|
|
Bandung, 22 Desember 1995
06:00, Cihampelas-Bandung Prolog Wajah enam pemuda di kamar kost saya yang berukuran 4 x 4 cm terlihat
serius dan was-was. Ketakutan mencekam hati setiap orang di kamar ini.
Kami sedang membahas kejadian yang baru saja kami alami.
"Gimana ya kalo dia melapor ke polisi?" tanya Peter sambil di sela-sela asap rokoknya yang mengepul. Wajahnya terlihat gundah.
"Tapi dia juga mau kok, bukan salah kita," kata Andi mencoba membela diri dengan nada yang tidak begitu meyakinkan.
"Untung gua nggak ngelakuan apa-apa," komentar saya bersyukur.
"Ah, siapa yang tau? Lagipula di mata hukum loe juga bersalah tau,
siapa yang menyaksikan kejadian yang melanggar hukum tanpa berusaha
mencegah kejadian tersebut sama saja dengan melakukan kejadian
tersebut," sela Peter, yang kesal oleh pembelaan diri saya.
Kami semua kemudian terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Gus, loe kayaknya lelaki paling goblok yang pernah gua temui,"
tiba-tiba Peter memberi komentar mengenai apa yang baru saja saya
lakukan.
Saya termenung, baru beberapa jam lalu seorang cewek mengatakan
bahwa saya adalah lelaki yang paling baik yang pernah ia temui. Apakah
lelaki baik sama dengan lelaki bodoh?
Bab I: Pertemuan Enam Sekawan Bandung, 23 Desember 1995
17:30, Kampus X Dengan tergesa-gesa saya memasukkan buku saya ke dalam tas. Kuliah
terakhir di tahun 1993 baru berakhir. Mata kuliah Konstruksi Bangunan
yang biasanya sangat menarik bagi saya terasa seperti siksaan hari ini.
Iya, empat orang teman saya yang kuliah di Jakarta akan datang hari
ini. Bayangkan, dengan satu teman saya lainnya yang kuliah di Bandung,
malam ini merupakan reuni terbesar kami sejak berpisah dua tahun yang
lalu. Mereka adalah teman-teman saya sejak SMA, teman main saya, teman
saya ketika masih hijau, teman saya ketika saya masih belum mengalami
pahit dan kerasnya kehidupan ini.
Tanpa menghiraukan teman kuliah lainnya, saya segera memacu Suzuki
Katana saya menuju tempat kost saya di jalan Cihampelas. Mereka akan
tiba jam 18:00. Tetapi keinginan untuk segera tiba di kost tertunda
oleh kemacetan di jalan Cihampelas. Saya memperhatikan mobil-mobil di
sekitar saya yang sebagian besar ber-plat B.
"Uh.." pikir saya dengan perasaan sebel, "Penduduk Jakarta hanya membuat kemacetan di mana-mana."
Cewek-cewek cakep yang lalu lalang tidak saya perhatikan lagi.
Biasanya saya selalu memperlambat mobil saya sambil cuci mata. Siapa
tahu ada yang mau ikut.. hihi..
Di kost ternyata teman-teman saya sudah menunggu. Ada Peter (tokoh
ini pernah hadir di cerita Ketika Nafsu Menjadi Raja), Andi (tokoh ini
pernah hadir di cerita Semerbak Teratai di Kolam Berlumpur), Ian,
Stephen yang baru tiba dari Jakarta. Terlihat juga Guntur yang kuliah
di universitas negeri di kota ini. Lengkap sudah dech.
"Wah, datang juga loe akhirnya.." kata Peter ketika melihat saya, "Give me five..!"
"Haha.." saya melayangkan telapak tangan saya yang terbuka untuk menepuk telapak tangannya Peter.
Dia ini teman saya yang paling badung, playboy, dan aktif. Bersama dia, hidup menjadi ramai.
"Kecantol belon ama Mojang Priangan..?" tanya dia.
"Udah dong," sahut dia, biar dia penasaran aja. Padahal belum ketemu tuh.
Akhirnya kami mengobrol panjang lebar di kamar saya yang tidak
terlalu luas. Pembicaraan berkisar mengenai kuliah, teman kuliah, dan
masalah cewek tentunya. Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 8
malam ketika kami sepakat untuk makan malam.
Menumpang dua mobil, akhirnya kami menuju Ayam Goreng Semar di
dekat jalan Pasir Kaliki. Warung di pinggir jalan ini penuh sesak oleh
pengunjung. Memang warung ini merupakan salah satu tempat makan yang
cukup dikenal di Bandung. Selesai makan, kami menuju jalan Dago untuk
duduk dan ngeceng di KFC - Gelael. Banyak cewek manis yang lalu lalang,
tetapi tidak ada yang memberikan isyarat lewat tatapan mata mereka.
Akhirnya jam 11 malam kami sepakat menuju diskotik yang berlokasi di
jalan Cihampelas.
Bab II: Shinta dan Agnes Jam 23.00, Diskotik SE, Cihampelas Bandung Diskotik yang terdiri dari dua lantai ini masih terlihat sepi,
maklum jam 11 malam masih terlalu pagi bagi kalong-kalong malam untuk
keluar menikmati kilau lampu diskotik. Mata saya segera berkeliaran
mencari mahluk yang namanya cewek. Terlihat beberapa orang cewek sedang
menikmati musik di lantai disco. Tetapi tidak ada yang menarik
perhatian saya.
Kami akhirnya setuju untuk duduk di meja yang berdekatan dengan
lantai disco dengan harapan banyak cewek yang akan lalu lalang melewati
meja kami. Maklum saja, toilet diskotik ini terletak di depan,
satu-satunya tempat berdandan buat cewek di tempat yang gelap ini, ya
di toilet. Jadi mereka biasanya selalu mondar mandir ke toilet.
Saya dan teman-teman saya memesan bir. Kerasnya musik di diskotik
ini tidak menghalangi kami untuk mengobrol, walaupun harus berteriak.
Tanpa terasa ruangan diskotik semakin ramai, meja-meja hampir
seluruhnya terisi dan lantai disco terlihat sesak oleh ramainya orang
yang berdisco.
Mata saya kembali bekerja, dua orang cewek yang sedang berdisco
menarik perhatian saya. Goyangan tubuh mereka yang seronok menghidupkan
khayalan saya. Kedua cewek tersebut terlihat masih muda, menurut
taksiran saya, umur mereka masih di bawah dua puluh tahun. Yang menarik
perhatian saya adalah kedua gadis tersebut sangat berbeda. Gadis yang
pertama memakai rok pendek berwarna hitam, rambutnya yang pendek dicat
merah. Tubuhnya tidak terlalu tinggi, sekitar 155 cm, terlihat montok
oleh tonjolan di dada dan pinggulnya. Gerakan mata dan tubuhnya sangat
aktif dan liar.
Temannya gadis yang memakai jeans ketat berwarna hitam terlihat
sangat kalem. Tubuhnya tinggi, mungkin sekitar 165 cm, dan agak kurus.
Tonjolan di daerah dadanya tidak mencolok. Rambutnya panjang dan hitam.
Tatapan matanya sangat lembut, dan goyangan tubuhnya juga lemah
lembut.Saya sendiri lebih menyukai cewek yang kalem, karena itu gadis
kedua lebih menarik perhatiaan saya.
"Gus, liat dua cewek tuh. Yang satu goyangnya asyik banget," kata Peter, sedikit berteriak.
"Ya, gua tau. Gua lebih suka yang tinggi," sahut saya.
"Payah loe, liat aja goyangannya. Ampunn.." kata Peter dilanjuti ketawa teman-teman saya yang lainnya.
"Kenalan tuh, ayo..! Jangan asal ngomong aja," kata Guntur mencoba memanas-manasi kami.
Perhatian saya segera kembali ke kedua gadis tersebut. Terlihat
beberapa orang cowok berjoget di samping mereka. Kelihatannya mereka
mencoba menarik perhatian kedua cewek tersebut. Benar saja, terlihat
seorang cowok mengatakan sesuatu dan menjulurkan tangannya. Ternyata
kedua gadis tersebut hanya tersenyum dan meneruskan jogetan mereka
tanpa menghiraukan cowok tersebut.
"Haha.." pikir saya dalam hati, "Malu dong..!"
"Keliatannya bukan cewek murahan," kata saya ke teman-teman, "Mereka nggak mau kenalan tuh ama cowok di sampingnya."
Lima belas menit kemudian dua orang cowok lainnya mencoba mendekati
mereka, lagi-lagi dicuekin. Dan tindakan cewek ini menarik minat saya,
soalnya ini merupakan tantangan. Biasanya cewek-cewek di diskotik cukup
gampang diajak kenalan.
Cukup lama mereka berjoget, dan akhirnya mereka berhenti dan
berjalan ke arah meja kami. Dalam hitungan detik, mata saya yang tajam
segera menangkap lirikan dan tatapan penuh arti dari mata cewek montok
yang ditujukan ke arah Peter. Teman saya ini memang sangat tampan.
"Pet.. gua jamin mereka mau kenalan ama loe," kata saya ke Peter ketika mereka lewat.
"Ah.. bisa aja loe," jawab Peter tidak percaya.
"Loe lupa kalo gua bisa membaca tatapan dan lirikan mata seseorang, ingat kejadian waktu SMA?" kata saya mencoba meyakinkan dia.
Sewaktu SMA saya juga memberitahukan Peter kalau ada cewek yang
lagi memperhatikan dia. Dan ternyata benar, akhirnya cewek itu menjadi
pacarnya sewaktu SMA. Saya sangat sensitif dengan tatapan mata
seseorang.
"Tapi mereka cuek tuh ama cowok," kata Peter ragu-ragu.
"Percaya dech ama gua. Mata tidak bisa menipu," jawab saya.
Akhirnya Peter mengajak saya untuk mendekati kedua cewek tersebut yang sekarang duduk di bar.
"Kenalan dong, nama saya Peter," kata Peter ke cewek yang bertubuh montok.
Kedua cewek tersebut menatap tajam ke arah saya, seakan-akan menyusuri pikiran dan hati kami.
"Hmm, boleh kenalan?" ulang Peter, kali ini ada keraguan di suaranya.
"Shinta," jawab cewek yang bertubuh montok, singkat saja tanpa menjulurkan tangannya. Tatapan matanya dingin.
"Saya Agus," saya memperkenalkan diri saya, "Dan kamu..?"
"Agnes," cewek yang tinggi kurus menjawab pertanyaan saya.
Akhirnya kami mengobrol dan semakin lama kami semakin akrab.
Ternyata kedua cewek tersebut sangat kuat menenggak minuman keras.
Kurang dari setengah jam, Shinta sudah menghabiskan tiga gelas Rainbow!
Dan istimewanya, mereka menolak ketika Peter bermaksud membayar minuman
mereka. Jarang saya menemukan gadis seperti ini di diskotik.
Bab II: Lelaki Bodoh/Baik? 02.30 Jalan Setiabudi, Bandung Dua mobil beriringan memasuki kompleks bungalow yang sudah di-booking Peter. Saya melirik Agnes dan Shinta yang hampir tertidur.
"Gus, gua pengen muntah," kata Shinta.
Saya bergegas membuka pintu dan memapah dia keluar. Kalau muntah di
mobil saya kan berabe. Rupanya Shinta mabuk berat, dia sama sekali
tidak bisa berdiri tegak. Baru berjalan dua langkah dia sudah
memuntahkan isi perutnya. Bau asam terasa menyengat.
Bersambung ke bagian 02
| Title | Author | Views |
| Cerita Remaja 2: Nakalnya Mama Andre |
Joko Susilo |
188,832 |
| Selingkuh Dengan Istri Teman |
roy_takeshi@yahoo.com |
102,345 |
| Pembantu Hasrat |
dark.blackest@yahoo.co.id |
97,979 |
| Pengalamanku Dengan Suami Orang |
deknas@yahoo.com |
78,405 |
| Pantat Bahenol Mbak Surti |
radhiepatahdenkul@gmail.com |
75,789 |
| Perawatku yang Seksi |
syidi_theman@astaga.com |
75,321 |
| Syahwat di Celah Dinding Rumah Kontrakan - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
67,685 |
| Sperma Lelaki Lain di Celana Dalam Istriku – 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
63,676 |
| Pesona Iparku Yang Mempesona |
priaasli@yahoo.com |
62,532 |
| Warnet Hot - Buka Perawan |
ipank.metal@gmail.com |
61,923 |
| Perselingkuhan Istri Muda - 1 |
ab1071@yahoo.com |
61,109 |
| Shinta Sang Sekretaris |
wirlise@crb.elga.net.id |
60,751 |
| Tetanggaku Sayang |
M. Hakim |
56,373 |
| Penjual DVD Cantik |
ebiznet88@yahoo.com |
54,850 |
| Pengalaman Pertamaku Bercinta |
deknas@yahoo.com |
54,258 |
|
|
|
|
|
|
|