|
|
Dari bagian 4 Seandainya saja karena kurang pengalaman dan pemahamannya, kemudian Pak
Anggoro menuruti kemauan berontakku, pasti aku akan jatuh pada
kekecewaan yang berkepanjangan. Bukankah kita sering mendengar, bahwa
seorang istri baru bisa meraih orgasmenya pada saat dia diperkosa.
Lelaki-lelaki kasar, penuh keringat dan debu telah memperkosanya. Semua
perlawanannya sia-sia. Kontol lelaki itu dipaksakannya menembus
kemaluannya. Dan pada saat kontolnya telah tenggelam dilahap vagina
sang istri tersebut, dan sang pemerkosa mulai dengan kasarnya mengayun
dan memompa kontolnya ke memeknya, baru sang istri tersebut mendapatkan
kenikmatan yang tak terpana. Selanjutnya sang istri ketagihan. Tetapi
suaminya tak pernah bisa memberikannya, walaupun suaminya tampan,
bersih dan rapi. Tetapi tidak lagi mampu memicu birahi istrinya.
Mungkinkah hal seperti itu juga mengidap pada diriku?
Pak Anggoro tidak menyelesaikan ciuman dan jilatannya hingga beliau
mendekat ke pangkal pahaku. Dia lepas ikatan kimonoku. Dengan agak
kasar dia balikkan tubuhku agar tengkurap. Dan dia merangkak diatasku.
Dia menuju punggungku. Dia cengkeram bahuku. Dia gigit kudukku. Sekali
lagi karena gelinjang birahiku, aku berusaha berontak. Untung saja
tangan Pak Anggoro sangat kuat menjeratku. Ditindihnya aku dengan
badannya yang berbobot 75 kg itu. Dan sedikit banyak hal itu telah
membuatku benar-benar kesakitan dan menyesakkan nafasku.
Tetapi saat bibir dan lidah Pak Anggoro kembali melumat-lumat,
hingga seluruh dataran serta lembah punggungku basah kuyup oleh
ludahnya, segala siksaan tadi lenyap berubah menjadi nikmat birahi yang
sangat kurindukan. Dengan terus merangsek tangan-tanganku agar tidak
memberontak, ciuman dan jilatan Pak Anggoro melata ke pinggulku. Betapa
tak tertahankan kegelianku. Di tempat ini, di pinggulku sedemikian
banyak saraf-saraf peka birahiku. Aku hanya bisa berteriak mengaduh.
Umpatanku tidak lagi muncul. Hanya teriakan karena deraan nikmat yang
terus memenuhi kamar President Suite Pak Anggoro ini. Dan kembali
kudapatkan sensasi erotik, saat tangan-tangan kuatnya membelah bukit
pantatku disusul kemudian lidah Pak Anggoro menjilati duburku. Pak
Anggoro yang boss besar kantor suamiku ini, kini sedang menjilati
lubang pembuangan istri anak buahnya. Lidahnya yang besar dan panjang
mencuci analku. Kerut-kerut analku di sedot-sedotnya. Lubang analku
disedot-sedotnya. Kemudian aku ditunggingkannya agar lubang pantatku
menjadi lebih terbuka hingga seluruh wajah Pak Anggoro mudah tenggelam
ke dalamnya.
Aku sudah lelah menggeliat dan berteriak. Suaraku sudah parau. Aku
hanya bisa menangis sekarang. Aku menangis karena rasa berjuta nikmat
yang berbaur. Aku menangisi rasa nikmatku. Di sini aku mulai merasakan
bahwa impianku akan hadir kembali. Rasa ingin kencing yang mendesak
dari dalam vaginaku menandakan bahwa aku telah dekat dengan orgasmeku.
Rasa ingin kencing itu terus menanjak. Aku seakan melihat dataran pasir
yang empuk dan luas. Aku melihat kedamaian dan kelegaan birahi. Aku
ingin mendarat di atasnya. Kurasakan kesempatan orgasmeku ini hadir
semakin melaju menuju ambangnya. Kuisyaratkan pada Pak Anggoro. Aku
menaikkan pantatku menjemput jilatan-jilatan lidahnya. Aku
menaik-naikkan pantatku dan meregangkan kaki-kakiku menahan nikmat
gatalnya memekku karena menahan keinginan kencingku. Pak Anggoro
langsung memahaminya.
Dia bangkit berdiri di belakang analku. Kontolnya yang keras lurus
ke depan dia sodorkan ke bibir vaginaku. Kurasakan kontolnya melekat
dan kemudian dengan sedikit dorongan yang berulang, kontolnya amblas
ditelan vaginaku. Aku seperti akan pingsan menerima kenikmatan ini.
Seperti anjing jantan pada betinanya, Pak Anggoro setengah berdiri
memelukku dengan kontolnya menerjang memekku. Mulailah ayunan dan
pompaan kontol Pak Anggoro keluar masuk ke kemaluanku. Aku
menggoyang-goyang dan maju mundur mengimbangi iramanya yang sangat
membuatku kegatalan di seputar vaginaku. Terus terang inilah salah satu
posisi favoritku. Aku merasakan kenikmatan yang maksimal dengan posisi
begini. Bayangkan saja, bukankah kontol yang ngaceng cenderung mencuat
ke atas dari akarnya. Saat menggosok dalam vagina, kontol seperti itu
menggelitik dinding atas vaginaku dengan lebih kuat hingga titik pekaku
rasanya di garuk dengan ulek-ulek sambal yang besar. Kemudian dalam
posisi "Doggy Style" ini, vaginaku cenderung lebih sempit mengetat.
Jadi semua urat-urat pekaku akan lebih mencengkeram kontol siapapun
yang menembus memekku. Sayangnya Mas Adit tidak bisa melakukan cara
seperti ini. Karena kontolnya yang terlampau kecil tidak akan mampu
melewati bongkahan pantatku yang gede ini. Maka yang akan terjadi
adalah, kontolnya hanya akan sedikit menyentuh gerbang vaginaku. Kontol
Pak Anggoro yang jauh lebih panjang dan besar langsung bisa menggelitik
tepi-tepi bibir rahimku.
Aku jadi binal. Kegatalanku sangat merasuk dalam vaginaku. Aku
ingin menggaruknya. Kugoyangkan pantatku maju mundur sehingga gesekan
batang kontol Pak Anggoro benar-benar kurasakan seakan-akan melumat
dinding vaginaku. Aku mendesah dan merintih setiap kali Pak Anggoro
menusuk maupun menarik kontolnya. Aku kagum dengan stamina Pak Anggoro.
Apakah ini berkat minuman anggur Chinanya tadi? Apakah juga rasa
birahiku yang semakin meninggi dikarenakan satu sloki anggur yang
disodorkan Pak Anggoro kepadaku tadi? Mungkin saja. Badanku merasa
lebih panas dan aliran darahku yang lebih cepat benar-benar membuat
birahiku meletup-letup dan aku seakan kewalahan dalam melawan
kegatalanku sendiri yang hebat melanda nonokku.
Desakan birahiku yang semakin menghebat dikarenakan kegatalan tak
terkira dari vaginaku membuatku menjadi liar dan buas. Aku lupa
daratan. Aku ingin jadi penguasa. Aku ingin Pak Anggoro menuruti mauku.
Aku ingin Pak Angoro diam telentang dan biar aku saja yang akan
memperkosanya. Aku benar-benar tak tahan lagi. Aku bangkit. Dengan
tetap mempertahankan kontol Pak Anggoro dalam memekku, aku
membelakanginya dan mencoba memompa dan menaikturunkan pantatku ke
kontolnya. Kuraih leher Pak Anggoro yang diresponsnya dengan menjemput
dan langsung memeluk buah dadaku sambil bibirnya mendekat ke bibirku.
Kami saling berpagu dan melumat-lumat.
Pompaan pantatku diterima Pak Anggoro dengan erangan bak serigala
yang mendapatkan mangsa dan dengan taring-taringnya merobek
daging-dagingnya dengan buas. Dengan keliaran dan kebuasan nafsuku, aku
akan mengubah posisiku. Aku menginginkan apa yang menjadi keinginanku.
Kulepaskan kontol Pak Anggoro dari vaginaku. Kudorong dia agar
telentang di kasur. Kemudian kunaiki tubuhnya yang besar itu. Aku
beringsut hingga kontolnya berada tepat di bawah vaginaku. Kuraih dan
kuarahkan kontolnya ke lubang memekku. Nonokku yang menyempit membuat
terobosan kontol Pak Anggoro tidak langsung bisa tertelan vaginaku. Aku
harus lebih menekannya dengan sekaligus menggeliat kecil memutar
pantatku. Dengan cara itu lubang vaginaku akan lebih longgar. Dan
akhirnya kemaluanku dapat menelan seluruh batang kontol Pak Anggoro.
Dalam posisi ini aku melakukan gerakan "tekan dan maju-mundur",
sambil menekan lebih ke bawah, pantatku maju mundur untuk membuat
batang keras Pak Anggoro bisa seakan menggaruki gatalnya rongga
vaginaku yang dipenuhi peka birahi, dan Pak Anggoro akan merasakan
nikmat kontolnya yang dilumat-lumat nonokku. Inilah kenikmatan yang
sama-sama dirasakan oleh Pak Anggoro dan aku. Kegatalan yang tetap
meruyak dalam vaginaku memaksaku mempercepat goyangan pantatku. Bahkan
Pak Anggoro kuminta tidak bergerak agar dapat lebih merasakan betapa
vaginaku meremas dengan ketat kontolnya. Dan Pak Anggoro patuh saja,
karena dengan cara itu dia telah merasakan kenikmatan luar biasa tanpa
harus melakukan gerakan yang melelahkan. Aku juga melakukan "tekan dan
putar", dengan cara menekan nonokku ke bawah lebih keras kemudian
memutar-mutar pantatku. Dengan cara itu aku dapat menikmati bagaimana
kontol Pak Anggoro "mengobok-obok" rongga vaginaku, dan Pak Anggoro
merasakan nikmat kontolnya yang diremas-remas oleh vaginaku. Dua cara
tersebut kujadikan andalan di samping sesekali juga melakukan "pompa
naik turun" atau pompa maju-mundur" yang selalu berulang kulakukan.
Variasi dan selang-seling teknik di atas akan menghasilkan sejuta
nikmat birahi. Apalagi dalam melaksanakannya dibarengi dengan permainan
remasan tanganku pada dada, ketiak dan pinggul Pak Anggoro, dan
sebaliknya remasan tangan-tangan Pak Anggoro pada pinggulku dan buah
dada serta puting-putingku. Sungguh kenikmatannya tak akan pernah kami
lupakan. Kami secara berbarengan menjerit, mendesah, merintih dan
mengerang. Dan lahirlah simfoni gerak dan suara-suara erotik bagaikan
operet birahi oleh dua "artis penikmat seksual" yang sangat gaduh dalam
kamar mewah President Suite Grand Hyatt Hotel itu. Dan akibatnya adalah
aliran darah kami yang semakin cepat terpacu, birahi kami terbakar
menyala-nyala. Kami bergerak mendekati keliaran.
Semua remasan, desahan, pompaan, sedotan, gerakan maju-mundur,
sedotan, semuanya menjadi tingkah laku yang cepat dan kasar. Simfoni
bibir-bibir kami menjadi racauan tak terkendali. Saling melukai, saling
mencaci dan mengumpat dengan mata-mata kami yang terbeliak karena
kesetanan birahi kami sendiri.
"Ayo Bu Adit pelacurku, sundalku, nikmat mana kontolku dan kontol Adit? Ayoo Buu jawab.., nikmat manaa.., hah?".
"Aaayoo Anggoroo, teruzz, kontolmu enhhaakk.., teruzz, Anggoroo.., anjingkuu.., terusszzhh".
Entah apa lagi. Semua kata-kata begitu saja terlontar tanpa takut
akan ada sanksi sopan-santun maupun etika dan batas kesopanan. Semua
kata-kata itu menjadi begitu indah dan nikmat di telinga-telinga kami.
Dan disinilah "puncak jamuan malam" bagi Pak Anggoro dan "puncak
nikmat pesta perselingkuhan" bagiku, sama-sama kami raih. Rasa ingin
kencingku yang sedari tadi telah mengalir membahana dan rasa ingin
muntahnya kontol Pak Anggoro yang menerima kombinasi serangan nikmat
dari nonokku secara bersamaan mewujud. Dengan teriakan keras mirip
lolong serigala lapar di malam hari dari mulut lupa diri Pak Anggoro
serta teriakan keras penuh beban histeris dari mulutku, Pak Anggoro
memuntahkan spermanya. Dan cairan birahiku pun meledak tumpah ruah,
mewujudkan orgasmeku yang paling nikmat yang pernah kudapatkan.
Gerakan kami tetap terus meninggi hingga kami berdua benar-benar
tidak menyisakan apapun pada tubuh-tubuh kami. Seakan tubuh-tubuh kami
secara menyeluruh mencair menjadi sperma dan cairan birahi. Kemudian
segalanya hilang, lumpuh dan sunyi. Seperti laiknya orang jatuh
pingsan, segala yang kami pegang terlepas. Tangan-tangan kami, jepitan
dan penetrasi kami lumpuh kendor dan lepas. Kami jatuh ke ranjang.
Terlena dan pulas. Kami tertidur.
Saat aku terbangun karena kedinginan ruang AC kamar, kusempatkan
untuk turun membuang air kecil. Kulihat Pak Anggoro sudah meringkuk
dalam selimutnya. Kemudian aku kembali tertidur. Kami terbangun sekitar
pukul 9 pagi. Cahaya matahari yang hangat terasa menembus celah-celah
tirai gorden hotel mewah ini. Aku menggeliat dan melepas senyum pagiku
pada Pak Anggoro yang sudah bangun lebih dahulu dan sedang membaca
koran pagi di sofa. Dia lempar koran itu dan menyongsongku rebah
kembali ke "ranjang pengantin" kami malam ini. Dia jemput bau kecut
tubuhku. Dia cium aku. Dia cium ketiak, payudara, perut maupun pahaku.
Dia jilat dan kulum betis dan jari-jariku. Itulah "ucapan selamat pagi"
Pak Anggoro padaku. Aku seakan putrinya yang baru terbangun setelah
selama seribu satu malam terlena dalam ayunan sihir nenek sakti. Aku
sangat bahagia dan perasaan tersanjungku terbit di pagi hari saat aku
bangun ini.
Kuambil dan kupakai kembali kimono kamar tidurku. Aku bangkit
menyusulnya duduk di sofa. Dari kursinya, Pak Anggoro menghubungi room
service. Dia minta 2 American breakfast dengan masing-masing double,
telur setengah matang campur madu Arab. Kami saling mendekat,
mendekatkan tubuh. Aku bersandar di dadanya. Pak Anggoro memelukkan
tangannya pada dadaku. Tak banyak kata-kata yang keluar dari mulut
kami. Pikiran-pikiran kami berkelana sesuai dengan apa-apa yang telah
rutin dan biasa menjadi kehidupan kami. Aku teringat bunga di rumah
yang seharusnya sedang kusirami pada jam-jam ini.
Tak sampai 10 menit, American breakfast kami telah dihidangkan.
Kami sarapan dengan tetap tidak banyak berkata-kata. Selesai sarapan
aku mandi. Air panas hotel mewah ini sungguh menyegarkan semua
sendi-sendi tubuhku. Keluar dari kamar mandi, kulihat Pak Anggoro sibuk
telepon sana sini. Mungkin memang demikian kehidupan seorang eksekutif
seperti dia. Kemudian Pak Anggoro pergi mandi. Selesai mandi, masih
dalam kimono kami masing-masing, kami kembali duduk di sofa. Dan
kembali tubuh-tubuh kami saling mendekat dan melekat. Kemudian kami
saling berpagut. Saling melumat, bertukar lidah. Sesekali Pak Anggoro
menggigit bibirku, dan aku membalasnya. Tanganku menyusup ke dalam
kimononya. Bulu-bulu tubuhnya tetap saja membuatku merinding dan
bergetar. Aku sedikit mendesah.
Ke bagian 6
| Title | Author | Views |
| Ngentot dengan Ari, Suami Temanku |
Wika Erlangga |
32,999 |
| Pagar Makan Tanaman - 1 |
robby_g88@yahoo.com |
29,764 |
| Percaturan Birahi Istriku - 1 |
rm4gedon@yahoo.com |
27,748 |
| Percaturan Birahi Istriku - 2 |
rm4gedon@yahoo.com |
26,119 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
24,654 |
| The Fantasy Reality - 1 |
r3n0r4@yahoo.com |
23,833 |
| Skandal Keluarga 4: PRT |
bocahsemarang@yahoo.com |
22,060 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 5 |
tante_mirna@yahoo.com |
20,223 |
| Pagar Makan Tanaman - 2 |
robby_g88@yahoo.com |
19,834 |
| Mencoba Tukar Pasangan |
Jayus |
19,204 |
| Perselingkuhan Ibuku 05 |
dave_putu@yahoo.com |
16,828 |
| Mantan Pacarku Tersayang - 1 |
SILKVLVT@YAHOO.COM |
16,479 |
| Selingkuh dengan Ketua RT - 1 |
marini_adit@yahoo.com |
15,847 |
| The Fantasy Reality - 2 |
r3n0r4@yahoo.com |
15,615 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
15,221 |
|
|
|
|
|
|
|