|
|
Sambungan dari bagian 02 Sesaat kemudian kubaringkan tubuh Imel di sampingku, dan sekarang
bibirku kembali bergerak merasakan asinnya keringat Imel di lehernya,
terus menyusuri tepi belakang rambutnya.
"Fran.. ach.. ach.. ugh.. hhmm," desah birahi Imel yang kembali naik.
Perlahan kucabut burungku, walaupun Imel masih berusaha menahannya,
namun kubalikkan tubuh Imel dan sekarang dia tidur telungkup. Sementara
itu jemariku kembali bergerilnya menyelusuri tubuh berkeringatnya,
licin namun memberikan sensasi tersendiri. Bau khas parfum bercampur
keringat seperti itu dapat terus mempertahan kejantananku.
Kemudian masih dalam posisi tidur telungkup itu kuselipkan burungku dari belakang.
"Egh.. hhmm.. ach.. ach.. ach.. Fran.. enak.. ach..!" rintih Imel tertahan.
Hanya dengus napas memburuku sebagai jawaban dari rintihan Imel,
dan perlahan aku mulai mengocok lagi seraya menikmati betul gesekan
leher burungku di sarangnya. Keluar masuk, keluar masuk, perlahan dan
semakin lama semakin cepat seiring dengan lenguhan Imel yang semakin
panjang.
"Ach.. ugh.. ugh.. ugh.., Fran.., terus.. ach.. ach..!"
Hingga suatu saat, kucabut dan segera kubalikkan tubuh Imel
menghadap ke arahku dan segera kupentangkan kakinya lebar-lebar dan
kuraih betisnya untuk segera kunaikkan ke pundakku. Terbuka sudah hutan
basah itu dengan bibirnya yang masih terpecah menganga dengan warna
merah muda dominan di bagian dalamnya, sedangkan bibirnya berwarna
lebih tua dan bengkak, nampak besar bibir itu tidak sebanding dengan
panjangnya.
Namun pantat itu tidak dapat diam, terus menggeliat, mencari cengkraman yang hilang.
"Fran.., cepet, gue.. ach.. ngga.. tahan.. ach..!" pinta Imel
seraya terus mengangkat-angkat pantatnya berusaha menutupi kegelisahan
dan kekosongan liangnya.
Dengan gagah dan sedikit sentakan kuat segera kuhunjamkan batangan itu masuk dan menyentuh hingga ke dasarnya.
"Aacchh..!" desah Imel terpuaskan.
Sementara aku segera memompa dengan kecepatan tinggi yang terus
meninggi hingga batas tertentu yang kurasa pas untuk kupertahankan
untuk beberapa saat. Hingga pada suatu kesempatan, kepala Imel
terangkat dan segera menghisap kuat dadaku hampir bersamaan dengan
hentakan kuat batanganku sebelum melepaskan pelurunya tepat di dasar
vagina Imel.
"Fran..," rintihnya halus bersamaan dengan ambruknya tubuhku
menindih tubuh Imel setelah sebelumnya kubiarkan kaki Imel turun dari
pundakku.
Lemas rasanya seluruh tubuhku, dan genggaman Imel di antara
jemariku memberikan sensasi tersendiri. Kulit kami yang berkeringat
juga memberikan rasa licin yang menambah kehangatan yang ada, dan
tentunya juga bau khas keringat nafsu.
Bab IV Gerakan daun pintu kamar sempat tertangkap oleh sudut mata Imel
saat dia membuka matanya, sehingga secara reflek dia menoleh ke arah
pintu kamarku yang tidak terkunci tersebut. Reflek aku juga ikut
menoleh dan.., masih sempat terlihat Sandra ada di balik pintu itu
sebelum dia tutup karena terkejut, tidak kalah terkejutnya dengan aku
juga.
Segera aku bangun dan meraih celana pendek serta kaos yang
kusampirkan di kursi belajar tadi, dan segera aku keluar kamar. Tidak
ada. Bagai lari kesetanan aku meloncati 3 sampai 4 anak tangga
sekaligus dan mencari keluar, namun ketika aku sampai di luar hanya
ekor dari Honda Civic coklat susu model terbaru yang sempat kulihat.
Segera aku masuk dan menelpon, tentu ke HP Sandra yang kutuju, tapi
tidak ada respon. Wah, pusing aku. Hancur lagi dech hidupku. Aku
terduduk di kursi ruang tamu tanpa tahu apa yang harus kulakukan,
bengong seperti orang bego habis ketangkap basah, mau apa lagi..?
"Siapa Fran..?" suara lembut dari belakang itu menyadarkanku bahwa masih ada orang lain di rumah ini.
"Sandra.., cewe gue," sahutku pendek.
"Ooppss..," ada nada sedih, "Fran, apa yang bisa gue bantu?" tanya Imel lirih.
"It's OK.., lo pulang aja dech..!"
"Fran..?"
"Gue ngga pa-pa kok..," sahutku lirih seraya berusaha memberikan senyum untuk meyakinkannya.
Yach.., ini juga salahku, dan aku tidak mungkin menyalahkan Imel
oleh karena tadi aku juga mau melakukan itu. Kemudian memang
kebiasaanku dari dulu, siapa saja yang cari aku di rumah ini berarti
temen dekat, dan biasanya mereka akan langsung naik ke kamarku. aku
juga tidak dapat menyalahkan Pak Prapto, tukang kebun, atau Bik Imah,
pembantu rumah ini, karena sudah tahunan mereka bekerja dan semuanya
tahu kebiasaanku, kalau teman-temanku yang tahu rumah ini biasanya
langsung ke kamarku. Kalau bukan teman dekat mereka tidak akan tahu
rumahku yang ini, jadi aku juga tidak dapat menyalahkan mereka.
"Fran, gue sebenarnya mau ngucapin terimakasih lo udah bantu kesulitan keluarga gue," kata Imelda perlahan.
"Yach..," sahutku pendek.
"Sorry Fran, atas kejadian ini.., kalau lo butuh gue untuk jelasin ke Sandra nanti call gue yach..!" pinta Imel merasa bersalah.
"Oke," sahutku pendek.
Dan setelah itu Imel pun segera pergi dan berlalu.
Segera setelah Imel pulang, aku mencoba menghubungi Sandra lagi via
HP, tapi tidak aktif. Akhirnya aku mandi dan segera pergi ke rumah
Sandra.
"Sore Tante," sapaku ketika pintu rumahnya terbuka.
"Sore.. wah Fran, Sandranya ngga ada di rumah nich, katanya mau ke
rumah kamu?" jelas ibunya Sandra kebingungan melihat kedatanganku.
"Eh.., anu Tante," bingung aku mau bilang apa lagi, "Oh.., belum pulang Tante dari tadi?" tanyaku selanjutnya.
"Belum tuch,"
"Oh..ya udah Tante, biar Fran cari dulu." sahutku seraya ingin segera berlalu.
"Ribut lagi, Fran?" penuh selidik beliau bertanya.
"Eh.. ngga Tante." sahutku menyangkal.
Tapi senyum beliau yang memaklumi menyelamatkan perasaan kacauku
yang sesungguhnya berkecamuk bagai badai di dalam dada. Ach.., memang
aku yang salah.
Beberapa tempat sudah kucari, mulai dari teman dekatnya Sandra
hingga beberapa tempat yang biasa dia kunjungi, tapi batang hidungnya
tetap tidak nampak. Sampai jam 12 malam lebih aku masih berusaha
mencarinya. Sudah kuminta juga bantuan teman dekatku untuk
menginformasikan keberadaan Sandra bila mereka melihatnya, tapi tetap
tidak ada berita, seperti hilang di telan bumi, sementara di rumahnya
tetap belum pulang.
Hingga pada jam 24.45, "Malam.. Fran..?" suara lembut di seberang sana memanggil namaku ketika telpon itu kuangkat.
"Malam Tante, gimana sudah ada berita dari Sandra?" tanyaku cemas
setelah aku dapat memastikan bahwa itu adalah telpon dari ibunya
Sandra.
"Baru saja Sandra telpon, katanya dia ngga pulang malam ini, tapi ngga mau bilang tuch dia ada dimana." jelas beliau.
"Oh.., tapi ngga kenapa-kenapa Tante?"
"Ngga ngomong tuch, cuma tadi pesennya ngga pulang aja malam ini."
"Oh.."
"Ya sudah.., kamu pulang istirahat sana..!" pesan beliau sebelum mengakhiri percakapan di telpon malam itu.
"Baik Tante. Terimakasih dan selamat malam." sahutku kecewa.
"Malam." sahut suara di ujung sana.
Sampai 2 hari aku tetap tidak dapat menjumpai keberadaan Sandra,
walaupun dia tetap telpon ke rumahnya, dan tentu saja hidupku semakin
kacau. Gila.., satu urusanku belum dapat teratasi, perasaan salah itu
kini bertambah lagi dengan kesalahan fatal yang kuperbuat sendiri.
Semakin down rasanya, ingin menangis rasanya. Justru di saat aku susah
gini, tidak ada teman yang dapat menghiburku. Tidak ada tempat aku
dapat berkeluh kesah dan bermanja. Apakah semuanya salahku..? Memang
aku sich yang salah.
4 hari setelah kejadian yang memalukan itu, ketika aku baru bangun
tidur siang dan turun ke bawah untuk cari makan, "Den Fran." panggil
Bik Imah.
"Ada apa Bik?"
"Tadi Nak Sandra datang tapi ngga masuk, dia cuma titip ini sama
Bibik, katanya minta disampaikan ke Den Fran." sahutnya hati-hati.
"Apa?" bagai disengat kalajengking aku terkejut.
"Kok Bibik ngga bilang sich?" sahutku ketus menyalahkan seraya mengambil bungkusan kecil yang disodorkan oleh Bik Imah.
"Nak Sandra bilang ngga perlu Den." sahut Bik Imah takut.
"Ya sudah."
Memang aku juga tidak dapat menyalahkannya.
"Ada apa yach Den, kok mata Nak Sandra juga bengkak begitu kaya abis nangis." jelas Bik Imah selanjutnya.
Mataku yang melotot sudah cukup untuk membungkam pertanyaan
selanjutnya dari Bik Imah, dan tubuh ringkih itu segera pergi kembali
ke dapur menuju habitatnya.
Isi dari bungkusan itu adalah selingkar cincin yang pernah
kuberikan ke Sandra sebagai tanda cintaku saat pesta valentine tahun
lalu. Aku beli cincin itu sepasang, satu buat Sandra dan satu lagi buat
kupakai, yang sekarang sudah dikembalikan. Aku mengerti ini artinya
Sandra sudah membuat keputusan untuk mengakhiri hubungan kami, tapi
rasanya aku belum puas kalau aku belum bertemu langsung dan berbicara
dengannya.
Sore-sore aku datang lagi ke rumahnya dan menunggu lama, hampir 1 jam sebelum akhirnya Sandra keluar dan menemuiku.
"San..," panggilku lirih.
"Ngapain lo datang-datang lagi?" sahutnya ketus.
"San.., gue mo minta maaf, gue bener-bener minta maaf dan gue mo jelaskan ke loe."
"Mo nyangkal?" sahutnya tetap ketus.
"Ngga.. San, gue emang salah, tapi gue mo lo juga tau permasalahannya dan baru lo ambil keputusan." pintaku memelas.
"Ngga perlu, biar gimana hati gue udah terluka dan gue ngga mungkin jalan sama lo."
"San, tolong berikan kesempatan buat gue sekali lagi." masih aku mencoba meminta.
"Sudah selesai dan tak ada penyesalan." senyum dingin menghias bibir Sandra kali ini.
Ketegaran telah nampak di sikap Sandra, dan memang biasanya sulit
sekali mengubah keputusannya. Aku sudah menceritakan semuanya ke Sandra
tentang masalahku mulai dari kasus Irene yang selama ini kutanggung
sendiri sampai juga ke soal Imelda yang akhirnya dipergokinya itu,
namun semuanya tetap tidak mengubah pendiriannya untuk tetap mengakhiri
hubungan kami. Aku juga sudah minta agar Sandra mau berpikir lagi 2
atau 3 hari lagi sebelum benar-benar mengambil keputusan, namun Sandra
tetap menolak. Tegas sekali keputusannya dan tidak ada lagi langkah
kompromi buatku.
Rasanya seluruh dunia berputar saat itu, masa sich orang lain yang
nyeleweng berkali-kali masih dapat tempat maaf, sementara aku baru
sekali saja sudah tidak ada lagi tempat maaf. Sebenarnya aku masih
berharap bahwa aku masih dapat menjumpainya 2 atau 3 hari setelah
pertemuan sore itu, namun itu semua tinggal harapan karena besoknya
Sandra sudah pergi ke pedalaman Sulawesi menemani junior kami yang akan
melakukan kerja lapangan selama 3 minggu di sana, dan aku tahu pasti di
sana sudah ada Andre.
Andre adalah orang yang dulu sempat digosipkan pernah jalan sama
Sandra, tapi disangkal oleh Sandra. Yang kutahu sich memang Andre
naksir berat ke Sandra, tapi waktu itu Sandra yang menolak. Tapi
sekarang sejarah sudah berubah, aku sudah mengecewakan Sandra, dan
bukan salahnya kalau dia sekarang beralih ke Andre yang senantiasa
setia menanti dan tidak ada lagi tempat buatku di hati Sandra.
Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak berguna. Hidupku sudah hancur
rasanya, namun roda kehidupan harus tetap berjalan. Dan semuanya harus
kujalani. Aku harus tegar, dapat menegakkan kepala, aku lelaki bung.
Demikian semangat yang selalu kubangkitkan dari dalam.
Rasa sesal di dalam hati
Diam.. tak mau pergi
Haruskah aku lari dari,
kenyataan ini..
Lelah kumencoba,
'tuk sembunyi..
Namun senyummu.. terus mengikuti
Lagu itu sayup-sayup terus bergayut dalam kalbu setiap malam menjelang tidur. Ach..
TAMAT
| Title | Author | Views |
| Cerita Remaja 2: Nakalnya Mama Andre |
Joko Susilo |
188,719 |
| Selingkuh Dengan Istri Teman |
roy_takeshi@yahoo.com |
102,302 |
| Pembantu Hasrat |
dark.blackest@yahoo.co.id |
97,964 |
| Pengalamanku Dengan Suami Orang |
deknas@yahoo.com |
78,401 |
| Pantat Bahenol Mbak Surti |
radhiepatahdenkul@gmail.com |
75,748 |
| Perawatku yang Seksi |
syidi_theman@astaga.com |
75,294 |
| Syahwat di Celah Dinding Rumah Kontrakan - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
67,674 |
| Sperma Lelaki Lain di Celana Dalam Istriku – 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
63,656 |
| Pesona Iparku Yang Mempesona |
priaasli@yahoo.com |
62,517 |
| Warnet Hot - Buka Perawan |
ipank.metal@gmail.com |
61,915 |
| Perselingkuhan Istri Muda - 1 |
ab1071@yahoo.com |
61,036 |
| Shinta Sang Sekretaris |
wirlise@crb.elga.net.id |
60,713 |
| Tetanggaku Sayang |
M. Hakim |
56,364 |
| Penjual DVD Cantik |
ebiznet88@yahoo.com |
54,843 |
| Pengalaman Pertamaku Bercinta |
deknas@yahoo.com |
54,245 |
|
|
|
|
|
|
|