|
|
Namaku Kundalini. Sebenarnya aku malas
menceritakan pengalamanku ini ke orang lain, apalagi aku harus
mengetiknya terlebih dahulu. Tapi tak apa-apalah. Hitung-hitung ada
teman cerita.
Seperti tadi sudah kunyatakan, namaku Kundalini, cewek 25 tahun, 41
kg, 34B. Aku tinggal di kota kecil di Jawa Tengah, setelah
menyelesaikan studiku di perguruan tinggi negeri di Jawa Tengah. Aku
tidak mau terlalu spesifik memperkenalkan diriku.
Aku termasuk orang yang dapat dibilang maniak dalam hubungan
seksual. Aku pun mampu bertahan lama dalam menghadapi lawan jenisku.
Untungnya aku tergolong pendiam, sehingga orang tetap mengenalku
sebagai Kundalini yang pendiam. Dan memang, aku minder sehingga kurang
banyak berteman.
Selama ini aku menjalin hubungan dengan temanku yang bernama Prast. Prast tidak terlalu good looking,
namun dapat dikatakan point tujuh, berkulit gelap, tinggi kurus. Bulu
matanya kata teman-temanku indah seperti bulu mata cewek. Namun ada
sesuatu yang lebih dari sekedar tampilan fisik. Setelah membaca
ceritaku, mungkin anda akan paham apa yang dinamakan pria idaman,
bagaimana definisinya. Mungkin ini pulalah yang membuat dia banyak
mempunyai teman wanita, yang terus terang terkadang (meski jarang) aku
agak sedikit cemburu.
Menurut ceritanya, dia hanya berpacaran dengan beberapa cewek
dulunya, namun kurasa pasti lebih dari puluhan. Dengan dia pula lah aku
pertama kali mengenal hubungan seks, dan ternyata aku sangat
menyukainya. Kami melakukannya hampir setiap malam. Peristiwa ini
berawal 3 tahun yang lalu ketika aku masih kuliah.
Waktu itu aku ke rumah Prast. Seperti biasa, kami nonton film di
rumahnya. Kebetulan waktu itu Prast punya film bagus yang judulnya
'Powder'. Kami rebahan sambil ngobrol, sementara Prast asyik merokok.
Selama ini, hubunganku hanya sebatas snogging, necking atau petting saja, tidak pernah intercourse. Kalaupun ada yang harus disebutkan lagi, paling heavy petting saja.
Namun siang itu terjadi sesuatu yang tidak kami perkirakan sebelumnya.
Entah siapa yang memulai, aku atau Prast. Kami saling berpagutan,
sementara tangan Prast masuk ke baju yang kukenakan dan meremas-remas
payudaraku. Satu yang kusukai dari Prast adalah dia selalu membuka bra
yang kukenakan tanpa menggunakan tangan, tetapi menggunakan gigi.
Itupun tanpa perlu melepas baju yang kupakai. Dia biasanya menggigit
hook bra-ku hingga lepas. Aku menyukainya ketika giginya terasa
menyentuh punggungku.
Tangan Prast sekarang tidak lagi hanya bermain di payudaraku, namun
sudah mulai turun membelai pusarku. Bibirnya pun meniup-niup pusarku.
Geli rasanya, namun sangat merangsang. Lidahnya menjilati bulu-bulu
yang ada di atas kemaluanku. Bolak-balik dari pusar ke atas kemaluanku.
Aku paling suka jika Prast melakukan hal ini. Terutama waktu lidahnya
menari menjilati sisi atas, kiri dan kanan dekat kemaluanku. Nikmatnya
tidak terkira.
Aku pun mulai meremas-remas batang penis Prast. Dia sangat
menyukainya. Tanganku merogoh masuk ke dalam jeans-nya. Tidak puas
dengan hanya merogoh, kubuka dan kulepaskan celananya. Celana dalamnya
kelihatan penuh dan ujung kemaluannya muncul dari celana dalamnya. Aku
tertawa kecil melihatnya. Kusentuh dengan menggunakan ujung jariku,
Prast menggeliat kegelian dan cekikian. Prast menindihku dan kami
bergumul di atas karpet.
Sejauh ini kami hanya bermain seperti hal di atas. Hanya menggesek-gesekkan kemaluan kami tanpa melakukan intercourse.
Namun siang itu rupanya lain, aku meraih celana dalam Prast dan
melepaskannya, dan Prast pun berbuat demikian padaku. Celana dalamku
lepas sudah, sementara baju masih kupakai. Prast sendiri pun demikian.
Praktis pusar ke bawah, kami bebas.
Kembali Prast menindihku diikuti dengan ciuman-ciuman yang mesra.
Badanku terasa panas bergelora. Kurasakan badan Prast hangat
menindihku. Batang kemaluan Prast menggesek-gesek di belahan
kemaluanku. Prast mencoba menusukkannya. Aku pun, jujur saja sudah
ingin melakukan persetubuhan, namun aku takut hamil. Tetapi akhirnya
Prast membujukku untuk sedikit menggesekkan kepala kemaluannya ke
lubangku. Aku menurut saja.
Kepala kemaluannya terasa hangat menyentuh klitorisku. Nikmat
kurasakan kegelian yang memuncak ketika kepala kemaluan itu menyentuh
lembut. Kami tidak tahan lagi akan sensasi yang tercipta oleh gesekan
itu. Tanpa kusadari, gerakan tubuhku rupanya membuat kepala kemaluan
Prast tidak saja menyentuh klitorisku, namun kini telah penetrasi lebih
jauh masuk ke lubang vaginaku. Aku kaget, berusaha menolak. Namun,
dorongan untuk mencoba lebih jauh akibat kenikmatan itu telah
membutakanku. Aku pikir sebentar lagi saja, ah.. tanggung.
Aku kaget setengah mati ketika kutarik kemaluan Prast terlihat
darah di kepala kemaluannya. Aku pikir ini pasti darah keperawananku.
Aku menangis, menyesal. Kenapa tidak berhenti waktu kemaluan Prast
hanya menyentuh klitorisku. Kembali aku menangis dan menangis
menyesalinya. Prast mencoba meredakan tangisku. Namun aku tetap merasa
tidak tenang. Akhirnya kuputuskan untuk pulang saja ke tempat kostku.
Seminggu setelah kejadian itu, aku pikir aku sudah tidak perawan
lagi. Kenapa juga waktu itu aku berhenti sebelum mengalami kenikmatan.
Itu juga tidak akan mengubah keadaan. Menangis pun percuma karena
kenyataan akan tetap sama. Akhirnya waktu malam itu Prast datang, aku
berhubungan badan dengannya. Lagian aku ingin menikmatinya pula. Aku
tidak mau membohongi diri sendiri. Kami melakukannya di kursi tamu di
teras tempat kostku yang gelap.
Aku memang lebih suka memakai rok dibanding dengan celana kalau di
rumah. Karena itulah, mudah saja bagiku untuk bersanggama di teras.
Terlebih lagi, kalau di tempat kostku, apalagi kalau sedang kencan
dengan Prast, aku memang jarang memakai celana dalam. Aku lebih senang
yang praktis seperti ini. Meskipun selama ini kami hanya heavy petting saja atau kubiarkan Prast meraba-raba kemaluanku. Namun malam ini aku
memutuskan untuk melakukannya. Kalau kupikir, aku sudah tidak perawan,
kenapa tidak kunikmati saja hal ini.
Prast memang ahli dalam foreplay, pandai sekali dia
merangsangku sebelum akhirnya kami bersanggama. Rambutku yang panjang
sepinggang dinaikkannya, dan diciuminya punggung leherku. Turun sanpai
ke hook bra-ku. Digigitnya pelan dan dilepaskannya dengan mulut. Bagian
inilah yang paling kusuka. Gigitannya terasa sangat mesra di
punggungku.. diangkatnya kaosku dan tangannya terasa mesra membelai
punggungku. Aku benci dengan orang yang terburu-buru meremas payudara.
Mereka tidak dapat menghargai keindahan seni bercinta.
Aku duduk di atas Prast. Aku rasakan kemaluannya sudah mendesak
tegang. Kuarahkan tanganku ke belakang dan menyusup masuk ke celananya.
Aku sudah hapal ini. Agak susah memang, namun terasa asyik sekali
ketika ujung jariku menyentuh kepala kemaluannya. Perlahan diangkatnya
tubuhku. Secara refleks aku pun mengangkat rokku sedikit. Dalam
posisiku agak sulit untuk mencopot kancing celana dan menurunkan
resletingnya. Prast membantuku. Kemaluannya kini tegak tinggi.
Pernah aku mencoba mengukur kemaluan Prast, panjangnya sekitar 27
cm. Entah itu besar atau hanya sedang-sedang saja. Tetapi indah.
Ototnya tampak menggelembung di keremangan terasku yang terpisah tirai
bambu dengan jalan raya yang ada di atas tempat kostku. Aku segera
menurunkan tubuh sekaligus membimbing kemaluan Prast ke lubang
kemaluanku. Aku turun perlahan, berusaha menikmati segala keindahan
yang tercipta dari fantasi cinta kami. Kurasakan agak sakit ketika
pertama kali kemaluannya menyeruak masik ke lubangku. Untungnya
kemaluanku sudah basah akibat foreplay yang dilakukannya, sehingga tidak terlalu perih waktu penisnya
penetrasi masuk ke vaginaku. Uuughh, nikmatnya selangit. Kurasakan
tubuhku memanas dan semakin panas serta melambung tinggi.
Pelan-pelan aku mulai menaik-turunkan tubuhku di atas Prast. Prast
pun berusaha mengimbanginya dengan menusukkan batang kemaluannya dari
bawah. Sodokan Prast terasa menyakitkan, tetapi juga nikmat. Aku
mencoba menurunkan tubuhku secara penuh agar kemaluan Prast masuk semua
ke dalam kemaluanku, namun Prast bilang itu menyakitkan biji pelirnya.
Aku pikir benar juga. Akhirnya aku memintanya untuk menyodokkan
kemaluannya keras-keras dan seluruhnya ke dalam vaginaku, karena
kupikir dia lah yang memiliki ukuran apakah itu menyakitkan bijinya
atau tidak.
Ternyata kenikmatan yang tercipta akibat sodokan itu sangat hebat.
Aku menggeliat-geliat, sementara Prast tetap mencoba menahan tubuhku
agar tidak terlalu banyak bergerak dan jatuh ke tubuhnya. Aku merasakan
seluruh tubuhku bergetar dengan hebat. Gejolak yang kurasa ketika kami
hanya melakukan gesekan kemaluan kalah jauh bila dibandingkan dengan
kenikmatan yang tercipta waktu batang Prast penetrasi ke lubangku.
Kalau saja aku tahu kenikmatan yang tercipta sedahsyat ini, pasti aku
sudah melakukannya dari dulu-dulu. Lagian, apa sih enaknya
mempertahankan keperawanan.
Kurasakan batang Prast menyodok-nyodok dengan kasar. Aku mencoba
bergerak memutar, karena gatalnya kemaluanku akibat sodokannya. Tanpa
kusadari, ternyata rotasi tubuhku semakin memperhebat kenikmatan yang
kurasa. Selama kurang lebih 15 menit penis Prast serasa bagai poros
yang mengaduk-aduk isi kemaluanku. Prast pun meracau tidak karuan. Aku
semakin menggila akibat kenikmatan itu. Putaranku makin kupercepat,
searah jarum dan berbalik melawan jarum jam bersamaan dengan gerakan
sodokan Prast. Wow, nikmatnya, bung. Anda harus mencoba hal ini dengan
pasangan anda.
Prast memintaku untuk menghentikan sebentar permainan gilaku ini.
Aku berpikir, aku memang baru sekali ini melakukannya, tetapi memang
bercinta hal yang alamiah. Tanpa belajar pun aku rupanya dapat
melakukannya. Sejenak kami terengah-engah dan terperangah oleh
permainan kami sendiri. Aku baru tahu, permainan gaya inilah yang
nantinya dikatakan Prast sebagai gaya anjing (doggy style). Hanya saja
kami melakukannya tidak dengan posisi tubuhku bersandar ke tembok/kursi
atau berdiri empat kaki seperti anjing dan ditusuk dari belakang. Kami
melakukannya dengan dengan cara duduk, yang ternyata nantinya kuketahui
memiliki kenikmatan yang sama namun tidak menyakitkan seperti jika
dilakukan dengan posisi tubuh bersandar ke tembok/kursi atau apapun.
Kami hampir tidak percaya kami dapat bercinta sehebat itu. Prast
dan aku terdiam sejenak, mencoba mengatur napas dan menenangkan diri
akibat sensasi yang begitu intens dari persanggamaan itu. Kalaupun kami
mengetahuinya, kami hanya menontonnya dari film-film yang memang sering
kami tonton. Namun mengalaminya sendiri adalah satu hal lain yang
benar-benar berbeda. Tidak heran kalau banyak orang yang gemar kawin
kalau memang kenikmatannya seperti ini. Tidak heran pula kalau banyak
kasus seks pra nikah, karena memang enak.
Setelah sekitar 5 menit menenangkan diri dan mengatur napas, Prast
menyuruhku untuk duduk di sampingnya. Kemudian dia menghadap ke arahku
dan menusukkan kembali penisnya ke kemaluanku. Agak susah memang,
karena teras kostku gelap. Kubimbing penisnya ke mulut vaginaku dan
secara refleks Prast langsung menusukkan kemaluannya. Oooh.., nikmatnya
waktu kurasakan kemaluan Prast menggaruk dinding dalam lubang
kemaluanku.
Kini aku berada di bawah, dengan posisi duduk mengangkang membuka
kedua pahaku lebar-lebar. Prast kembali menusukkan dan menggoyang
seperti yang kulakukan waktu aku berada di atasnya. Hunjaman itu terasa
menggelitik dinding kemaluanku yang semakin gatal. Basah makin
kurasakan vaginaku oleh cairanku yang keluar melumasi bagian dalam. Aku
turut mencoba menggoyangkan pantatku, namun agak sulit, karena aku di
posisi bawah. Akhirnya aku mencoba mengimbanginya dengan menggoyang ke
kiri kanan saja.
Tangan Prast yang tadinya bertumpu pada pegangan kursi panjang aku
angkat agar meremas payudaraku. Aku sudah tidak tahan lagi. Sensasi ini
sudah demikian menggila. Pundak Prast kugigit. Kepalaku terhentak ke
kanan dan kiri. Kukibas-kibaskan rambut panjangku. Tidak puas, kujambak
rambutku sendiri akibat kenikmatan yang kurasa.
Sudah setengah jam lebih kami bersetubuh, namun belum tampak
tanda-tanda Prast akan mengakhirinya. Sementara aku sudah gilanya
menikmati setiap tusukan penisnya yang disertai goyangan memutar.
Kurasakan bagai tombak yang menghunjam. Mengaduk-aduk seluruh syaraf
nikmat yang ada dalam vaginaku. Kalau tidak takut ketahuan oleh teman
sekost pun mungkin aku sudah berteriak-teriak, mengekspresikan segala
kenikmatan yang kurasa.
Tidak tahan lagi aku mencapai puncak setelah sekitar 45 menit
bersanggama. Entahlah, apakah itu tergolong lama atau tidak, namun
kenikmatan yang kurasa tidak mampu kutahan lagi. Dahsyat sekali waktu
aku mencapai orgasme sanggama pertamaku ini (kalau orgasme akibat
gesekan saja sih aku sudah sering mengalaminya, itu pun setelah satu
jam atau lebih).
Basah kurasakan sampai pahaku, mungkin akibat cairanku yang
meluap-luap. Aku menjambak rambutku sendiri. Kedua pahaku kurapatkan,
kakiku mencengkeram pinggangnya dan menariknya, memaksanya untuk
memasukkan penisnya secara penuh ke kemaluanku. Nikmat sekali mencapai
orgasme. Prast berbisik lembut agar aku menahan dan tetap bercinta.
Anggukanku dibalasnya dengan tusukan tajam yang makin cepat. Kubiarkan
saja dia mengobrak-abrik dinding kemaluanku. Pasrah, namun tetap
berusaha mengimbangi dan menikmati sambil berharap semoga dia tidak
langsung keluar.
Benar saja, baru setelah dua puluh menit aku orgasme, Prast baru
mencapai orgasmenya. Dia meracau tidak karuan dan menggenggam pundakku
kencang-kencang. Sakit, tapi kucoba menahannya dengan mengatupkan
gigiku karena aku tahu Prast memerlukannya. Segera dicabutnya penisnya
dari kemaluanku dan langsung dikocoknya di depanku. Spermanya muncrat
dan ditumpahkannya ke payudaraku. Ada sebagian yang mengenai wajahku
dan tembok di belakangku.
Ooh.., nikmatnya, waktu kurasakan hangat spermanya menyentuh kulit
payudara dan wajahku. Langsung kuusap. Aku tidak mau begitu saja
melewatkan kehangatan spermanya di atas puting payudaraku. Diciuminya
aku. Kubalas dengan pagutan mesra. Nikmat dan mesra sekali kami malam
itu. Meskipun pemula, kini aku tahu teknik untuk menghindari kehamilan
dengan mengeluarkan penis dari lubangku dan mengocoknya untuk membantu
Prast orgasme.
Bersambung ke bagian 02
| Title | Author | Views |
| Cerita Remaja 2: Nakalnya Mama Andre |
Joko Susilo |
188,715 |
| Selingkuh Dengan Istri Teman |
roy_takeshi@yahoo.com |
102,301 |
| Pembantu Hasrat |
dark.blackest@yahoo.co.id |
97,963 |
| Pengalamanku Dengan Suami Orang |
deknas@yahoo.com |
78,399 |
| Pantat Bahenol Mbak Surti |
radhiepatahdenkul@gmail.com |
75,747 |
| Perawatku yang Seksi |
syidi_theman@astaga.com |
75,294 |
| Syahwat di Celah Dinding Rumah Kontrakan - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
67,674 |
| Sperma Lelaki Lain di Celana Dalam Istriku – 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
63,653 |
| Pesona Iparku Yang Mempesona |
priaasli@yahoo.com |
62,516 |
| Warnet Hot - Buka Perawan |
ipank.metal@gmail.com |
61,915 |
| Perselingkuhan Istri Muda - 1 |
ab1071@yahoo.com |
61,033 |
| Shinta Sang Sekretaris |
wirlise@crb.elga.net.id |
60,710 |
| Tetanggaku Sayang |
M. Hakim |
56,364 |
| Penjual DVD Cantik |
ebiznet88@yahoo.com |
54,843 |
| Pengalaman Pertamaku Bercinta |
deknas@yahoo.com |
54,245 |
|
|
|
|
|
|
|