|
|
Dari bagian 5 Pak Anggoro mengikuti tanganku, menyusupkan tangannya memeluk tubuhku.
Pagutan kami menjadi lebih intim. Dan terdengar desahan-desahan kecil
keluar dari mulut-mulut kami. Tanganku meremas punggungnya. Tangan Pak
Anggoro mengelus punggungku. Kutempelkan payudaraku ke dada berbulu Pak
Anggoro. Tiba-tiba terdengar bel di pintu. Pak Anggoro bangkit
menghampiri. Kulihat seorang petugas dengan seragam dinasnya
menyerahkan bungkusan besar dalam tas kantong yang cantik dan secarik
kertas tanda pengiriman barang pada Pak Anggoro. Setelah
ditandatanganinya lembar kertas pengiriman itu, dia raih bungkusan
besar tersebut dan beranjak mendekatiku.
"Maaf Bu Adit, ini bukannya apa-apa. Saya hanya memperkirakan bahwa
Bu Adit perlu ganti gaun setelah gaun yang kemarin lecek Ibu pakai.
Coba lihat Bu. Mudah-mudahan pas buat Ibu".
Ini merupakan bagian dari sedemikian hebatnya Pak Anggoro
menghargaiku. Semua detail ia pikirkan. Rasanya kalau aku tolak akan
mengurangi kebahagiaannya. Dengan hati-hati dan ucapan terima kasih,
kuterima bungkusan dalam tas kantong cantik itu. Aku buka kertas
bungkusnya. Aku temukan dos besar dengan tulisan tanda logo Oscar
Lawalatta Fashion. Ah, bukan main wawasan Pak Anggoro pada trend mode
yang disukai ibu-ibu seusiaku. Aku pandang Pak Anggoro dengan senyum
bahagiaku. Kemudian dos itu aku buka. Sungguh surprise bagiku. Ini
sungguh luar biasa. Sutra Obin dalam jahitan "houture couture" Oscar
Lawalatta. Sungguh luar biasa bagiku. Aku langsung memperkirakan harga
gaun seperti ini. Paling tidak 5 juta rupiah Pak Anggoro telah
membelanjakannya pada rumah fashion si Oscar. Kulihat, tidak lupa juga
nampak bungkusan yang lebih kecil, pakaian dalam sutra pula berikut
celana dalam dan BH-nya. Aku tidak dapat menyembunyikan kegembiraanku.
Kucium Pak Anggoro di bibirnya. Kusampaikan kekagumanku. Dan ukuran
gaun itu, yang ternyata pas dengan ukuranku, M, medium.
Untuk menyenangkan hatinya, kuambil dan kurentang gaun Oscar itu.
Terdiri dari 2 potong, rock & blus. Sutra Obin, yang demikian
lembutnya, dengan pola kembang berwarna hijau lumut dan ungu menyebar
pada latar kain berwarna merah muda. Oscar yang terkenal dengan gaya
sedikit liar, dimana bagian bawah sengaja diekspresikan bebas
menampilkan bahan baku yang indah dari Obin, membuat gaun itu sangat
berkarakter. Aku senang dengan hal-hal yang berkarakter seperti ini.
Setelah kupantas-pantaskan di depan cermin rias, aku pamerkan pada Pak
Anggoro. Dengan selera humor yang kumiliki, aku bergaya bak peragawati
di atas catwalk-nya. Kami berdua tertawa terbahak penuh ceria dan
bahagia di pagi itu. Sekali lagi kami saling merangkul dan berpagut.
Aku tahu, Pak Anggoro masih ingin menikmati tubuhku. Ciumannya melepas
nafsu birahinya dan tangannya menggerayang melepasi kancing-kancing
baju Oscarku. Tali-talinya dilepaskan dari ikatannya.
Dengan senang hati kuserahkan tubuhku untuk dinikmatinya. Aku masih
tetap tawanannya dan aku akan melayaninya hingga dia benar-benar
merasakan kepuasannya secara total. Aku menyelinapkan tanganku ke
celana dalamnya. Dan kini kontolnya yang hangat ada dalam genggamanku.
Dia menuntunku ke sofa besar. Aku dipangkunya. Pak Anggoro melepas
ikatan kimononya sendiri hingga kami sama-sama setengah telanjang,
hanya menyisakan celana dalam kami. Wajahnya langsung tenggelam ke
ketiakku. Dia jilat dan lumat-lumat ketiakku. Kemudian merambat ke buah
dadaku berikut puting-putingnya. Aku mulai menggelinjang. Birahi segera
merambati tubuhku. Apalagi saat bulu-bulu tubuh Pak Anggoro kembali
menyentuh bagian-bagian tubuhku.
Aku pasrah menerima serangan ciuman dan jilatan di seluruh tubuhku.
Kubiarkan Pak Anggoro betul-betul seakan melahap tubuhku. Aku meraba,
mengelus dan memijit kontolnya yang semakin mengencang dan membesar.
Juga aku meraba bagian peka tubuhnya yang lain. Tangan kananku mencoba
meremas bokongnya yang gempal itu. Jari-jari tanganku mencoba merambat
ke analnya. Kuraba, bulu-bulu analnya sangat lebat hingga merimbuni
lubang analnya. Ingin rasanya aku menikmati aroma wilayah ini. Aku
mendesah. Pak Anggoro merebahkan tubuhnya ke sofa sambil menarik
tubuhku yang membelakanginya. Kemudian dia raih kaki kananku ke atas.
Aku tahu. Dia akan menembakkan kontolnya dari arah belakangku. Aku
mencoba membantu dengan meraih kontolnya untuk kuarahkan pada memekku.
Sambil saling berpagut dan melumat, kontol Pak Anggoro menembus
memekku. Vaginaku melahap seluruh batangnya. Kemudian dia mulai
memompa.
Saat itu dia berbisik di telingaku.
"Bu Adit, aku sangat mengagumi Ibu. Ibu sangat mempesona dan
berkarakter. Aku selalu ngaceng kalau mengingat Ibu. Tadi malam aku
bangun dan perhatikan Ibu yang telanjang. Oh, indah sekali. Aku ingin
lebih lama memandangi, tetapi karena AC kamar yang sangat dingin aku
tunda keinginanku. Aku selimuti Ibu".
Aku tidak membalas perkataannya. Aku hanya melepas senyumku dan
lebih melumatkan ciumanku. Aku sangat senang dan bahagia bertemu dengan
pria seperti Pak Anggoro. Bisa bercinta dengannya. Dan dia sangat
menghormatiku. Dia telah menunjukkannya pada setiap servicenya bahkan
sejak awal pertemuan kami kemarin.
"Bu, Bu Adit mau nggak kalau..?", pertanyaannya tidak diteruskan.
Aku hanya mendesah, "Heecchh..?".
"Saya ingin sekali lagi ngentot mulut Bu Adit", dia melanjutkan maksudnya.
Sekali lagi aku tidak menjawabnya melalui kata. Aku memeluknya
dengan penuh semangat dan nafsu. Dan Pak Anggoro yang langsung tahu,
bahwa aku akan dengan segala senang hati melakukan keinginannya. Dia
bangkit dan membopongku ke ranjang. Kali ini dia yang bergolek
telentang. Dia ingin aku yang berperan aktif. Aku sambut keinginannya.
Aku turun dari ranjang dan berlutut meraih kaki-kakinya. Seperti yang
dilakukannya padaku kemarin, kulakukan hal yang sama padanya sekarang.
Dengan segenap perasaan dan kelembutan, aku mulai menjilat dan
menggigiti kaki, jari-jari kaki, telapak kaki dan tumit-tumitnya.
Pak Anggoro menggelinjang. Dia mengaduh-aduh kenikmatan. Tangannya
meremas bantal di ranjang. Matanya membeliak ke atas menerawang
menikmati birahinya yang terlempar dan terayun-ayun dalam alun
gelombang samudra nikmatnya bercinta. Ciuman dan jilatanku merambati
kaki-kakinya. Betis, paha dan selangkangannya. Bulu-bulu itu sangat
membuatku bergairah. Aku meremas-remas bagian-bagian tubuhnya dengan
penuh greget. Ciumanku menyedot hingga meninggalkan cupang-cupang
memerah di paha dan selangkangannya. Aroma selangkangannya membuatku
setengah gila menerima kenikmatannya. Kubenam-benamkan mukaku ke
selangkangannya itu. Rambutku yang panjang beberapa kali kusibakkan
agar tidak menghalangi isapan dan sedotan bibirku. Dan saat mulutku
mulai mengulum biji pelirnya, tangan Pak Anggoro tak kuasa lagi untuk
diam. Diraihnya rambutku dan dihelanya ke atas hingga terasa pedih pada
kulit kepalaku. Rambutku yang meruapakan mahkotaku itu
diremas-remasnya. Aku sengaja belum menyentuh kontolnya yang telah
menjulang keras dan kaku. Batangnya penuh dilingkari urat-urat dan
kepalanya yang tegang mengkilat-kilat masih belum menarikku untuk
menjamahnya.
Ada keinginanku yang akan kulakukan terlebih dahulu. Ini adalah
obsesiku yang terlahir tadi saat mulai bercumbu. Aku ingin menciumi
lubang pantatnya. Aku ingin menenggelamkan mukaku ke celah bokongnya
yang telah kuraba bulu-bulunya yang sangat rimbun tadi. Dan puncak
keinginanku itu langsung didorong oleh gejolak libidoku. Kubalikkan
tubuh Pak Anggoro yang tinggi besar itu. Kini aku seakan berubah
menjadi betina yang dengan liar dan buasnya menggapai mangsanya. Tahu
mengenai laba-laba betina yang akan dikawini oleh laba-laba jantannya?
Begitu sang jantan selesai melakukan tugasnya, maka seketika itu pula
si betina akan merangsek dan menangkapnya. Ya, sang jantan itu akhirnya
dilahap dalam arti sebenarnya sebagai mangsanya.
Dan aku telah 'menangkap' Pak Anggoro. Dalam tingginya birahi yang
sedang melandanya, Pak Anggoro akhirnya akan menyerah terhadap apapun
yang akan kulakukan. Saat aku menyaksikan pesona bulu-bulu kelelakian
yang tumbuh di mana-mana di tubuh Pak Anggoro, nafsu betinaku muncul.
Aku langsung membenamkan diri di selangkangan belakangnya. Aku cium dan
kujilati tempat itu. Dan aku terus merangkak lebih ke atas. Aku
memintanya dengan isyarat agar Pak Anggoro menungging. Dan pesona bulu
anal di celah pantat Pak Anggoro yang rimbunnya hingga menutupi analnya
kini terpampang tepat di depan wajahku. Celah pantatnya kurekahkan.
Kulihat samar-samar lubang duburnya. Kudekatkan wajahku. Aku mulai
menciuminya. Semerbak bau analnya langsung menyergap hidungku. Aku
sudah lupa daratan. Kubenamkan saja hidungku ke dalamnya. Lidahku
menari-nari mencari lubang itu.
Pak Anggoro mengaduh. Tangannya menggapai-gapai untuk meraih
kepalaku. Aku tahu, dia ingin agar aku lebih membenamkan kepalaku lagi
ke dalam bokongnya. Sementara itu tangan kiriku meraih kontolnya yang
menggelantung. Tetap tegang. Kukocok kontolnya itu pelan. Kuelus
kepalanya, jari-jariku meraba lubang kencingnya. Rupanya Pak Anggoro
telah menemukan puncak dari segala puncak nikmat birahinya. Dia
langsung mengambil alih perananku. Dia kembali menjadi penguasaku. Dan
aku kembali tunduk pada kemauannya. Dia balik telentang.
"Aku mau keluarr.., Bu Aditt.., isep kontolku, Buu.., ayyoo isepp Buu..".
Ah, saatnya datang. Kraih kontolnya dan kugenggam. Kudekatkan
bibirku. Aku mulai menyapu kepalanya dengan jilatan-jilatanku. Kemudian
kutelan kepala dan batang itu. Aku tahu, kalau sudah seperti ini, Pak
Anggoro tidak akan mungkin mampu bertahan.
Dan saat cairan lendir panas menyemprot langit-langit mulutku,
dengan teriakan histeris keras, Pak Anggoro kembali meremas-remas
kepalaku. Pantatnya diangkat-angkat hingga menyodok tenggorokanku. Aku
terus memompanya dengan mulutku hingga tangan Pak Anggoro merenggut
kepalaku.
"Sudah, sudah Bu. Aku nggak tahan. Ngilu banget rasanya, Bu.., lepaskan Bu Aditt.., oohh".
Kulepaskan kontolnya dari mulutku. Aku kecapi spermanya di mulutku. Dan kemudian kutelan. Wow, sarapan keduaku.
"Ah, maaf Bu Adit. Sakit ya?", tangannya mengelus kepalaku.
Aku menggeleng sambil merapat dan mencium dadanya. Aku masih
terbawa emosiku. Rasa erotisku masih hinggap pada tubuhku. Tapi aku
tidak akan memaksakannya pada Pak Anggoro agar membuatku menerima
kemurahannya dan meneruskan cumbuannya setelah spermanya tumpah ini.
Aku sendiri cenderung bersikap menggantung. Biarlah kusimpan untuk
kesempatan yang lain saja.
Disinilah kelebihan seorang perempuan. Dia sudah cukup puas jika
telah melihat pasangannya dapat menikmati kepuasannya. Itu merupakan
kepuasan utamanya. Dan untuk para lelaki egois, menganggap hal itu
masalah biasa. Dianggapnya memang para perempuan tak terlalu memerlukan
orgasme pada setiap persenggamaan. Dan toh memang terbukti, anak-anak
tetap lahir, kehidupan rumah tangga tetap berjalan seperti biasa dan
sebagainya dan sebagainya.
Tapi Pak Anggoro ternyata memang berbeda. Dia masih berusaha
merespons ciumanku di dadanya. Hanya saja naluriku sudah berkata untuk
mencukupkannya dulu. Aku katakan pada Pak Anggoro bahwa rasanya badanku
sudah lelah dan ingin agar pertemuan ini segera disudahi. Dia dapat
memakluminya.
Dia telepon ke front office untuk segera check out dan agar
disiapkan administrasi pembayarannya. Aku pergi mandi sekali lagi. Aku
perlu meyakinkan diri bahwa aku dalam keadaa segar dan bersih saat aku
pulang nanti. Ketika Pak Anggoro juga telah kembali merapikan diri dan
siap pulang, dia mendekatiku. Dari saku celananya, dia keluarkan amplop
putih yang menggembung.
"Maaf Bu Adit, aku ingin menyatakan rasa bahagia dan terima
kasihku. Ini sama sekali bukan pembayaran, Bu. Ini adalah kebahagiaan
yang ingin kushare bersama Ibu. Terimalah".
Aku tahu dia memberiku uang. Kali ini aku menolaknya. Kusampaikan
bahwa aku juga senang dengan apa yang telah kami alami bersama, bisa
saling bertemu dan meraih kenikmatan bersama. Kukatakan bahwa apa yang
telah ditunjukkan dan diberikannya padaku sangat luar biasa untukku.
Kukatakan juga bahwa aku merasa sangat dihormati, dihargai dan aku
merasa sangat tersanjung karenanya. Aku tidak pernah dan tidak akan
pernah mengaitkan hal-hal seperti ini dengan urusan uang. Kukatakan
bahwa sebenarnya aku adalah "penikmat seksual" dalam arti sebenarnya.
Aku tidak harus mencari yang tampan, kaya dan sebagainya. Aku akan suka
pada siapapun yang memang kusuka. Dan itu semua harus ada nilai
seninya. Nilai seni bercinta. Dan tak seorangpun mampu membeli
kenikmatan seni bercinta itu.
Pak Anggoro memandangiku. Dia nampak mengagumi cara pandangku pada
kehidupan seksualku. Dia baru memahami bahwa demikianlah aku adanya.
"Ah, maaf Bu Adit mengenai masalah villa Bogor itu. Dengan ucapan
Ibu barusan, rasanya saya keliru kalau berprasangka buruk pada Ibu.
Maafkan saya, Bu".
"Tetapi, janganlah Ibu tolak kebahagianku ini. Dengan pemahamanku
mengenai bagaimana Bu Adit memandang seni cinta tadi, aku semakin
menghormati Ibu dengan sepenuh hati saya".
Dan Pak Anggoro tetap memaksaku untuk menerimanya. Akhirnya aku
membiarkannya saat amplop itu disisipkan ke kantong plastik indah dari
Oscar, yang sekarang fungsinya adalah untuk membawa pulang pakaian
kotorku. Kami sepakat, Pak Anggoro akan mengantarku hingga ke lobby
Sogo Departement Store dalam bangunan yang sama dengan Grand Hyatt
Hotel ini di lantai bawah.
Sebelum benar-benar keluar pintu kamar, sekali lagi kami saling
berpagut dan melumat cukup lama. Pukul 2 siang aku sudah di rumah. Ada
beberapa surat yang disisipkan ke bawah pintu. Saat aku mengeluarkan
pakaian kotorku ke mesin cuci, kutemukan amplop pemberian Pak Anggoro.
Tebal juga. Kutengok isinya. Oohh.., tidak salahkah ini..? Kudapati 2
ikat 100 ribuan rupiah dan 7 lembaran 100 US dollar-an. Bukankan ini
artinya senilai lebih dari 25 juta rupiah Pak Anggoro telah membagi
'kebahagiaannya' untukku. Wow, bukan main orang itu. Bukan berarti aku
bahagia karena nonokku telah dapat menghasilkan uang sebanyak itu,
tetapi yang kurasakan adalah adanya getaran erotis saat memegang
ikatan-ikatan uang itu. Bagaimanapun uang itu memang ada kaitannya
dengan nonokku yang sempat dinikmati lelaki lain yang bukan suamiku.
Dan untuk kenikmatan yang didapatkannya itu, dengan senang hati dia
mengeluarkan uang sebanyak itu untukku. Kemana harus kusimpan ini?
Tentu aku tidak ingin diprasangkai oleh Mas Adit dengan uang sebanyak
ini. Menyenangkan sekaligus membingungkan. Ah biarlah, untuk sementara
uang ini tidak akan kugunakan. Akan kumasukkan saja ke rekening
bank-ku. Mungkin ini juga merupakan rejekiku yang harus kubagikan pada
orang lain yang lebih memerlukannya.
Dan sesuai dengan janji Pak Anggoro, sekitar 10 hari sepulang
bertugas dari Kalimantan yang dinilai sukses oleh perusahaan, Mas Adit
kemudian diangkat menjadi Wakil Direktur. Hal itu terjadi 20 hari lebih
cepat daripada yang pernah dibicarakannya padaku. Saat pengangkatan
jabatannya yang baru, semua jajaran karyawan perusahaannya hadir untuk
memberikan selamat pada Mas Adit dan juga kepadaku sebagai istrinya.
Jakarta, April 2003
T A M A T
| Title | Author | Views |
| Ngentot dengan Ari, Suami Temanku |
Wika Erlangga |
32,999 |
| Pagar Makan Tanaman - 1 |
robby_g88@yahoo.com |
29,762 |
| Percaturan Birahi Istriku - 1 |
rm4gedon@yahoo.com |
27,748 |
| Percaturan Birahi Istriku - 2 |
rm4gedon@yahoo.com |
26,119 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
24,654 |
| The Fantasy Reality - 1 |
r3n0r4@yahoo.com |
23,833 |
| Skandal Keluarga 4: PRT |
bocahsemarang@yahoo.com |
22,056 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 5 |
tante_mirna@yahoo.com |
20,223 |
| Pagar Makan Tanaman - 2 |
robby_g88@yahoo.com |
19,833 |
| Mencoba Tukar Pasangan |
Jayus |
19,202 |
| Perselingkuhan Ibuku 05 |
dave_putu@yahoo.com |
16,828 |
| Mantan Pacarku Tersayang - 1 |
SILKVLVT@YAHOO.COM |
16,479 |
| Selingkuh dengan Ketua RT - 1 |
marini_adit@yahoo.com |
15,847 |
| The Fantasy Reality - 2 |
r3n0r4@yahoo.com |
15,614 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
15,220 |
|
|
|
|
|
|
|