|
|
Bab I Deringan lembut handyphone di saku celana meminta perhatianku diantara
kesibukan siang itu."Selamat siang, dr. Fran di sini." sahutku
menghentikan sejenak kegiatan membuat resume pasien siang itu.
"Siang dok, Ini Yuli, mau mengingatkan nanti sore ada meeting di pabrik dok." sahut suara lembut di ujung sana.
"Oh ya, terimakasih, nanti saya akan datang." tegasku.
"Terimakasih, selamat siang dok."
"Siang."
Demikianlah percakapan singkat siang itu sedikit mengusik
keasyikanku dan sambil menunggu berlalunya waktu. Pikiranku melayang ke
rencanaku selanjutnya selepas tugas. Yach aku harus ke tempat papa,
pabrik garment di sekitar Pasar Rebo sana, sebab jam 4 sore nanti ada
management meeting katanya.
Masih terngiang permintaan papa tadi pagi agar aku menyempatkan
diri untuk dapat hadir dalam meeting tersebut. Yach, papa ingin aku mau
terlibat dan meneruskan usaha yang telah papa rintis sejak dulu.
"Sore dok." sapa Pak Budi satpam pabrik sopan ketika aku keluar dari mobil setibanya di pabrik sore hari itu.
"Sore juga, sudah ngumpul Pak?" tanyaku kemudian.
"Baru team Bandung, dok." jelasnya seraya menutupkan pintu mobilku.
"Oh..,"
Sebagai informasi tambahan, saat ini group yang papa pimpin sudah
punya 3 lokasi pabrik, satu di Pasar Rebo ini, satu di Bekasi dan satu
lagi di Bandung. Kapasitas produksi yang paling besar adalah yang di
Pasar Rebo ini. Masing-masing pabrik memiliki Factory Manager, tapi
keseluruhan operasional ada di bawah management pusat yang berkedudukan
di Pasar Rebo, Jakarta. Pabrik-pabrik ini semula adalah milik
perusahaan lain yang kemudian diakuisisi oleh papa.
Pabrik yang di Pasar Rebo ini cukup luas, tanahnya saja kira-kira
20 m X 100 m, sedangkan yang jadi bangunan hanya 12 m X 90 m saja, oleh
karena bagian depan untuk tempat parkir sedangkan sisi samping kiri
untuk jalan masuk mobil box ke belakang, ke gudang maksudnya untuk
bongkar muat. Di bagian depan terdiri atas 2 lantai, yang bawah menjadi
ruang receptionist sekaligus show room, dan sedikit ruangan untuk
departement designer dan pola, sedangkan di lantai 2 semuanya jadi
kantor.
Dan seperti biasanya, begitu masuk aku langsung menuju ke kamar
kecil. Kata orang, kamar kecil harus bersih dan itu mencerminkan
bagaimana jalannya suatu perusahaan. Hal ini kucermati benar oleh
karena pasar eksport kami juga sebagian ke negara-negara Asia yang
memperhatikan benar masalah ini. Nampak semuanya baik-baik saja.
Setelah itu aku naik ke atas dan langsung masuk ke ruang kerja
papa, tapi tidak ada papa di ruangan itu. Ketika aku mau keluar, sempat
terlihat seberkas buku yang menarik perhatianku, dimana di sampulnya
tertulis cukup besar dan menyolok 'PT. Adi Busana Tirta Mandiri' dengan
warna biru dan juga tertulis jelas 'CONFIDENTIAL' yang berwarna merah.
Jadi aku masuk dan mengambil buku itu yang cukup tebal dan duduk di
sofa yang ada di ruangan itu. Kubaca-baca buku itu tanpa tahu apa
maksudnya, tapi isinya ada profil perusahaan, susunan management,
daftar list customer, pasar eksport, jatah quota tahun fiskal berjalan
dan lain sebagainya, lengkap sekali. Yang menarik adalah pemilik dari
perusahaan ini, yaitu Bapak Tedy Gunawan, yang punya anak perempuan
Imelda Gunawan, Imel.
Aku pernah dekat dengan Imel, dua angkatan di bawahku dari FE dan
waktu itu aku sudah di tingkat 4, dan aku kenal dia saat aku mulai
aktif di senat. Waktu itu aku mulai coba-coba aktif di kampus, biar
bergaul sedikit gitu. Terus kami berkenalan waktu sama-sama aktif di
organisasi kampus, tepatnya saat membentuk kepanitiaan, dimana aku
sebagai perwakilan dari Fakultas Kedokteran dan dia dari Fakultas
Ekonomi.
Dari situ aku sempat dekat dengan Imel dan beberapa kali main ke
rumahnya, namun suatu kali bukan Imel yang menemuiku tapi Bapak Tedy
Gunawan beserta nyonya. Aku sempat dikuliahin panjang lebar dech,
dimana disinggung juga mengenai masa depan yang masih jauh dan perlu
dipikirkan matang-matang, bukan hanya sekedar emosi dan lain-lain. Tapi
inti yang dapat kutangkap sich hubungan kami tidak direstui, mungkin
Bapak Tedy Gunawan hanya melihat dari sisi penampilan fisikku yang
hanya mengendarai GL Pro.
Jadi hubunganku dengan Imel rasanya tidak sampai 3 bulan, dan
celakanya waktu kucoba menemui Imel setelah kejadian itu, dia nampaknya
segan untuk melanjutkan hubungan. Tidak lama setelah itu aku sering
melihat dia jalan dengan Ramli anak Fakultas Tehnik, dengan penampilan
lebih yahud dariku (kendaraannya Civic model terbaru saat itu).
Buat kusendiri yach tidak ada rasa sakit hati tuch, hanya kecewa
saja. Gimana yach, namanya juga baru jadian, jadi belum membekas dan
mendalam gitu, yach berlalu gitu saja tanpa kesan yang mendalam.
"Eh.., sudah datang. Sudah lama?" suara khas itu sedikit mengagetkanku.
"Baru Pa.., ini untuk apa?" tanyaku seraya menunjukkan buku yang sedang kubaca ini.
"Oh.., mau dijual tuch." tukas papa pendek.
"Terus.. Papa berminat?"
"Memangnya kenapa..?" tanya papa berbalik.
"Gini dech.., biar Fran yang pelajari, oke..?" pintaku cepat.
Papa mengerutkan kening, tanda heran sekaligus tidak setuju.
"Gini Pa, saat ini kita memang punya 3 pabrik dan seluruhnya di
bawah management kantor pusat ini. Fran kira kita punya tim management
yang sangat solid, tapi perlu diingat hal ini sudah berlangsung cukup
lama, dan kita perlu memikirkan peningkatan karier bagi para manager
yang ada. Intinya Fran ingin mengembangkan mereka untuk masing-masing
berkembang dan membentuk tim yang solid sekaligus membagi resiko."
jelasku menyakinkan.
Tidak tahu apakah papa menangkap maksudku atau tidak, tapi yang pasti dengan isyarat papa mengangkat bahu, itu sudah cukup.
Segera aku pergi ke ruang Pak Ferdinand, yang kutahu benar dia jago
di bidang accounting dan sangat berpengalaman, beliau sudah bekerja
dengan papa sejak perusahaan ini berdiri. Setelah basa basi sejenak,
kuungkapkan keinginanku agar beliau mempelajari proposal PT. Adi Busana
Tirta Mandiri tersebut dan kuminta jawaban itu minggu depan.
Dalam meeting juga tidak ada yang istimewa, semuanya seperti biasa,
hanyalah hal-hal rutin (laporan masing-masing pabrik mengenai produksi,
rencana produksi, kemudian dari marketing mengenai program kerja yang
dijalankan dan rencana kerja, yang tentunya juga berkaitan dengan
divisi kuota dan lain sebagainya).
Yang menarik justru issue yang dilemparkan oleh Bapak Yunus selaku
personalia pabrik di Bandung yang mengungkapkan adanya rencana aksi
buruh untuk menggoyang pabrik. Katanya gejala ini sudah melanda Bandung
selatan dan mulai bergerak ke lokasi pabrik kami, provokatornya juga
sudah menghubungi Pak Yunus dan mengungkapkan bahwa di pabrik kami ada
tuntutan buruh, walaupun itu di luar normatif, namun mereka meminta
agar kami mempertimbangkan masalah itu, bila tidak dipenuhi dapat
terjadi demo.
Kesannya ini memang serius bahwa ada usaha untuk menggoyang, tapi
seberapa jauh merasuk ke lingkungan pabrik. Pak Yunus belum dapat
memberikan prediksinya. Usulku dalam meeting itu agar Pak Yunus dapat
langsung menghubungi Pak Asep yang diinformasikan sebagai
provokatornya, tapi aku yakin pasti ada orang lain di belakang Pak Asep
itu, dan hal ini sudah kupesankan ke Pak Yunus untuk mencari tahu siapa
dalangnya, lalu kami beli saja dia, daripada repot-repot mengurusinya,
asal jangan terlalu mahal.
Buatku ini adalah masalah yang cukup serius, sambil nanti kami
menginstropeksi di bagian mana yang perlu kami benahi untuk
meningkatkan kesejahteraan buruh, yang penting jangan sampai meledak
dulu. Kalau sudah meledak akan sulit bagi kami untuk meredamnya, dan
akan lebih mahal lagi kami membayarnya. Nampaknya semua setuju.
Bab II "Sore Pak Ferdinan, ini Fran, saya sedang menuju ke sana dan tolong
siapkan laporan analisa Bapak mengenai busana, kita diskusi sore ini."
demikian pintaku melalui telephone sore itu.
"Baik dok."
Demikianlah sore hari itu aku berdiskusi panjang lebar mengenai
status financial dan prospektif dari perusahaan dengan Pak Ferdinan,
serta beberapa kemungkinan pos-pos yang dicurigai, sehingga dapat
menimbulkan neraca defisit demikian besar. Istilah kerennya sich studi
kelayakan gitu, tapi dari sisi financial saja termasuk pos kuota yang
terkenal pos basah untuk bermain dan korupsi. Selesai itu aku
berdiskusi lagi masalah itu dengan papa dan juga mengenai visi dan
misiku panjang lebar, dan akhirnya papa menyetujui dibentuknya tim
sukses.
Tim yang kuminta adalah Bapak Riandha selaku Project Officer,
beliau saat ini menjabat sebagai Export Director dan aku yakin beliau
memiliki kemampuan memimpin yang baik, dan dari bagian itu juga sudah
ada calon penggantinya, sehingga kalau Bapak Riandha kuambil untuk
posisi Managing Director di BUSANA, bagian export tidak akan terganggu.
Kemudian dari finance kuminta Bapak Hernadi, beliau adalah binaan
Pak Ferdinan yang merupakan calon potensial, tapi tidak akan naik
posisinya selama masih ada Pak Ferdinan. Jadi kuminta beliau untuk
menangani BUSANA.
Aku juga punya keyakinan bahwa Pak Riandha dan Pak Hernadi dapat
bekerja sama dengan baik dan aku juga yakin dengan komposisi ini
ditambah nanti dengan pilihan mereka sendiri aku akan punya tim yang
tangguh untuk mengatasi persoalan yang membelit BUSANA selama ini.
Dua bulan setelah pembentukan tim itu, disimpulkan bahwa kami jadi
untuk mengakuisisi PT. BUSANA ADI TIRTA MANDIRI dan pada keputusan
akhir disepakati bahwa Bapak Tedy Gunawan masih menjadi board of
Director, sedangkan aku sendiri sebagai Presdirnya. Itu juga atas
rekomendasi Bapak Riandha yang menilai bahwa Bapak Tedy pada dasarnya
memiliki kapabilitas untuk itu, hanya saja hampir seluruh director dan
head departementnya dicopot, yang masih dipertahankan beberapa orang
saja termasuk dari bagian marketing.
Ini asli aku tidak ikut campur tangan terhadap analisa dan
pembentukan kepengurusannya. Aku hanya menyetujui saja. Jadi
benar-benar murni bisnis atas dasar kemampuan Bapak Riandha selaku
Managing Director yang baru yang kuberikan wewenang penuh untuk
pembentukan dan negosiasi dengan backup dari aku dan papa. Memang agak
terbalik, tapi aku percaya dengan loyalitas dan kemampuan Bapak
Riandha, tentunya di samping itu aku juga sebenarnya tidak mengerti
sekali urusan garment ini.
Bapak Riandha sendiri juga tidak mengetahui adanya latar belakang
atau ambisi pribadiku untuk mengakuisisi perusahaan itu. Yang selama
ini kutunjukkan kepadanya adalah bahwa sudah saatnya Bapak Riandha
berkembang dan menunjukkan kemampuannya dan lepas dari bayang-bayang
kesuksesan papa selama ini untuk memimpin. PT. Busana Adi Tirta Mandiri
ini juga berada di luar group papa, sehingga tidak ada nama papa di
susunan kepemilikan perusahaan ini sekaligus untuk membagi resiko,
demikian argumentasi yang kuajukan waktu itu dan nampaknya dapat
dimengerti oleh papa.
Yang seru sebenarnya waktu penandatanganan berita acara pengalihan
kepemilikan, waktu itu memang sudah agak terjepit posisi Bapak Tedy
terhadap bunga hutang dan hutang pokok yang sudah jatuh tempo serta
perjanjian-perjanjian lainnya dengan pihak lain. Sehingga bilamana
waktu itu aku mundur dari rencana semula, maka habislah riwayat Bapak
Tedy, mungkin rumah dan harta miliknya akan disita oleh Bank. Tapi bila
aku masuk dengan fresh money dan pengambilalihan saham kepemilikan,
maka beban biaya menjadi tanggunganku, sehingga Bapak Tedy dapat
terhindar dari tuntutan hukum itu.
"Selamat siang dok, ini Yuli.., mau mengingatkan siang ini dokter di tunggu di kantor Busana," demikian pesan sekretaris papa.
"Oh ya, sebentar saya menuju ke sana." aku memberikan kepastian.
"Dok.., Riandha nich..!" tidak lama setelah Yuli telpon, Bapak
Riandha juga mencoba untuk mengingatkan aku bahwa siang itu aku harus
menandatangani berita acara jual beli sekaligus serah terima
kepemilikian perusahaan.
Kulirik jam tanganku, hehehe.., aku memang terlambat hampir 1 jam
dari yang seharusnya. Yach, memang selain aku sengaja terlambat,
sebenarnya aku juga tadi banyak pasien, sehingga aku baru selesai lebih
siang dari biasanya.
Bersambung ke bagian 02
| Title | Author | Views |
| Cerita Remaja 2: Nakalnya Mama Andre |
Joko Susilo |
188,719 |
| Selingkuh Dengan Istri Teman |
roy_takeshi@yahoo.com |
102,302 |
| Pembantu Hasrat |
dark.blackest@yahoo.co.id |
97,964 |
| Pengalamanku Dengan Suami Orang |
deknas@yahoo.com |
78,401 |
| Pantat Bahenol Mbak Surti |
radhiepatahdenkul@gmail.com |
75,748 |
| Perawatku yang Seksi |
syidi_theman@astaga.com |
75,294 |
| Syahwat di Celah Dinding Rumah Kontrakan - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
67,674 |
| Sperma Lelaki Lain di Celana Dalam Istriku – 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
63,656 |
| Pesona Iparku Yang Mempesona |
priaasli@yahoo.com |
62,517 |
| Warnet Hot - Buka Perawan |
ipank.metal@gmail.com |
61,915 |
| Perselingkuhan Istri Muda - 1 |
ab1071@yahoo.com |
61,037 |
| Shinta Sang Sekretaris |
wirlise@crb.elga.net.id |
60,713 |
| Tetanggaku Sayang |
M. Hakim |
56,365 |
| Penjual DVD Cantik |
ebiznet88@yahoo.com |
54,843 |
| Pengalaman Pertamaku Bercinta |
deknas@yahoo.com |
54,245 |
|
|
|
|
|
|
|