|
|
Ana meletakkan bayinya di atas boks, lalu dia
sendiri rebahan di atas sofa di ruang tengah, merasa agak sedikit
kelelahan. Suaminya, Roy, bilang padanya kalau ada seorang sahabat
lamanya yang akan datang dan menginap di akhir pekan ini, jadi
disamping mengurus bayinya, dia mempunyai sebuah pekerjaan tambahan
lagi, menyiapkan kamar tamu untuk menyambut tamu suaminya itu.
Pikirannya melayang pada sang tamu, sahabat suaminya yang akan datang
nanti, Jodi.
Jodi adalah sahabat lama suaminya saat kuliah dulu. Dia cukup akrab
dengan mereka. Ana sudah cukup mengenal Jodi, lebih dari cukup untuk
menyadari bahwa hatinya selalu berdesir bila bertatapan mata dengannya.
Sebuah perasaan yang tumbuh semakin besar yang tak seharusnya ada dalam
hatinya yang sudah terikat janji dengan Roy waktu itu. Dan perasaan itu
tetap hidup di dasar hatinya hingga mereka berpisah, Ana akhirnya
menikah dengan Roy dan sekarang mereka mempunyai seorang bayi pria.
Ada sedikit pertentangan yang berkecamuk dalam hatinya. Di satu
sisi meskipun dia dan suaminya saling menjunjung tinggi kepercayaan dan
berpikiran terbuka, tapi dia tetap merasa sebagai seorang istri yang
wajib menjaga kesucian perkawinan mereka dan kesetiaannya pada sang
suami. Tapi di sisi lain Ana tak bisa pungkiri bahwa ada rasa yang lain
tumbuh di hatinya terhadap Jodi hingga saat ini. Seorang pria menarik
berumur sekitar tiga puluhan, berpenampilan rapi, dan matanya yang
tajam selalu membuat jantungnya berdebar kencang saat bertemu mata.
Sosoknya yang tinggi tegap membuatnya sangat menawan.
Ana adalah seorang wanita ayu yang bisa dikatakan sedikit pemalu
dan selalu berpegang teguh pada sebuah ikatan. Dan dia tak kehilangan
bentuk asli tubuhnya setelah melahirkan. Mungil, payudara yang jadi
sedikit lebih besar karena menyusui dan sepasang pantat yang menggoda.
Rambutnya lurus panjang dengan mata indah yang dapat melumerkan
kokohnya batu karang. Semua yang ada pada dirinya membuat dia mempunyai
daya tarik seksual terhadap lawan jenisnya meskipun dia tak pernah
menunjukkannya. Ah.. Seandainya saja dia mengenal Jodi jauh sebelum
suaminya datang dalam kehidupannya!
Ana pejamkan matanya mencoba meredam pergolakan dalam hatinya dan
hati kecilnya menuntun tangannya bergerak ke bawah tubuhnya. Vaginanya
terasa bergetar akibat membayangkannya dan saat dia menyentuh dirinya
sendiri yang masih terhalang celana jeansnya, sebuah ombak kenikmatan
menerpa tubuhnya. Jemarinya yang lentik bergerak cepat melepas kancing
celananya lalu menurunkan resluitingnya. Tangannya menyelinap di balik
celana dalam katunnya yang berwarna putih, melewati rambut kemaluannya
hingga sampai pada gundukan daging hangatnya. Nafasnya terasa terhenti
sejenak saat jarinya menyentuh kelentitnya yang sudah basah, membuat
sekujur tubuhnya merasakan sensasi yang sangat kuat.
Dia terdiam beberapa waktu. Roy pulang 2 jam lagi, dan Jodi juga
datang kira-kira dalam waktu yang sama. Kenapa tidak? Dia tak bisa
mencegah dorongan hati kecilnya. Toh dia tak menghianati suaminya
secara lahiriah, hanya sekedar untuk memuaskan dirinya sendiri dan 2
jam lebih dari cukup, sisi lain hatinya mencoba beralasan membenarkan
kobaran gairahnya yang semakin membesar dalam dadanya.
Ana menurunkan celana jeansnya dan mengeluarkan kakinya satu
persatu dari himpitan kain celana jeansnya. Melepaskan celana dalamnya
juga, lalu dia kembali rebah di atas sofa. Dari pinggang ke bawah
telanjang, kakinya terbuka. Pejamkan matanya lagi dan tangannya kembali
bergerak ke bawah, menuju ke pangkal pahanya, membuat dirinya merasa se
nyaman yang dia inginkan.
Dia nikmati waktunya, menikmati setiap detiknya. Dia membayangkan
Jodi sedang memuaskannya, deru nafasnya semakin cepat. Ana tak pernah
berselingkuh selama ini, membayangkan dengan pria lain selain Roy saja
belum pernah, semua fantasinya hanya berisikan suaminya. Tapi sekarang
ada sesuatu dari pria ini yang menyeretnya ke dalam fantasi barunya.
"Ups! Maaf!" terdengar sebuah suara.
Matanya langsung terbuka, dan dia tercekat. Dia melihat bayangan
seorang pria menghilang di sudut ruangan. Dia baru sadar kalau dia
sudah melakukan masturbasi selama lebih dari 10 menit, dan dia
benar-benar tenggelam dalam alam imajinasinya hingga tak menyadari ada
seseorang yang masuk ke dalam rumah. Dan dia sadar kalau bayangan pria
itu adalah Jodi, dengan terburu-buru dia mengambil pakaiannya dan
segera memakainya lagi.
"Mafkan aku Ana, nggak ada yang menjawab ketukanku dan pintunya terbuka..", kata Jodi.
Dia berada di sudut ruangan jauh dari pandangan, tapi dia sudah
melihat banyak! Pemandangan yang disaksikannya saat dia memasuki
ruangan ini membakar pikirannya. Istri sahabatnya berbaring dengan kaki
terpentang lebar di atas sofa itu, tangannya bergerak berputar pada
kelentitnya. Pahanya yang lembut dan kencang tebuka lebar, rambut
kemaluannya yang hitam mengelilingi bibir vaginanya. Penisnya mengeras
dengan cepat dalam celana jeansnya.
"Nggak apa-apa, kamu boleh masuk sekarang..", jawab Ana dari ruang
keluarga. Dia sudah berpakaian lengkap sekarang, dan dia berbaring di
atas sofa, menyembunyikan wajahnya dalam telapak tangannya.
"Aku sangat malu." katanya kemudian.
"Ah, kita semua pernah melakukannya, Ana!" jawab Jodi.
Dia berdiri tepat di samping Ana, seperti ingin agar Ana dapat
melihat seberapa 'kerasnya' dia. Dia tak dapat mencegahnya, wanita ini
sangat menggoda. Dia merasa kalau dia ingin agar wanita ini bergerak
padanya.
"Tetap saja memalukan!" katanya, menyingkirkan tangannya dari wajahnya.
Vaginanya berdenyut sangat hebat, dia hampir saja mendapatkan
orgasme tadi! Sebuah desiran yang lain terasa saat dia melihat tonjolan
menggelembung pada bagian depan celana Jodi. Dengan cepat dia
memalingkan wajahnya, tapi masih saja pria ini memergokinya. Sekarang
Jodi menjadi lebih terbakar lagi, ini lebih dari cukup.
"Nggak ada yang harus kamu permalukan, setidaknya itu pendapatku
setelah apa yang sudah aku lihat tadi!" katanya tenang. Ana menatapnya
penuh dengan tanda tanya.
"Aku jadi benar-benar terangsang melihatmu seperti itu, sebuah perasaan yang belum pernah ku alami sebelumnya." dia menjelaskan.
Kata-katanya, adalah kenyataan bahwa dia sangat menginginkannya,
membuat Ana semakin basah. Dia menyadari betapa istri sahabatnya ini
'tertarik' akan perkataannya tersebut dan Jodi memutuskan untuk lebih
menekannya lagi.
"Lihat akibatnya padaku!" katanya.
Tangannya bergerak mengelus tonjolan pada bagian depan celananya.
Ini masih dalam batas yang bisa dikatakan 'wajar', belum ada batas yang
dilanggar. Saat Jodi melihat 'noda' basahnya di atas permukaan sofa itu
dan mata Ana yang tak berpaling dari seputar pinggangnya, Jodi
memutuskan akan melanggar batas tersebut.
Ana hanya melihat dengan diam saat sahabat suaminya ini membuka
kancing dan menurunkan resleiting celananya. Ana tak bisa mengingkari
bahwa dia menjadi lebih terangsang, dan dia tak menemukan kata yang
tepat untuk mencegah pria ini. Dan saat dia menyaksikan pria di
depannya ini memasukkan tangannya dalam celana dalamnya sendiri,
vaginanya terasa semakin basah.
Jodi mengeluarkan penis kedua dalam hidup Ana yang dilihatnya
secara nyata, disamping penis para bintang film porno yang pernah
dilihatnya bersama suaminya dulu. Nafas Ana tercekat, matanya terkunci
memandangi penis dihadapannya. Dia belum melihat keseluruhannya, dan
ini benar-benar sangat berbeda dengan milik suaminya. Tapi ternyata
'perbedaan' itulah yang semakin membakar nafsunya semakin lapar.
"Suka apa yang kamu lihat?" tanyanya pelan. Ana mengangguk,
memberanikan diri memandang ke atas pada mata Jodi sebelum melihat
kembali pada penisnya yang keras. Jodi mengumpat betapa beruntungnya
sahabatnya.
"Sentuhlah!", pinta Jodi.
Ragu-ragu, dengan hati berdebar kencang, Ana pelan-pelan menyentuh
dengan tangannya yang kecil dan melingkari penis pria di depannya ini
dengan jarinya. Penis pertama yang dia pegang dengan tangannya, selain
milik suaminya, dalam enam tahun belakangan. Perasaan dan emosi yang
bergolak di dadanya terasa menegangkan, dan dia inginkan lebih lagi.
Jodi melihat penisnya dalam genggaman tangan istri sahabatnya yang
kecil, dan dia hanya melihat saat Ana pelan-pelan mulai mengocokkan
tangannya.
Terasa sangat panas dan keras dalam genggaman tangannya, dan Ana
tak dapat hentikan tangannya membelai kulitnya yang lembut dan berurat
besar itu. Jodi bergerak mendekat dan membuat batang penisnya menjadi
hanya beberapa inchi saja dari wajah Ana.
Jodi menyentuh tubuh Ana, tangannya meremas pahanya yang masih
terbungkus celana jeans. Tanpa sadar Ana membuka kakinya sendiri
melebar untuknya, dan tangan Jodi bergerak semakin dalam ke celah paha
Ana. Terasa desiran kuat keluar dari vaginanya saat tangan Jodi mulai
mengelusi dari luar celana jeansnya, Ana menggelinjang dan meremas
penisnya semakin kencang.
Dengan tangannya yang masih bebas, dipegangnya belakang kepala Ana
dan mendorongnya semakin mendekat. Ana tak berusaha berontak. Matanya
masih terpaku pada penis Jodi, dia menunduk ke depan dan dengan lembut
mencium ujung kepalanya. Lidahnya terjulur keluar dan Ana kemudian
mulai menjilat dari pangkal hingga ujung penis barunya tersebut.
Sekarang giliran Jodi, tangannya bergerak melucuti pakaian Ana. Ana
yang sedang asik dengan batang keras dalam genggaman tangannya tak
menghiraukan apa yang dilakukan Jodi. Diciumnya kepala penis Jodi,
menggodanya seperti yang disukai suaminya (hanya itulah seputar
referensi yang dimilikinya).
Tangan Jodi menyelinap dalam celana dalam Ana, tangannya meluncur
melewati rambut kemaluannya. Ana melenguh pelan saat tangan Jodi
menyentuh kelentitnya. Dia membuka lebar mulutnya dan memasukkan mainan
barunya tersebut ke dalam mulutnya, lidahnya berputar pelan melingkari
kepala penis dalam mulutnya. Jodi mengerang, merasakan kehangatan yang
membungkus kejantanannya. Dia menatapnya dan melihat batang penisnya
menghilang dalam mulut Ana, bibirnya mencengkeram erat di sekelilingnya
dan matanya terpejam rapat.
Jodi menjalankan jarinya pada kelentit Ana, menggoda tombol
kecilnya, mulut Ana tak bisa bebas mengerang saat tersumpal batang
penis Jodi. Dorongan gairah yang hebat membuat Ana semakin bernafsu
mengulum naik turun batang penis Jodi. Pinggulnya dengan reflek
bergerak memutar merespon tarian jari Jodi pada kelentit sensitifnya.
Jari Jodi mengeksplorasi lubang hangatnya Ana, membuat lenguhannya
semakin sering terdengar dalam bunyi yang aneh karena dia tak juga mau
melepaskan mulutnya dari batang penis Jodi. Ana tak lagi memikirkan apa
yang dia perbuat, dia hanya mengikuti nalurinya. Ini benar-benar lain
dengan dia dalam keseharian, sesuatu yang akan membuat suaminya mati
berdiri bila dia melihatnya saat ini. Semuanya meledak begitu saja.
Sesuatu yang dimiliki pria ini yang membuka pintu dari sisi lain
dirinya dan Jodi sangat menikmati perbuatannya. Masing-masing masih
tetap asyik dengan kemaluan pasangannya. Dan Ana menginginkan lebih
dari ini. Mereka berdua menginginkan lebih dari sekedar begini.
Ana menelan seluruh batang penis Jodi, menahannya di dalam mulutnya
untuk memenuhi kehausan gairahnya sendiri. Hidungnya sampai menyentuh
rambut kemaluan Jodi, ujung kepala penisnya menyentuh langit-langit
tenggorokannya hingga hampir membuatnya tersedak.
Ke Bagian 2
| Title | Author | Views |
| Cerita Remaja 2: Nakalnya Mama Andre |
Joko Susilo |
188,830 |
| Selingkuh Dengan Istri Teman |
roy_takeshi@yahoo.com |
102,341 |
| Pembantu Hasrat |
dark.blackest@yahoo.co.id |
97,977 |
| Pengalamanku Dengan Suami Orang |
deknas@yahoo.com |
78,405 |
| Pantat Bahenol Mbak Surti |
radhiepatahdenkul@gmail.com |
75,783 |
| Perawatku yang Seksi |
syidi_theman@astaga.com |
75,321 |
| Syahwat di Celah Dinding Rumah Kontrakan - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
67,684 |
| Sperma Lelaki Lain di Celana Dalam Istriku – 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
63,676 |
| Pesona Iparku Yang Mempesona |
priaasli@yahoo.com |
62,531 |
| Warnet Hot - Buka Perawan |
ipank.metal@gmail.com |
61,922 |
| Perselingkuhan Istri Muda - 1 |
ab1071@yahoo.com |
61,107 |
| Shinta Sang Sekretaris |
wirlise@crb.elga.net.id |
60,750 |
| Tetanggaku Sayang |
M. Hakim |
56,373 |
| Penjual DVD Cantik |
ebiznet88@yahoo.com |
54,850 |
| Pengalaman Pertamaku Bercinta |
deknas@yahoo.com |
54,258 |
|
|
|
|
|
|
|