|
|
Sehari menjelang tahun baru, aku masih juga
sibuk memilih-milih acara untuk bertahun baru. Ini adalah pertama
kalinya aku akan melewatkan tahun baru di Singapura, jadi aku ingin
melakukan sesuatu yang spesial, sesuatu yang dapat kukenang saat
kembali ke Indonesia.
Ada beberapa acara yang sudah masuk dalam daftarku, tetapi yang
paling menarik perhatianku adalah acara clubbing bersama teman-teman
sekantor ke salah satu diskotik di daerah Mohammed Sultan. Kudengar
daerah itu sangat terkenal sebagai daerah hiburan malam, selain itu
pergi bersama teman-teman sekantor tentu lebih baik daripada pergi
bersama orang-orang yang tidak begitu kukenal. Aku pun memantapkan diri
pada pilihan ini dengan menghubungi temanku yang menjadi panitia acara
guna mengkonfirmasi kehadiranku.
Singkat kata waktu yang ditunggu pun hampir tiba, kini aku tengah
berjalan sepanjang jalan Mohammed Sultan bersama beberapa orang teman.
Suasana di sekitar daerah ini benar-benar ramai, sepertinya hampir
semua anak muda singapura datang ke daerah ini untuk berpesta. Kemana
mata memandang hanya terlihat kerumunan orang dan antrian mobil.
Tak lama kemudian kami bergabung bersama teman-teman lainnya di
tempat tujuan. Sambil sedikit bertegur sapa dengan yang lainnya, aku
mengambil minuman dan mulai mencari tempat duduk yang strategis untuk
menikmati suasana malam ini. Dan aku menemukannya di samping seorang
temanku yang sedang asyik dengan teman wanitanya. Kutepuk pundak
temanku perlahan sebelum duduk di sampingnya. Ia juga membalas menepuk
pundakku sekilas kemudian meneruskan obrolannya kembali.
Untuk sesaat perhatianku terpaku pada lawan bicaranya, kelihatannya
cukup manis dan sexy. Aku bisa melihat sedikit bagian atas buah dadanya
karena ia mengenakan tanktop berdada rendah dan paha putihnya tampak
mengintip dari sisi rok ketatnya. Alangkah indahnya apabila malam ini
aku bisa memiliki pasangan seperti dia, pikirku.
Lamunanku buyar saat kurasakan ada tangan yang menepuk pundakku.
Aku menoleh mencari sang pemilik tangan itu dan kutemukan seorang gadis
manis lain yang sedang tersenyum kepadaku, kemudian kulihat bibirnya
mengucapkan sesuatu yang tidak dapat kutangkap dengan jelas. Aku
berdiri dengan maksud untuk memperjelas ucapannya saat teman di
sebelahku juga berdiri dan berbisik-bisik sebentar di telinga gadis
itu.
"Hey, kenalkan ini Corrine, dia roommate-nya pacarku" kata temanku
sesaat setelah mereka selesai. Aku pun menjulurkan tangan untuk
berkenalan dan langsung disambut oleh Corrine.
"Tadi dia bilang kalau kamu duduk di tempat dia. Aku sudah
jelaskan bahwa kamu dari Indonesia dan tidak mengerti bahasa mandarin"
kata temanku lagi.
"Oh, maaf sekali kalau begitu" jawabku sambil bergeser ke samping dan mempersilakan Corrine duduk kembali di tempatnya.
Ia pun berjalan melewatiku dan langsung duduk kembali di tempatnya.
Sesaat aku tetap berdiri di sampingnya sambil bermaksud mencari tempat
lain sampai Corrine kembali menepukku.
"Duduklah di sini saja" katanya sambil menepuk pinggiran sofa.
"Tidak apa-apa kok"
"Ok Thanks" jawabku sambil perlahan menempelkan pantatku ke pinggiran sofa yang cukup tebal itu.
Bermula dari situ obrolan antara kami terus bergulir. Ia banyak
bertanya tentang Indonesia, khususnya tentang Jakarta. Rupanya ia juga
pernah ke Indonesia tapi hanya ke Bali. Sebaliknya aku pun banyak
bertanya tentang Singapura. Ia berkata suatu hari nanti ia bersedia
mengajakku melihat-lihat kota Singapura.
Obrolan kami masih terus berlanjut ketika beberapa teman mengajak
turun ke dance floor. Corrine pun langsung berdiri dan menarik tanganku
untuk ikut turun. Kami bergandengan dengan yang lain membentuk kereta
api dan mulai berbaur dengan orang-orang yang sedang asyik bergoyang.
Karena dance floor sudah penuh sesak maka kamipun harus bergoyang
sambil berdesakan.
Suasana semakin seru saat beberapa gadis berpakaian sexy mulai
berani berjoget di atas meja bar. Semakin lama mereka bergoyang semakin
sensual, seolah saling bersaing satu sama lain, semakin mengundang
applause dan seruan pengunjung lainnya.
"Di indonesia tidak ada yang seperti itu?" tanya Corrine kepadaku saat aku tengah asyik menikmati pertunjukan itu.
"Ada, tetapi kurasa gadis-gadisnya lebih sexy di sini" jawabku tanpa mengalihkan perhatian dari meja bar.
"Pantas mata kamu tidak pernah lepas dari arah sana" katanya lagi
sambil jemari lentiknya mencubit halus pinggangku. Aku pun tertawa
mendengar sindirannya, kuraih tangannya dari pinggangku lalu kugenggam
dengan kedua tanganku.
"Apakah kamu cemburu kalau aku terus memperhatikan mereka?"
candaku. Kali ini mataku sudah kembali tertuju pada wajah manisnya,
menunggu ekspresi apa yang akan keluar atas perkataanku tadi.
"Tidak, aku hanya takut bola matamu keluar dari tempatnya apabila kau terus seperti itu" balasnya sambil tertawa.
"Baiklah kalau begitu aku akan memperhatikan kamu saja sehingga
kamu bisa menangkap bola mataku apabila mereka keluar dari tempatnya".
Ia tertawa semakin lepas kemudian menutup mataku dengan tangan
satunya. Kembali kuraih tangannya dan kini kedua tangannya sudah berada
dalam genggamanku. Semakin lama genggaman tangan kami semakin kuat
seiring tubuh kami yang semakin merapat.
Tak lama kedua tanganku pun pindah ke pinggang rampingnya,
mengiringi pinggulnya yang bergoyang dengan sexy, tak kalah sexy dengan
yang berada di meja bar. Tanganku terus bergerak ke bawah dan bergerak
perlahan meraba kedua belah pantat dibalik celana ketat putihnya. Tak
kutemukan adanya garis CD di daerah pantatnya, maka aku pun terus
bergerak keatas sampai kutemukan apa yang kucari. Rupanya ia memakai CD
model g-string.
"Tangan kamu nakal ya" kata Corrine tiba-tiba. Tertangkap basah
dengan aksiku, aku hanya bisa tersenyum manis, semanis mungkin agar ia
tidak marah. Otakku bergerak cepat mencari jawaban.
"Maaf, aku tidak bisa melihat kemana tanganku bergerak karena
mataku kan terus memperhatikan kamu, sampai mau lepas dari tempatnya
nih". Ia tersenyum mendengar jawabanku dan kembali merapatkan tubuh
kami.
Selang beberapa saat kami meninggalkan dance floor yang sudah
semakin sesak untuk kembali bergabung bersama yang lain di meja.
Ternyata meja kami juga sudah penuh sesak, di tempat duduk Corrine
semula hanya tersisa tempat yang sempit sekali untuk diduduki. Akhirnya
kami duduk bersama di pinggiran sofa, aku duduk agak mundur sementara
Corrine duduk bersandar padaku. Kulingkarkan sebelah tanganku memeluk
pinggangnya.
"Hey, sebentar lagi hitungan mundur akan dimulai, kita akan segera
memasuki tahun baru dengan harapan yang baru dan meninggalkan tahun
yang lama bersama semua kenangannya", kudengar suara DJ di antara
hingar bingar musik yang memenuhi ruangan.
Hampir serentak semua berdiri, dan bersiap dengan berbagai macam
atribut pesta seperti terompet, petasan kecil, topi dan topeng. Dan
hitungan mundur pun dimulai, seisi ruangan seakan berteriak seiring
dengan suara DJ yang melakukan hitungan mundur.
"3.. 2.. 1.. Happy New Year Semuanya".
Suara terompet dan petasan-petasan kecil segera terdengar dari
segala penjuru, kadang diselingi teriakan-teriakan yang sayup-sayup
terdengar tertelan suara musik. Banyak pasangan kemudian berciuman
dengan mesra, beberapa bahkan terlihat ber-french kiss dengan seru.
Aku dan Corrine tersenyum melihat pasangan-pasangan di sekitar
kami. Sesaat kemudian aku memandangnya, menatap tajam ke dalam kedua
bola matanya dan perlahan wajahku bergerak maju bermaksud menciumnya.
Tetapi sekian centi dari bibirnya yang merah merekah itu Corrine
menahan bibirku dengan jari telunjuknya. Ia memandangku sambil
tersenyum kemudian memalingkan muka ke arah lain. Aku pun ikut
memalingkan muka ke arah lain sambil menahan malu.
Tak lama ia berdiri, merapikan celananya sedikit kemudian menarik
tanganku untuk mengikutinya. Ia menuntunku membelah kerumunan orang di
dance floor menuju ke bagian lain dari diskotik tersebut. Kami berhenti
dekat sisi meja bar yang lain dimana kerumunan orang tidak begitu
ramai. Aku tetap terpaku tidak mengerti saat Corrine kembali merapatkan
tubuh kami, begitu rapat sampai dapat kurasakan buah dadanya menekan
dadaku, kemudian memandangku penuh arti sambil mendekatkan wajah kami.
Tanpa berpikir panjang aku kembali mendaratkan ciuman di bibirnya, dan
kali ini ia tidak menolak bahkan menerima kecupanku dengan bibir yang
terbuka. Hatiku bersorak gembira saat kurasakan ia mulai membalas
kecupan-kecupanku.
"Selamat tahun baru cantik" kataku di sela-sela ciuman kami.
"Selamat tahun baru juga ganteng, tangannya jangan suka nakal lagi ya" balasnya.
Cukup lama kami memisahkan diri dari teman-teman yang lain,
menikmati kesendirian kami sambil terus berpelukan dan berciuman.
Sampai akhirnya ia mengajak kembali ke meja karena hari sudah mulai
subuh dan ia harus segera pulang. Tak lupa kami saling bertukar nomor
telepon sebelum akhirnya berpisah dan mengakhiri malam tahun baru itu.
Beberapa hari setelahnya, aku bertemu Corrine lagi untuk makan
malam bersama sepulang kantor. Ia tampak begitu anggun dengan pakaian
kerjanya, tanktop putih dipadu blazer biru dan rok selutut senada.
Tampak begitu beda dengan penampilannya di malam tahun baru kemarin.
Acara makan malam berjalan dengan sempurna, dipenuhi dengan canda
tawa dan obrolan kami tentang berbagai macam topik, semua obrolan
mengalir begitu saja seolah kami tidak pernah akan bisa berhenti.
Bahkan setelah makan malam selesai kami melanjutkan obrolan dengan
berjalan kaki sambil bergandengan tangan. Kami berjalan sepanjang
Orchard Road, melewati kompleks Esplanade sampai akhirnya ke salah satu
cafe di Merlion Park.
Suasana di daerah itu benar-benar romantis, angin yang berhembus
lembut, gemerlap lampu kota di kejauhan, dan kelip bintang di langit,
semuanya seakan semakin menambah kehangatan di antara kami. Dan kami
tidak sendiri, disekitar kami juga banyak pasangan lain yang sedang
menikmati suasana romantis daerah ini.
Hari sudah semakin malam saat kami beranjak meninggalkan cafe
menuju apartemenku untuk melanjutkan obrolan di sana. Tetapi begitu
sampai di apartemenku, kami sudah tidak lagi bisa melanjutkan obrolan
karena bibir kami sudah saling beradu, lidah kami saling bertaut, dan
tangan kami sibuk saling melepaskan baju pasangannya.
Kudorong Corrine ke sofa setelah berhasil melepaskan baju luar nya,
ia kini hanya memakai bra biru berenda dan CD g-string senada. Sesaat
aku berdiri terpaku menikmati pemandangan indah di depanku, ia tampak
begitu sexy dengan kulit putih mulusnya dan buah dadanya yang
membusung.
Corrine pun tak tinggal diam, perlahan tangannya mengelus batangku
dari luar CD, menempelkan pipinya dan mengecup ujungnya yang tersembul
keluar. Kemudian ia menarik CD-ku ke bawah dan kembali mendaratkan
ciuman-ciuman kecil di seluruh sisi batangku. Ia tampak begitu
menikmati mainan barunya.
Kenikmatan yang kurasakan semakin bertambah saat kurasakan batangku
perlahan memasuki mulutnya. Kupejamkan mataku untuk menikmatinya,
terlebih saat ia mulai menghisap dan mengulum kejantananku.
Kulingkarkan tanganku di belakang kepalanya, mengikuti gerakan maju
mundurnya sambil mengelus lembut rambutnya. Tanganku terus turun ke
bawah, yang sebelah bergerak ke depan untuk meremas-remas buah dadanya
dan yang sebelah lagi berusaha menggapai kancing bra-nya.
Sekejap saja bra itu sudah terlepas dan kedua tanganku bebas
bermain dengan buah dadanya, mengusap, meremas dan memilin putingnya.
Kudorong Corrine rebah di sofa agar mulutku juga bisa ikut bermain di
dadanya. Kucium lembut bergantian kiri dan kanan, lidahku bergerak
menelusuri setiap sisinya dan membelit lembut putingnya yang berwarna
pink itu.
Puas bermain di dadanya, mulut dan tanganku turun terus ke bawah,
melewati perutnya yang datar dan bermain di sekitar selangkangannya
yang tampak sudah basah. Permukaan CD-nya kutekan lembut dengan lidah,
bergerak naik turun disepanjang celah basahnya. Kugeser satu sisi CD
nya dan kembali mendaratkan lidahku di permukaan vaginanya.
Sesaat ia menahan aksiku dengan menarik kepalaku keatas, kami
kembali berciuman sementara tangannya bergerak melepas CD yang telah
basah itu. Setelah itu tangannya meraih batangku dan mengocoknya
perlahan.
Lalu kami bertukar posisi, aku duduk bersandar di sofa sementara ia
duduk di pangkuanku. Dengan perlahan ia menurunkan tubuhnya dan
batangku perlahan memasuki liang vaginanya. Liangnya terasa begitu
sempit dan hangat menelan batangku. Ia terdiam saat batangku telah
masuk sepenuhnya, tersenyum nakal kepadaku kemudian tubuhnya bergerak
kedepan dan kamipun kembali berciuman.
Ciuman kami semakin lama semakin bernafsu, seiring semakin cepatnya
goyangan pinggul kami menyambut kenikmatan yang timbul di setiap
gerakan. Selang beberapa menit ia pun mengejang, mendesah keras dan
akhirnya jatuh dipelukanku. Ia telah mencapai orgasme pertamanya.
Kubiarkan ia beristirahat sebentar sebelum kugeser tubuhnya
kesamping, kuatur tubuhnya menungging di sofa sementara kuposisikan
tubuhku di belakangnya, siap untuk memasuki vaginanya kembali dari
belakang. Kepalanya tersentak ke atas saat batangku kembali tertanam di
dalam liangnya. Kugerakkan pinggulku makin lama makin cepat memompa
liang sempitnya. Seolah tak mau kalah, Corrine juga mulai menggerakan
pinggulnya, maju mundur seiring gerakanku dan kadang memutar.
Aku tak bertahan lama dalam posisi ini, kudorong batangku
sedalam-dalamnya sambil memuntahkan semua muatanku dan kemudian ambruk
ke sampingnya. Kami kembali berciuman sambil berpelukan di sofa.
"Aku lemas sekali, orgasmeku tadi benar-benar membuat seluruh tubuhku lemas" katanya memecah kesunyian diantara kami.
"Kalau begitu istirahatlah dulu, atau mau istirahat di kamar?" tanyaku.
"Baiklah, di kamar saja" lanjutnya sambil berdiri.
Aku menyusul berdiri dan memeluk pinggangnya agar ia bisa bersandar
di tubuhku lalu perlahan menuntunnya ke kamar. Kududukan Corrine di
tepi ranjangku, kemudian berlutut di depannya dan mulai mendaratkan
ciuman-ciuman kecil lagi di wajahnya, perlahan kembali menuju bibir
merahnya.
Corrine menyambut bibirku dengan bibirnya dan tak lama lidah kami
sudah kembali beradu. Ia menarik kepalaku sambil merebahkan diri ke
tempat tidur. Tanpa melepas tautan lidah kami, akupun ikut rebah di
sampingnya. Tanganku kembali bergerak merayapi tubuh mulusnya, kembali
bermain sejenak dengan buah dadanya, dan akhirnya kembali turun ke
lembah liang vaginanya yang tidak ditumbuhi bulu sedikit pun. Kugerakan
satu jariku naik turun celahnya yang terasa semakin basah lagi.
Sejenak kemudian mulutku sudah ikut turun ke vaginanya, dan kali
ini aku bisa lebih lama bermain disana. Kukeluarkan hampir semua
kemampuanku untuk semakin meningkatkan birahinya. Dan tampaknya usahaku
berhasil saat kudengar desahan-desahan dari mulutnya semakin keras
sambil tangannya terus meremasi rambut dan kepalaku, seolah mendorong
agar semakin lekat dengan vaginanya.
Saat kurasakan cairan cintanya semakin banyak mengalir, ia menarik
kepalaku dari daerah selangkangannya dan memberi tanda agar aku segera
mengantarnya ke puncak yang tinggal sedikit lagi dicapainya. Segera
kunaikkan kedua kakinya ke punggungku sambil berlutut di depannya, dan
perlahan menuntun batangku kembali memasuki vaginanya. Dengan posisi
ini aku bisa melihat bagaimana batangku bergerak keluar masuk liangnya.
Rupanya liang vagina Corrine tetap terasa sempit meskipun sudah basah
sekali dan sudah ronde kedua.
Kugerakkan pinggulku maju mundur, kadang berputar, berusaha memompa
dan mencapai semua sisi bagian dalam dari vagina Corrine. Dan beberapa
kali menyodok agak keatas agar menyentuh bagian sensitif g-spotnya.
Sebentar saja kurasakan Corrine kembali mengejang sambil mendesah
keras. Kurasakan liang vaginanya juga mengejang seakan mencengkeram
batangku. Tak lama akupun menyusul mengejang seiring orgasmeku yang
kedua. Untuk sepersekian detik kurasakan semua tulangku terlolosi dan
aku berada di alam lain.
Aku masih menggerakkan batangku keluar masuk untuk beberapa saat,
masih menikmati sisa-sisa orgasme kami berdua sebelum akhirnya rebah
disampingnya. Kembali kucium lembut bibir merahnya, kudengar desah
nafas yang masih tersengal-sengal keluar dari mulutnya.
"Aku benar-benar lemas sekarang, mungkin tidak bisa jalan lagi" katanya.
"Kalau begitu menginaplah disini, kumpulkan tenagamu untuk besok
pagi. Kamu libur kan besok?" tanyaku. Corrine tampak terdiam sesaat
untuk berpikir.
"Untuk besok pagi itu maksudnya untuk pulang atau untuk ronde berikutnya?" tanyanya lagi sambil tersenyum nakal.
"Kalau kamu sanggup ya untuk ronde berikutnya, setelah itu baru pulang". Aku tertawa mendengar jawabanku sendiri.
"Baiklah aku akan menginap, beristirahat dan mengumpulkan tenaga untuk pulang". Ia terdiam sesaat seolah menunggu reaksiku.
"Yakin?" tanyaku menyelidik.
"Kalau besok ada ronde berikutnya ya berarti aku harus pulang lebih
sore lagi". Kudengar tawanya tergerai mengakhiri perkataannya.
Aku juga tertawa tanpa bisa memberikan jawaban lagi. Kurengkuh
kepalanya ke sisiku, kembali kami berciuman sesaat dan akhirnya
terlelap sampai pagi menjelang.
Keesokan harinya kami masih meneruskan pergumulan kami sampai
beberapa ronde lagi. Hampir seharian kami tidak keluar apartemen,
bahkan hampir tidak pernah sempat memakai baju kembali. Setelah makan
malam kuantar Corrine pulang kembali ke apartemennya dan berjanji untuk
bertemu lagi minggu depan untuk melewati akhir minggu bersama.
E N D
| Title | Author | Views |
| Cerita Remaja 2: Nakalnya Mama Andre |
Joko Susilo |
188,722 |
| Selingkuh Dengan Istri Teman |
roy_takeshi@yahoo.com |
102,303 |
| Pembantu Hasrat |
dark.blackest@yahoo.co.id |
97,967 |
| Pengalamanku Dengan Suami Orang |
deknas@yahoo.com |
78,401 |
| Pantat Bahenol Mbak Surti |
radhiepatahdenkul@gmail.com |
75,749 |
| Perawatku yang Seksi |
syidi_theman@astaga.com |
75,295 |
| Syahwat di Celah Dinding Rumah Kontrakan - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
67,675 |
| Sperma Lelaki Lain di Celana Dalam Istriku – 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
63,657 |
| Pesona Iparku Yang Mempesona |
priaasli@yahoo.com |
62,517 |
| Warnet Hot - Buka Perawan |
ipank.metal@gmail.com |
61,916 |
| Perselingkuhan Istri Muda - 1 |
ab1071@yahoo.com |
61,039 |
| Shinta Sang Sekretaris |
wirlise@crb.elga.net.id |
60,713 |
| Tetanggaku Sayang |
M. Hakim |
56,365 |
| Penjual DVD Cantik |
ebiznet88@yahoo.com |
54,845 |
| Pengalaman Pertamaku Bercinta |
deknas@yahoo.com |
54,245 |
|
|
|
|
|
|
|