|
|
Sambungan dari bagian 01 Teman-teman saya akhirnya membantu membopong tubuh Shinta. Saya kembali
ke mobil. Agnes terlihat tertidur nyenyak. Perlahan saya menggoyang
tubuhnya..
"Ayo, tidur di dalam, di sini dingin," bisik saya.
Dia hanya membuka matanya sebentar dan bermaksud untuk tidur lagi.
Akhirnya dengan susah payah, berhasil membujuk dia untuk masuk ke
bungalow yang terdiri dari 3 kamar tidur dan satu ruang tamu.
Di ruang tamu hanya terlihat Guntur yang berbaring lemas di sofa.
Saya membawa Agnes menuju ke ruang tidur. Melewati ruang tidur pertama,
saya melihat Peter, Ian, Stephen dan Andi mengelilingi Shinta yang
berbaring di kasur. Tanpa pikiran apapun, saya membawa Agnes ke kamar
kedua dan membaringkan dia di tempat tidur. Parfumnya tercium semerbak
dan tubuhnya terasa hangat.
Karena merasa haus, saya melangkahkan kaki saya menuju mobil untuk
mengambil aqua yang sudah kami persiapkan. Langkah kaki saya terhenti
ketika melewati kamar pertama. Dari celah pintu yang tidak tertutup
rapat, saya melihat keempat teman saya mengelilingi tubuh Shinta yang
hampir telanjang. Walaupun tertutup oleh tubuh teman saya, pandangan
mata sempat menyapu indah dan mulusnya tubuh Shinta. Saya berjalan
masuk ke kamar tersebut.
Melihat saya, Ian membalikkan tubuhnya dan berbisik, "Dia mabuk Gus, tetapi kayaknya mau-mau aja tuh."
Saya berjalan mendekati kasur. Saat itu bra-nya disingkap ke atas,
memamerkan sepasang buah dadanya yang montok. Celana dalamnya yang
berwarna hitam terlihat sudah diturunkan sampai ke lututnya.
Bulu-bulunya yang halus dibelai perlahan oleh Stephan.
Tiba-tiba terdengar gumanan Shinta, "Ah.. hehe.. sudah lama saya
tidak bercinta, lelaki itu buaya.. semuanya.. termasuk kalian.. tetapi
gua suka yang buaya.. hehe.."
"Shinta, kamunya masih perawan..?" bisik Peter di telinganya.
"Hehe.. masih.." jawab Shinta dengan mata tertutup.
Teman-teman saya terpaku mendengar jawabannya dan saling berpandangan.
"Tetapi itu tiga tahun yang lalu.. hehehe.." lanjutnya kembali.
Terlihat si Peter menarik nafas lega.
"Mungkin bukan cewek baik-baik.." bisik Ian ke saya. Saya hanya berdiam diri.
Tidak terlihat adanya penolakan dari Shinta ketika teman-teman saya
menyentuh buah dadanya yang lumayan montok. Bahkan terlihat dia
menikmati, terbukti dari rintihan-rintihannya dan gerakan tubuhnya yang
menggelinjang.
"Udah Gus, sikat Agnes aja.." saran Peter, "Kitanya mau giliran neh, loe mau ikutan..?"
"Kagak mau, gua ada Agnes.." jawab saya.
"Hati-hati loe, keliatannya dia nggak mabuk.." komentar Ian.
Setelah itu teman-teman sepakat untuk menggilir Shinta dengan
syarat yang lainnya menunggu di luar. Peter ngotot meminta giliran
pertama dan disetujui teman-teman saya.
"Udah, punya gua yang paling panjang, jadi gua yang pertama.." kata Peter, "Punya gua ampe ke puser.."
"Mungkin puser loe yang letaknya agak ke bawah.." komentar si Stephan yang juga ngotot minta giliran pertama.
Tidak tertarik oleh debatan mereka dan dengan nafsu yang sudah
bangkit, saya kembali ke kamar kedua. Setelah mengunci pintu kamar,
saya berjalan menuju ranjang. Agnes terlihat sudah tertidur pulas.
Perlahan saya mencium pipinya, tiba-tiba membuka matanya yang terlihat
merah dan mengantuk.
"Gus, saya pusing, pijatin dong..!" dia berkata pelan.
Saya duduk di ranjang dan Agnes menjatuhkan kepalanya di paha saya.
Saya menggerakkan tangannya untuk memijat kepala dan dahinya. Dia
menutup mata dan menikmati pijatan saya. Lima menit kemudian jari
tangan saya turun memijat tengkuknya.
"Hihi.. geli.. Gus, tapi enak.." kata Agnes tanpa membuka matanya.
Akhirnya saya memberanikan diri untuk mencium bibirnya yang
ternyata dibalas dengan penuh nafsu oleh Agnes. Masih dalam posisi
Agnes berbaring di paha saya, ciuman kami berlanjut cukup lama.
Akhirnya saya memberanikan diri untuk menyentuh buah dadanya. Jari-jari
tangan saya menarik kaosnya ke atas, dan terlihatlah buah dadanya yang
tidak terlalu besar, tertutup oleh bra-nya. Dengan cekatan jari tangan
saya menyusup ke dalam bra-nya sambil meremas perlahan.
Ciuman si Agnes semakin liar dan buas. Kadang lidah saya dihisap
dengan penuh nafsu dan kadang digigit perlahan. Ketika jari tangan saya
berhasil mencapai puncak sepasang gunung kembarnya, dia mendesah keras,
"Ahh.."
Rintihan dan ciuman membuat nafsu saya menggelegak. Perlahan
tangan saya menarik bra-nya ke bawah, akhirnya sepasang gunung itu
menonjol keluar, kecil dan mancung. Puncak kecil dan terlihat tegang
menantang mulut saya untuk menikmatinya. Tanpa menunggu lama, saya
menjulurkan kepala saya dan lidah saya sudah mempermainkan puncaknya.
Terganggu oleh kaos dan bra-nya yang kadang menghalangi tatapan dan
perjalanan lidah saya, tangan saya melepas kaosnya dan bra-nya. Ciuman
saya berlanjut ke perutnya dan bermain sebentar di titik tengah
tubuhnya. Setelah itu celana panjang dan celana dalam putihnya segera
menjadi korban tangan saya. Dengan posisi berbaring menghadap ke
samping, lidah saya berjalanmenyusuri pahanya Agnes. Saat itu terasa
sepasang tangan mungil Agnes berusaha melepaskan celana jeans saya.
Terlihat dia bersusah payah walaupun akhirnya celana panjang dan celana
dalam saya terlepas. Tangan-tangan Agnes menyentuh dan membelai belalai
gajah saya yang sudah mengeras.
Paha Agnes masih tertutup rapat walaupun berkali-kali saya berusaha membukanya.
"Malu.. Gus.." kata Agnes sambil mempermainkan belalai gajah saya.
"Nggak pa-pa kok.. yang liat cuman saya kok..!" bujuk saya.
Cukup lama saya membujuk dia, akhirnya saat pahanya sedikit
terbuka, segera kepala saya menyeruak di antara pahanya. Diterangi
lampu kamar yang lumayan terang, kemaluannya yang kecil mungil
terpampang di hadapan saya.
Saat itu sebenarnya saya masih belum begitu berpengalaman dalam
urusan puas-memuaskan wanita. Saya mencium perlahan kemaluan menyusuri
bibir kemaluannya yang masih kencang, tanpa mengetahui titik-titik
sensitifnya (hehe.. sekarang mah sudah ahli). Bau kewanitaanya sangat
merangsang. Pahanya tertutup mengepit rapat kepala saya.
"Ahh.. geellii Gus.., guaa nggak tahan..!" akhirnya dia menggerakkan pinggulnya ke belakang.
"Wah, geli Gus, gua nggak tahan, jangan dong..!" demikian pintanya.
"Ah, nggak pa-pa, bentar lagi juga enak.." kata saya sambil menggerakkan kepala saya menuju daerah kemaluannya lagi.
Tetapi dia menjauh dan berkata serius, "Jangan Gus, saya nggak
tahan.. saya masih perawan. Saya tidak mau kehilangan keperawanan saya.
Tolong, tolong.. dech..!"
Saya terdiam, saya memang tidak bermaksud merusak dia. Kalau
memang dia mau mempertahankan keperawanannya, saya tidak akan memaksa
dia.
"Iya.." kata saya sedikit menyesal.
Melihat saya terdiam, rupanya ada rasa bersalah di hati Agnes juga.
Dia mendekati saya dan mencium saya kembali. Tangannya mempermainkan
belalai gajah saya. Dalam sekejap perasaan sesal berganti oleh nafsu
yang bergelora.
Tiba-tiba Agnes mendorong saya untuk berbaring dan menduduki tubuh
saya. Tubuhnya diangkat dan dia menggerakkan belalai gajah saya
menggesek-gesek bulu kemaluannya yang masih halus, yang kemudian
dilanjutkan di daerah kemaluannya. Rasanya sangat nikmat. Kadang dia
mencoba memasukkan belalai tersebut di goa kenikmatannya yang masih
tertutup rapat. Tetapi dia hanya memasukkan daerah kepala belalai
tersebut, keluar masuk, keluar masuk.
Mata saya tertutup menikmati perasaan hangat dan jepitan otot
kemaluannya. Cukup lama dia melakukan hal tersebut. Akhirnya, dia
menjatuhkan diri di samping saya.
"Capek Gus..?" komentar dia.
Kasian, saya menggerakkan tubuh saya ke atas tubuhnya Agnes. Saya
membuka kedua pahanya yang kali itu terbuka dengan mudah. Perlahan saya
memasukkan belalai tersebut, tetapi hanya sebatas daerah kepalanya dan
saya menggerakkannya keluar masuk.
Agnes mendesis liar. Saat itu sebentar terlintas dalam pikiran saya
untuk menghujamkan senjata saya sedalam-dalamnya, dan mengambil
keperawanan yang kelihatan sudah dipasrahkannya. Tetapi perasaan kasian
membuat saya tidak melakukan hal tersebut.
"Gus.. masukkin Gus.. masukkin..!" akhirnya Agnes meminta saya untuk memasukkan semua belalai tersebut.
Tetapi terlintas dalam pikiran saya betapa dia tadi dia
mempertahankan keperawanan dia. Saya merasa kasian dan hanya memasukkan
belalai tersebut sebatas kepalanya sambil sesekali memutar belalai
tersebut.
Seperempat jam kemudian, sesudah terdorong keluar dari belalai
tersebut. Dengan segera saya mencabut belalai tersebut dan muncratlah
cairan hangat di sekitar kasur. Saya terbaring lemas sambil memeluk
Agnes dengan nafas memburu.
Ketika nafas kita mulai teratur, Agnes berbisik perlahan, "Terima
kasih Gus, kamu lelaki yang baik. Saya sebenarnya sudah tidak tahan dan
merelakan keperawanan saya. Untung kamunya masih bisa menahan diri."
Saya hanya membelai rambutnya, tersenyum, dan berkata, "Berilah keperawanan kamu kepada cowok yang paling kamu cintai."
Itulah perkataan terakhir saya sebelum kami terlelap. Dan jam lima
pagi, teman-teman saya mengajak saya untuk meninggalkan bungalow
tersebut. Dengan perasaan berdosa, saya meninggalkan Agnes dan Shinta
saat mereka masih tertidur nyenyak.
Dalam perjalanan saya mengetahui bahwa keempat teman saya
bergiliran meniduri Shinta. Tetapi mereka mengakui bahwa Shinta masih
sadar dan menikmati permainan mereka.
Sesudah peristiwa berlalu, saya selalu berpikir, apa yang terjadi
kalau seandainya saya mengambil keperawanan Agnes malam itu. Apakah
saya akan menghancurkan masa depan dia? Apakah tidak ada bedanya, nanti
juga akan diambil cowok lain? Bodohkah saya seperti kata teman saya?
Atau baikkah saya seperti kata Agnes? Yang pasti, menjadi lelaki bodoh
kadang membuat kita bisa tidur lelap dan bebas dari rasa bersalah.
TAMAT
| Title | Author | Views |
| Cerita Remaja 2: Nakalnya Mama Andre |
Joko Susilo |
188,833 |
| Selingkuh Dengan Istri Teman |
roy_takeshi@yahoo.com |
102,345 |
| Pembantu Hasrat |
dark.blackest@yahoo.co.id |
97,979 |
| Pengalamanku Dengan Suami Orang |
deknas@yahoo.com |
78,405 |
| Pantat Bahenol Mbak Surti |
radhiepatahdenkul@gmail.com |
75,789 |
| Perawatku yang Seksi |
syidi_theman@astaga.com |
75,321 |
| Syahwat di Celah Dinding Rumah Kontrakan - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
67,685 |
| Sperma Lelaki Lain di Celana Dalam Istriku – 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
63,676 |
| Pesona Iparku Yang Mempesona |
priaasli@yahoo.com |
62,532 |
| Warnet Hot - Buka Perawan |
ipank.metal@gmail.com |
61,925 |
| Perselingkuhan Istri Muda - 1 |
ab1071@yahoo.com |
61,110 |
| Shinta Sang Sekretaris |
wirlise@crb.elga.net.id |
60,751 |
| Tetanggaku Sayang |
M. Hakim |
56,373 |
| Penjual DVD Cantik |
ebiznet88@yahoo.com |
54,850 |
| Pengalaman Pertamaku Bercinta |
deknas@yahoo.com |
54,258 |
|
|
|
|
|
|
|