|
|
Sambungan dari bagian 01 Kalau dibilang sport jantung, mungkin ya sekarang adalah waktunya buat
Bapak Tedy karena kasus ini adalah sangat krusial sekali baginya. Kalau
sampai gagal aku membeli BUSANA, maka habislah dia, tapi begitu kutanda
tangani itu, hilang bebannya.
Begitu aku sampai di kantor BUSANA, seperti biasanya yang
pertama-tama kucari adalah WC dulu, selain memang aku mau pipis, aku
juga mau melihat kebersihannya. Hhmm.. 'lumayan'. Suasana di kantor itu
juga aku dapat merasakan adanya ketegangan dan nampak banyak bunga di
sudut-sudut ruangan, sedangkan di show room memang tidak banyak
pengunjung, dan pelayanannya juga nampak terganggu, mungkin masih
menunggu kepastian akan nasib mereka sebagai karyawan.
Puas melihat-lihat, ini sebetulnya adalah pertama kalinya
kunjunganku ke kantor BUSANA, sehingga aku sama sekali tidak tahu
mengenai seluk beluk gedung tersebut. Aku kemudian menuju ke meja
receptionist.
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya receptionis tersebut sopan.
"Hhmm.., kalau ruang Bapak Tedy di mana?" aku balik bertanya.
"Bapak darimana yach, dan apakah sudah ada appoitment?" masih
receptionis tersebut bertanya, dan .., "Nampaknya Bapak Tedy sibuk
sekali hari ini dan sulit ditemui." demikian penjelasannya lebih
lanjut.
Belum sempat aku memberikan penjelasan kepadanya lebih lanjut, tiba-tiba, "Selamat siang dok," sapa suara itu dari punggungku.
"Selamat siang," sahutku secara refleks sambil membalikkan tubuhku untuk mengetahui siapa yang menyapaku.
"Oh.., kamu Ris," sahutku selanjutnya seraya menyambut uluran tangannya.
"Gimana kabar kamu?"
"Sehat dok."
Gadis ini, Risma, ia adalah sekretaris dari Bapak Riandha dan
mungkin dia dipilih kembali oleh Bapak Riandha untuk mendampinginya di
perusahaan Busana ini.
"Mari jalan sini dok." sahutnya kemudian menunjukkan jalan.
"Selanjutnya nanti kamu kerja di sini?"
"Benar dok."
Demikian perbincanganku bersama Risma sambil berjalan menuju ke
ruang meeting yang telah ditentukan sebagai tempat acara diiringi
dengan tatapan heran si receptionis. Bingung kali, kok bossnya masih
muda. Memang aku masih muda lho.., ganteng lagi.
Begitu aku masuk ruangan meeting tersebut, seluruh kegaduhan yang
ada mendadak senyap dan aku melihat di bagian depan ruangan telah duduk
di sana Bapak Riandha, Bapak Tedy dan masih tersisa sebuah kursi kosong
lagi yang tentunya adalah tempat dudukku. Di sekelilingi ruangan itu
juga sudah penuh dengan beberapa peserta pertemuan siang ini yang
menjadi saksi pengalihan kepemilikan perusahaan. Beberapa diantaranya
kukenali sebagai staf ataupun head of department di kantor papa.
"Selamat siang semua." sapaku kepada seluruh orang yang ada di ruang tersebut.
"Selamat siang Pak." balasan serentak diberikan mereka kepadaku.
Segera aku mengikuti langkah Risma menuju ke tempat dudukku yang ditunjukkannya.
"Selamat siang dok," sapa Bapak Riandha menyambut kedatanganku.
"Siang."
"Pak Tedy, perkenalkan ini dr. Fran."
Dapat kulihat bagaimana pucatnya Bapak Tedy Gunawan, yang dahulu
arogan dan pernah mengatakan bahwa masa depanku masih panjang, sekarang
berada sebagai pihak pembeli dari perusahaan yang hampir bangkrut yang
dipimpinnya. Walaupun dari hati terdalam harus kuakui bahwa modal yang
diberikan ini juga masih dari papa.
"Kaa..uu," lirih sekali suara Bapak Tedy seraya memberikan tangannya dan bergetar.
"Yach.., gimana kabar Pak Tedy, Tante dan juga Imel?" sapaku selanjutnya.
"Ba.. baik..," kegugupan dan kebingungan tentu masih melanda dirinya.
Kemudian acara protokeler pun dimulai dan waktu itu aku tidak
menyinggung atau berbicara banyak dengan Bapak Tedy, hanya aku bilang
dalam kata sambutan waktu itu bahwa aku menaruh kepercayaan penuh
kepada Bapak Riandha untuk menjalankan perusahaan itu dan beliau
mengerti dengan baik akan misi dan visiku untuk perusahaan dan aku
percaya beliau mampu menjalankannya dengan baik.
Aku selaku Presdir tidak akan terlalu banyak untuk campur tangan
dalam urusan ini, disamping tentunya sudah ada board of director yang
tumbuh dan besar di bisnis ini, jadi silakan bekerja dengan baik dan
berkarya untuk aktualisasi diri.
Selesai acara protokoler pun aku hanya sempat makan sedikit sebagai
bagian dari acara itu dan aku sempat mengucapkan selamat bertugas untuk
Pak Riandha dan segera pergi untuk melanjutkan kerjaku, praktek.
Bab II Usapan jari-jari lembut di punggungku dan hembusan napas hangat dekat tengkuk membangunkanku dari tidur siang.
"Hhmm..," desahku menikmati kelembutan itu.
Sementara lagu 'Beautiful Girl'-nya Jose masih terus mengalun
lembut mengisi kamar tidurku, rasanya malas sekali untuk berbalik dan
mengetahui siapa yang melakukan ini untukku.
Mataku juga rasanya susah diajak untuk membuka setelah semalaman
aku tidak dapat tidur. Entah rasanya ada suatu perasaan yang membuatku
tidak enak dan mood sedang benar-benar down. Tapi usapan lembut kali
ini yang sudah lama tidak kurasakan, rasanya sedikit memberikan
ketenangan dan ingin rasanya aku dimanja dan dipeluk.
Kecupan basah dan hangat sekarang menggantikannya mulai dari pundak
kananku terus ke tengah dan ke kiri, berputar sejenak di situ kembali
ke tengah dan naik ke tengkuk, perlahan berirama membuatku mendesah
nikmat dan sejuk. Tenang rasanya, damai. Usapan jari lentik itu kini
mulai beralih turun ke punggung bawah dan terus turun menuruni bukit
gundul kupunya. Astaga nikmat benar, ada untungnya juga nich
kebiasaanku untuk tidur bugil.
Tidak lama kemudian disusul dengan jilatan kecil dan hisapan lembut
yang mengiringi usapan lembut itu untuk terus turun ke bawah dan
menyingkapkan selimut yang hampir menutupi seluruh tubuhku. Desah nafas
tertahan dan embusan hawa hangat kembali menjalari telinga kanan
belakangku disertai dengan jilatan basah dan desah napas yang mulai
memburu, kemudian berpindah ke tengkuk bagian atas.
"Hmm..," desahku tertahan seraya membalikkan kepala dengan mata masih terus terpejam.
Sekarang giliran telinga kiri belakangku yang dapat giliran, dan
bau parfum halus mulai kusadari dan membangkitkan gairah hidupku,
terutama yang bagian bawah walaupun tertahan, namun kemudian
menghilang.
Gerakan jari lentik itu sekarang sudah mencapai paha bagian dalam
dan terus turun ke bawah hingga ujung kaki, naik melalui punggung kaki
dan terus naik dengan gerakan halus kanan dan kiri menyusuri bagian
dalam pahaku dan berhenti sejenak di selakanganku, berusaha untuk
mencapai namun sulit tertutup oleh tubuhku yang cukup besar. Tidak
berusaha untuk mencapainya ternyata, dan sekarang yang kurasakan adalah
bantalan halus yang mulai menindih punggungku.
Dengan gerakan perlahan kurasakan sentuhan kulit perutnya yang
mulai bergerak naik dan terus hingga kurasakan adanya sentuhan bukit
kembar yang menempel pada punggung atasku, sejenak dan lenyap tertindih
seluruh tubuhnya. Dan sekarang jilatan kembali bermain di tengkukku,
serta usapan lembut jari-jari lentik yang bermain di rambutku. Kembali
parfum lembut itu menebar aroma khasnya dan dengan segala kelembutan
yang diberikan itu membuat gelora hidupku terpacu untuk bangkit dan
menyala kembali.
"Ach..," desah napas tertahan berdenging di telinga kiriku.
"Hhh.. mm..," balasku manja.
Hei.., secara tiba-tiba aku tersentak dan baru menyadari bahwa
parfum ini bukanlah milik Sandra pacarku saat ini. Parfum Sandra adalah
White linennya Estee. Walaupun sama-sama lembut, tapi yang ini belum
kukenal. Segera kubalikkan badanku, dan astaga..
"Ii.. mel..?" seruku terkejut.
"What are you doing?" tanyaku selanjutnya setelah berhasil mengatasi kekagetanku.
Imel hanya tersenyum manis dan segera kembali naik ke pangkuanku
yang tadi terjatuh gara-gara aku berbalik. Imel tampil benar-benar
polos, tubuhnya putih mulus dengan buah dada berujung merah muda segar,
tidak terlalu besar tapi kencang menempel. Sementara hutan lebatnya
berusaha menarik masuk burungku ke dalam kegelapannya, tapi karena
gelap dan terkejut burung itu terus menunduk dan mengecil, lenyap bagai
tertiup angin malam dan tetap berada di luar jangkauan hutan lebatnya.
"I want to say thank you," katanya berbisik manja di telingaku,
tentunya dengan menunduk sehingga seluruh buah dadanya menempel hangat
di dadaku.
Debaran di dadaku tidak mampu menutupi hal itu yang kuinginkan juga.
"Mel..,"
"Sstt..," tukasnya seraya memberikan jari tengah tangan kanannya menutup bibirku.
Sementara tangan kirinya sekarang bergerak lincah menyelusuri dada
bidangku, mengusap dengan lembut menelusuri permukaan kulitku.
Diantara kebimbanganku antara nafsu dan logika, burungku perlahan
mulai bangkit kembali dan memasuki hutan lebat itu. Imelda terus
menyunggingkan senyum manisnya seraya memainkan jari lentiknya terus
menjelajah permukaan kulitku perlahan dan lembut. Tidak banyak yang
dapat kulakukan saat ini selain memandang tubuh bagian atas dari Imel
yang nyaris sempurna, berkulit putih dengan rambut panjangnya yang
terurai, hidungnya mancung, bulu mata lentik dan bibirnya berwarna
merah, lipstik kurasa, tapi tidak norak dengan puting susu berwarna
merah muda tepat di tengah payudaranya yang memuncak kencang.
Perlahan aku juga mulai menyentuh pinggang Imel dan mulai bergerak
naik hingga mencapai kaki gunung itu dan segera ditepis oleh Imel.
"Fran.., lo diam aja, gue yang mo kasih buat lo..!" bisiknya perlahan dengan senyum yang terus menghias bibirnya.
Tulus dan tanpa terpaksa aku dapat menangkap kesan itu dari sorot
matanya yang mulai sayu. Namun itu tidak kuindahkan, kembali tangan gue
bergerak menyentuhnya. Kali ini Imel tidak menolak lagi, dan jemariku
juga bergerak menyusuri hingga leher jenjangnya dan turun naik di
antara kedua bukit kembarnya berjalan memutarinya perlahan pasti dan
berakhir dengar puntiran di kedua putingnya.
"Ach.. Fran..!" pekiknya tertahan.
Sekarang pantatnya juga mulai bergerak menggosok sepanjang batang
leher burungku untuk membelah bibir jurangnya, perlahan-lahan dengan
irama tetap. Tidak lama bibir itu menjadi semakin basah dan Imel
menengadahkan kepalanya mencari sensasi nikmat, sementara jemariku
bermain di belahan tengah lehernya yang putih jenjang dan terus turun
membelah bukitnya dan berakhir di perutnya yang masih kencang tanpa
lemak.
Perlahan kutarik kepalanya dan mencoba mendekati bibirnya yang
sekarang terbuka kecil dengan dengus napas yang mulai kehilangan irama
tetapnya. Parfum khas halus itu kembali menerpa hidungku dan segera
kudapatkan bibirnya. Kusentuh perlahan dengan bibirku sebelum kulalap
dengan sedikit buas. Kuteroboskan lidahku membuka celah bibirnya dan
mencari lidahnya disertai sedotan kuat seperti vacuum cleaner. Imelda
membalas dengan memberikan kebuasannya dan bibir mungilnya itu
mendapatkan sesuatu yang memberikannya kepuasaan tersendiri.
Napas Imel semakin memburu, dan terus berpacu diantara pagutan
lidahku dan gigitan kecil serta jilatan di bagian belakang telingannya.
Matanya terpejam, namun degup jantung terus berpacu memompa darah ke
seluruh penjuru pembuluh darah yang ada.
Tiba-tiba Imel bangkit dan memegang burungku untuk dibimbingnya
memasuki sarang yang sekarang telah siap dibangunnya sejak tadi.
Perlahan burung kejantananku sekarang memasuki sarang kecilnya dan
terasa ada lipatan-lipatan kecil di dalam yang harus burungku buka
untuk mencari dasarnya. Terus masuk dan tenggelam burungku disertai
dengan bibir tipisnya yang tidak kuasa ikut terlipat masuk ke dalam.
"Fran..," desahnya perlahan di sela napasnya yang memburu.
Kemudian secara perlahan Imel mulai bergerak naik turun mencari
kesesuaian irama napasnya, sementara tanganku masih aktif terus
memainkan peranan pentingnya untuk mengeksplorasi buah dadanya.
Gerakan naik turun itu perlahan tapi pasti makin binal dan cepat,
sementara buliran keringat mulai muncul pada bagian pundak Imel yang
segera tersebar cepat ke punggung membasahi rambut panjangnya dan
sebagian juga menempel pada leher jenjang di bagian depan. Gerakan naik
turun itu juga memicu hentakan ringan pada payudara yang sekarang juga
nampak berkilat berselimutkan keringat yang tidak dapat disembunyikan
telah memicu seluruh kelenjar tubuh untuk ikut aktif memainkan peranan
pentingnya mencari sensasi nikmat.
Usapan dan belaian tanganku yang sekarang berbalur keringat
menambah semangat dan nafsuku untuk terus bergerak merambat naik, dan
rintihan halus Imel meningkahi birahi yang terus meninggi.
"Ach.. Fran, gue hampir.. ach.. ach.. Fran..!"
Sekarang Imel tidak lagi duduk di pangkuanku, tapi sudah menidurkan
tubuhnya di atas tubuhku dengan jemarinya yang terus meremas rambutku,
sementara pantatnya masih terus mempertahankan iramanya.
"Fran, gue.. ach.. ngga tahan..! Fran kasih buat gue.. ach.. ach..
hm.. ugh.. ugh.. ugh.. ach.. ach..!" desahnya mengiringi gerakan
tubuhnya.
Tiba-tiba Imel kembali duduk di pangkuanku dan bergerak makin
cepat dan makin binal dengan tengadah dan menggeleng-gelengkan
kepalanya ke kanan kiri yang diakhiri dengan teriakan panjang tertahan.
"Acchh.. Fraann..!"
Hentakan pantatnya berusaha menekan semaksimal mungkin pantatku.
Gerakan otot sirkuler vaginanya berdenyut cepat dan kencang yang
kemudian perlahan mereda diikuti dengan ambruknya tubuh Imel menindih
tubuhku. Jemari Imel bergerak dan berusaha membelah jemariku, dan
digenggamnya dengan erat.
Bersambung ke bagian 03
| Title | Author | Views |
| Cerita Remaja 2: Nakalnya Mama Andre |
Joko Susilo |
188,719 |
| Selingkuh Dengan Istri Teman |
roy_takeshi@yahoo.com |
102,302 |
| Pembantu Hasrat |
dark.blackest@yahoo.co.id |
97,964 |
| Pengalamanku Dengan Suami Orang |
deknas@yahoo.com |
78,401 |
| Pantat Bahenol Mbak Surti |
radhiepatahdenkul@gmail.com |
75,748 |
| Perawatku yang Seksi |
syidi_theman@astaga.com |
75,294 |
| Syahwat di Celah Dinding Rumah Kontrakan - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
67,674 |
| Sperma Lelaki Lain di Celana Dalam Istriku – 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
63,656 |
| Pesona Iparku Yang Mempesona |
priaasli@yahoo.com |
62,517 |
| Warnet Hot - Buka Perawan |
ipank.metal@gmail.com |
61,915 |
| Perselingkuhan Istri Muda - 1 |
ab1071@yahoo.com |
61,036 |
| Shinta Sang Sekretaris |
wirlise@crb.elga.net.id |
60,713 |
| Tetanggaku Sayang |
M. Hakim |
56,364 |
| Penjual DVD Cantik |
ebiznet88@yahoo.com |
54,843 |
| Pengalaman Pertamaku Bercinta |
deknas@yahoo.com |
54,245 |
|
|
|
|
|
|
|