|
|
Hai, aku Fire Maker. Senang sekali bisa
mendapatkan banyak teman dari berbagai kota. Silakan jika ingin
mengenalku. Tentang data diriku, silakan baca saja cerita-ceritaku
sebelumnya.
*****
Setelah menuliskan "Ria, My First Sex Partner", aku mendapatkan
email dari seorang wanita yang bernama Verne. Usianya 27 tahun. Dia
tinggal di satu kota yang berbeda dengan kota tempat tinggalku.
Emailnya singkat, hanya menanyakan kebenaran ceritaku. Setelah beberapa
kali saling berkirim email, Verne memberikan nomor handphone-nya
padaku.
"Boy.. Kamu tinggal di kota mana sih?" tanyanya di email.
"Kota ini.. Cuma aku sering pergi ke luar kota untuk urusan bisnisku" jawabku.
"Wah liburan lebaran ini aku mau ke kotamu."
"Oh ya? Okay nanti kita atur waktu untuk bertemu. Siapa tahu kita bisa kencan.. Oh ya kirim fotomu dong?" balasku di email.
"Sory, gue nggak ada foto.." balas Verne.
"Ah masa.. Pasti ada lah.." bagiku hampir tak mungkin seseorang tak punya foto.
"Ada sih, tapi jelek.. Ntar aja kalau aku ke kotamu aku foto dan kasih ke kamu"
Yah, aku tahu Verne jujur. Dari isi emailnya, aku tahu dia tidak suka basa basi. Karena itu aku okay saja menunggu fotonya.
Hari kedatangan Verne tiba. Malamnya aku meneleponnya.
"Udah nyampe? Kamu tinggal di mana?"
"Udah dari tadi.. Tinggal di sini.." katanya menyebutkan nama suatu daerah.
"Bisa tahu nomor teleponnya? Aku telepon di rumah saja ya?"
Aku ingin tahu apakah dia mau memberikan nomor teleponnya. Sekalian
berhematlah. Ternyata Verne mau memberikan nomor teleponnya. Lalu aku
meneleponnya. Kami bicara tidak banyak karena aku memang sedang sibuk.
Lalu aku membuat janji untuk datang ke rumahnya.
Aku datang beberapa hari kemudian. Di perjalanan aku berdebar-debar
memikirkan seperti apa si Verne ini. Setelah sempat salah rumah, aku
menemukan rumahnya. Verne manis orangnya. (kalau baca cerita ini jangan
senyum sendiri ya, Verne!), tubuhnya seksi dengan tinggi 170 cm/65 kg.
Kate Winslet memiliki postur 168 cm/65 kg. Jadi bisa dibayangkan
kira-kira tubuh Verne, sama sekali tidak gemuk menurutku. Beratnya
mungkin banyak terfokus di payudara dan pinggulnya yang seksi.
Belakangan aku baru tahu ukuran bra-nya 36B. Kulitnya kuning seperti
orang Chinese kebanyakan. Dengan rambut sebahu, bibir penuh dan tanpa
make up, dia kelihatan natural.
Kami bicara cukup lama. Orangnya enak diajak bicara. Banyak bahan
yang bisa dia ceritakan. Mulai pekerjaannya, mantan pacarnya,
teman-temannya, keluarganya, sampai akhirnya kami membicarakan cerita
yang kutulis, respon pembaca dan banyak hal lain. Satu hal yang kusukai
darinya adalah keterusterangannya. Meskipun kadang topik sex membuatnya
malu, tetapi Verne tetap menyambut setiap bahan pembicaraan kami. Waktu
menunjukkan pukul 21.30 dan aku memutuskan untuk pulang. Dalam hati aku
masih bimbang untuk mengajaknya berkencan atau tidak. Akhir-akhir ini
pekerjaanku menumpuk dan menyita waktuku.
Kami berdua berjalan menuju gerbang rumahnya. Verne tinggal di
rumah neneknya selama di kotaku. Mataku menjelajahi rumah dan
sekelilingnya. Banyak orang di rumah seberang. Wah, padahal aku ingin
menciumnya. Ketika Verne membukakan kunci gerbang, bahunya yang terbuka
putih mulus membuatku ingin memeluk dan mencium tengkuknya. Akan tetapi
aku tak jadi melakukannya.
"Aku pulang ya.. Verne? Tunggu besok ya, kalau ada waktu aku akan mengajakmu kencan" kataku. Verne mengangguk.
Aku segera masuk mobilku dan pulang. Sampai di rumah aku menulis SMS untuk Verne.
"Verne.. Menurutmu aku orangnya gimana?"
"Kamu cute, Boy. Tinggi juga tubuhmu. Aku baru kali ini sampai
mendongakkan kepalaku waktu bicara dengan cowok.. Soalnya aku tinggi
juga.. Kalau aku menurutmu?"
"You're so sweet, girl.. Tadi aku ingin menciummu tapi banyak orang.."
"Wah.. Thanks.. U ingin menciumku? Aku juga lho.. Tapi kukira Boy
tidak tertarik padaku tadi.." astaga.. Siapa yang tidak tertarik dengan
bibir penuh dan tubuh tinggi seksi itu?
"What a missing moment! Aduh.. Tahu gitu tadi aku akan mengajakmu
masuk mobil dan menciummu!" aku jadi menyesal tidak menciumnya tadi.
Aku kehilangan kesempatan bagus.
"Iya.. Aku jadi kepikiran missing moment tadi.."
"Oh ya Verne.. Kalau besok aku pasti tidak bisa mengajakmu keluar.
Ada janji dengan client. Mungkin besok lusa ya.. Aku ke rumahmu malam."
"Oh.. Besok gak bisa ya? Aku available-nya cuma sampai besok lusa malam. Pagi-pagi aku sudah pulang ke kotaku.."
"Oh gitu? Ya besok lusa aja deh. Gimana kalau kita ke hotel saja?"
"Tak masalah. Tapi tidak bisa menginap lho. Soalnya paginya aku sudah harus pulang.."
Aku mulai menghitung waktu. Kesibukanku yang luar biasa sangat
menguras fisikku. Aku tiba-tiba kuatir tidak bisa memuaskan Verne.
Bagaimana jika nanti aku lemah? Aku pun menulis SMS lagi ke Verne.
"Tapi kalau aku capek, kita tidak usah ke hotel ya? Daripada
belum-belum aku sudah ejakulasi.. Kan kasihan kamunya kalau tidak bisa
orgasme.."
"Aku tidak mengejar orgasme, Boy. Bagaimana kalau aku bilang,
sangat sulit membuatku orgasme? Aku suka aktifitasnya. Cium, peluk,
have sex, making love.. Aku tidak mengejar orgasmenya.."
Aku jadi bingung sendiri. Aku tidak mungkin melepas pekerjaanku,
tetapi aku juga tidak ingin melepas kesempatan bercinta dengan salah
satu pembaca sumbercerita.com ini yang sudah jauh-jauh ke datang kotaku. Aku
masih berpikir ketika SMS dari Verne datang lagi.
"Boy.. Ini one nite stand pertamaku. Aku ke kotamu belum tentu 1
tahun sekali. Mungkin kita tidak akan punya kesempatan ke dua
kalinya.."
"Aku cuma kuatir nanti akan mengecewakanmu.." balasku.
"Boy, bukankah seharusnya yang memutuskan kecewa atau tidak itu
aku? Jangan seperti itu.. karena justru membuatku kepikiran. Make no
sense banget deh.."
Ya, Verne benar. Kesempatan di depan mata yang mungkin tidak akan terulang lagi tidak boleh disia-siakan.
"Oke deh.. Besok jam 5 sore aku jemput. Kita ke hotel short time
saja. Oh ya Verne.. Pasanganmu biasanya pake kondom tidak? Aku terbiasa
pake kondom. Demi menjaga kesehatan dan mencegah kehamilan" tulisku
lagi di SMS.
"Boy, aku minum pil anti hamil kok. Aku juga bersih, bebas penyakit."
"Aku juga sehat, Verne.. Soalnya aku baru 1x tanpa kondom, dengan Cie Yeni itu.." kataku.
"Boy, ini one nite stand pertamaku. Selama ini aku having sex
dengan orang yang sudah kukenal lama. Jadi, kalau kamu mau pake kondom,
itu better for me."
Ya, pikiran Verne sama denganku. Kami belum saling kenal sebelumnya. Resiko terkena penyakit cukup besar.
"Wah.. Thanks Verne. Tadi aku kuatir menyinggung perasaanmu. Kalau
gitu aku akan pakai kondom saja.. Oh ya, u aktif atau pasif waktu ML?"
"Aku tergantung pasanganku. Bisa aktif bisa pasif. Kamu suka cewek yang seperti apa Boy?"
"Aku suka cewek aktif. Boleh agresif boleh tidak. Tetapi yang penting aktif. Kalau oral atau dioral kamu suka?"
"Aku suka dioral kalau enak.. Kalau mengoral aku bisa cuma tidak pandai. Kalau kamu?"
"Aku suka dioral. Kalau mengoral, aku mau saja tapi agak sensitif dengan bau.." kataku.
"Oh ya? Aku tidak pernah dikomplain soal bauku kok.." kami terus
mengobrol sampai larut malam sampai akhirnya Verne kehabisan pulsa.
*****
Besok sorenya aku jemput Verne dan segera ke hotel untuk check in
short time. Verne tampil sexy dengan tank top dan celana jeans. Lipstik
tipis, mascara dan bedak tipis membuatnya lebih cantik. Di sepanjang
jalan aku tidak banyak bicara. Aku lebih banyak berpikir bagaimana
nanti aku bisa memuaskannya. Aku merasakan tubuhku tidak fit. Tetapi
memikirkan bergumul dengan wanita yang sekarang duduk di sebelahku di
mobil, membuatku segar. Asyik.. Sebentar lagi aku bercinta lagi. Sudah
lama aku tidak bercinta. Sekitar 2 bulan.
Sampai di kamar hotel aku memesan air mineral dan menyalakan televisi. Verne duduk di tepi ranjang setelah meletakkan tasnya.
"Wah.. Aku nervous, Boy.." katanya.
Aku terkejut. Wanita ini nervous! Haha.. Ada-ada saja. Tapi aku
memahaminya. Ini adalah pertama kalinya Verne hendak ML dengan orang
yang belum lama dikenalnya. Pasti ada keragu-raguan dan banyak pikiran
yang membuatnya nervous. Aku harus berusaha menenangkannya. Perlahan tanganku meraih pinggangnya yang terbuka. Aku mengusapnya lembut. Verne agak kegelian. Dia memegang tanganku.
"Wah.. Kok bisa nervous ya. Padahal waktu ML pertama kali saja tidak nervous.."
Aku hendak menjawabnya ketika room boy datang membawa minuman yang
kupesan. Aku minum sedikit lalu berbaring. Verne masih kaku duduk di
pinggir ranjang. Akhirnya kutarik tubuhnya untuk berbaring. Maksudku
ingin membuatnya rileks dengan berbaring. Setelah Verne berbaring, aku
menghampiri lehernya dan menghembuskan nafasku pelan-pelan. Verne
melenguh. Dia membalikkan badannya dan mulai mencium bibirku.
Aku membalasnya dengan hangat. Bibir Verne penuh. Dia mahir sekali
melumat bibirku sambil menghisap. Enak, guys! Kami beradu bibir, lidah
dan seluruh mulut. Saling melumat, menjilat dan menghisap. Kurasakan
nafas Verne mulai memburu. Ciuman bibir kami terlepas. Aku mulai
mencari titik erotis di wajahnya. Mulai dahi, pipi, leher kucium.
Reaksinya biasa saja. Waktu aku mencapai telinganya, desahannya semakin
keras. Telinganya sensitif. Kami bercumbu terus. Aku berkonsentrasi di
bibir dan telinganya. Tanganku memegang kepalanya. Tangan Verne
bergerak meraba perutku dan naik menuju dadaku. Dia meraba-raba dan
memainkan puting dadaku. Geli dan lumayan enak.
Kami berciuman cukup lama. Tanganku bergerak meraih kait bra-nya.
Ternyata sulit terbuka! Verne tertawa. Dia kemudian melepas tank top
dan bra-nya. Aku menelan ludah melihat payudara 36B-nya. Wow! Putingnya
merah menantang sangat menonjol. Baru kali ini aku melihat puting
seseksi itu. Aku tidak segera meraih payudaranya. Aku terlebih dahulu
menikmati dengan melihatnya. Kuraba bagian tengah dadanya. Turun ke
perutnya. Membuat gerakan melingkar membuatnya menggelinjang geli. Naik
merayap ke lembah payudaranya. Verne mengira aku akan meraih putingnya.
Ternyata dia salah. Aku hanya berputar-putar di payudaranya tanpa
memberikan tekanan apapun..
"Uh.. Jahat.." bisik Verne.
Ya, belum saatnya meraih payudaranya. Aku kembali menciumnya. Turun
ke leher dan merayap ke dadanya. Hidungku menelurusi payudaranya dan
tiba di putingnya. Kemudian kuturunkan kepalaku. Lidahku menjilat
melingkar di perut, naik ke payudaranya, berputar-putar seperti pendaki
gunung yang berusaha mencapai puncak. Tubuh Verne mulai gelisah. Aku
tahu dan mulai menjilat puncak putingnya dengan seluruh lidahku.
Penuh..
"Aach.." Verne mengerang.
Aku menjilat dan mulai menghisap putingnya. Tanganku bergerak
memijat punggungnya. Kemudian pinggang dan perutnya. Aku berusaha
membuat aliran darahnya merata di semua bagian tubuhnya. Verne
menggelinjang terus saat kupijat dan kuraba punggungnya. Jariku membuat
gerakan sangat halus hingga membuat saraf-sarafnya bereaksi. Darahnya
mengalir lebih cepat dan Verne semakin terangsang. Tubuhnya bergetar
menahan rangsangan di punggungnya. Aku menahannya dengan tanganku, tak
membiarkannya terlepas. Titik erotisnya banyak tersebar di punggung.
Karena itu guratan jariku di punggungnya membuat Verne semakin
terangsang.
Perlahan aku menurunkan celana dalamnya. Wow.. Vagina yang seksi
terpampang di depan wajahku. Persis di mukaku! Vaginanya halus tanpa
ada bulu. Verne mencukur bersih vaginanya. Aku menciumnya. Hmm.. Tidak
bau. Hanya ada aroma khas vagina yang memang sudah seharusnya ada. Aku
menjulurkan lidahku. Menjilatnya sepenuh hati. Semua jadi sasaranku.
Labia mayora, labia minora, dan akhirnya aku menyerang klitorisnya.
Daging berwarna merah muda di tempat bibir dalam vaginanya bertemu itu
kujilat habis-habisan.
"Oh Yess.." desah Verne.
Tubuhnya mulai bergetar hebat. Aku terus menjilatnya sambil
sesekali menghisapnya. Kepalaku tepat berada di antara kedua kakinya.
Lama-kelamaan kakinya menjepit kakiku. Jepitan yang mulanya biasa,
sampai akhirnya jepitannya kuat sekali.
"Argh.. Oh God.. Ah.. Ah.." desah Verne. Aku makin bersemangat menjilatnya.
"Aku nggak kuat, Boy.. Argh.."
Verne makin kuat mendesah dan mengerang.. Siapa peduli? Aku akan
menyiksanya lebih jauh lagi dengan kenikmatan yang dahsyat. Dalam..
Tidak terlupakan. Tubuh Verne menggelinjang makin kuat.
"Ogh.. Boy, aku tak tahan.. Sudah! Sudah!"
Kakinya melepas jepitannya. Tapi aku malah menahan kakinya dan
terus menjilatnya. Siksaan nikmat ini harus kulakukan. Verne berteriak
makin kuat. Akhirnya dia bangun. Kakinya tak dapat kutahan lagi. Dia
bangun dan menerkamku.
"Aku nggak kuat lagi, Boy!" raung Verne.
Tubuhku ditariknya berbaring dan dia menindihku dari atas.
Tangannya mencari penisku dan berusaha memasukkannya ke vaginanya..
Astaga! Penisku masih belum sempurna ereksinya. Otomatis penetrasi
gagal dilakukan. Sangat sulit masuk ke vagina kalau penis tidak cukup
keras. Perlahan, bukannya mengeras, penisku justru semakin loyo! Apa
yang kutakutkan terjadi. Fisikku yang sedang kelelahan membuat penisku
gagal ereksi.
"Bantu aku, Verne.." kataku shock.
Aku malu sekali. Verne meraih penisku dan meremasnya. Kemudian dia mengoralku. Gagal. Penisku makin tidur. Aku makin shock.
"Sudah, Verne.. Nanti saja.." kataku pelan.
Aku seperti jatuh dari lantai tingkat sepuluh dan jatuh dengan
keras ke bumi. Sakit, malu dan sangat terkejut. Ini adalah pertama
kalinya aku gagal ereksi. Ke Bagian 2
| Title | Author | Views |
| Cerita Remaja 2: Nakalnya Mama Andre |
Joko Susilo |
188,766 |
| Selingkuh Dengan Istri Teman |
roy_takeshi@yahoo.com |
102,313 |
| Pembantu Hasrat |
dark.blackest@yahoo.co.id |
97,970 |
| Pengalamanku Dengan Suami Orang |
deknas@yahoo.com |
78,402 |
| Pantat Bahenol Mbak Surti |
radhiepatahdenkul@gmail.com |
75,760 |
| Perawatku yang Seksi |
syidi_theman@astaga.com |
75,304 |
| Syahwat di Celah Dinding Rumah Kontrakan - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
67,681 |
| Sperma Lelaki Lain di Celana Dalam Istriku – 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
63,663 |
| Pesona Iparku Yang Mempesona |
priaasli@yahoo.com |
62,523 |
| Warnet Hot - Buka Perawan |
ipank.metal@gmail.com |
61,918 |
| Perselingkuhan Istri Muda - 1 |
ab1071@yahoo.com |
61,069 |
| Shinta Sang Sekretaris |
wirlise@crb.elga.net.id |
60,731 |
| Tetanggaku Sayang |
M. Hakim |
56,367 |
| Penjual DVD Cantik |
ebiznet88@yahoo.com |
54,847 |
| Pengalaman Pertamaku Bercinta |
deknas@yahoo.com |
54,248 |
|
|
|
|
|
|
|