|
|
Dari bagian 3 Mulutku sengaja diam untuk menampung semua cairan kental yang tumpah
ini. Pada kedutan yang ketujuh, mulutku sudah penuh. Aku menganga dan
menunjukkannya pada Pak Anggoro. Dia meraih kepalaku, mengelus dan
mencium sedikit bibirku. Dia menginginkanku menelan seluruh spermanya.
Dan hal itu langsung kulakukan sekaligus untuk membasahi tenggorokanku
yang selalu haus sperma ini.
Pak Anggoro langsung rubuh ke ranjang. Tangan-tangan dan pahanya
terentang seluas ranjang King Size itu. Sepertinya aku sedang
menyaksikan beruang putih yang kelelahan setelah menyetubuhi betinanya.
Bulu-bulu dadanya itu, aku sedemikian terobsesinya, bahkan setelah
orang ini menumpahkan demikian banyaknya lendir kontolnya ke mulutku.
Sementara Pak Anggoro masih tergolek, aku menyiapkan air panas
untuk mandi. Kini jam menunjukkan pukul 10 malam. Kami telah berasyik
masyuk tanpa jeda selama hampir 2 jam. Dan kepuasan orgasme yang telah
kuraih, benar-benar karena pasanganku, Pak Anggoro yang sangat mengenal
seninya bercinta. Dia sungguh menikmati setiap detail cinta yang
kupersembahkan padanya. Entah itu berupa sentuhan, pijitan, kecupan,
jilatan, sedotan dan gigitan yang telah kulakukan pada lembah dan
bukit-bukit tubuhnya ataupun yang sebaliknya dia lakukan pada tubuhku.
Aku juga sangat kagum betapa semua ulahnya langsung mendongkrak
saraf-saraf erotisku. Hanya dengan permainan jarinya pada klitoris
serta dinding-dinding dalam vaginaku, Pak Anggoro telah melemparkanku
ke langit kenikmatan yang sangat tinggi, hingga aku bisa meraih
orgasmeku. Aku sangat puas. Aku jadi teringat Mas Adit. Kamu juga bisa
Mas, pasti bisa kalau kamu tidak egois. Aku sudah membuktikan, bahwa
kepuasan bukan semata-mata diperoleh karena ketampanan atau kecantikan,
muda, besar ataupun panjangnya ukuran, tetapi lebih kepada wawasan,
kecerdasan, sikap toleransi untuk tidak egois, selera dan kepekaan,
daya imajinasi, kreatifitas dan kemauan yang serius. Aku ingin berterus
terang Mas, kalau saja aku diberikan kesempatan, aku selalu siap
menolongmu.
*****
Segarnya air panas. Aku membersihkan semua sisa-sisa persetubuhanku
tadi. Lendir mani dalam vaginaku belum sepenuhnya bersih, walaupun Pak
Anggoro sudah menyedotnya tadi. Dengan kimono lembut yang tersedia
untuk sepasang tamu kamar mewah itu, aku keluar dari kamar mandi. Pak
Anggoro sudah bangun, sedang duduk setengah telanjang di sofa.
Lagi-lagi aku tetap tergetar menyaksikan bulu-bulu dadanya itu. Mungkin
karena baru kali ini aku mendapatkan dan merasakan nikmat birahiku pada
saat tersentuh bulu-bulu itu. Pak Anggoro bangkit untuk mandi setelah
sebelumnya dia menelepon room service untuk menghidangkan makan malam
yang menunya telah dia pesan bersamaan dengan kedatangannya sore tadi.
Aku mengeringkan rambutku. Beberapa saat setelah kami mandi dan
sama-sama memakai kimono lembut hotel ini, terdengar bel pintu yang
lembut. Pak Anggoro membukanya. Dia persilakan para pelayan menyiapkan
perjamuan malam di ruang yang tersedia. Aku beranjak ke beranda
menyaksikan lampu-lampu Jakarta. Aku tidak ingin bertemu dengan orang
lain. Siapa tahu saja di antara mereka ada yang mengenalku. Sekitar 10
menit kemudian Pak Anggoro menjemput dan menggandengku menuju
perjamuannya. Wah, kulihat kemewahan Resto Grand Hyatt pindah ke ruang
kamar mewah Pak Anggoro. Dengan lampu ruang yang cahayanya difus (buram
temaram), nampak lilin-lilin di meja perjamuan menjadi sedemikian
romantisnya. Aku sepintas ingat kemewahan suasana makan di kapal
Titanic yang tenggelam itu.
Dengan latar belakang desah nyanyian Julio Iglesias, penyanyi Latin
yang seksi dan lembut pujaan jutaan wanita itu, suasana dalam ruangan
ini menjadi sedemikian fantastik dan eksotik. Aku merasa Pak Anggoro
sungguh-sungguh ingin memanjakanku. Aku merasa sangat tersanjung juga
terharu. Sedemikian hebatnya dia menghargaiku. Entah benar atau tidak
kesanku ini. Atau mungkin juga sekedar pernyataan kepuasannya pada
kesediaanku untuk mengulum kontolnya tadi. Ah, tentu saja bukan.
Bukankan makanan ini sudah dia pesan sejak awal kedatangannya tadi. Pak
Anggoro menarikkan kursi untukku. Kusaksikan makanan serba laut yang
mahal terhidang berlimpah di meja. Rasanya ini makanan yang cukup untuk
orang se-RT. Demikian banyak dan beragam. Ini semua dimaksudkan untuk
memicu dan memacu selera makan kami berdua.
Aku lihat ada lobster dalam "chinese cuisine" yang ditampilkan utuh
dengan cangkangnya di atas dagingnya yang telah diiris-iris. Ada kakap
yang diiris tipis-tipis untuk dicelupkan dalam saus yang spesial. Ada
tumis sirip hiu yang dimasak dalam saus tomat dan arak china. Ada tim
kerapu yang pasti masih segar karena berasal dari aquarium restoran
hotel ini, dengan daun bawang, seledri dan arak China juga. Di samping
kananku, yang juga sebelah kanan Pak Anggoro, kulihat sup kepiting
Alaska dengan abalone dan jamur China. Ah, akau tidak tahu lagi dengan
yang lain. Aku banyak tidak tahu masakan apa saja ini. Tetapi aromanya
yang merebak memang langsung membuat perut kami jadi terasa sangat
lapar.
Dibuka dengan minum teh cina yang pahit, Pak Anggoro di seberang
meja sana mengajakku untuk mulai melahap hidangan perjamuan di meja. Di
akhir perjamuan kulihat Pak Anggoro meraih sebuah botol berisi anggur,
menuangnya satu sloki dan menenggaknya. Dia bilang itu adalah anggur
tua asli yang dicampur ramuan sehat dari China. Untuk menghargai
tawarannya, aku minum satu sloki. Kurasakan nikmat dan sangat segar.
Terasa sedikit keras, tetapi lebih tepat jika disebut lembut. Badanku
langsung merasa hangat.
Selesai makan yang berlangsung hampir 1,5 jam karena juga diisi
obrolan santai sana sini hingga makanan benar-benar turun ke perut,
kusampaikan pujian kepada Pak Anggoro akan selera pilihannya yang hebat
pada jamuannya malam ini. Kusampaikan kagumku mengenai lilinnya, Julio
Iglesias-nya, lobsternya, kepiting Alaskanya, tumis sirip hiunya,
minuman anggur Chinanya dan sebagainya. Dia hanya tersenyum. Kedua
tangannya meraih kedua bahuku yang kemudian bergeser turun menyusup
masuk ke kimonoku, yang memang tanpa kancing kecuali tali pinggang yang
kuikat kendor. Dia meraih dan merangkul pinggulku hingga membuatku
langsung merinding oleh sentuhan bulu-bulu tangannya itu. Kemudian
dengan pandangan yang penuh makna dan dalam, dia berbisik kepadaku.
"Bu Adit, semua ini tak ada artinya dibandingkan keindahan dan
kenikmatan yang telah dan akan saya rengkuh kembali darimu. Rekah
bibirmu, ranum payudaramu, puting-putingmu, wangi ketiakmu, lembut
bokongmu, lembut lubang pantatmu, getas betismu, wangi pahamu, wangi
selangkanganmu, legit memekmu, keras itilmu, gurih cairan birahimu. Bu
Adit, sungguh-sungguh kenikmatan surgawi yang aku telah temukan di
dunia. Saya, Bu Adit, akan terus menerus memendam hasrat birahi pada
Ibu Adit sepanjang hayat saya. Akan selalu merindukan indah dan
nikmatnya celah, lembah dan bukit-bukit yang Bu Adit miliki ini. Tak
ada kata-kata yang sepadan untuk mengucapkan kenikmatan yang kurasakan
selama 2 jam terakhir bersama Bu Adit ini".
Kemudian dia mencium dan melumat lidahku sambil tangannya meremas bokongku.
Wow, aku mabuk kepayang oleh romantisnya Pak tua ini. Nafasku
seketika terasa sesak. Aku berada dalam keadaan antara tersipu, terharu
dan tersanjung. Kalau toh ini semua semata sikap emosi romantisnya Pak
Anggoro, bagaimanapun ia telah mengucapkannya secara langsung dan lugas
kepadaku hingga pantaslah apabila membuatku yang saat ini bagai
tawanannya bertekuk lutut padanya. Aku sungguh-sungguh sangat tersipu,
sangat terharu dan sekaligus sangat tersanjung.
Selepas mencium dan melumat bibirku, tanganku beranjak menyusup ke
celah kimononya. Aku memeluk tubuhnya. Kusandarkan kepalaku pada
dadanya yang penuh bulu itu. Saat bibirku menyentuh puting susunya,
secara refleks aku mencium kemudian mengulum dan menggigit kecil
putingnya itu. Bulu-bulu tubuhnya yang lekat pada tubuhku semakin
membuat mabuk kepayangku tak tertolong lagi. Aku menciumi dada Pak
Anggoro sambil merintih lembut. Demikian pula Pak Anggoro mengeluarkan
desahan beratnya sambil tangannya menyapu rambutku. Masih kudengar
samar-samar rayuan Julio Iglesias tadi.
Pelan, sambil terus saling berpelukan dan melumat, kami beringsut
menuju peraduan. Begitu melewati ambang pintu ruang makan, Pak Anggoro
merengkuh punggung dan pahaku kemudian mengangkatnya, menggendongku.
Dibawanya aku dan direbahkannya ke ranjang. Aku merasa, sekaranglah
perjamuan besar yang sesungguhnya bagi Pak Anggoro. Akulah yang akan
jadi santapan utama perjamuannya. Dan yang 2 jam pertama tadi hanyalah
"apetizer" atau makanan pembuka bagi beliau untuk mengawali jamuan
besarnya sekarang ini. Bagai kijang yang telah lumpuh oleh panah
beracun cinta yang dilepaskan Pak Anggoro, aku sepenuhnya menjadi
tawanan birahinya. Dan aku sendiri memasuki ambang kenikmatan
penyerahan diri. Suatu bentuk kenikmatan nafsu birahi yang hadir karena
ketidak mampuan untuk berkata "tidak" karena dengan penyerahan diri
tersebut aku sedang menyongsong pucuk-pucuk birahiku yang penuh
kenikmatan.
Tanpa ada yang dilepaskan dari tubuh-tubuh kami, aku dan Pak
Anggoro kembali bercumbu. Ternyata dia tidak langsung menindihku
sebagaimana yang kubayangkan sebelumnya. Aku diseretnya ke tepian
ranjang hingga setengah kakiku terjuntai. Pak Anggoro bersimpuh di
lantai meraih kakiku dan mulai mencium. Mulai dengan kaki kiriku, bibir
dan lidah Pak Anggoro menyisiri telapak kaki, betis dan jari-jari
kakiku. Lidahnya menari di antara celah-celah jari kakiku dan bibirnya
mengulum. Gelinjang yang sangat dahsyat langsung menerpaku. Aku tak
bisa menghindar untuk tidak menggeliat-geliat. Kegelian yang amat
sangat menyerangku pada setiap jilatan dan sedotan bibir Pak Anggoro.
Puas menggauli telapak, tumit dan jari kaki kiriku, ganti tangannya
meraih kaki kananku. Dia melakukannya seperti yang sebelumnya
dilakukannya pada kaki kiriku. Dan kembali aku menggeliat menahan
kegelihan yang amat sangat. Aku juga mendesah dan merintih, meminta
agar Pak Anggoro menghentikan manuver bibir dan lidahnya. Tapi tentu
saja tidak bisa, kenikmatan yang demikian saja dipotong di tengah
jalan. Justru desahan dan rintihan serta gelinjang kaki-kakiku memacu
nafsu Pak Anggoro naik semakin menggila. Entah berapa kali aku dengan
tanpa sengaja menendang mukanya.
Setelah puas menciumi dan menjilati kakiku, bibir dan lidahnya
merambat ke kedua betisku. Betisku yang getas (keras tetapi mudah
patah, atau pecah, sebagai gambaran tentang betisku yang sekal tetapi
sangat peka terhadap berbagai sentuhan lelaki) dia lumat hingga kuyup
oleh ludahnya. Kegelian yang amat sangat segera menyerangku setiap kali
lidahnya yang terasa sedikit kasar itu menyapu pori-pori betisku.
Ketika dia terus naik menuju ke nonokku sebagai pusat kenikmatan dunia
digigitnya lututku. Langsung kakiku berontak kegelian. Tangan-tangannya
yang kuat menahan kakiku, sementara bibir dan lidahnya terus melumat
lututku. Aku sangat tersiksa rasanya. Seluruh punggungku seperti
dirambati jutaan semut, bulu kudukku berdiri. Perasaan sangat merinding
merata pada bagian belakang tubuhku. Kini tangankulah yang kuharapkan
bisa melepaskanku dari siksaan yang nikmat ini. Aku bangkit setengah
duduk. Kurenggut kepala Pak Anggoro dan menolaknya dari ciuman di
lututku. Tetapi aku tidak cukup kuat, perempuan ringkih lemah seperti
aku ini melawan ganasnya beruang yang menancapkan rahang-rahangnya pada
lututku ini. Tapi aku terus melawannya, berusaha menendangnya, berusaha
melepaskan diri dari cengkeramannya.
Setelah dari lututku, wajah Pak Anggoro merangsek ke atas lagi.
Dengan tangan-tangan kuatnya yang memegang erat-erat kedua pahaku,
kembali bibir dan lidah Pak Anggoro melumat pahaku.
"Ooouuhh, jangan, jangan! Aku bencii, aku benci kamuu Anggoroo! Setaann kamu Anggoroo!".
Aku melupakan rasa hormatku pada Pak Anggoro, mengumpat sambil
berontak sejadi-jadinya. Aku mengumpat meracau layaknya perempuan
kemasukan jin. Suaraku menjadi parau kehabisan suara. Untunglah, Pak
Anggoro tenang saja. Sangat paham dan tenang. Hebat. Terus saja dia
melakukan hal tersebut. Dia menjadikan dirinya seorang sadistis yang
menikmati penderitaan dan kesakitan orang lain. Dan disinilah aku
menemukan apa yang disebut sebagai "sensasi birahi". Mungkin bagi Pak
Anggoro yang sudah matang dalam petualangan seksnya, dia tahu persis
dan sering mengalami reaksi lawan cumbunya seperti begini. Sikapnya
yang tenang merupakan bentuk toleransi birahinya agar lawan cumbunya
berkesempatan meraih sensasi erotiknya.
Bagiku sendiri, dalam instingku yang sangat jauh, semua upaya
perlawananku sebenarnya bukan untuk membuat lawanku menyerah. Semua
perlawananku itu adalah merupakan ungkapan kenikmatan tak terhingga
yang disebabkan nafsu birahi yang melemparkanku jauh ke langit, ke
bintang-bintang nikmat tak terperi. Kenikmatan yang menghempaskanku,
jiwaku, saraf-saraf pekaku, darahku hingga ke titik yang paling
ekstrim.
Ke bagian 5
| Title | Author | Views |
| Ngentot dengan Ari, Suami Temanku |
Wika Erlangga |
96,087 |
| Pagar Makan Tanaman - 1 |
robby_g88@yahoo.com |
65,733 |
| Percaturan Birahi Istriku - 1 |
rm4gedon@yahoo.com |
56,307 |
| Percaturan Birahi Istriku - 2 |
rm4gedon@yahoo.com |
52,628 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
52,375 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
51,749 |
| Skandal Keluarga 4: PRT |
bocahsemarang@yahoo.com |
45,421 |
| Pagar Makan Tanaman - 2 |
robby_g88@yahoo.com |
42,433 |
| Orgasme dengan Bertukar Pasangan 01 |
tante_mirna@yahoo.com |
40,501 |
| The Fantasy Reality - 1 |
r3n0r4@yahoo.com |
39,139 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 5 |
tante_mirna@yahoo.com |
38,870 |
| Perselingkuhan Ibuku 05 |
dave_putu@yahoo.com |
36,518 |
| Mencoba Tukar Pasangan |
Jayus |
36,197 |
| Vivi, Istri Cantik yang Kecewa dengan Suami |
Bendot |
35,787 |
| Mantan Pacarku Tersayang - 1 |
SILKVLVT@YAHOO.COM |
34,925 |
|
|
|
|
|
|
|