|
|
Kenalkan nama saya, Anis. Usia 38 tahun, tinggi
150 cm dan berat badan 60 kg, warna kulit coklat kehitaman serta rambut
lurus. Hobbi merokok, minum kopi dan tulis menulis serta lebih khusus
lagi main internet.
Aku sudah beberapa kali mengirim cerita porno ke situs-situs porno,
tapi rasanya masih setumpuk pengalaman yang ingin kusumbangkan pada
penggemarnya. Kali ini, aku akan kisahkan pengalamanku yang cukup
menarik, khususnya bagi yang sering selingkuh dengan tetangganya.
Ceritanya begini... *****
Sekitar 40 hari yang lalu, tepatnya di hari minggu sekitar jam 5.00
subuh. Aku keluar rumah untuk olah raga atau berlari subuh sebagaimana
yang kulakukan setiap hari minggu subuh. Namun, kali ini lari subuh
yang kulakukan sangat bermakna, sebab aku ditemani oleh seorang
tetangga dekat. Sebut saja namanya "Dirga". Dia adalah istri sah orang
lain yang sudah memiliki 2 orang anak, tapi penampilannya masih cukup
menarik. Kulitnya mulus, putih dan tubuhnya langsing.
Ketika aku keluar melewati pintu pagar, secara samar-samar aku
melihat sesosok tubuh dengan kaos warna hitam melekat di tubuhnya serta
celana setengah panjang tergantung di atas lututnya membuka pintu
rumahnya lalu mengikutiku. Aku tetap saja jalan agak cepat dan
berpura-pura tidak memperhatikannya, tapi saat aku memasuki sebuah
lorong, iapun semakin dekat di belakangku. Aku sangat yakin kalau Dirga
sengaja mengejarku untuk berlari subuh bersama.
"Pak, tunggu Pak" panggilnya dari belakang, tapi aku tetap berlari,
tapi sengaja kukurangi kecepatannya agar ia bisa lebih dekat denganku.
"Pak Nis, tunggu donk Pak, aku capek nih, kita sama-sama aja" teriaknya dengan suara yang tidak terlalu keras.
Setelah kudengar nafasnya terengah-engah karena jaraknya sudah
semakin dekat denganku, mungkin sekitar 10 meter di belakangku, aku
lalu berhenti menunggunya, sebab kedengarannya ia capek sekali.
"Ada apa Bu, kenapa ibu mengejarku?" tanyaku sambil berhenti.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya mengejar bapak agar kita bisa lari
bersama, biar lebih santai dan kita bisa sambil ngobrol" katanya dengan
nafas terputus-putus karena kecapean. Setelah Dirga berada di samping kiriku, kami lalu lari bersama, tapi
kali ini tidak terlalu kencang, bahkan terkesan lari-lari kecil, yang
penting tubuh kami bisa bergerak-gerak sehingga terkesan berolahraga
pagi.
"Ngomong-omong, apa ibu juga secara rutin lari subuh setiap hari minggu?" tanyaku pada Dirga sambil berlari kecil.
"Nggak kok, cuma kebetulan kudengar pintu rumah bapak terbuka dan
kulihat bapak keluar berpakaian olah raga, sehingga tiba-tiba aku juga
tertarik untuk menyegarkan tubuh dan menghirup udara subuh" jawabnya.
"Kenapa Nggak sekalian keluar sama suami ibu atau anak-anak ibu?" tanyaku lagi sambil tetap berlari.
"Anu Pak, suami saya itu baru saja pulang dari jaga malam, maklum
kerjaan satpam jarang sekali bermalam di rumah" jawabnya santai. Kebetulan suami Dirga tugas malam sebagai satpam pada salah satu
perusahaan swasta di kota kami. Mendengar ucapan Dirga itu, aku jadi
terpancing untuk bertanya lebih jauh tentang kehidupan rumah tangganya.
Apalagi kami sudah sering bicara humor. Aku sangat paham kalau Dirga
orangnya terbuka, lugu dan sedikit genit. Aku merasa berpeluang besar
untuk bertanya lebih banyak padanya soal hubungannya dengan suaminya.
"Maaf Bu, kalau aku terlalu jauh bertanya. Jadi kedua anak ibu itu
dicetak pada siang hari semua donk, sebab suami ibu jarang berada di
rumah pada malam hari," kata saya pada Dirga, namun ia tetap tidak
tersinggung, bahkan nampaknya ia tetap bersikap biasa-biasa saja.
"Bukan pada siang hari Pak, tapi pada subuh dan pago hari, sebab
biasanya suami saya pulang pada subuh hari dan langsung saja mengambil
jata malamnya, apalagi dalam keadaan ia haus," katanya santai.
Setelah capek, kami beristirahat sejenak di atas jembatan sambil
bersandar di pagar besi jembatan. Kebetulan di atas jembatan itu,
banyak orang sedang ngobrol dan membahas masalahnya masing-masing.
"Bu Dir, kalau begitu waktu anda berhubungan dengan suami anda
selalu singkat dan dilakukan secara terburu-buru, sebab anak-anak anda
sudah mulai bangun, lagi pula suami anda sangat ngantuk" pancingku
padanya.
"Yah begutulah kebiasaan kami, lalu mau apa lagi jika memang
waktunya yang paling tepat hanya saat itu. Sebab di siang hari,
anak-anak kami pada berkeliaran dalam rumah dan tamu-tamupun yang
datang harus disambut" katanya serius, tapi tetap santai.
"Kalau begitu anda tidak pernah menikmati hubungan suami istri yang sebenarnya sebagaimana layaknya suami istri" pancingku lagi.
"Kok kenapa tidak, kami merasa sama-sama menikmatinya. Buktinya
kami punya dua orang anak" katanya serius sekali sambil memandangiku.
Tanpa berhenti bicara, kami lalu berjalan lagi memutar ke jalan
menuju rumah kami kembali. Aku coba memikirkan apa lagi yang dapat
kutanyakan pada Dirga mengenai hubungannya dengan suaminya. Ini
kesempatan emas bagiku untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang
kehidupannya di atas ranjang bersama suami, sebab aku berniat membuat
ia penasaran agar merasa membutuhkan sex lebih dari yang didapatkan
dari suamianya. Aku sebenarnya ingin merangsang dia agar mau melakukan
bersama denganku.
"Bu Dir, sex itu sebenarnya melebihi dari apa yang anda lakukan
bersama suami anda. Suami-Istri harus menikmati kepuasan berkali-kali
minimal selama 3 jam tanpa sedikitpun rasa tergesa-gesa dan takut.
Menerapkan berbagaimacam gaya dan posisi. Anda tentu tidak sempat
menikmati semua itu khan?" jelas saya pada Dirga panjang lebar.
"Oh yah, tapi bagaimana caranya jika suamiku tidak memungkinkan melakukan hal itu atau tidak mau melakukannya?" tanyanya serius.
Nafas Dirga sangat keras kedengaran ketika ia selesai menanyakan
hal itu, bahkan sempat memandangiku dengan penuh harap dan bergairah.
"Sekiranya ada orang lain yang bersedia memberikan kenikmatan itu
pada Ibu Dirga, apa ibu tidak keberatan menerimanya?" tanyaku lebih
berani.
"Orang lain siapa misalnya?" tanyanya sambil berhenti.
"Sa.. Sa.. Saya misalnya. Maaf ini hanya sekedar misal Bu" jelasku sedikit khawatir kalau-kalau ia tersinggung dan memarahiku.
"Be.. Betulkah ucapan bapak itu? Mana bapak mau sama saya" ucapannya.
"Boleh saja terjadi jika memang hal itu sama-sama dibutuhkan,
apalagi terhadap wanita cantik lagi muda seperti ibu Dirga ini" ucapku
sambil tersenyum memandangi wajah ibu Dirga yang bertubuh langsing itu.
"Ha.. Ha.. Ha, bisa aja bapak ini. Gombal ni yee" katanya terbahak.
"Betul Bu. Aku serius. Aku tidak main-main nih.." kataku tegas.
Mendengar ketegasanku itu, Ibu Dirga tersentak kaget dan tiba-tiba
meraih tanganku lalu mengajakku berhenti di pinggir jalan. Sambil kami
berhadap-hadapan dengan jarah sekitar 2 jengkal. Dirga lalu berkata:
"Bila ucapan bapak itu benar dan serius, akupun serius dan
bersedia. Tapi bagaimana caranya Pak agar perbuatan kita lebih aman?"
tanyanya.
"Suamimu biasanya bangunnya jam berapa?" tanyaku lebih mengarah lagi.
"Biasanya jam 11.00 atau 12.00 siang" jawabnya serikus sekali.
"Kebetulan sekali istri dan anak-anakku mau pulang kampung membesuk
keluarga. Mungkin jam 5.00 sore baru balik. Bagaimana kalau ibu bilang
sama anaka-anaknya bahwa ibu mau ke pasar, lalu ibu masuk ke rumahku?"
tawaranku lebih lanjut.
"Oke, tunggu saja Pak. Sebentar aku akan masuk dari pintu belakang rumah bapak biar tidak ada yang melihatku" katanya berbisik.
Setelah kami sepakat, kami lalu berpisah dan lewat jalan yang
berbeda agar tetangga tidak curiga pada kami, apalagi sudah jam 6.30
menit.
Hanya sekitar 5 menit setelah aku masuk ke rumah, pintu belakang
rumah kelihatan terbuka dengan pelan. Ternyata Ibu Dirga menepati
janjinya. Ia masuk dengan pelan tanpa mengganti pakaian yang dipakainya
tadi. Hanya saja bau tubuhya terasa lebih harum menyengat di hidungku.
"Bu, adakah yang melihat ibu ke sini?" tanyaku setelah aku menutup dan mengunci pintu depan dan belakang.
"Tidak ada Pak. Suamiku masih tertidur nyenyak dan anak-anakku lagi
main di luar dengan teman-temannya. Aku mengunci pintu dari luar"
katanya sambil jalan menuju tempat tidurku.
Setelah kami duduk berdampingan di pinggir tempat tidur, kami
sempat bertatapan muka tanpa sepata katapun sejenak. Namun, karena kami
sudah saling penasaran dan saling terbakar nafsu, maka kami lalu segera
berbalik arah sehingga kami saling berhadap-hadapan dengan jarak yang
dekat sekali. Karena dekatnya, maka nafas Dirga terasa menyapu hidungku
yang membuat aku sedikit gemetar.
"Ayo Bu kita mulai permainannya" pintaku sambil kuulurkan kedua tanganku untuk meraih kedua tangannya.
"Terserah bapaklah. Aku turuti saja kemauan bapak" katanya sambil menatap wajahku.
Mula-mula aku menyentuh kedua tangannya, lalu naik ke lengan, bahu,
leher, pipi dan telinganya sampai mengelus-elus rambut dan dagunya.
Dirga hanya diam menerima perlakuanku. Namun setelah kedua tanganku
merangkul punggungnya dan mencium pipi dan bibirnya, iapun mulai
bergerak membalasnya, sehingga kami saling berpagutan dan mengisap.
"Boleh saya masukkan tanganku Bu?" tanyaku sambil menyelusupkan
kedua tanganku masuk di balik kaos yang dipakainya dan secara perlahan
menembus masuk di balik BH tipis yang dikenakannya. Dirga hanya
mengangguk sambil merangkulku dengan keras dan merapatkan tubhnya di
tubhku, sehingga terasa hangatnya di dadaku.
"Boleh kubuka pakaiannya Bu?" tanyaku lagi setelah puas memainkan kedua payudaranya dari dalam pakaiannya.
Ia lagi-lagi hanya mengangguk dan melonggarkan rangkulannya guna
memudahkan aku melucuti pakaiannya. Setelah kaos dan BH yang
dikenakannya semuanya terlepas dari tubuhnya, aku sejenak melepaskan
rangkulan dan pagutan untuk memperhatikan indahnya bentuk tubuhnya yang
telanjang, terutama kedua payudaranya yang tergantung di dadanya. Aku
sempat terperangah ketika menyaksikan kedua payudaranya yang sangat
putih dan mulus, bahkan ukurannya cukup sederhana dan masih keras
seperti belum pernah terjamah saja. Maklum kedua anaknya tidak pernah
menetekinya, sebab keduanya sejak lahir memang dibiasakan meminum air
susu kaleng dengan botol. Setelah puas memandanginya, aku segera meraih kedua bukit kembarnya dan
menyerangnya secara bergantian dengan mulutku. Kuhisap putingnya
berkali-kali agar ia cepat terangsang. Dirga hanya bergelinjang dan
berdesis.
"Aduh, cepat buka Pak, aku sudah tidak tahan nih. Ayo Pak" pintanya
berkali-kali, namun aku sengaja tidak peduli ucapannya. Bahkan aku
semakin mempercepat isapanku pada teteknya, lehernya, pusarnya dan
seluruh tubuh telanjangnya.
"Ayo donk Pak, buka cepat pakaiannya, aku sudah tak tahan" pintanya lagi.
Kali ini kubuka bajuku lalu celana panjang yang kupakai berlari
tadi. Setelah tersisa hanya celana kolorku saja, aku lalu menurunkan
celana setengah panjang yang dikenakannya, sehingga kami sama-sama
setengah bugil. Kami saling berpelukan dan bergulingan di atas kasur
sambil saling meraba seluruh tubuh. Setelah itu aku mengangkanginya,
lalu menelanjanginya setelah menelanjangi diriku. Kini kami sudah
sama-sama bugil tanpa sehelain benangpun menutupi tubuh kami.
"Pak, ayo dong Pak. Masukkan cepat, aku sudah ingin sekali
menikmatinya biar cepat selesai" bisiknya sambil menarik tubuhku lebih
dekat ke arah kemaluannya. Aku patuhi permintaannya. Aku dengan mudah membuka kedua pahanya,
sehingga nampak jelas kelentitnya yang mungil berwarna merah jambu
muda. Terasa sedikit basah oleh cairan pelicin yang keluar dari
sela-sela vaginanya. Bulu-bulu yang tumbuh di sekitarnya cukup tipis
dan rapi seolah terawat dengan baik.
"Tahan donk sayang, waktu kita masih panjang. Lagi pula kan aku
akan tunjukkan semua permainanku yang belum pernah ibu rasakan" pintaku
sambil meraba-raba dan sesekali menusuk-nusuk dengan telunjuk pada
lubang yang sedikit menganga di antara kedua pahanya itu.
"Boleh kucium dan kujilat inimu Bu?" tanyaku sambil mendekatkan kepalaku ke selangkangannya.
"Terserah dech, tapi jangan lama-lama, sebab aku semakin tak tahan lagi" katanya pasrah.
Dirga bergelinjang kuat. Pantatnya terangkat-angkat ketika aku
menusuk-nusukkan lidahku ke lubang kemaluannya, apalagi saat aku
menggigit-gigit kecil kelentitnya yang agak keras dan kenyal itu. Ia
semakin berdesis dan setengah berteriak akibat perlauanku yang
mengasyikkan itu. Ia sangat menikmatinya, bahkan menekan kepalaku lebih
dalam lagi.
"Boleh kumasukkan sekarang Bu?" tanyaku meski aku yakin ia sangat mendambakannya dari tadi.
Secara berlahan tapi pasti, ujung kontolku mulai menyentuh
kelentitnya lalu bergeser mencari lubangnya. Setelah ketemu, sedikit
demi sedikit mulai menyelusup masuk. Bahkan ketika masuk separoh, aku
berniat berlama-lama disiti, tapi dasar wanita yang sudah sangat
penasaran, maka ia segera menarik punggungku dan mengangkat
tinggi-tinggi pantatnya, sehingga kontolku amblas seluruhnya tanpa bisa
lagi kukendalikan.
"Aahhkkhh.. Uukk.. Hhmm.. Eeanaakk.. Sesekaali. Teerus Pak, ayoo..
Gocokk.. Llrr.. Hh.. Aauuhh" itulah suara yang sempat dikeluarkan dari
mulut Dirga ketika gocokan kontolku semakin keras dan cepat. Ia
bagaikan orang kehausan yang menemukan air minum. Diteguknya
keras-keras dan napasnya seolah terputus sejenak menahan rasa
kenikmatan yang kuberikan. Tanpa bicara lagi, Dirga langsung memutar
tubuhnya, sehingga ia berada di atas mengangkangiku. Ia bagaikan orang
naik kuda. Bunyi pantatnya sangat keras beradu dengan perutku, karena
ia duduk di atasku sambil membelakangi wajahku.
"Akkhh.. Uuhh.. Uuhh.. Aakkhh.."
Suara itulah yang sempat keluar dari mulutku ketika kurasakan
nikmatnya vagina Dirga yang menjepit kemaluanku. Ia seolah tak kenal
lelah dan tak mau berhenti melompat di atasku.
"Akkhh.. Buu.. Buu..' berhenti dulu donk. Kita istirahat dulu. Aku
kecapean nih" teriakku ketika kurasakan ada cairan hangat yang mulai
mau menyelusup keluar di ujung perutku. Tapi Dirga tetap saja bergerak
dan bergoyang pinggul di atasku tanpa peduli ucapanku. Karena ia tak
mau berhenti, aku segera bangkit dan berlutut sehingga ia secara
otomatis nungging di depanku. Aku langsung hantam dari belakang dan
menggocok keras serta cepat hingga terasa cairan hangatku sudah berada
di ujung penisku. Aku sudah tidak peduli di mana mau tumpah, apa di
luar atau di dalam kemaluan Dirga. Yang penting puas.
"Pak, cepat donk, terus gocok dengan keras, ayohh.. Uuhh.. Aahh.. Uummhh.. Auhh" kata Dirga terputus-putus.
Sedetik kemudian, Dirga berteriak sedikit keras:
"Aiihh.. Aakuu.. Kkeeluuaarr.. Paa" dan saat itu pula aku tak mampu
mengendalikan diri, sehingga cairan hangatkupun tumpah ke dalam rahim
Dirga. Apa mau dikata, nasi sudah jadi bubur. Kami saling memberi
kenikmatan yang luar biasa. Pertemuan kemaluan kami terasa sangat rapat
dan seolah melekat, sehingga terasa gemetar seluruh tubuh kami. Dirga
langsung telungkup dan merapatkan perutnya ke kasur, sementara aku
tetap menindihnya. Setelah hampir 2 menit kami tidak bergerak, akhirnya
kami saling telentang puas. Namun, tiba-tiba muncul rasa ketakutan dalam hati saya kalau-kalau Dirga hamil akibat cairan kentalku masuk ke rahimnya.
"Pak, terima kasih atas kenikmatan yang kau berikan. Aku sama sekali
baru kali ini merasakannya. Ternyata selama ini aku belum pernah
merasakan kepuasan dan menikmati sex yang sebenarnya dari suami saya.
Kepuasan yang kuterima dari suami saya selama ini hanyalah semu dan.."
belum selesai bicara, aku segera memotongnya dan berkata:
"Maaf Bu bila kenikmatan yang sempat kuberikan masih sedikit,
sebab sedianya aku akan memberikan sebanyak mungkin, tapi lain kali
saja, sebab aku capek sekali. Habis kita baru saja lari subuh" balasku.
Setelah itu, kami saling berpelukan dan memberi ciuman perpisahan,
lalu kami bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Di dalam
kamar kami saling berbisik karena takut ada orang lain yang mendengar
pembicaraan kami.
Setelah kami berpakaian lengkap seperti semula, aku lalu membuka
pintu belakang rumahku dan memeriksa kalau-kalau ada orang lain yang
lalu lalang dan mencurigakan, tapi ternyata sepih. Aku masih mau tahan
agar Dirga istirahat sejenak untuk melanjutkan ronde berikutnya, tapi
tiba-tiba Dirga melihat jam tangannya lalu segera pamit keluar karena
katanya sudah pukul 10.10 menit siang. Suaminya sudah hampir bangun.
Iapun cepat-cepat kembali ke rumahnya. Besoknya kami sempat ketemu seperti layaknya tetangga dan kami
pura-pura bersikap biasa-biasa saja, namun hari minggu berikutnya,
kamipun kembali berlari subuh bersama, tapi kami hanya sepakat untuk
mengulangi persetubuhan kalau ada kesempatan kapan-kapan saja. Aku
menjanjikan tip yang lebih nikmat lagi, dan iapun setuju.
Bagi penggemar cerita porno yang tertarik atau mau kenalan atau ada
saran dan keritikan, silakan hubungi emailku, aku pasti membalasnya.
E N D
| Title | Author | Views |
| Cerita Remaja 2: Nakalnya Mama Andre |
Joko Susilo |
188,768 |
| Selingkuh Dengan Istri Teman |
roy_takeshi@yahoo.com |
102,314 |
| Pembantu Hasrat |
dark.blackest@yahoo.co.id |
97,970 |
| Pengalamanku Dengan Suami Orang |
deknas@yahoo.com |
78,402 |
| Pantat Bahenol Mbak Surti |
radhiepatahdenkul@gmail.com |
75,760 |
| Perawatku yang Seksi |
syidi_theman@astaga.com |
75,304 |
| Syahwat di Celah Dinding Rumah Kontrakan - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
67,681 |
| Sperma Lelaki Lain di Celana Dalam Istriku – 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
63,663 |
| Pesona Iparku Yang Mempesona |
priaasli@yahoo.com |
62,523 |
| Warnet Hot - Buka Perawan |
ipank.metal@gmail.com |
61,919 |
| Perselingkuhan Istri Muda - 1 |
ab1071@yahoo.com |
61,070 |
| Shinta Sang Sekretaris |
wirlise@crb.elga.net.id |
60,731 |
| Tetanggaku Sayang |
M. Hakim |
56,368 |
| Penjual DVD Cantik |
ebiznet88@yahoo.com |
54,847 |
| Pengalaman Pertamaku Bercinta |
deknas@yahoo.com |
54,248 |
|
|
|
|
|
|
|