang dan dia menjerit tertahan, lalu
kocokannya berhenti. Ternyata dia sudah orgasme. Tapi ayahku belum.
Ibuku bangkit dari tubuh ayahku dan duduk disampingnya. Lalu menunduk
dan mengulum penis ayahku yang masih tegak. Ayahku mengangkangkan
kakinya, ibu pindah ke bawah kursi persis diantara kedua kaki ayahku.
| Title | Author | Views |
| Ngentot dengan Ari, Suami Temanku |
Wika Erlangga |
3,767 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
3,077 |
| The Fantasy Reality - 1 |
r3n0r4@yahoo.com |
2,351 |
| Percaturan Birahi Istriku - 1 |
rm4gedon@yahoo.com |
2,337 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
2,258 |
| Pagar Makan Tanaman - 1 |
robby_g88@yahoo.com |
2,243 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 5 |
tante_mirna@yahoo.com |
2,227 |
| Percaturan Birahi Istriku - 2 |
rm4gedon@yahoo.com |
2,162 |
| Perselingkuhan Ibuku 05 |
dave_putu@yahoo.com |
1,992 |
| Mencoba Tukar Pasangan |
Jayus |
1,863 |
| Pagar Makan Tanaman - 2 |
robby_g88@yahoo.com |
1,848 |
| The Fantasy Reality - 2 |
r3n0r4@yahoo.com |
1,498 |
| Selingkuh dengan Ketua RT - 1 |
marini_adit@yahoo.com |
1,459 |
| Perselingkuhan Ibuku 04 |
dave_putu@yahoo.com |
1,430 |
| Skandal Keluarga 4: PRT |
bocahsemarang@yahoo.com |
1,422 |
|
|
|
|
|
|