|
|
Dari bagian 1 Sekembalinya kami dari toilet, kulihat para istri kami sedang asik
ngobrol dengan tiga orang lelaki keturunan India. Ayu diapit oleh dua
orang dan yang seorang lagi duduk di sebelah Rara. Dari gayanya, kami
tahu bahwa India-India iseng itu mengira istri-istri kami adalah
cewek-cewek gampangan. Tangan seorang yang duduk di sebelah Ayu malah
sudah diletakkan di atas paha Ayu. Kulihat Ayu mencoba menepisnya, tapi
tidak dengan sepenuh hati. Mungkin dia suka juga? Yang duduk di sebelah
Rara masih agak sopan, dan hanya memeluk bahunya. Kulihat Rara agak
menjauh sedikit dan melotot galak ke arah India gokil itu.
"Wow, dude.. bisa keduluan sama India-India bangsat itu nih, gue."
Sonny nyeletuk asal sambil bergegas ke arah Ayu dan Rara. Aku
mengikutinya perlahan. Kupikir, the more, the merrier. Kulihat Sonny
berbicara sesuatu dengan orang-orang itu, dan lalu mereka ngeloyor
pergi sambil tertawa-tawa. Kedua istri kami pun ikut tertawa lebar.
"What's up, Son?" tanyaku setelah duduk lagi, kali ini di sebelah Ayu.
"Nggak, gue bilangin aja kalo dua cewek ini udah kita sewa buat
seminggu. Udah lunas, pula. And we're sorry but we're not sharing them
with anybody."
"Emang gila deh lu, Son." Rara berkomentar sambil masih tertawa.
"Tapi suka kaann.." Sonny memandangi wajah Rara begitu dekatnya. Rara jadi rada kikuk, dan kulirik Ayu malah mesam-mesem doang.
"Idiihh.. apaan sih lu. Jauhan dong.. mulut lu bau. Jangan
deket-deket muka gue. Reenn.. tolong dong. Temen kamu sinting nih.
Minumnya cuma segelas, maboknya kayak minum sepetii."
Tawa kami meledak mendengar ucapan Rara. Dan kira-kira pukul satu, kami memutuskan untuk pulang.
Sebelum pulang, Sonny sempat membisikiku, "Ren, besok siang gue ke
rumah lu. We will start to realize your fantasy, man." Penisku langsung
tegang membayangkan apa yang akan terjadi nanti.
*****
Pukul 11 siang bel rumahku berbunyi. Aku sedang menonton TV di
kamarku. Rara mungkin sedang membantu Mbak Wani, salah seorang pembantu
RT kami memasak makan siang kami. Aku mengintip dari kamarku yang di
lantai dua yang kebetulan menghadap ke jalan dan ke pagar rumahku.
Sonny sudah di depan muka rumah bersama Ayu membawa keranjang berisi
jeruk dan pisang. Segera aku bergegas turun dan membukakan pintu utama
rumah kami.
"Siang, bos. Wah, gue kirain elu belom mandi. Ternyata sudah keren.
Makanannya udah ready nih?" Si Sonny nyerocos begitu melihatku di pintu
muka.
"Ampirlah. Masuk yuk. Wah, bawa pisang nih." Langsung kuambil
keranjang buah itu dari tangan Ayu dan kucomot sebuah pisang yang
langsung saja kumakan.
"Raa.. Mas Sonny dan Mbak Ayu udah dateengg." Setengah berteriak aku memanggil istriku yang sedang masak di dapur.
Rara melongokkan dari arah dapur. Astaga! Ternyata dia masih
memakai baju tidurnya yang berupa kaos you-can-see dan hot pants warna
biru muda dengan kaki telanjang. Bodynya yang aduhai hanya tertutup
sepertiganya saja kalau begini.
"Bentar ya, sodara-sodara. Aku masih masak nih. Yu, bantuin gue
yuk! Cobain nih kurang apa." Rara menyahut dengan semangat. Ayu
langsung ngeloyor masuk dapur. Aku perhatikan Si Ayu memakai rok span
warna merah darah dan kaos tanpa lengan warna kuning muda.
"So, what's up, my brotha, what do you have in mind?" Aku langsung
saja sambil mengedipkan mataku ke Sonny yang duduk bersamaku di ruang
tamu.
"Just chill, bro. I told you I'll handle it, I will handle it." Sonny mengangguk yakin kepadaku.
Nggak lama kemudian.."Cowok-cowok, lunch is served." Ayu memanggil
kami di ruang tamu dengan gaya seorang chef kawakan dengan celemek dan
serbet makan yang disampirkan di lengannya sambil setengah membungkuk.
"Nah, gitu dong. Although I'd rather eat you, love." Sonny berkata
begitu sembari beranjak bangun menuju ke ruang makan sambil mencubit
pipi istrinya mesra. Aku meringis saja.
"Kalian makan duluan deh. Gue mau mandi dulu sebentaar aja." Kata Rara sambil lari kecil naik tangga ke kamar kami.
"OK, ma'am. Tapi kita tungguin deh, asalkan beneran cuma sebentaar
aja." Sonny menggoda istriku. Istriku meresponnya dengan memeletkan
lidahnya ke arah Sonny.
"Lu diam di sini dulu, ya. Nanti kira-kira lima menit, lu susul
gue ke kamar lu. OK?" Sonny membisikiku. Ayu kebetulan sedang ngobrol
dengan Mbak Wani dan tidak melihat ke arah kami.
"Hah? Sinting apa lu? Tapi whateverlah. OK." Kataku perlahan.
Benar, kira-kira lima menit setelah Sonny naik ke kamarku, aku
menyusulnya. Setibanya aku di depan pintu kamar mandi yang terbuka
sedikit.. wow.. kulihat Sonny sedang mengintip Rara yang sedang
melucuti bajunya yang hanya dua lembar itu satu persatu.
"Goddamn, bini lu bodynya bikin gue geregetan aja." Bisik Sonny.
"Eh, monyet, gue kagak pernah minta lu ngintip. Sial, lu." Aku agak kesal juga, merasa dikerjai.
"Tenang, broer. Ini step by step. Let the pro do it. You, horny bastard, just shut up and sit tight."
"Gue hajar lu. Kalo dia teriak, satu rumah denger, kita bisa cilaka, sompret."
"Soon! Reenn! Mana sih kalian?!" kudengar Ayu berteriak memanggil
dari bawah. Istriku juga pasti dengar, tapi cuek saja, lalu dengan
bertelanjang bulat masuk ke dalam bath up, siap-siap mau mandi. Kami
mashi terus mengintip.
"Lu turun dulu ke bawah, tenangin bini gue, OK?" bisik Sonny.
"OK." Aku beranjak perlahan pergi. Nggak tau mau ngomong apa ke Ayu, tapi penisku sudah tegang abis, seperti mau pecah rasanya.
"Yu, Si Sonny lagi nonton basket di kamar gue. Seru juga sih,
lagian Rara kan masih mandi. Lu mau nonton juga?" Aku yakin Ayu pasti
nggak akan berminat, karena dia paling benci sama yang namanya
pertandingan basket. Konyol, katanya.
"Nggak ah, gue di sini aja nonton TV di bawah. Buruan dong. Kan gue juga lapar nih."
"Beres, manis."
"Genit lu ya kalo nggak ada siapa-siapa." Ayu menyahut sambil
tersenyum manis. Aku nyengir aja, sambil lari lagi naik ke kamarku.
Sampai di sana, aku masuk dan kukunci kamarku perlahan.
"Gimana, Son?"
"Udah selesai mandi tuh. Wuih, gila, gue ngaceng berat nih, pren. Kagak nyesel nih lu?"
Aku diam saja. Nggak lama Rara keluar dari kamar mandi, seperti
kebiasaanya, telanjang total hanya bercelana dalam saja. Rambutnya
masih basah karena keramas.
"Aahh!" Rara menjerit kaget setengah mati melihat ada Sonny di
situ. Dia mau lari lagi masuk ke kamar mandi, tapi tangan Sonny cepat
menangkapnya. Rara meronta-ronta dan aku diam saja sambil menelan
ludah.
"Tenang, sayang.. tenang.. gue di sini cuma mau bantuin lakilu
memuaskan fantasinya." Sonny berujar perlahan sambil tangannya tetap
mencengkram tangan Rara.
"Ren, kamu bener-bener gila ya. Ini apa-apaan sih?" Rara marah sekali melihat ke arahku. Aku cuma membuang muka saja.
"OK, karena kamu benar-benar sinting, aku juga bisa sinting. Tapi
jangan menyesal nanti." Rara berkata begitu sambil memeluk Sonny dan
mencium bibirnya walaupun masih agak ragu. Tangan mereka bergerilya
kemana-mana. Buah dada Rara yang ranum menjadi target bibir dan lidah
Sonny yang dengan bernapsu menjilat dan menyedotnya. Rara menggelinjang
nikmat. "Mmhh.. Son.. remes dong Son.. pelan aja.. ahh.." Rara rupanya
naik juga birahinya.
"Mmhh.. yeaahh.." Sonny mendongak terpejam saat Rara meremas penisnya dari balik celana jeansnya. "Buka aja, sayang.."
Aku sudah napsu berat, kukeluarkan penisku, dan mulai mengocoknya
sambil masih berdiri. Kulihat Rara jongkok di depan Sonny, masih di
depan pintu kamar mandi yang terbuka sambil mengeluarkan penisnya dari
balik resleting dan mulai menyepongnya habis-habisan. Lidahnya bermain
di kepala dan kedua buah pelir Sonny. Dikulum, dihisap, dijilat, you
name it, she is doing it. Dia melakukannya sambil melirik Sonny dan aku
bergantian.
"Isep, sayang.. yeaah, gitu.. uuhh.. bini lu hebat, man.
Hebaatthh.. aahh.. jebol deh gue.. aarrghh!" Sambil berkata begitu, air
mani Sonny tumpah di dalam mulut Rara yang langsung ditelannya. Melihat
itu, aku nggak tahan lagi, dan air maniku pun langsung menyembur ke
lantai. Lemas, aku terduduk di ranjang. Rara pun bangkit berdiri sambil
memandang Sonny.
"Enak, Son? Hmm?" kata Rara setengah berbisik.
Sonny masih terpejam dan menganggukkan kepala sambil menelan ludahnya.
"Kalah deh Si Ayu. Sedotan lu gila banget, Ra. Ren, you're a lucky motherfucker, you know?"
"I know, man. Thanks berat. Ini rahasia kita aja ya." Sahutku santai.
"Yuk, turun. Nanti Ayu curigation, lagi. Ra, kamu turun dulu, say.
Bilangan Ayu "Pertandingan basketnya" sudah ampir selesai. Nanti kita
nyusul."
"OK." Rara bergegas berpakaian dan langsung turun. Aku sedikit lega karena sebagian fantasiku sudah terpuaskan.
"Reno, my man. If you need us to go any further than that, just
ask, buddy. Hehehe." Sonny ngomong gitu sambil membetulkan pakaiannya.
Aku ngangguk saja, ikut berberes, dan membersihkan lantai yang terkena
semburan maniku barusan.
*****
Seusai makan siang yang dipenuhi dengan canda dan obrolan seperti
biasanya, kami bersantai di kebun belakang rumah kami sambil makan
buah-buahan yang dibawa Sonny dan Ayu. Kami duduk di meja bundar yang
ada di tengah-tengah kebun kami. Aku, Rara, Sonny, Ayu. Sonny melirik
Rara yang pura-pura tidak melihatnya sambil terus ngobrol denganku dan
Ayu.
Tiba-tiba Rara beranjak bangun.
"Mau pipis", katanya.
Sambil berdiri begitu, sambil tangannya mengelus penis Sonny.
Kurasa Ayu tidak memperhatikannya karena sibuk berkomentar tentang
bunga-bunga yang kelihatan indah sekali sore itu. Sonny memandangiku
sambil nyengir. Kukedipkan mataku kepadanya sambil meladeni ocehan Ayu.
Sejam kemudian mereka pamit pulang.
*****
"Do you like it?" aku bertanya pada istriku sebelum tidur malam itu.
"Hmm? I think I do." Rara membalas menjawab sambil memeluk dadaku dan merebahkan kepalanya di dadaku.
"Mau coba lebih lagi?" aku bertanya singkat.
"Terserah kamu, sayang." Balasnya sambil mengelus penisku yang sudah berdiri.
"Idih, kok udah ngaceng sih ininya?" katanya lagi sambil merogoh kedalam celana tidurku yang komprang tanpa celana dalam.
Dia mulai mengelus-elus kepala penisku dan mulai mengocoknya perlahan.
"Ahh, baby.. I want you to fuck him." Kataku dengan napsu yang sudah naik.
"I know, baby.." sambil berkata begitu, kepalanya menyusup kebalik selimut dan mengulum penisku.
"This is what I did to him. Tell me how you like it.." Kurasakan
air maniku segera terkumpul akibat sedotan, jilatan dan kulumannya di
penisku.
"Sayang, kamu bakalan bikin aku keluar nih.. telan ya.. mmhh..
oohh." Gila, belum pernah aku keluar secepat itu. Kurang dari 2 menit
saja! Istriku memang luar biasa tehnik oralnya. Maniku ditelannya.
"Baby, I need you to fuck me. Pleasee.." Rara menggelinjang sambil
tangannya meremas toketnya sendiri dan lalu mengelus vaginanya yang
sudah basah. Sejak kapan dia nggak pakai baju lagi?
"Aku nggak mau.. the next fuck you'll get will be from Sonny,
babe." Aku berkata dengan kejam sambil membereskan celanaku dan tidur
pulas.
*****
Dua hari kemudian, aku masih belum bersanggama dengan Rara. Malam
harinya, sekitar pukul 7, Sonny menelponku saat aku baru selesai mandi.
"Ren, bini gue lagi ke Yogya, ada sodaranya yang meninggal. Gue
udah cari alasan biar nggak ikut. So, I'll have 2 days Off. What's up?"
"Perfecto. Si Rara udah horny berat nih. Nggak gue masukkin udah dua hari. Lu dateng deh sekarang."
"Say no more, buddy." Sonny menutup teleponnya. Kira-kira setengah jam kemudian dia sudah sampai. Rara yang membukakan pintu.
Begitu melihat Rara, Sonny langsung memeluk dan mencium lehernya.
"Hello, doll. Miss me?" Ini orang cool juga, pikirku.
"Mmhh.." Rara menggelinjang senang. "A lot. You come for me, or what?"
"No, I come for my buddy. YOU will make me cum." Sonny menyeringai.
"And I will make you cum with me."
Sonny langsung menggandeng Rara ke kamar tidur kami. Aku mengikuti dari belakang.
"Strip for us. And masturbate, but stop when you are about to cum."
Sonny memerintah Rara sesampainya di kamar. Aku menyetel CD jazz yang
lembut untuk menunjang suasana.
Rara melucuti pakaiannya satu persatu sambil meliuk-liukan
tubuhnya yang sintal mulus itu. Mau tidak mau, kami berdua menelan
ludah berkali-kali. Lalu setelah bugil total, ia membelakangi kami dan
membungkuk. Dengan tersenyum ia menoleh ke arah kami dan menjilat jari
tengah kanannya. Lalu dengan sensualnya ia mengelus sepanjang bibir
vaginanya dan dengan perlahan memasukkan jari tersebut ke dalam
vaginanya keluar masuk kira-kira lima kali.
"Ouhh.. it's so wet, boys.." katanya seraya menjilat kembali jari itu.
"And it taste so yummy.." Kami kembali menelan ludah dengan tangan kami mengelus penis kami masing-masing.
Ke bagian 3
| Title | Author | Views |
| Ngentot dengan Ari, Suami Temanku |
Wika Erlangga |
32,999 |
| Pagar Makan Tanaman - 1 |
robby_g88@yahoo.com |
29,761 |
| Percaturan Birahi Istriku - 1 |
rm4gedon@yahoo.com |
27,748 |
| Percaturan Birahi Istriku - 2 |
rm4gedon@yahoo.com |
26,119 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
24,654 |
| The Fantasy Reality - 1 |
r3n0r4@yahoo.com |
23,833 |
| Skandal Keluarga 4: PRT |
bocahsemarang@yahoo.com |
22,056 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 5 |
tante_mirna@yahoo.com |
20,223 |
| Pagar Makan Tanaman - 2 |
robby_g88@yahoo.com |
19,833 |
| Mencoba Tukar Pasangan |
Jayus |
19,202 |
| Perselingkuhan Ibuku 05 |
dave_putu@yahoo.com |
16,828 |
| Mantan Pacarku Tersayang - 1 |
SILKVLVT@YAHOO.COM |
16,479 |
| Selingkuh dengan Ketua RT - 1 |
marini_adit@yahoo.com |
15,847 |
| Mosaik Perselingkuhan Para Istri - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
15,220 |
| Vivi, Istri Cantik yang Kecewa dengan Suami |
Bendot |
14,379 |
|
|
|
|
|
|
|