|
|
Dari Bagian 1 Luar biasa, Lily semakin berani. Ciumannya semakin kuat dan cepat.
Kadang dia menyerbu leherku. Menjilat dan sesekali menggigitku.
Kemudian kembali mencium telingaku. Tangannya juga tidak tinggal diam.
Menjambak rambutku dan memegang kuat wajahku. Hebat, aku salut dengan
lily. Wanita yang satu ini bisa memaksimalkan potensinya. Ciumannya di
bibirku juga tidak monoton. Ada saja variasi gerakannya. Caranya
menekan bibirku, caranya menghisap dan menjilat juga bervariasi. Nikmat
sekali.
Perlahan aku merasakan pantat Lily bergerak. Dengan tenang Lily
menggesek penisku dari luar. Saat itu kami masih sama-sama berpakaian.
Wow.., ini adalah pengalaman pertamaku. Kurasakan penisku menggeliat
bangkit. Semakin lama semakin tegang dan keras. Gesekan Lily membuat
penisku berdenyut-denyut nikmat.
"Enak, kan.. Boy?" bisik Lily. Ya kuakui enak sekali.
"Enak.. Tapi apa vaginamu bisa merasakan? Kamu kan masih memakai
celana?" tanyaku ingin tahu. Aku tidak yakin Lily merasakan hal yang
sama dengan yang kurasakan.
"Bisa Boy, tapi aku harus menggesek dan menekan agak keras.." jawabnya.
Aku mencoba mengikuti alur permainannya. Sebetulnya aku sudah ingin
menelanjanginya. Gesek menggesek begini memang nikmat, tapi tetap saja
jauh lebih nikmat bercinta langsung. Aku mulai bergerak mengambil
posisi duduk. Tanganku bergerak menarik kausnya. Benar, Lily tidak
memakai bra. Payudaranya langsung kusambut dengan mulutku. Aku benamkan
mukaku ke belahan payudaranya. Menghisap putingnya dan tanganku mulai
meremas payudaranya.
Lily juga menarik kausku. Perlahan Lily mulai membalas mencium
dadaku. Menjilat putingku dan tangannya menarik lepas celanaku. Penisku
menyembul dengan gagah. Direngkuh oleh tangan halus Lily. Penisku mulai
diremas dan dikocok oleh tangan Lily. Tangannya juga memijat naik turun
dari kepala ke pangkal penisku. Oh.., nikmatnya, aku sudah lama
menantikan saat-saat nikmat seperti ini.
Aku bergerak menuju selangkangan Lily. Kulepas celananya. Benar
dugaanku, dia sudah tidak memakai celana dalam. Kurasakan vaginanya
sudah basah. Vagina Lily bersih dari bulu. Rupanya ia mencukur habis
bulu kemaluannya. Kami pun mengambil posisi 69. Aku membuka kaki Lily
lebar-lebar dan mulai menjilati vaginanya. Pelan.. Aku menikmati
vaginanya. Tanganku juga dengan terampil merangsang vaginanya. Mencari
klitoris dan g-spotnya.
Penisku sendiri kumasukkan ke mulut Lily. Sambil naik turun,
penisku bercinta dengan mulut Lily. Cukup sulit ternyata posisi 69.
Tidak semudah yang sering kulihat di film-film biru. Baru beberapa
menit aku sudah lelah berada di atas tubuh Lily. Kami berganti posisi.
Tetap 69 hanya saja posisiku di bawah. Dengan posisi ini Lily lebih
aktif menggarap penisku. Oralnya hebat. Tangannya mampu bekerja sama
dengan mulutnya hingga membuat penisku keenakan. Kami benar-benar
melakukannya tanpa suara. Bagaimana bisa bersuara sementara mulut kami
sedang sibuk mengoral satu sama lain? Hanya desahan nafas kami yang
memburu.
Pikiran tenang adalah kunci bercinta. Setelah berhasil menguasai
pikiranku, aku jadi rileks. Oral dari Lily kunikmati dengan santai.
Hasilnya, aku tidak merasakan gerakan orgasme dari penisku. Aku jadi
tahan lama. Lily sendiri tampaknya tidak kuat menahan gempuran oralku.
Vaginanya semakin basah dan akhirnya dia mengalami orgasme. Cairan
orgasmenya cukup banyak. Tubuh Lily mengejang beberapa saat menikmati
orgasmenya. Mulutnya melepas penisku.
"Aahh.. Hebat Boy. Oralmu dahsyat! Enak sekali!" puji Lily.
Pengalaman memang membuatku semakin hari semakin hebat. Aku terus
merangsang Lily. Kali ini kami kembali ke posisi normal. Aku memeluknya
dari atas. Tubuhku menindih tubuh Lily. Tanganku tetap merangsang
vaginanya. Sementara mulut kami kembali bercumbu. Di sela-sela cumbuan,
aku mengajaknya bicara.
"Kok cepat, tadi udah nyampe?" tanyaku. Aku memang heran dengan
Lily yang mudah orgasme dengan oral saja. Tidak selama Ria, Ita atau
Tante Yeni.
"Iya.. Aku memang mudah orgasme. Jadi, buat aku multi orgasme, Boy.." jawab Lily.
Wah, beruntung sekali pria yang bisa bercinta dengan Lily. Tidak
perlu susah payah membuat Lily orgasme. Aku kembali mencium Lily. Kali
ini seluruh tubuhnya aku cium dan jilati. Mulai dari seluruh wajah,
telinga, leher, payudara, perut, punggung, pantat, tangan dan kakinya!
Semua aku jilat dan cium dengan lembut. Cukup makan waktu lama dan
menguras energiku. Tapi hasilnya, Lily mulai menggeliat menandakan
birahinya mulai naik kembali. Aku harus sabar dan dengan tekun
merangsangnya. Titik lemah Lily adalah di vagina dan perutnya. Jadi aku
memfokuskan merangsang tubuhnya di dua titik itu. Pelan, refleks kaki
Lily mulai terbuka lebar. Vaginanya sangat merah. Tanpa bulu kemaluan
membuatnya tampak segar. Aku sengaja menatapnya agak lama seakan
meneliti pusat kenikmatan dunia itu.
"Aduh.. Malu.. Jangan dilihatin gitu dong.." rajuk Lily. Tapi itu
cuma basa-basi. Kulihat Lily sangat menikmati vaginanya kuamat-amati.
"Indah sekali, Lily. Seksi sekali.." komentarku.
Ya, aku dengan bebas bisa mengamati vaginanya. Merah menggoda
menantang. Terhidang sejelas-jelasnya di depanku. Vagina Lily tiba-tiba
seakan hidup dan berkata, "Tunggu apa lagi? Ayo masuk!" Aku menahan
nafas. Penisku juga sudah berontak ingin menerjang masuk.
Perlahan, penisku menembus vaginanya. Mulai kugerakkan tubuhku
bercinta dengan Lily. Setiap gesekan penisku di vagina Lily kunikmati.
Lily dengan terampil mengimbangi gerakanku. Tubuh kami bergerak
selaras. Menyatu. Kami bercinta! Setiap kali penisku menggesek
vaginanya, Lily mendesah. Lama-kelamaan suara Lily semakin keras. Aku
juga tidak segan mengeluarkan desahanku.
"Arg.. Arg.. Ya, terus.. Enak.. Kamu luar biasa.."
"Oh.. Terus.. Ya.. Ouch.. Oh.."
Berbagai macam kata yang tidak terkontrol keluar dari mulut kami.
Kami terus saling memacu birahi. Memburu kenikmatan tiada tara. Penisku
terasa panas. Denyutannya semakin menjadi-jadi. Jika ambang orgasme
tiba, aku berhenti sejenak. Kami berganti posisi. Kemudian bercinta
lagi. Ganti posisi lagi. Bercinta lagi.. Enak sekali. Kami sama-sama
tahan lama.
Kini aku memangku Lily. Agak sakit terasa di penisku ketika Lily
menurunkan tubuhnya hingga membuat penisku menembus vaginanya. Desahan
Lily semakin keras. Kami berlomba mencapai finish.
"Kamu siap, Boy? Aku punya jurus rahasia.." tanya Lily.
"Jurus apa..?" aku penasaran.
Tiba-tiba kurasakan vagina Lily menjepit penisku. Agh.. Enak
sekali. Vaginanya seperti membesar dan mengecil, menjepit dan melepas
penisku. Aku seperti dibawanya terbang semakin tinggi. Melayang semakin
tinggi. Kenikmatan yang kurasakan semakin memuncak. Setiap detil
tubuhku penuh dengan keringat kenikmatan. Begitu pula dengan Lily.
Tubuhnya bergetar dan bergoyang menikmati percintaan kami.
Tak lama kemudian aku mulai merasakan gelombang orgasmeku datang.
Aku kembali menahan diri. Kucabut penisku dan kami berganti posisi
menjadi doggy style. Kembali aku memasukkan penisku. Lily menungging
membelakangiku. Pantatnya penuh dan seksi. Aku menghunjamkan dan
mengocok penisku dengan cepat dan kuat.
"Keluarin di mana nih?" tanyaku memastikan dimana aku harus orgasme.
"Di dalam saja. Aku udah minum obat kok.."
"Arg.. Argh.." Hanya desahan nafas kami yang semakin memburu. Kami
sudah bercinta cukup lama. Lily tangguh juga. Dia tampak sangat
menikmati ini semua. Wajahnya memerah dilanda birahi.
"Ayo lebih kuat dan cepat, Boy.. Aku sudah hampir sampai.." ajak Lily.
Yah ini mungkin sudah saatnya. Aku memacu lebih cepat. Desahan
nafas dan lenguhan kami makin cepat. Aku terus memompa penisku. Maju
mundur, putar, maju mundur.. Terus sampai akhirnya kurasakan orgasmeku
makin dekat. Lily juga semakin dekat.
"Iya.. Terus.. Terus.." teriak Lily.
Aku berusaha mati-matian menahan agar tidak orgasme duluan.
Otot-ototku berjuang memperlama ereksiku. Agh.. Nampaknya aku mulai
tidak tahan. Sudah terlambat untuk menghentikan ini semua. Sebentar
lagi aku akan orgasme.. Srr.. Crot.. Sr.., aku orgasme sampai tubuhku
terkejang-kejang. Ada hentakan-hentakn di tubuhku saat aku orgasme.
Tapi aku masih tetap menghunjamkan penisku. Aku ingin mengantar Lily
mencapai orgasme keduanya.
"Ah.. Arh.. Argghh.. Ya.. Ya.."
Akhirnya tubuh Lily bergetar sangat kuat. Tangannya mencengkeram
sprei dengan kuat dan menariknya! Matanya terpejam dan mulutnya terbuka
lebar mengeluarkan jeritan panjang.. Lily orgasme! Aku nyaris gagal
membuatnya orgasme yang kedua kalinya. Untung sekali aku bisa bertahan
cukup lama. Aku berjanji akan lebih baik lagi lain kali.
"Wah.. Maaf Lily.. Kamu kuat sekali. Aku nyaris tidak bisa
membawamu orgasme yang kedua.." aku minta maaf dengan tulus sambil
memeluknya.
"Wah.., aku yang makasih sekali ama lo, Boy. Kamu kuat lho.. Kita
bisa orgasme sama-sama.. Aku senang sekali.." jawabnya melegakan
hatiku.
Aku kembali menciumnya. Ini adalah after orgasm service-ku. Aku
membelai-belai tubuhnya dan meremasnya dengan ringan. Memijat tengkuk
dan punggungnya. Kami kemudian bercakap-cakap. Dengan jujur Lily
mengakui bahwa dia sangat membutuhkan sex. Baginya memang sex adalah
faktor utama. Dia mengakui tidak bisa hidup tanpa sex. Kemudian
sampailah aku pada pertanyaanku..
"Kalau disuruh memilih pria yang sex hebat tapi dengan pribadi
buruk atau pria dengan pribadi luar biasa tapi sex buruk, kamu pilih
mana?" Lily terdiam. Bingung.
"Gimana ya.. Mestinya aku mau pilih yang sex-nya hebat aja deh.
Tapi kok ya tidak yakin. Itu pilihannya mengikat tidak? Maksudku..
Sampai pernikahan ya?"
"Iya.. Keputusan yang mengikatmu sampai tua. Sampai mati." jawabku.
"Aduh.. Pusing. Yang mana ya? Sex hebat tapi kalau tiap hari di
sakitin, ditinggal selingkuh, tidak diberi nafkah, anak-anak
ditelantarkan.. juga percuma. Tapi biar semua baik, kalau tanpa sex ya
nggak enak.. Gimana ya. Eh, tapi dia tidak impoten kan?"
"Kalau tidak impoten gimana, kalau impoten gimana?"
"Kalau tidak impoten, nggak apa-apa. Aku pilih yang pribadinya baik
deh. Sex buruk bisa aku ajarin. Asal jangan impoten permanen." Lily
mulai menemukan jawabannya.
"Kalau impoten?" desakku. Ini adalah pertanyaan yang paling sulit dipilih.
"Wah.. Benar-benar bingung aku. Kalo gitu aku pilih yang sex-nya
hebat aja deh. Mungkin pelan-pelan pribadinya bisa tambah baik.." jawab
Lily. Pilihan yang masuk akal.
Aku lega kembali mendapatkan jawaban detil. Informasi kembali
kudapatkan dari Lily. Yah.. Aku masih harus bertanya pada Tante Yeni
dan Ria.
*****
Demikianlah ceritaku. Kalau ada yang ingin berkenalan denganku, silakan kirim email. Pasti kubalas. Salam.
E N D
| Title | Author | Views |
| Cerita Remaja 2: Nakalnya Mama Andre |
Joko Susilo |
188,791 |
| Selingkuh Dengan Istri Teman |
roy_takeshi@yahoo.com |
102,323 |
| Pembantu Hasrat |
dark.blackest@yahoo.co.id |
97,971 |
| Pengalamanku Dengan Suami Orang |
deknas@yahoo.com |
78,402 |
| Pantat Bahenol Mbak Surti |
radhiepatahdenkul@gmail.com |
75,769 |
| Perawatku yang Seksi |
syidi_theman@astaga.com |
75,312 |
| Syahwat di Celah Dinding Rumah Kontrakan - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
67,682 |
| Sperma Lelaki Lain di Celana Dalam Istriku – 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
63,670 |
| Pesona Iparku Yang Mempesona |
priaasli@yahoo.com |
62,528 |
| Warnet Hot - Buka Perawan |
ipank.metal@gmail.com |
61,920 |
| Perselingkuhan Istri Muda - 1 |
ab1071@yahoo.com |
61,086 |
| Shinta Sang Sekretaris |
wirlise@crb.elga.net.id |
60,740 |
| Tetanggaku Sayang |
M. Hakim |
56,370 |
| Penjual DVD Cantik |
ebiznet88@yahoo.com |
54,849 |
| Pengalaman Pertamaku Bercinta |
deknas@yahoo.com |
54,253 |
|
|
|
|
|
|
|