|
|
Setelah puas dengan Gina (Korban Pelet 1), aku
segera pergi menyusul orang tuaku ke rumah Oom Dhar di Semarang. Oom
Dhar sedang merayakan resepsi pernikahan putrinya, Wulan yang biasa
diistilahkan ngunduh mantu. Dasar aku ini playboy tulen, tahu aja
barang bagus. Mataku berbinar-binar, dadaku berdentang-dentang dan
pikiranku berubah ngeres ketika sekilas ekor mataku menyambar sesosok
mahluk menarik sedang ngobrol dengan mempelai perempuan. Aku segera
mendekati cewek cantik itu. Dengan sedikit basa-basi aku perkenalkan
nama.
"Hai, aku Dony, sepupunya Wulan," sapaku sambil mengulurkan tangan.
"Hai juga," jawab cewek itu malu-malu menjabat tanganku.
Wulan yang melihatnya tertawa mengikik. Aku segera menyikut bahunya agar tahu keinginanku.
"Dia Sri, temanku di kampus Don," ujar Wulan.
"Ohh.."
Jadi temen kampusnya Wulan, toh. Pantas saja masih muda.
Kuperkirakan usia cewek itu sekitar 23 tahun. Mana kulitnya yang kuning
langsat, hidungnya mbangir, pipinya tembem tapi punya lesung pipit yang
manis sekali. Matanya bening menampakkan pribadi yang cerdas.
"Malam ini, Sri akan jadi pager ayunya Don," tambah Wulan yang kemudian dicubit kecil oleh Sri.
Ohh.. pantas. Malam ini Sri nampak cantik sekali dengan busana
jawanya yang melekat ketat di tubuhnya yang langsing. Nampak belahan
dadanya memisahkan kedua buah dadanya yang menggelembung menggiurkan.
Air liurku rasanya mau menetes kalau saja aku tak segera meneguk
segelas jus yang disuguhkan. Tapi hasratku untuk menikmati cinta Sri
tak terbujukkan. Segera saja setelah acara itu berakhir aku menawarkan
diri untuk mengantar Sri pulang. Dengan malu-malu cewek itu mau juga
aku antar.
"Hati-hati lho Don," kata ibuku ketika kami hendak pergi.
"Sri jangan lupa pakaiannya kamu antar kesini lusa ya?" teriak Wulan dibalas anggukan oleh Sri.
Maka melajulah mobil kijang keluaran terbaru itu berisikan aku dan
Sri yang masih mengenakan busana adatnya. Kami bercakap-cakap mengisi
sepi. Dan kiranya waktunya sudah tepat untuk melafalkan mantra.
"Geni abang napsu abang, manjingo ing jabang bayine Dony Bara.
Geni abang napsu abang, manjingo ing jabang bayine wanito ing netro.
Geni abang napsu abang, lebur dadi siji ing lebur jiwo. Leburen jiwane
manungal ing jabang bayine Dony Bara. Lebur.. lebur.. lebur..".
"Sri.."
"Apa Mas?" jawab Sri menoleh padaku.
Fuhh.. hembusan angin berasal dari mulutku bertabur mantra dari
Mbah Suro. Dalam hitungan detik Sri segera terpengaruh. Matanya
memandang sayu ke arahku.
"Oke Sri, kita mau kemana nih?" pancingku mengetes pengaruh ilmu lebur jiwo.
"Terserah Mas Dony aja deh," jawabya dengan senyum yang tersungging di bibirnya yang merah terbalut lipstik.
Yess!! Benar-benar berpengaruh. Aku segera membelokkan mobil ke
sebuah hotel terdekat. Hotel itu agak kecil tapi cukup nyaman. Aku
segera memesan sebuah kamar. Tak kuperdulikan recepsionist yang
terbengong melihatku membawa seorang gadis dengan busana adat jawa.
Sesampainya di kamar hotel aku segera memeluk Sri. Sri tak merasa keberatan bahkan membalas pelukanku. Kubisikkan ke telinganya,
"Cepat bersihkan dirimu, aku ingin kita bermain sepuasnya".
Sri mengangguk mengerti. Dia segera membersihkan riasan di wajahnya
dan juga mencopot sanggulnya. Sedangkan aku sendiri menantinya sambil
melepas baju batikku yang panasnya bukan main. Sri melepas baju
kebayanya. Kemudian dia mendekatiku dengan hanya memakai kemben sebatas
dada. Kegempalan dadanya menyembul sebagian membuat batang penisku
terbangun.
"Mas Dony ingin aku membukanya?" tanya Sri dibawah pengaruh ilmu lebur jiwo-ku.
"Jangan dulu Sri, aku tak ingin buru-buru."
Tanganku segera menjamah buah dada yang mengintip dari balik kemben
itu. Aku remas perlahan kedua bukit kembar yang membuatku ngiler sejak
tadi itu. Tanganku memang tak bisa leluasa meremasnya karena terhalang
kain kebaya Sri. Tapi nampaknya Sri sudah menikmati setiap remasan yang
aku ciptakan. Matanya terkatup rapat dan mulutnya menganga
mendesis-desis,
"Sss.. Mass.. nakall sekalii..".
Segera aku cium bibirnya yang kemudian dibalasnya dengan ciuman
yang panas. Kemudian kami saling melumat, beradu lidah dan bergantian
mengisapnya. Kemudian Sri meciumi pipiku, mataku, keningku, daguku..
Dijilati cuping telingku, dan lidahnya menyodok-nyodok lubang
telingaku. Darahku seakan naik ke ubun-ubun. Semakin aku tarik kainnya
dan kemudian aku paksa kain itu lepas dari tubuh Sri yang sibuk
menjilati leher belakangku. Kain kemben itu lolos dari tubuh Sri
meninggalkan BH tak bertalinya dan CD putih tipis. Aku dekap tubuh Sri
sambil meremas dada Sri yang masih berlapis BH itu dengan penuh
perasaan, lalu tanganku bergerak ke punggungnya berusaha membuka
pengait BH itu. Aku sudah berhasil melepas pengait BH nya sehingga
dengan bebas tangan kananku membelai dan meremas buah dadanya yang
keras sementara tangan kiriku masih tetap mendekapnya. Mulutku pun
menciumi leher jenjang Sri, sambil tanganku memainkan puncak puting
susu Sri yang kenyal dan mulai mengeras. Sri memejamkan matanya
meresapi setiap jamahan tanganku sedangkan bokongnya terus maju hingga
terasa gundukan kemaluannya menempel di penisku yang sudah menegang.
Bagai sudah tak sabar untuk dipuasi, Sri mendorongku hingga
terduduk di pinggiran kasur hotel. Sri segera melucuti CD tipisnya
kemudian berjongkok didepanku lalu menarik resleting celanaku. Aku
segera membantunya karena rasanya adikku tak tahan lagi lama-lama
didalam. Calana dan CDku lepas terlempar ke lantai. Dan adikku nampak
tegang melotot kearah pemandangan yang wuihh.. itu.
"Wowww.. besar banget.. tegang lagi.." kata Sri melirikku nakal.
"Kamu suka?" tanyaku.
Sri mengangguk kemudian menjilati ujung penisku.
"Uuh.." desisku.
Sri mencumbui seluruh permukaan batang penisku sampai ke pangkalnya
lalu memainkan isapan-isapannya. Lidahnya terus menari dan meliuk
menyusuri buah zakarku.
"Uuhh.. Srii.. achh.." rintihku sambil menjambak-jambak rambut Sri yang berbau hairspray.
Sri segera memasukkan batang penisku ke dalam mulutnya. Penisku
seakan mau meledak diisap-isap oleh Sri, bahkan lidah Sripun masih
terus aktif menjilati ujung penisku sedangkan jemarinya sibuk
menarik-narik kecil tiap-tiap bulu halus di kedua buah zakarku. Ach..
tiba-tiba otot-otot penisku menegang.
"Aku keluar.. Sri.. eeghh.."
Ser.. ser.. air maniku mengucur melewati batang penisku dan croot.. croot..
Tak ada waktu lagi buat Sri untuk menghindari muntahan air maniku.
Srrup.. srruup.. Sri mengisap ujung penisku hingga air maniku habis
keluar.
"Mmmhh.. aahh.. enak sekali Mas.." katanya sambil mengocok-ngocok batang penisku mencari sisa air maniku.
Setelah cukup lama memanjakan adikku, Sri melemparkan tubuhnya ke
atas kasur, dan jatuh telentang. Langsung saja aku menyergapnya, dan
aku cumbui susunya dengan dorongan nafsu tingkat tinggi. Kini kedua
tanganku mengelus-elus pinggiran payudaranya, berputar sampai akhirnya
meremas bagian puncaknya. Sri menggeliat menahan segala hasrat hatinya.
"Oooh.. sshh.. terus.. Mas..!" desah Sri.
Aku jilati pinggiran buah dadanya, lalu merayap menuju puncak dan menghisap putingnya.
"Oh.. sayang..!" rintih Sri nikmat.
Tanganku beralih menurun membelai-belai perut langsingnya hingga
kemudian merasakan gelinya bulu-bulu vagina Sri yang cepak dan becek.
Kubekap vaginanya kemudian kutekan berulang-ulang. "Oooh.. Mas..
ahh..!" desah Sri sekali lagi.
"Asyik kan say..," dengusku sambil terus mencumbui susunya
berbanti-ganti. Berulang kali telapak tanganku tersembur oleh cairan
basah yang menyembur dari lubang kenikmatannya. Jari manis dan
telunjukku merenggangkan dinding vagina Sri. Lalu jari tengahku
mengorek-ngorek klitorisnya dengan penuh perasaan.
"Cumbui vaginaku Mas.. lakukanlah untukku.." rintihnya penuh nafsu.
Segera kutarik kakinya hingga menggantung di bibir kasur. Kemudian
aku berjongkok menghadap bukit belah yang menyembul di pangkal pahanya
yang mulus kian menantang. Oughh.. rasanya penisku mau meledak.
Kemudian jemariku mengelus-elus bulu-bulu cepak itu. Sri menjerit
tertahan saat kucoba menguak kemaluannya dengan jari telunjukku. Tak
sabar segera lidahku menjilat-jilat isi bukit terbelah nan merah itu.
Otot pahanya meregang saat kuhisap clitorisnya.
"Ohh.. mmhh.. aahh.. teruus.. Mas.. yang dalam jilatin itilku..
hissaap.." suara erangan Sri memacu semangatku. Kemudian aku singkap
lubang kawinnya dengan jari manis dan telunjukku. Kemudian jari
tengahku membenam dan mengorek-ngorek lubang sempit itu.
"Ouw.. ooh.. sshh.. Mas, saya nggak tahan.. cepet masukin penismu..!" pekiknya.
Aku segera berdiri dan menarik kedua kakinya hingga menjepitan
pinggangku. Aku bimbing penisku yang sudah sangat tegang membesar agar
menyentuh bibir kemaluan Sri. Kudorong sedikit. Dia memekik sambil
memejamkan mata dengan rapatnya. Kutahan nafas. Lalu kutekan lagi.
Kutekan. Dan kutekan terus. Tak memperdulikan rintihannya. Setahap demi
setahap kutambah tenaga dorongku. Hingga kemudian dia menjerit,
merintih keras, "Acchh.. sshh..!"
Uppss.. oohh.. lubang kawin Sri bagai menggencet batang penisku,
penisku serasa ingin remuk. Lalu segera kupompa hingga kami merasakan
nikmat yang tiada tara. Otot-otot vaginanya berkontraksi memijat-mijat
penisku menimbulkan rasa syur yang luar biasa. Tubuh Sri bergoyang naik
turun mengimbangi permainanku.
"Ahh.. enak.." erangnya dengan mata terpejam. Sri terus bergoyang
sambil sesekali menjerit kecil. Susunya yang bengkak bergerak naik
turun, aku langsung meremasnya. Lalu aku menindihnya dan terus
memompanya dari atas.
"Aaahh.. Mas.. terus.." erangnya.
Aku memompa terus naik turun sampai akhirnya Sri mengerang panjang,
"Ogghh.. terus Mas.. yeah.. nikmat sayang.. aku sudah hampir sampai.."
"Tunggu.. say.. sebentar lagi aku sampai.."
Kupacu dia dengan irama yang lambat. Dia mengerang, menjerit,
merintih dan kemudian.. Sssuur.. cairan orgasme Sri menghangat di ujung
penisku. Spermaku mendesir lalu crrott.. croott.. air maniku keluar
dengan derasnya ke dalam lubang kawin Sri.
"Aku mencintaimu Mas Donny," bisik Sri sambil memeluk dan menciumi bibirku.
Aku melepaskan pelukan Sri dan kemudian mencabut batang penisku.
Aku tersentak kaget ketika ujung penisku berlumuran lendir kenikmatan
kami dan darah.
"Sri, kamu masih perawan ya?" tanyaku.
"Sekarang tidak lagi." jawabnya sambil menyunggingkan senyum.
"Makasih ya say.." ujarku sambil kembali mencumbui bibirnya yang sexy.
Berarti aku telah memerawani dua cewek dengan menggunakan ilmu
lebur jiwo ini. Dengan basuhan darah perawan, maka ilmu lebur jiwoku
pasti akan tambah sakti.
Aku beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Tapi
rupanya Sri menyusulku sambil menggayut di pundakku. Ketika sampai di
kamar mandi kami saling membasuh di bawah guyuran air shower. Sesekali
tanganku dengan nakal meremas dada Sri yang masih tampak membengkak.
"Berapa sih ukuran dadamu?" tanyaku.
"36," jawab Sri singkat sambil menikmati setiap sentuhanku.
"Bagaimana perasaanmu waktu bercinta denganku?" tanyaku lagi.
"Aku jadi pingin lagi dan lagi." jawab Sri sambil menjatuhkan diri di lantai kamar mandi.
Aku segera menindih tubuh Sri yang mengkilap basah. Aku lumat
kembali bibirnya hingga kemudian aku berbisik lirih dan dekat di
telinganya,
"Srii.. kamu di atas yah?"
Segera kami berganti posisi. Sri segera naik keatas perutku dan
dengan segera di pegangnya batang penisku sambil diarahkan ke lubang
kemaluannya yang semakin licin. Slep.. slep.. bless.. batang penisku
amblas semua ditelan oleh bibir lubang kawin Sri.
"Aaach.. aku goyang ya Mas.." katanya sambil memutar pantatnya
yang bahenol. Rasanya nikmat menjalar dari batang penisku hingga
seluruh tubuh ketika Sri memutar batang penisku dalam vaginanya makin
lama makin cepat.
"Aaahh.. Sri.. enak banget ahh.."
Aku segera terduduk sambil mulutku hinggap pada puting susunya,
segera kulumat dan kuhisap. Tangan Sri meremas-remas rambutku sedangkan
tanganku berpegangan pada bokongnya yang bahenol.
"Ahh.. uhh.. egghh.." suara Sri setiap kali aku menghentak-hentakkan penisku di dalam vaginanya.
Kugenjot vaginanya dengan cepat. Gerakan Sri menggila setiap dia
naik turun diatas batangku yang terjepit erat oleh liang kenikmatannya.
Kupompa vaginanya sampai kami tak sadar bibir kami saling mengeluarkan
desahaan dan rintihan birahi.
"Shh.. aahh.. Mas.. Sri sampai nih" Rintih Sri sambil mendongakkan kepalanya.
"Kita bareng-bareng yah say.." kataku lalu menghunjamkan penisku semakin dalam.
Seerr.. serr.. croot.. croot.. croot kami keluar bersamaan. Libido
kami terpuaskan. Lalu aku mencabut penisku dari lubang surgawi Sri.
Dengan sisa-sisa tenaga kami bersihkan tubuh kami bersama-sama.
Kemudian tidur berpelukan dalam damai.
Pukul 05.00 Wib aku antar Sri sampai di rumahnya. Ketika dia sudah
masuk ke dalam rumah aku segera memutar mobilku kembali ke rumah Oom
Dhar. Segera aku lafal mantra pelepas pengaruh lebur jiwo. Lalu aku
segera mencari-cari alasan ketidak pulanganku semalam.
E N D
| Title | Author | Views |
| Cerita Remaja 2: Nakalnya Mama Andre |
Joko Susilo |
188,721 |
| Selingkuh Dengan Istri Teman |
roy_takeshi@yahoo.com |
102,303 |
| Pembantu Hasrat |
dark.blackest@yahoo.co.id |
97,966 |
| Pengalamanku Dengan Suami Orang |
deknas@yahoo.com |
78,401 |
| Pantat Bahenol Mbak Surti |
radhiepatahdenkul@gmail.com |
75,749 |
| Perawatku yang Seksi |
syidi_theman@astaga.com |
75,295 |
| Syahwat di Celah Dinding Rumah Kontrakan - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
67,675 |
| Sperma Lelaki Lain di Celana Dalam Istriku – 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
63,657 |
| Pesona Iparku Yang Mempesona |
priaasli@yahoo.com |
62,517 |
| Warnet Hot - Buka Perawan |
ipank.metal@gmail.com |
61,916 |
| Perselingkuhan Istri Muda - 1 |
ab1071@yahoo.com |
61,037 |
| Shinta Sang Sekretaris |
wirlise@crb.elga.net.id |
60,713 |
| Tetanggaku Sayang |
M. Hakim |
56,365 |
| Penjual DVD Cantik |
ebiznet88@yahoo.com |
54,843 |
| Pengalaman Pertamaku Bercinta |
deknas@yahoo.com |
54,245 |
|
|
|
|
|
|
|