|
|
Ketika anak saya berumur satu tahun saya pindah
rumah. Rumah sendiri. Rasanya sudah cukup bekal mental kami untuk
tinggal sendiri. Semua pelajaran tentang bagaimana berumah tangga yang
kami terima dari ibu mertua tampaknya cukup. Juga soal seks tentunya:).
Kami hanya sekali melakukannya, dan tak ada keinginan untuk
menguanginya. Saya takut, seperti halnya kejadian saya dengan Mbak Maya
dan Rosi. Tapi diam-diam saya geli sekaligus bangga terhadap diri saya.
Benar-benar luar biasa. Empat perempuan dalam satu keluarga telah saya
tiduri, dan rahasia itu terjaga dengan aman sampai kini, saat saya
tuliskan kisah saya ini. Skandal yang menurut saya luar biasa.
Sesungguhnyalah petualangan seks saya sebenarnya belum berakhir.
Skandal terus berlangsung di dalam rumah saya. Terus terang saya memang
tidak punya cukup keberanian untuk melakukan perselingkuhan dengan
perempuan lain di luar yang benar-benar saya kenal. Mungkin karena pada
dasarnya saya suami yang "baik". Kedua, saya tidak memiliki daya tarik
seksual (sex appeal) yang menonjol. Tinggi badan saya cuma 162 cm.
Terlalu pendek untuk laki-laki. Kulit sawo matang, dan wajah biasa
mesti tidak jelek. Tidak ada yang luar biasa. Jadi sangat jarang
perempuan tertarik secara fisik kepada saya. Saya juga tidak agresif
dalam bergaul, meskipun saya cukup humoris. Saya tak punya banyak teman
wanita kecuali teman sekantor, dan beberapa teman maya (e-pal). Saya
merasa sangat nyaman berteman dengan perempuan-perempuan di dunia maya.
Lebih bebas. Baiklah, yang saya ceritakan ini mengenai perempuan
pembantu saya.
Kami sering berganti-ganti pembantu. Paling lama mereka hanya
bertahan satu tahun. Entah kenapa. Mungkin mereka tidak cocok dengan
istri saya yang cenderung tak banyak omong sehingga terkesan galak.
Mungkin juga malas mengasuh anak kecil. Entahlah. Justru
pergantian-pergantian inilah yang membuka pintu perselingkuhan seks
bagi saya. Yang pertama dengan seorang gadis bernama Sri. Usianya saat
itu 16 tahun. Dia kami peroleh di sebuah penampungan PRT, semacam
sebuah yayasan. Saat itu istri saya sedang memilih-milih sejumlah PRT
yang ditawarkan pengelola. Saya menunggu di ruang tamu dengan anak
saya. Anak saya terus bergerak-gerak. Maklum baru beberapa minggu bisa
berjalan. Saat dia melihat mamanya anak saya berlari ke arahnya.
Mamanya akan menangkap, tetapi keburu didahului seorang gadis. Salah
seorang PRT. Gadis itu mengangkat anak saya menimangnya. Anak saya
kelihatan senang. Saya dan istri saya tertegun.
Lalu saya lihat istri saya berbicara dengan gadis itu. Beberapa saat kemudian istri saya menghampiri saya.
"Gimana kalau dia saja?" tanyanya.
Saya bingung. Kalau melihat bagaimana gadis itu bersikap terhadap
anak saya, rasanya dialah yang kami cari. Kami memang butuh PRT yang
pintar mengasuh anak. Maklum saya dan istri pekerja, sehingga tanggung
jawab anak sepenuhnya kami serahkan ke pembantu. Tetapi melihat fisik
gadis itu, saya ragu. Rupanya istri saya tahu apa yang ada dalam benak
saya. Anak kami masih dalam gendongan gadis itu. Gadis yang benar-benar
tak layak menjadi PRT. Percayalah. Dia terlampau cantik sebagai PRT.
Kulitnya putih bersih. Tinggi semampai, ramah, periang. Dan, waduh.
Teteknya sangat besar.
Tidak. Saat ini saya sedang mencari pengasuh anak. Itu yang penting.
"Dia saja ya?" Istri saya mendesak. Saya bigung.
"Si Nisa lengket banget tuh."
Akhirnya gadis bernama Sri itu kami ambil. Inilah sebenarnya
kekeliruan istri saya. Maaf, pembaca. Pembantu saya ini setingkat lebih
cantik dibanding istri saya sendiri. Benar-benar membingungkan kan?
Bahkan para tetangga kami tadinya tidak percaya kalau itu pembantu
saya. Mereka mengira dia famili kami. Reaksi saudara-saudara istri saya
negatif. Mereka keberatan dengan pembantu secantik itu. Apalagi Sri
benar-benar ramah luar biasa. Dia juga cenderung cerdas meskipun hanya
lulusan SMP. Ibu mertua saya bahkan marah-marah pada istri saya dan
meminta saya mengganti pembantu. Istri saya memberi penjelasan tetang
bagaimana Sri pintar merawat Nisa. Penjelasan ini tidak bisa diterima
ibu. Saya menduga keberatan itu karena ibu khawatir akan terjadi
sesuatu antara menatunya dengan Sri. Beliau kan contoh nyata. Istri
saya bersikukuh, bahkan ketika ibu mengancam tidak akan berkunjung ke
rumah kami sampai kami mengganti pembantu.
Apa yang dikhawatirkan ibu memang beralasan. Saya benar-benar
tergoda oleh semua yang ada dalam diri Sri. Kecantikannya, kebersihan
kulitnya, teteknya, keramahannya. Dua bulan sejak dia ikut kami, saya
sudah mulai punya pikiran kotor. Saya mulai mencari cara untuk bisa
meniduri Sri. Maukah dia? Istri saya sama sekali tidak mencurigai saya.
Baginya saya adalah pria yang culun dan setia. Dunia saya hanya duania
kantor dan rumah. Setiap kali dia menghubungi saya, ya saya hanya di
kantor atau di rumah. Itulah yang membuatnya merasa tenteram, tidak
menaruh curiga apa-apa. Bodoh.
Serangan terhadap Sri saya lakukan pada suatu malam ketika istri
saya keluar kota. Birahi saya muncul sejak siang. Istri saya berpesan
kepada Sri supaya kalau malam Nisa tidur dengan dia. Soalnya istri saya
paham betul tabiat saya kalau tidur malam. Susah bangun sekalipun anak
menangis keras di sisi saya. Sejak sore Nisa bersama saya,
bercengkerama di depan TV, lalu tertidur sekitar jam 19.00. Saya
tiduran di sebelahnya sambil nonton TV. Tapi sebenarnya pikiran saya
sedang kacau oleh birahi dan keinginan untuk menikmati tubuh Sri. Tetek
gadis itu benar-benar sangat menggoda saya. Seperti apa rupanya tetek
besar seorang gadis? Saya ingin meremas-remasnya, ingin mengulum dan
menjilatinya.
Saya telah memasang perangkap sejak sore. Tapi tidak ada reaksi
apa-apa. Saya tiduran dengan berbalut sarung, tanpa baju. Hanya CD
saja. Jam 20.00 Sri meminta Nisa untuk dibawa ke kamarnya. Saya
pura-pura menolaknya.
"Sudah biar tidur sama saya saja," kata saya.
"Nanti dimarahin Ibu. Katanya Bapak kalau tidur.."
"Ahh sudahlah," saya memotongnya.
"Nanti saja, saya masih pingin di dekat Nisa," sahut saya.
"Saya sudah mengantuk, Bapak."
Saya diam saja. Gadis itu mengenakan kaos denga rok span di atas
lutut. Dia duduk melipat lutut di sebelah Nisa. Rambutnya tergerai
sebahu. Hmm. Sepasang pahanya yang putih tersembul dari roknya.
"Sudah kamu tiduran di situ dulu nanti kalau sudah waktunya aku bangunin terus kamu bawa Nisa ke kamarmu," kata saya.
Perangkap saya pasang. Dia tampak ragu dan bingung.
"Sana ambil bantal kamu!" perintah saya.
Dia beranjak. Sebentar kemudian datang lagi dengan membawa bantal
dan selimut. Dia rebahkan tubuhnya di sisi Nisa. Dia balut tubuhnya
dengan selimut. Tenggorokan saya seperti tersekat. Kering. Haus
rasanya. Saya tidur dengan Sri hanya dibatasi si kecil Nisa. Sri
mencoba memejamkan mata. Sesekali melirik ke arah TV. Lalu saya tidur
menghadap ke arahnya. Memandanginya. Rupanya dia tahu saya memandangi.
Sekilas dia memandang saya, lalu memejamkan mata. Saya memandangi
terus. Semakin kagum, dan semakin panas dingin tubuh saya. Penis saya
sudah tegang sejak tadi. Saya bingung bagaimana mengawali. Maukah Sri
menerima saya? Kalau dia melawan? Kalau berteriak-teriak? Kalau besok
minta keluar? Pikiran saya mulai kacau. Antara berani dan tidak. Saya
mencoba tersenyum kepadanya ketika dia melirik saya. Dia tak bereaksi.
Tampaknya dia tahu apa yang berkecamuk dalam benak saya.
Saya memanggil namanya pelan. Dia membuka matanya.
"Kamu cantik sekali." Dia terbelalak dan merapatkan selimutnya.
Saya terus memandanginya. Lalu saya lihat dia tersenyum tipis.
"Kamu cantik sekali," kata saya lagi.
Wajahnya merah. Timbul keberanian saya. Saya mencoba meraih
jemarinya yang tersembul dari selimut. Dia kaget dan menariknya. Saya
hentikan serangan saya. Sesaat kemudian saya coba raih helai-helai
rambutnya. Saya elus kepalanya. Dia diam. Saya makin berani.
"Kamu pernah punya pacar?"
"Sudah ahh Bapak. Nggak boleh gitu," katanya.
Nisa bergerak-erak seperti mau bangun. Sri mencoba menengkan dengan
menepuk-nepuk punggungnya. Kesempatan itu saya gunakan untuk meraih
tangannya. Saya gengam. Dia diam, hanya matanya yang lurus ke arah mata
saya. Saya cium tangan itu. Penis saya makin tegang. Saya ciumi
punggung tangan itu, lalu telapak tangannya. Tak ada rekasi. Saya makin
berani. Secepat kilat saya bergeser tempat. Kali ini di belakanganya.
"Bapak jangan gitu, ahh," dia menepis tangan saya yang mencoba memeluknya.
"Kenapa?"
"Nggak boleh. Nanti dimarahin Ibu."
"Kan Ibu nggak ada?"
"Nanti dibilangin sama Adik. Dik Nisa, besok bilangin ke mama, Papa nakal ya?" Sri berbicara pelan kepada Nisa.
Saya tersenyum dan kembali memeluknya. Kali ini dia diam. Saya merapatkan badan kepadanya.
Saya gesek-gesekkan penis saya ke tubuhnya. Dia menggelinjang
sebentar, dan berusaha menjauh, tapi tubuhnya terantuk tubuh kecil
Nisa. Saya makin beringas. Saya buka selimutnya. Saya usap kakinya. Ke
atas, di paha. Dia mendesis dan berusaha menghindar.
"Saya tidur di kamar saja ahh."
Dia mencoba bangkit tapi saya menahannya.
"Jangan."
"Bapak nakal sih."
Saya menghentikan aksi. Sesaat kemudian hanya tangan saya yang saya
taruh di pingangnya. Dia diam saja. Lalu saya kembali memeluknya. Ahh
tepatnya mendekap dia. Saya gesek-gesek pelan tangan saya di bagian
perutnya. Dia tak bereaksi. Saya terus berusaha memberi rangsangan
dengan menyusupkan jari saya ke kulit perutnya. Tampaknya berhasil. Dia
mendesis. Tak ada perlawanan. Tangan saya merayap pelan ke atas sampai
terentuh dinding yang sangat tebal. Tetek yang luar biasa besarnya.
Benar-benar baru kali ini saya liat tetek sebesar ini. Saya sentuh
pelan-pelan. Saya takut dia menolaknya. Tapi tidak ada reaksi.
Baru ketika saya pelan-pelan meremas, tubuhnya terlihat
bergerak-gerak. Dia melenguh. Saya makin kalap. Remasan makin keras,
dan menyelusuplah tangan saya ke dalam BH-nya. Tersentuh dagihg kenyal.
Saya raba, saya remas. Sri menggelinjang. "Hh.." Tangannya mencengkeram
tangan saya. Saya mulai menaiki tubuhnya. Sarung saya lepas. Saya hanya
bercelana dalam. Sri memejamkan mata. Saya cium bibirnya dengan tangan
saya tetap meremas-remas payudara besarnya. Tanpa saya duga, dia
membalas ciuman saya. Bakan menghisap lidah saya dengan rakus. Bibir
saya bergerak turun ke leher. Selimut telah lepas dari tubuhnya. Saya
singkap kaosnya, dan akhirnya, saya lihat kutang itu terlalu kecil
untuk teteknya yang super besar. Hanya dengan sekali geser. Putingnya
telah tersembul. Saya cium puting itu. Saya hisap, dan saya gelitik.
Dia meronta-ronta. Tangannya memeluk saya erat-erat. Lalu saya cium
lagi bibirnya.
"Kamu pernah melakukan dengan cowok?" bisik saya sambil memainkan lidah di telinganya.
"Belum."
Tangan saya bergerak ke bawah, ke celah CD-nya, mengelus-elus
semak-semak lembut, dan menggelitik sebuah celah yang telah basah. Sri
mencengkeram kepala saya, lalu menariknya. Dia mencium bibir saya.
Melumatnya. Lidah saya disedot dengan hebatnya. Saya permainkan tangan
di bawah, menyusuri sepasang bibir vagina. Kadang memutar-mutar di
ujung bibir. Ketika mencoba masuk ke sebuah lubang, saya tahu, gadis
ini masih perawan.
Tangan Sri telah mengcook penis saya. Mengocok dan meremas-remas
dengan sangat kuatnya. Sakit. Persis seperti yang dilakukan Rosi, ipar
saya di Taman KB malam itu. Saya buka CD Sri, hingga pangkal kakinya,
lalu dia menendang sendiri CD itu, melayang ke dekat TV. Dia juga
menarik CD saya.
"Kamu masih perawan Sri?" taya saya.
Dia mengangguk sambil terus mengocok penis sya. Kocokan yang kasar.
"Kamu mau saya masukkan ini saya?" saya memegang tangannya yang sedang mengocok penis.
Dia mengangguk. Tapi saya takut. Saya tak berani megambil
keperawanannya. Biar bagaimana saya masih punya rasa kasihan. Tak tega
saya. Benar-tbenar tak tega. Tapi nafsu telah menguasai kami.
"Saya ciumin saja ya?" Dia mengangguk-angguk.
Saya membalikkan tubuh saya, mengangkat kedua pahanya yang padat.
Memeknya disinari cahaya TV. Saya mulai menjilati. Meskipun tercium
aroma yang tidak enak, saya tidak mempedulikan. Saya terus
menjilatinya. Sri mengerang-erang. Saya coba menaruh penis saya di
depan mulutnya. Tapi dia hanya meremas dan mengocoknya. Ketika lidah
saya makin beringas menjilati memeknya, barulah dia memasukkan penis
saya di mulutnya. Saya sibakkan bibir memeknya. Saya jilat-jilat
isinya, jari tengah saya mencoba menusuk pelan. Sri mengangkat
pantatnya. Mulutnya menghisap-hisap penis saya. Terdengar bunyi sangat
keras.
Si Nisa masih pulas tanpa terganggu perang di sebelahnya. Ketika
saya merasa hendak ejakulasi, saya tarik penis saya. Saya ingin sperma
saya jatuh di luar mulutnya. Serentak dengan itu saya mengulum
kelentit. Sri menarik pinggul saya dan menghisap kuat penis saya. Srtt
srrtt Sperma saya pu terpancar. Sri berusaha mendorong keluar tubuh
saya. Tapi kali ini saya justru menekannya. Saya tidak ingin penis saya
lepas dari mulutnya. Seluruh mani saya telah keluar. Sebagian telah
masuk ke dalam kerongkongan Sri. Dia tampak muntah-muntah. Suaranya
sangat keras. Saya jadi ketakutan. Dia menampung muntahan dengan
selimutnya. Saya menjadi iba. Saya pijat-pijat tengkuknya. Beberapa
saat kemudian dia mulai tenang. Saya ambilkan air, dan di meminumnya.
Dia memukuli dada saya. "Bapak nakal. Bapak nakal." Saya lega.
"Tapi kamu masih utuh kan? Kamu tidak kehilangan mahkotamu, kamu tidak akan hamil."
Dia tersenyum lalu beranjak menuju kamar mandi. Saya puas. Benar-benar puas.
Perseligkuhan dengan Sri saya ulangi beberapa kali. Banyak sekali
kesempatan terbuka. Segalanya berjalan sangat lancar. Kami melakukannya
tidak hanya ketika istri saya serang keluar kota. Tetapi juga siang
hari saat istri kerja dan aku pulang diam-diam. Bedanya, Sri tak lagi
mau membuka CD-nya. Dia bersedia mengulum penis saya. Jadi aku hanya
berhak atas bibir dan tetek. Bagi saya itu lebih dari cukup. Saya
memang tidak menginginkan memek Sri. Biarlah itu menjadi milik suaminya
kelak.
Suatu saat, entah karena apa, istri saya meminta Sri keluar. Sri
sangat terpukul. Dia menangis sesenggukan. Saya juga kaget dan takut.
Ada apa sebenarnya? Apakah istri saya tahu yang terjadi antara saya dan
Sri? Akhirnya istri saya berterus terang, sebenarnya dia tak ingin Sri
keluar.
"Semua ini karena ibu," kata istri saya kepada Sri.
Sebagai gantinya ibu telah menyediakan pembantu. Seorang perempuan yang buruk rupa. Hitam, dekil, dan udik. Hmm.
Kepada Sri istri saya mencarikan kerja di sebuah toserba yang cuku
besar. Ini berkat bantuan relasi istri saya. Sri gembira bukan main
meskipun sedih harus berpisah dengan Nisa. Sejak itu saya tak pernah
bertemu dia lagi. Tapi berharap suatu saat bisa bertemu ketika dia
telah bersuami, dan mengulang apa yang pernah kami lakukan. (Sri, jika
kamu tahu, saya menunggumu)
Pembantu berikutnya yang menjadi pelampiasan narfsu saya bernama
Mumun. Usianya sama dengan Sri. Meskipun tak secantik Sri, namun dia
cukup menarik untuk ukuran pembantu. Pendekatan dengannya bahkan lebih
lama dibandingkan yang saya lakukan terhadap Sri. Yang saya lakukan
pertama adalah saya mencubit lengannya sambil lalu. Beberapa kali itu
saya lakukan. Lama-lama dia berani membalas. Tentu tanpa sepengetahuan
istri dan anak-anak saya. Waktu itu si sulung kelas 3 SD sedangkan si
bungsu masih kecil.
Dari mencubit lengan meningkat menjadi meremas tangan. Bahkan
kemudian ketika dia menunggui si kecil tidur di depan TV saya berani
mencuri-curi mencium pipinya. Saya bahkan mulai merayu dan mencoba
mencium bibirnya, tapi dia menolak. Saya tak menyerah, dan akhirnya
berhasil. Rupanya itu ciuman pertama bagi dia, sekaligus pergumulan
pertama. Saya tak berhasil menyentuh payudaranya. Apalagi memeknya.
Hanya meremas kutangnya. Dia juga tidak mau memegang penis saya. Tetapi
saya sempat ejakulasi.
Sejak pergumulan itu secara sembunyi-sembunyi dia memanggil saya
"sayang". Lucu. Terutama ketika saya pulang kerja. Dia ambilkan minuman
dan bilang, "Minumnya sayang." Pernah suatu ketika, saat di dapur dan
saya menggodanya, dia melontarkan panggilan itu. Bersamaan dengan itu
istri saya muncul. Hampir kiamat rasanya. Tapi saya lihat istri saya
tidak menunjukkan kecurigaan apa-apa. Sikapnya tak berubah.
Mungkin nalurinya saja yang membuatnya mencium aroma skandal saya
dengan Mumun. Akhirnya Mumun dikeluarkan dengan alasan "Tidak beres
dalam bekerja." Sejak itu saya tidak tahu kabar tentang Mumun.
Pembantu-pembantu penggantinya tak ada lagi yang berwajah "layak" untuk
digauli. Pernah sih ada perempuan berkulit bersih. Meski tidak cantik
tapi cukup menggiurkan. Sayangnya dia telah bersuami. Suaminya seorang
tukang bangunan. Saya tak berani menyentuh perempuan itu. Takut. Lagi
pula perempuan itu amat santun, lemah lembut, dan sangat menyayangi
kedua anak saya, sehingga saya berusaha menjaga agar perempuan itu
betah bersama kami.
| Title | Author | Views |
| Ngentot dengan Ari, Suami Temanku |
Wika Erlangga |
95,847 |
| Pagar Makan Tanaman - 1 |
robby_g88@yahoo.com |
65,678 |
| Percaturan Birahi Istriku - 1 |
rm4gedon@yahoo.com |
56,266 |
| Percaturan Birahi Istriku - 2 |
rm4gedon@yahoo.com |
52,589 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
52,338 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
51,682 |
| Pagar Makan Tanaman - 2 |
robby_g88@yahoo.com |
42,405 |
| Orgasme dengan Bertukar Pasangan 01 |
tante_mirna@yahoo.com |
40,447 |
| The Fantasy Reality - 1 |
r3n0r4@yahoo.com |
39,108 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 5 |
tante_mirna@yahoo.com |
38,833 |
| Perselingkuhan Ibuku 05 |
dave_putu@yahoo.com |
36,478 |
| Mencoba Tukar Pasangan |
Jayus |
36,168 |
| Vivi, Istri Cantik yang Kecewa dengan Suami |
Bendot |
35,750 |
| Mantan Pacarku Tersayang - 1 |
SILKVLVT@YAHOO.COM |
34,869 |
| Selingkuh dengan Ketua RT - 1 |
marini_adit@yahoo.com |
31,417 |
|
|
|
|
|
|
|