|
|
Dari bagian 1 Bulu-bulu tangannya sempat menyentuh tanganku. Aku langsung merinding.
Aku tidak mampu berpikir apa-apa lagi. Otakku langsung tumpul oleh
darahku yang sudah dikuasai birahi pula. Kurasakan mata Pak Anggoro tak
sedetikpun melepaskan pandangan hausnya dariku. Ada sedikit rasa kikuk
pada diriku. Adakah yang salah? Atau semata pandangan penuh kekaguman?
Tetapi aku berusaha yakin bahwa yang kedualah penyebabnya. Untuk sore
ini aku memang sangat hati-hati dalam menjaga penampilanku. Aku memilih
dengan cermat apa-apa saja yang akan kupakai. Bagaimanapun aku adalah
seorang perempuan yang selalu merindukan kehormatanku. Setidak-tidaknya
mata lelaki yang terpesona akan kecantikanku pasti akan sangat
membahagiakanku.
Setelah mandi air panas dengan segala pewangi alami yang biasa
kugunakan, aku menyiapkan pakaian, aksesori, parfum yang tepat dan make
up. Beberapa pilihan dan model baju, rok dan sepatu kupertimbangkan
masak-masak. Aku ingin tampil sebagai wanita yang cantik, penuh percaya
diri, sensual dan seksi namun anggun. Terakhir, ada 2 baju yang harus
kupilih, modelnya hampir sama. Hanya warnanya yang berbeda, yang satu
merah muda, dan yang lainnya ungu tua.
Akhirnya kupilih yang ungu tua. Ini cocok dengan deskripsiku tadi,
penuh percaya diri, sensual dan seksi namun anggun. Model ini mirip
dengan yang kupakai saat berjalan bersama Rendi. Dengan tali kecil
tipis pada bahuku yang akan sangat menawan para lelaki, begitu komentar
suamiku saat aku memakai baju ini, kain sutra Thailand yang mahal,
membuat lekuk tubuhku membayang dengan sangat lembut. Bagi pria penuh
selera, begitu kubayangkan lelaki seperti Pak Anggoro ini, penampilanku
akan sangat menyentuh selera birahinya. Aku tersenyum sendiri
membayangkan kepuasan yang akan kuraih, demi melihat Pak Anggoro yang
bersimpuh memujaku.
Untuk bibirku yang tak perlu diragukan lagi mirip bibir Sarah
Ashari ini, kulekatkan lipstick Margo yang membuat kesan wet look
hingga seakan bibirku basah dan mencuat siap menerima lumatan bibir
lelaki manapun. Aku juga memakai parfum La Roche yang sangat lembut
tetapi tak akan pernah terlupakan selama bertahun-tahun oleh siapapun
yang sempat menyentuhnya. Mengenai rambutku, aku paling senang melepas
urai rambutku. Aku merasa kesan kewanitaanku akan sangat nyata karena
rambutku ini. Saat terkena angin, kunikmati geraiannya yang sesekali
terbang menutupi mukaku, dan saat tanganku menyibakkannya akan
menunjukkan pesona diriku bagi lelaki yang berada di dekatku. Dan
sesekali kusibakkan rambut ke belakang dengan leherku, yang merupakan
pesona sensual sendiri yang terpancar dari gayaku.
Aku juga memakai sepatu warna ungu tua bertali dengan hak tinggi.
Warnanya kebetulan pas dengan warna gaun yang akan kupakai. Ini
sesungguhnya sepatu murah. Tetapi aku memang tidak gila merk berkat
kesadaran dan pengetahuanku tentang desain yang baik. Kuperoleh sepatu
ini dari sebuah boutique kecil di Pondok Indah. Dengan sepatu ini
nampak tumitku yang lembut mirip telur ayam kampung dan betisku yang
sangat aduhai, begitu kata Indri tetanggaku, istri pelaut yang lesbi
dan sangat suka menggigiti betisku ini.
Makanan pesanan Pak Anggoro datang. Pelayan menurunkan makanan
tersebut dari meja dorongnya. Kusaksikan surprise Pak Anggoro untukku.
Pertama, tiram rebus yang diimpor khusus dari Laut Tengah dengan kaviar
ikan sturgeon dari sungai Mekong. Disuguhkan di atas kulit tiram
keperakan yang cukup besar. Kedua, salad mangga dengan lemon yang
dibubuhi prosciutto atau ham Itali. Kemudian segelas red wine. Pak
Anggoro sangat tepat dalam membaca selera makan impianku. Semua makanan
itu sangat ideal bagiku yang selalu mempertimbangkan bobot tubuhku.
Makanan-makanan pilihannya itu tepat energi dan tidak mengancam
kolesterolku. Aku tidak tahu berapa harga untuk semua makanan super
mahal itu. Dan untuk Pak Anggoro sendiri, dia hanya minum teh Assam
dari India dengan gula batu.
"Silakan, Bu Adit. Ini sekedar apetizer. Nanti makan besarnya di kamar saja. Saya sudah atur".
Sekali lagi dia meremas jari-jari kiriku. Selangit rasanya aku tersanjung.
"Aku memang hanya minum teh seperti ini, dimana saja, kapan saja".
Diam-diam setiap kali kulirik Pak Anggoro. Dia terus menerus
menatapku bak serigala yang benar-benar lapar. Tetapi dengan usianya
yang sudah cukup sepuh, walaupun birahinga datang memacu, dia adalah
serigala yang bijak dengan ketenangannya yang luar biasa. Dia sangat
menguasai medan dan iramanya yang terus mengalir penuh improvisasi. Dan
dia selalu memiliki jalan keluar untuk menghindarkan suasana kebisuan.
Sambil meremas jari-jariku, dia menanyakan cat kukuku, gaun sutraku,
warna lipstick-ku, aksesorisku dengan penuh antusias.
Setelah aku menikmati hidangan hebat ini, Pak Anggoro mengajakku
beranjak. Pada billingnya kulirik tagihan makannya, US$ 250. Wow,
paling tidak hanya dalam tempo 5 menit telah kutelan Rp. 1,5 juta masuk
ke perutku.
President Suite Pak Anggoro berada di lantai 7. Dari tempat ini
nampak panorama malam Jakarta yang penuh lampu-lampu. Begitu memasuki
kamar, kuperhatikan ruang tamunya yang besar dengan sofa-sofanya yang
mewah. Tempat tidurnya King Size yang mewah pula. Pak Anggoro duduk di
salah satu sofa yang tersedia, kemudian memanggilku, memintaku duduk di
pangkuannya. Dengan kesadaran birahi seorang perempuan taklukan dan
budak yang harus patuh pada tuannya, aku mendekat. Bukankah aku
tawanannya, kini?
Belum pernah seumur-umur aku mengalami tremor hingga gigiku
menggerutuk menggigil seperti ini. Seorang bapak, boss yang sangat
gentleman, kharismatik, memanggilku dan memintaku duduk di pangkuannya.
Dia begitu percaya diri, bahwa semuanya pasti akan beres. Sikapnya
itulah yang membuatku langsung bertekuk lutut. Dan saat telah berada di
dekatnya, tangan kanannya menjemput, meraih pinggulku dan dengan penuh
kelembutan ditariknya aku ke pangkuannya. Sambil membenamkan wajahnya
ke leherku, Pak Anggoro berbisik.
"Bu Adit, kamu sangat mempesonaku. Bu Adit sangat cantik. Sangat seksi".
Tangan kananku secara otomatis merangkul bahunya agar aku tidak
terjatuh. Sementara itu tangan kanan Pak Anggoro meraih paha kiriku
agar posisi dudukku lebih ke tengah pangkuannya. Mendengar bisikannya,
semangat birahiku langsung hadir. Aku ingin mendapatkan lebih dari
sekedar bisikan di leherku. Tangan kiriku kurangkulkan ke lehernya
hingga kedua tanganku saling berpegangan di belakang kuduknya. Posisi
seperti itu menggiring wajah Pak Anggoro lebih bergeser ke dadaku.
Tenggelam ke bukit-bukit ranumku yang sudah setengah terbuka karena
model gaunku yang memang menampilkan belahan payudaraku. Pak Anggoro
menyapukan wajahnya pada dadaku. Menghirup aroma dari dadaku itu.
"Paakkhh.., hh..".
Kurasakan tangan Pak Anggoro mulai menyingkap gaunku. Tangannya
mengelus pahaku yang sintal ini. Aku semakin merinding. Akhirnya kami
saling melumat. Ciuman Pak Anggoro sungguh maut. Ciuman seorang pria
yang telah matang dan penuh perasaan serta penghargaan pada lawan
mainnya. Dari sebuah ciuman, kurasakan bahwa Pak Anggoro bukanlah
lelaki egois. Dia mau menerima dan sekaligus juga menikmati saat
memberi. Lidahnya yang besar menyeruak ke rongga mulutku, mengorek dan
mengisap ludahku sambil tangan kanannya mulai menelusuri celah
selangkanganku. Aku mulai menggelinjang dan serasa terbakar darahku.
Birahiku mulai memanas dan menanjak.
Ciuman Pak Anggoro membuatku benar-benar terhanyut. Mau tak mau aku
tergerak untuk memberikan respons dengan penuh perasaan juga. Aku
menyedot lidahnya, juga ludahnya. Dan Pak Anggoro memberikannya
untukku. Aku rasakan kini, bahwa dengan ciuman saja kita bisa
mendapatkan ribuan warna dan nuansa, dimana setiap warna dan nuansa itu
benar-benar memiliki bentuk kenikmatan yang berbeda-beda. Dan itu
berkat pemahaman akan makna ciuman dengan gerakan anggota tubuh yang
lain yang sama-sama menggiring sensasi kita dalam menapaki birahi yang
diharapkan akan terus memuncak.
Saat menyedot lidah dan ludah itulah, tangan Pak Anggoro
menelusuri tepian celana dalamku di celah selangkanganku. Paduan kerja
lidah dan tangan seperti inilah yang membuatku terbawa melayang-layang
dalam langit penuh kenikmatan. Dan aku harus belajar menyelami irama
dan makna dalam menapaki birahi ini. Saat aku harus melakukan balasan
ciuman atau sedotannya, aku mulai dengan sedikit menggoyang pinggulku,
untuk menunjukkan pada Pak Anggoro betapa nikmat sentuhan yang
dilakukannya pada tepian celana dalamku itu.
Tidak keliru jika dikatakan bahwa seks itu sesungguhnya merupakan
suatu seni. Ciuman, rabaan, desahan, rintihan, goyangan bahkan sibakan
rambut atau cubitan kecil di pinggul atau jambakan rambut hingga lawan
cumbunya merasakan pedihnya kulit kepalanya atau cakaran kuku-kuku pada
punggung. Hal seperti itulah yang harus dimiliki oleh para suami dan
istri. Dan hal seperti itulah yang kuanggap tidak pernah secara serius
diusahakan oleh suamiku sendiri, Mas Adit. Dia hanya seorang egois yang
hanya asyik dengan pekerjaannya. Dia tak pernah mengusahakan bagaimana
agar istrinya juga mendapatkan kepuasan. Bukan sekedar kepuasan materi.
Dia sama sekali tidak pernah merasakan apa sesungguhnya yang
kubutuhkan. Lembutnya bercumbu dalam ciuman, nikmatnya sapuan lidah
yang sesekali merambah ke daguku, gigitan bibirku pada bibirnya atau
sebaliknya, erangan dan desahan kecil dari mulut-mulut kami,
remasan-remasan jari-jari lentikku pada kuduk Pak Anggoro, rabaan
jari-jari Pak Anggoro pada tepian celana dalamku yang sesekali melewati
batas tepian itu dan menyentuh atau mengusap atau bahkan memilin
bibir-bibir vaginaku telah menggiring semakin jauh dan tingginya nafsu
birahi kami.
Kurasakan Pak Anggoro semakin terbakar hingga panasnya juga
langsung membakar diriku. Nafsu ini setapak-setapak menanjak. Dan
rasanya pada saatnya akan meroket. Aku sudah dapat merasakan kalau
pangkuan yang sedang kududuki menggelembung. Kontol Pak Anggoro sudah
mengganjal di bokongku. Setiap kali aku harus memepetkan tubuhku agar
lebih mepet ke tubuhnya. Sekali lagi Pak Anggoro menunjukkan
improvisasi matangnya. Dia raih kaki kananku dan diangkatnya hingga
kini aku setengah miring dan setengah membelakangi tubuhnya. Kakiku di
sandarkannya ke sandaran jok sofa. Dan akibatnya selangkanganku menjadi
terbuka dan gaunku melipat ke pinggulku hingga celana dalamku langsung
tampak.
Kini tangan kananku yang tidak lagi menggelayut pada lehernya
kuangkat ke atas belakang jatuh ke tangan sofa kiri tanpa pegangan.
Ketiakku terbuka lebar, demikian pula dada dengan belahan payudaraku.
Bibir Pak Anggoro lepas dari bibirku. Pagutan dan ciumannya berubah
menjadi sedotan dan jilatan pada ketiakku. Sementara tangan kanannya
mulai meliar meremas memekku dan jari-jarinya mulai menembus lubang
vaginaku. Aku mulai mendesah histeris. Tangan kiriku serta merta meraih
rambutnya yang setengah botak itu dan meremasnya dengan penuh kegatalan
birahi. Betapa kenikmatan birahi dalam kualitas yang sangat tinggi
tengah menyeruak dalam relung tubuhku dan terus memacu libidoku untuk
terus menapaki ke jenjang puncaknya. Kegatalan pada liang vaginaku
memaksaku untuk menjerit lembut sembari mengangkat pantatku untuk
menjemput jari-jari Pak Anggoro yang telah menari-nari dalam liang
surgaku.
Tiba-tiba aku ingin sekali meraba dan mengelus dada Pak Anggoro
yang tentu bulunya lebat sebagaimana yang kulihat pada
tangan-tangannya. Tangan kiriku melepaskan remasan rambutnya menuju ke
kancing-kancing kemejanya untuk melepaskannya. Walau hanya 2 atau 3
kancing yang terlepas, telah cukup bagi tanganku untuk menyeruak masuk
mencapai dadanya yang gempal penuh bulu itu. Perasaan merinding kembali
menyergap nafsuku saat tapak-tapak tanganku merasakan lebatnya bulu
dada Pak Anggoro. Kuraba tubuhnya lebih ke dalam seakan hendak
memeluknya. Lagi-lagi aku mendesah hebat.
Goyangan pinggul serta gerakan pantatku untuk menahan kegatalan
serta menjemput tusukan jari-jari Pak Anggoro dalam liang vaginaku
membuat ciuman dan jilatannya semakin meliar pada seluruh wilayah
dadaku. Dengan bantuan tanganku, Pak Anggoro kini juga sudah menyedot
putingku yang semula masih tersembunyi dalam BH-ku. Kenikmatan ciuman
dan jilatan Pak Anggoro telah mendorong tanganku untuk merogoh
payudaraku keluar dari gaun dan BH-ku.
Ke bagian 3
| Title | Author | Views |
| Ngentot dengan Ari, Suami Temanku |
Wika Erlangga |
32,999 |
| Pagar Makan Tanaman - 1 |
robby_g88@yahoo.com |
29,762 |
| Percaturan Birahi Istriku - 1 |
rm4gedon@yahoo.com |
27,748 |
| Percaturan Birahi Istriku - 2 |
rm4gedon@yahoo.com |
26,119 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
24,654 |
| The Fantasy Reality - 1 |
r3n0r4@yahoo.com |
23,833 |
| Skandal Keluarga 4: PRT |
bocahsemarang@yahoo.com |
22,056 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 5 |
tante_mirna@yahoo.com |
20,223 |
| Pagar Makan Tanaman - 2 |
robby_g88@yahoo.com |
19,833 |
| Mencoba Tukar Pasangan |
Jayus |
19,203 |
| Perselingkuhan Ibuku 05 |
dave_putu@yahoo.com |
16,828 |
| Mantan Pacarku Tersayang - 1 |
SILKVLVT@YAHOO.COM |
16,479 |
| Selingkuh dengan Ketua RT - 1 |
marini_adit@yahoo.com |
15,847 |
| The Fantasy Reality - 2 |
r3n0r4@yahoo.com |
15,614 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
15,220 |
|
|
|
|
|
|
|