Dua hari kemudian, ibuku pulang sendiri,
ternyata ayahku langsung pergi ke Medan untuk bisnis lagi. Ririn udah
jarang ke rumah kami sejak ibuku pulang, hanya sesekali untuk
bersih-bersih rumah. Suatu siang, aku iseng pergi main ke pinggiran
sungai yang rimbun kayak hutan kecil. Di sekelilingnya ada ladang
penduduk. Waktu aku melewati salah satu pondok di sebuah ladang, aku
mendengar dua orang bercakap-cakap. Aku seperti mengenal suaranya,
seperti suara ibuku. Aku lihat lebih dekat dan ternyata benar, ibuku
tengah bercakap-cakap dengan Pak Sarif, pemilik ladang sayuran itu.
Hanya berdua, istri dan anaknya entah kemana, biasanya mereka selalu
membantu.
Kulihat mereka bercerita dengan tatapan lain dari biasa orang
bercakap-cakap. Tapi perasaan janggal itu aku abaikan dan pergi ke
sungai untuk mandi. Aku mandi di sebuah ceruk. Telanjang. Selesai
mandi, aku mau pulang dan sengaja lewat jalan ladang Pak Sarif supaya
aku bisa tau apa yang dilakukan ibuku disana. Ladang Pak Sarif, adalah
ladang sayuran yang disekelilingnya ditumbuhi pohon-pohon rindang dan
menjadikan ladang itu seperti tempat tertutup dari lingkungan luar.
Pondok di ladang itu ada di pinggir dekat rimbunan pohon pisang.
Waktu aku lewat, aku nggak lagi menemukan ibuku dan Pak Sarif
disana. Aku coba melongok ke dalam pondok, dan ternyata memang udah
nggak ada. Aku mau beranjak pergi waktu ku dengar suara desahan dan
gesekan daun di pinggir pondok yang ditumbuhi pohon pisang yang
rindang. Aku pelan-pelan memutari pondok dan mengintip ke arah itu.
Ternyata kudapati ibuku tengah bercinta dengan Pak Sarif. Kulihat Pak
Sarif tengah mencumbu ibuku. Payudaranya sudah lepas dar Bra dan
dadanya dikulum Pak Sarif. Mereka menggelar tikar disana dan tempatnya
memang tersembunyi.
ibuku menggelinjang pelan waktu Pak Sarif terus mencumbu payudara
dan lehernya. Posisi mereka saling berhadapan duduk diatas tikar.
Tangan Pak Sarif sibuk bergerilya di payudara dan selangkangan ibuku.
Setelah puas, gantian ibuku yang ambil kendali, dia membuka baju
yang dipakai Pak Sarif, hingga menampakkan dadanya yang bidang karena
berkerja sebagai petani dan berbulu tebal. Pak Sarif kuakui memang
ganteng, dan 5 tahun lebih muda dari ibuku. Pak Sarif berlutut di depan
ibuku yang mengelus-elus dadanya yang bidang. Lalu menjilati putingnya
pelan. Pak Sarif merem melek menikmati cumbuan ibuku. Tangan ibuku
mulai bergerilya di sekitar selangkangan Pak Sarif yang cuma memakai
kain sarung, sehingga ibuku bebas bisa meraih kontolnya yang sudah
menegang. ibuku memegang kepala Pak Sarif dan langsung mengulum
bibirnya dengan ganas. Pak Sarif membalas tak kalah ganas, mereka
saling berkuluman dan saling meraba, saling bertelanjang dada. Ibuku
asyik menggesek-gesekkan payudaranya ke dada berbulu Pak Sarif yang
juga asyik menikmati kekenyalan payudara ibuku di dadanya. Tangannya
sibuk merogoh selangkangan ibuku.
ibuku merebahkan dirinya dan membiarkan Pak Sarif menelanjanginya
dengan melepaskan daster yang dipakainya dari tubuh ibuku. CD ibuku
yang berwarna putih sudah terlihat basah dan acak-acakan. Pak Sarif
melepas kain sarungnya dan menyisakan CD yang juga berwarna putih
dengan kontol yang kepalanya menyeruak keluar berwarna hitam kecoklatan
dan ujungnya mengkilap berair. Lalu Pak Sarif rebah disebelah ibuku
sambil meraih payudara dan mengulum yang sebelahnya. Tangannya
bergerilnya dari payudara ke perut dan berakhir di vaginanya yang masih
terbalut celana dalam. Tangan dan jari-jari Pak Sarif masuk ke CD ibuku
dan menari-nari didalamnya membuat ibuku mengerang dan menggelinjang
hebat. Erangannya terdengar pelan tertahan.
ibuku sepertinya tidak tahan lagi dan membalikkan posisi. Dia
gantian mencumbu dada Pak Sarif dan terus turun ke bawah menuju
selangkangannya. ibuku meraih kepala penis Pak Sarif yang mencut keluar
dari CD. Ganas, ia menarik CD itu keluar dari kedua kaki Pak Sarif.
Pelan dia menjilati penis Pak Sarif yang berurat coklat kehitaman itu.
Pak Sarif mengerang pelan. Pantatnya ikut menggelinjang dan mencoba
menusuk-nusuk dalam mulut ibuku. Ibuku naik ke tubuh Pak Sarif yang
terbaring dan mencium dadanya yang bidang penuh berbulu lebat,
mencupang puting dan sekitar dadanya, terus menciumi di leher dan
berakhir di bibir, mereka asyik berpagutan hangat. Tangan Pak Sarif
meremas-remas payudara ibuku yang menggantung.
Pelan ibuku menempelkan payudaranya ke dada Pak Sarif, lalu mulai
memijatnya pelan-pelan. ibuku memberikan pijatan payudara di tubuh Pak
Sarif yang terus mengerang dan menggelinjang sambil meremas-remas
pantat dan punggung ibuku.
ibuku kembali naik ke atas dan mengarahnya payudaranya ke wajah
Pak Sarif yang langsung menyambutnya dan mengulum putingnya pelan,
ibuku menggelinjang sambil tangannya menumpu pada tikar. Tangan Pak
Sarif mengelus-elus vagina ibuku yang merangkak dihadapannya sambil
terus menulum dan menghisap payudaranya.
ibuku melepas CD-nya dan merebahkan badannya di sebelah Pak Sarif.
Gantian Pak Sarif yang aktif. Dia langsung merengkuh tubuh ibuku dan
menindihnya pelan. Penisnya menempel pada selangkangan ibuku. Pak Sarif
mencumbu cuping ibuku pelan dan terus mencumbu sekitar leher dan terus
turun ke payudaranya. Posisi Pak Sarif turun menyamping di samping
ibuku dan tetap mengulum dan mencumbui sekitar payudara dan perut.
Tangannya mengelus vagina ibuku yang kakinya menerjang kesana kemari
menahan kenikmatan cumbuan Pak Sarif dan tangannya terus bergrilnya.
Sesekali Pak Sarif menusukkan jari-jarinya ke dalam vagina ibuku dan
ibuku melenguh pelan.
Pak Sarif duduk di samping ibuku dan mulai tangannya meraba-raba
tubuh ibuku. Kakinya dinaikkan dan Pak Sarif menunduk ke arah vagina
ibuku. Pelan Pak Sarif mulai menjilati vagina ibuku, menyibakkan
bulu-bulu di sekitarnya dan lidahnya menjulur pelan, menjilati
selangkangan, menjilati klitoris dan sesekali memasukkan lidahnya ke
lubang vagina ibuku. Ibuku terus menggelinjang hebat. Tangan Pak Sarif
menaikkan kedua kaki ibuku dan mengangkangkannya, menekuk ke atas.
Vagina ibuku menganga lebar di depan kontol Pak Sarif yang tegang.
Ibuku menuntun kontol itu ke vaginanya, menggesek-gesekkannya sebentar
sebelum Pak Sarif menekan hingga kepala penisnya masuk. Ibuku melepas
penis dan membiarkan Pak Sarif memasukkannya sendiri. Pak Sarif tidak
langsung menekan semua batang kontolnya tetapi mengocoknya pelan
sebatas kepala penisnya saja. Ibuku rupanya sudah tidak tahan
menggoyangkan pantatnya ke atas sehingga penis Pak Sarif amblas
setengahnya, tapi Pak Sarif sigap menarik penisnya, sepertinya dia
sengaja membuat ibuku penasaran.
"Bang.. ayo dongg.. masukkan kontolmu ke memekkuu.. aku udah nggak
tahann.. ohh.", erang ibuku sambil mencoba meraih Penis Pak Sarif dan
kembali mengarahkan ke vaginanya, setelah dekat dia sendiri yang
menggoyangkan pantatnya hingga penis itu masuk, Pak Sarif mendiamkan
saja, batang penis itu baru masuk separuhnya, Pak Sarif menekan sedikit
lagi sambil terus memegang kedua kaki ibuku. Dia mengambil
ancang-ancang untuk memulai kocokannya. Begitu ibuku kembali
menggoyangkan pantatnya, Pak Sarif juga menekan penisnya hingga amblas
di vagina ibuku. Ibuku menjerit tertahan.
"Ah.. ohh.."
Pak Sarif pelan mulai mengocok penisnya di vagina ibuku, pelan
gerakannya lamban, tangannya lepas dari kaki ibuku dan menumpu pada
tikar di tanah, kaki ibuku mengait di tubuh Pak Sarif. Sesekali Pak
Sarif mencium dan berpagutan dengan ibuku.
"Oh.. bangg.. terus bang.."
"Yah.. shh.. enak.. gimana sayang, enakan mana sama kontol suamimu?", Tanya Pak Sarif sambil terus menggenjot penisnya.
"Besar punyamu sayang, suamiku udah loyo, kontolnya kecil, dia
nggak pernah muasin aku.. teruss.. sayang.. kontolmu besar.. enak
memekku.."
"Dengan Akbar gimana? Enak mana?"
"Sayangg.. kalian sama-sama enak.. kontolnya besar-besarr.. ohh..
Badannya juga bagus.. apalagi bulu-bulumu yang tumbuh di sekitar dada
dan selangkangan.. oh.. sayangg.. entotin terus aku.. mhh.."
"Yahh.. kupuasin kau.. hh.."
Pak Sarif menggenjot makin kencang ke vagina ibuku yang terus
mengerang pelan. Pak Sarif mengangkat tubuh ibuku dan mendudukkannya
berhadap-hadapan dengan dirinya dengan penis masih menusuk di vagina.
Pelan mereka berkuluman berhadap-hadapan sambil ibuku dari atas tubuh
Pak Sarif menggenjot pantatnya pelan. Pak Sarif leluasa meraih payudara
ibuku. Menggigit dan menjilatinya. Dia meninggalkan dua cupangan di
sekitar payudara ibuku. Lalu Pak Sarif merebahkan tubuhnya hingga ibuku
diatas, dia mulai menggenjot dari atas, Pak Sarif leluasa meremas
payudara dan pantat ibuku. ibuku betul-betul menikmati ngentot itu,
kuliaht dia merem melek sambil mendesis.
Tubuhnya dicondongkan ke depan sehingga tepat berada di atas Pak
Sarif dan kocokannya makin kencang. Pak Sarif sepertinya merasakan
kalau ibuku mau orgasme hingga ia langsung mengambil alih, dia kembali
duduk dan merengkuh tubuh ibuku dan mencumbunya pelan. Ibuku disuruh
menungging dan dia berlutut di belakang ibuku. Pelan dia memasukkan
penisnya dari belakang. Lalu kembali mengocoknya pelan. Tangannya
memegang pantat ibuku. Kulihat payudara ibuku menggantung
bergoyang-goyang. Pak Sarif mencondongkan tubuhnya ke depan dan
mencumbui tengkuk ibuku dan meremas payudaranya. Kocokan Pak Sarif
pelan berirama, makin lama makin cepat.
Lalu dia sedikit bangkit dan mengangkat kedua kaki ibuku yang
langsung menopangkan tangannya pada tikar. Pak Sarif mengangkat kakinya
ke atas dengan penis menusuk di vagina. Pak Sarif berlutut dengan tubuh
condong ke belakang hingga vagina ibuku leluasa masuk ke penisnya. Ia
mengocok pelan. Pelan Pak Sarif mengangkat tubuh ibuku ke pinggir tikar
yang ada rebahan pohon pisang. Ibuku didudukkan di sana, kakinya
dikangkangkan dan ibuku menuntun lagi penis Pak Sarif ke vaginanya. Pak
Sarif berlutut di hadapan ibuku. Lalu mulai mengocok penisnya di vagina
ibuku.
"Teruss.. sayang.. teruss..", erang ibuku.
Pak Sarif membungkam mulutnya dengan kuluman sambil terus mengocok
penisnya. ibuku menaikkan kedua kakinya ke phon pisang tempat dia duduk
hingga tangan Pak Sarif leluasa meremas payudara dan menjelejahi
tubuhnya.
"Oh.. ss..", erang Pak Sarif berbarengan dengan ibuku.
Gerakan mereka makin cepat dan cepat, sampai ibuku menjerit
tertahan. Tubuhnya memeluk erat tubuh Pak Sarif yang masih mengocok
penisnya kencang. Lalu dia juga mendesah tertahan dengan kocokan yang
semakin pelan dan pelan. 2 menit mereka berpelukan sebelum melepaskan
diri. Kulihat vagina ibuku basah dan juga penis Pak Sarif yang masih
tegang. Ibuku meraih penis itu dan mengusap-usapnya.
"Kamu hebat sayang."
Aku buru-buru pergi sewaktu mereka sedang berpakaian.
| Title | Author | Views |
| Ngentot dengan Ari, Suami Temanku |
Wika Erlangga |
3,767 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
3,077 |
| The Fantasy Reality - 1 |
r3n0r4@yahoo.com |
2,350 |
| Percaturan Birahi Istriku - 1 |
rm4gedon@yahoo.com |
2,337 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
2,258 |
| Pagar Makan Tanaman - 1 |
robby_g88@yahoo.com |
2,243 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 5 |
tante_mirna@yahoo.com |
2,227 |
| Percaturan Birahi Istriku - 2 |
rm4gedon@yahoo.com |
2,161 |
| Perselingkuhan Ibuku 05 |
dave_putu@yahoo.com |
1,992 |
| Mencoba Tukar Pasangan |
Jayus |
1,863 |
| Pagar Makan Tanaman - 2 |
robby_g88@yahoo.com |
1,848 |
| Perselingkuhan Ibuku 02 |
dave_putu@yahoo.com |
1,683 |
| The Fantasy Reality - 2 |
r3n0r4@yahoo.com |
1,498 |
| Selingkuh dengan Ketua RT - 1 |
marini_adit@yahoo.com |
1,459 |
| Skandal Keluarga 4: PRT |
bocahsemarang@yahoo.com |
1,422 |
|
|
|
|
|
|