|
|
Dari Bagian 1 Makin lama gerakanku makin cepat hingga maksimal. Deasy kembali
berteriak keenakan sambil tangannya meremas apa saja yang dapat
dipengangnya. Gerakanku makin cepat, kudorong sedalam-dalamnya hingga
keringat bercucuran di punggung Deasy. Akhirnya kucapai orgasmeku di
vaginanya. Kutekan penisku sedalam-dalamnya dan kudiamkan sambil
kusemburkan spermaku beberapa kali, setiap kali menyembur, penisku
makin keras dan membesar, sehingga Deasy pun merintih..
"Gila viir.. Oocchh.. Viirr.. Aacchh.. Gua keluar lagi nichh.."
Jam 4 pagi kami tertidur dalam keadaan telanjang bulat. Saat
terbangun jam 10 pagi, sekali lagi kami menumpahkan nafsu birahi di
kamar itu sebelum Deasy kembali ke Hyatt dan aku beristirahat untuk
pertemuan sorenya.
Sorenya saat aku harus menghadiri pertemuan dalam rangka negosiasi
harga untuk barang telekomunikasi yang akan dibeli oleh perusahaanku
dari salah satu supplier dari Amerika. Pertemuan diadakan di ruang
meeting di hotel Mandarin dan dihadiri oleh suatu perusahaan Indonesia
sebagai distributornya. Aku tiba pukul 16:55, masih 5 menit lebih awal
bersama manager perencanaan yang baru datang siangnya dari Jakarta.
Saat aku masuk, di dalam ruangan sudah ada VP Sales dari perusahaan
Amerika itu dengan Sales Managernya, Anthony, Direktur perusahaan
distributor mereka di Indonesia beserta Account Managernya. Aku telah
mengenal mereka semua. Aku mengambil tempat duduk menghadap ke pintu
bersebelahan dengan managerku. Setelah berjabatan tangan dan mengobrol
basa basi, negosiasi segera dimulai.
Pada saat aku sedang membacakan dokumen, pintu terbuka, aku
mengangkat wajahku. Di depan pintu berdiri seorang wanita yang kalau
tidak dalam suasana formal dapat membuatku meloncat dari kursi yang aku
duduki. Nini berdiri di sana juga dengan wajah kaget melihatku, tapi
segera situasi dapat kami kuasai.
Dengan cepat Nini memasang telunjuknya di depan bibirnya, aku
mengerti. Nini menghampiri sang direktur sambil memberikan sebundel
dokumen. Lalu Nini diperkenalkan sebagai PR di perusahaan distributor
itu. Tempat duduk di meja berbentuk bundar itu tinggal satu yang kosong
dan Nini duduk di sana, di sebelah kiriku. Penampilannya sangat menarik
dengan blazer warna cerah dengan kemeja warna gelap di dalamnya dan rok
ketat di atas lutut sedikit.
Dimulai dengan penjelasanku mengenai final design dari system yang
dibutuhkan, lalu pihak Amerika menerangkan kelebihan kelebihan
produknya. Lalu si distributor mulai membahas aspek komersial, tampak
Nini mengambil bagian pembicaraan dalam aspek ini. Selama mendengarkan,
aku mencatat di kertas notes kecil yang aku bawa dari kamar hotel,
tercetak hotel Westin Plaza di kertas itu. Tak terasa sudah jam 7, kami
break untuk dinner dan dilanjutkan jam 8:30 malam di tempat yang sama,
bersama-sama kami pergi ke sebuah restoran chineese food dekat dengan
Mandarin lalu kembali ke ruang meeting.
Saat makan, Nini mengajakku mengobrol santai dan dengan anggunnya
bersikap sangat profesional dan dapat menyembunyikan bahwa dia telah
mengenal aku luar dalam. Tak ada tanda-tanda dan kode-kode bahwa Nini
ingin bertemu berdua atau rindu atau yang lainnya seperti halnya Deasy
kemarin. Padahal aku sudah membayangkan bahwa Nini akan menemani aku
malam ini di kamar yang besar itu
Setelah aku dapat memperlihatkan bahwa produk mereka bukan yang
terbaik karena ada produk saingan yang lebih baik dari segi feature,
walaupun feature tersebut tidak aku butuhkan, tapi sebagai kartu truf
negosiasi kusampaikan hal itu. Lalu kusampaikan pula perkiraan harga
yang dapat aku terima yang masih jauh dengan harga penawaran mereka,
berbeda sekitar 20%. Aku kembali ke hotel jam 22:30, sangat lelah dan
langsung mandi serta tiduran sambil menonton TV.
Tiba tiba telepon berdering..
"Good Evening Mr. Mahendra, I have a lady in front of me, her name
is Nini, would like to met you" seorang resepsionis wanita berkata di
telepon. Haah, aku kegirangan, tapi tak kuperlihatkan.
"Ok, thank you, can you ask her if she willing to come up or
should I go down" kataku di telepon. Terdengar si resepsionis berbicara
denan Nini.
"She said, if you don't mind, she prefer to met you there" katanya lagi.
"OK, can you ask somebody to escort her to my room"
"Definitely sir" katanya. Terdengar dia memanggil seseorang lalu terdengar dia berkata pada Nini..
"You may follow him, madame" sesaat kemudian dia berkata lagi..
"She is on her way. By the way, she is very pretty sir, good night and thank you" katanya.
Dua menit kemudian terdengar pintu diketuk, terlihat Nini diantar
oleh petugas concierge. Setelah pintu kututup, Nini hanya mengecup
pipiku lalu berjalan dengan anggunnya menuju sofa dan duduk di sana
lalu menyalakan Marlboro putihnya, pakaiannya sudah berganti, celana
panjang dan kaus ditutupi jacket kulit.
"Bagaimana kamu tahu aku tinggal di sini?" tanyaku.
"Tadi kamu pakai kertas catatan dari Westin, aku coba tanya ke front office, lalu aku datang ke sini" jawabnya.
"Bagaimana kamu yakin bahwa aku ada di kamar?" tanyaku kembali.
"Aku tidak yakin, tapi aku coba, ternyata kamu ada" jawabnya lagi.
"Aku sangat kaget melihatmu di ruang meeting tadi, tak kusangka
bahwa negosiasi itu dengan kamu Vir.., kalau aku tahu bahwa kamu yang
akan aku temui, aku pasti tolak tawaran mereka" Nini membuka topik.
"Aku mewakili perusahaan, harusnya aku yang lebih kaget kamu ada di sana tadi, jadi tolong ceritakan yang sebenarnya" sahutku.
"Pak Anthony minta bantuan aku untuk menggolkan proyek ini, aku
dapat 3%, terserah caranya bagaimana" kata Nini menjelaskan padaku.
Hhmm, 3% cukup besar juga, nilai proyek puluhan juta dollar, maklum
proyek infrastruktur telekomunikasi yang sedang in di Indonesia. Otakku
berputar, tidak terpikir rasanya untuk bercinta dengan Nini.
"Kita turun yuk, minum kopi sambil berpikir dan ngobrol sebentar, selintas aku ada rencana lain" kataku, aku ganti pakaian.
Nini tahu bahwa kalau aku sudah serius begitu, aku tidak dapat
diganggu maupun dirayu untuk bercinta. Malahan Nini selalu berusaha
membantu aku bertukar pikiran untuk memecahkan masalah bersama-sama.
Kami turun ke coffee shop dan memesan 2 cangkir kopi.
"Apakah mereka tahu kamu menemui aku sekarang ini?" selidikku.
"Tidak, menurut rencana, besok pagi meeting diundur ke sore dan aku
disuruh menemani kamu privately sampai siang, dan menyampaikan bahwa
ada 2 persen untuk kamu" kata Nini.
"Seberapa dekat hubungan kamu dengan Anthony?" aku bertanya.
"Tidak dekat, aku dikenalkan oleh sepupuku Deasy, katanya ada boss
yang perlu PR untuk menggolkan proyek besar" jawabnya. Wah, Deasy baru
meninggalkan kamar ini tadi siang, pikirku.
"Hmm.. Sebenarnya aku tahu harga mereka bisa turun sekitar 14
persen lagi, tapi Anthony mau untung terlalu besar, padahal untuk
proyek besar begini, 5 persen cukuplah, toh dia juga nggak kerja, cuma
ngurus admin saja, banyakan aku yang kerja nantinya. Mustinya kita
dapat 10 persen Ni.., aku juga kan musti setor ke atas.." kataku.
"Dapet 3% aja lebih dari cukup Viir.. Aku bisa berhenti dari
sebagian pekerjaanku yang sekarang sementara cari lagi yang lebih
bernilai.." kata Nini perlahan.
"OK, besok aku atur dan kamu akan dapat poin bahwa kamu yang
berhasil menggolkan proyek ini, sekarang balik yuk, kamu mau pulang
atau tidur di atas? Tidur di atas aja deh, temenin aku ya" ajakku.
Nini dan aku tidur tanpa pakaian saling berpelukan di dalam
selimut, tanpa ada yang mencoba untuk menggoda dan merangsang satu sama
lain walaupun kulit kami saling bersentuhan dan buah dada Nini terasa
menekan lengan dan dadaku. Agak penat juga aku berpikir, lalu aku
tertidur. Saat aku bangun, sebagaimana normalnya laki-laki, saat bangun
pagi terkadang penis sudah dalam keadaan berdiri keras. Pagi saat itu,
di luar masih gelap, kurasakan penisku sudah berdiri dan keras sekali
seperti batang kayu ditambah kehangatan terasa mengalir dari tubuh
telanjang Nini yang menempel di tubuhku. Kurasakan Nini masih tidur,
kukecup keningnya mesra, matanya terbuka dan tersenyum, kepalanya
menengadah mengecup pipiku mesra sekali.
"Good morning darling, sleep well?" dia bertanya.
Aku tak menjawab, tapi kudorong sedikit tubuhnya sampai telentang,
lalu aku berlutut merebahkan kepalaku di dadanya sambil memeluknya.
Nini melingkarkan satu tangannya di leherku. Mesra sekali kami berdua.
Perlahan aku kecup keningnya, matanya, hidung, pipi lalu bibirnya. Saat
bibir kami bertemu, rupanya dorongan birahi yang telah terpendam sejak
kemarin terasa mau meledak, seketika itu pula Nini menyambar bibirku
dam menciumku dengan permainan bibir, lidah dan mulut yang luar biasa
nikmatnya. Nini memang seorang ahli dalam bercinta. Tangannya yang lain
meraba penisku yang sangat keras lalu dikocoknya perlahan.
"Hmm.. Penis kamu sangat keras Vir. Lebih keras daripada biasanya,
cepat masukin Viirr, aku ingin merasakan kerasnya di dalam vaginaku"
desahnya.
"Hmm.. Nggak mau 'appetizer' dulu?" bisikku.
"Aku pengen sekarang viir.. Nanti aja 'dessert'" desahnya lagi.
Aku naik ke tubuhnya, pahanya dibuka lebar, kutempelkan penisku ke
vaginanya, kugoyang kiri kanan perlahan agar kepala penisku dapat
membuka bibir lipatan vaginanya. Agak sulit. Terasa bibir vaginanya
terbuka sedikit, kudorong perlahan lalu terasa kehangatan dari dalam
vaginanya menyelimuti ujung kepala penisku, kudorong terus dengan
mantap sambil tetap kugoyang pantatku. Nini mulai memutarkan pantatnya
searah jarum jam beberapa kali, lalu putarannya dibalik menjadi
berlawanan arah jarum jam. Putarannya perlahan-lahan seirama dengan
goyanganku. Dengan begitu aku dapat merasakan pegangan kuat
mencengkeram dari vagina Nini di penisku dan Nini pun merasakan sesak
dan penuhnya lubang vaginanya saat diisi oleh penisku. Tidak ada
rangsangan untuk mencapai orgasme.
Nini menghentikan putaran pantatnya, aku pun berhenti tapi kudorong
penisku sedalam-dalamnya di vagina Nini sampai ujung kepala penisku
terkena sesuatu. Nini mulai menggerakkan vaginanya seakan memijit
seluruh batang penisku. Sungguh kuat otot bawah perut Nini meremas
penisku. Setiap kali Nini melepas pijitan vaginanya, kukedut otot
keggelku perlahan hingga terasa penisku makin mengeras di dalam vagina
Nini.
"Oohh.. Viirr.., ini yang aku cari.. Enaak sekali Viirr.." Nini menggelengkan kepalanya.
"Vagina kamu juga tiada duanya Ni.. Oocch pijitan vaginamu.. Ennaakk.." bisikku pula.
Makin lama pijitan Nini dan kedutanku makin cepat dan kami mulai
menggoyangkan pinggul lagi, makin cepat, pinggul Nini terangkat untuk
lebih leluasa berputar semakin cepat seperti gasing. Aku pun tak kalah
bersemangat mengocok vagina Nini, mendorong sedalam-dalamnya hingga
Nini berteriak setiap kali kusodokkan penisku dalam-dalam. Bibir kami
berciuman dengan liarnya, lidah mencari lidah, bibir saling menjepit
diiringi desahan-desahan menggairahkan. Seakan tiada lelahnya, posisi
ini kami pertahankan cukup lama.
"Nini.. Aku hampir keluar.." aku menjerit.
"Keluarin aja Viirr, kita sama sama.." Nini balas menjerit. Tak lama kemudian..
"Oocchh.. Ni.. Aku keluaarr.." teriakku, terasa seluruh tenaga
tubuhku mengalir menuju penisku dan terpusat di sana, kutahan sebentar
spermaku sampai terkumpul di ujung, lalu kusemburkan yang pertama
kuat-kuat sampai terasa aliran sperma melewati saluran kencingku dengan
deras.
"Aachh.. Viirr.. Kenceng banget.. Lagi Viirr.. Sembur.. Viirr.. Aku juga keeluuar"
Kusemburkan dengan kuat yang kedua, ketiga, keempat.. Semuanya ada
8 semburan yang makin lama makin lemah. Setiap semburan yang aku
lakukan, Nini mengerang sambil mengencangkan pelukannya di leherku
sekaligus melakukan pijitan pada vaginanya sehingga penisku seakan
diperas agar spermaku habis di vaginanya. Akhirnya aku ambruk di badan
Nini lalu kucium seluruh wajahnya yang berakhir di bibirnya. Penisku
masih agak keras, kugeser tubuhku hingga penisku terlepas. Lalu aku
telentang di atas ranjang dan Nini berbalik memelukku, menciumku dan
meletakkan kepalanya di dadaku. Tangannya mengelus-ngelus penisku.
"Dessertnya" bisik Nini.
Lalu Nini mulai mencium bibirku dengan hangat, disusurinya bagian
dalam bibirku dengan lidahnya, lalu mencari lidahku dan kami saling
berciuman kembali dengan panasnya, sementara tangannya meraba dan
meremas penisku. Nini mulai menjilati seluruh daerah leherku lalu ke
dada, kedua putingku dihisapnya dan diberi gigitan kecil. Tubuhnya yang
berada di atas tubuhku membuat cairan yang ada di dalam vaginanya
terasa meleleh membasahi sekitar perutku. Nini memutar tubuhnya
sehingga posisi kami menjadi 69. Penisku yang belum sepenuhnya berdiri
lagi, dijilati mulai dari ujung sampai zakarnya. Aku tarik pantatnya
ingin menjilati vaginanya, tapi Nini menolak sehingga aku hanya dapat
memegang bulatan pantatnya saja.
"Ini dessert buat kamu, sayang, nikmatilah" katanya.
Ke Bagian 3
| Title | Author | Views |
| Cerita Remaja 2: Nakalnya Mama Andre |
Joko Susilo |
188,765 |
| Selingkuh Dengan Istri Teman |
roy_takeshi@yahoo.com |
102,313 |
| Pembantu Hasrat |
dark.blackest@yahoo.co.id |
97,970 |
| Pengalamanku Dengan Suami Orang |
deknas@yahoo.com |
78,402 |
| Pantat Bahenol Mbak Surti |
radhiepatahdenkul@gmail.com |
75,760 |
| Perawatku yang Seksi |
syidi_theman@astaga.com |
75,304 |
| Syahwat di Celah Dinding Rumah Kontrakan - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
67,681 |
| Sperma Lelaki Lain di Celana Dalam Istriku – 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
63,662 |
| Pesona Iparku Yang Mempesona |
priaasli@yahoo.com |
62,523 |
| Warnet Hot - Buka Perawan |
ipank.metal@gmail.com |
61,918 |
| Perselingkuhan Istri Muda - 1 |
ab1071@yahoo.com |
61,069 |
| Shinta Sang Sekretaris |
wirlise@crb.elga.net.id |
60,731 |
| Tetanggaku Sayang |
M. Hakim |
56,367 |
| Penjual DVD Cantik |
ebiznet88@yahoo.com |
54,847 |
| Pengalaman Pertamaku Bercinta |
deknas@yahoo.com |
54,248 |
|
|
|
|
|
|
|