|
|
Mungkin pembaca bertanya-tanya kenapa aku
menceritakan kisah yang sebenarnya memalukan bila diketahui orang lain
ini? Aku sendiri sesungguhnya juga bingung kenapa aku nekad
menceritakan kisah ini pada para pembaca. Tetapi yang jelas seperti ada
sensasi tersendiri yang kurasakan bila kisah gila ini dapat dibaca oleh
banyak orang. Apalagi melalui internet, identitasku jelas tidak akan
diketahui oleh orang lain.
Sebelum kupaparkan kisah gilaku ini, ada baiknya aku memperkenalkan
sedikit identitasku pada para pembaca. Agar ketika membaca kisah nyata
ini, para pembaca mempunyai bayangan yang jelas bagaimana pelaku
(sekaligus penulis) dalam kisah yang sangat sensasional ini.
Sebut saja namaku Riri, seorang wanita yang saat ini berusia 27
tahun dan telah bersuami. Menurut banyak teman, aku adalah seorang
perempuan yang cukup cantik dengan kulit putih bersih. Walaupun
demikian, postur tubuhku sebenarnya terhitung ramping dan kecil. Tinggi
badanku hanya 154 cm. Tetapi meskipun bertubuh ramping, pantatku cukup
bulat dan berisi. Sedangkan buah dadaku yang hanya berukuran 34 juga
nampak padat dan serasi dengan bentuk tubuhku.
Aku bekerja sebagai karyawati staf accounting pada sebuah toserba
yang cukup besar di kotaku. Sehingga aku mengenal banyak relasi dari
para pekerja perusahaan lain yang memasok barang ke toko tempatku
bekerja. Dari sinilah kisah yang akan kupaparkan ini terjadi.
Sebagai seorang istri, aku sebenarnya merupakan tipe istri yang
sangat setia pada suami. Aku selalu berprinsip, tidak ada lelaki lain
yang menyentuh hati dan tubuhku, kecuali suamiku yang sangat kucintai.
Dan sebelum kisah ini terjadi, aku memang selalu dapat menjaga
kesetiaanku. Jangankan disentuh, tertarik dengan lelaki lain pun
merupakan pantangan bagiku.
Tetapi begitulah, beberapa bulan terakhir, justru suamiku mempunyai
khayalan gila. Ia seringkali mengatakan padaku, ia selalu terangsang
jika membayangkan diriku bersetubuh dengan lelaki lain. Entahlah,
mungkin ia terpengaruh dengan cerita kawan-kawannya. Atau mungkin juga
termakan oleh bacaan-bacaan seks yang sering dibacanya. Pada awalnya,
aku jengkel setiap kali ia mengatakan hal itu padaku. Namun lama
kelamaan, entah kenapa, aku juga mulai terangsang oleh
khayalan-khayalannya.
Setiap ia mengatakan dirinya ingin melihat aku digumuli lelaki
lain, tiba-tiba dadaku berdebar-debar. Tanda kalau aku juga mulai
terangsang dengan fantasinya itu. Bersamaan dengan itu di toko tempatku
bekerja, aku semakin akrab dengan seorang karyawan perusahaan
distribusi yang biasa datang memasok barang. Sebutlah namanya Mas Roni.
Ia seorang lelaki berbadan tinggi besar dan cukup atletis, tingginya
lebih dari 180 cm. Sedang usia sekitar 35 tahun. Sungguh aku tidak
pernah mempunyai pikiran atau perasaan tertarik padanya.
Pada awalnya hubunganku, biasa-biasa saja. Keakrabanku sebatas
hubungan kerja. Namun begitulah, Mas Roni yang berstatus duda itu
selalu bersikap baik padaku. Kuakui pula, ia merupakan pria yang
simpatik. Ia sangat pandai mengambil hati orang lain. Begitu
perhatiannya pada diriku, Mas Roni seringkali memberikan hadiah padaku.
Misalnya pada saat lebaran dan tahun baru, Mas Roni memberiku bonus
yang cukup besar. Padahal karyawan lain di tokoku tidak satupun yang
mendapatkannya. Bahkan saat datang ke tokoku, ia kadang bersedia
membantu pekerjaanku. Mas Roni dapat saja melakukan itu sebab ia sangat
akrab dengan bosku.
Hingga suatu ketika, sewaktu aku sedang menghitung keuangan bulanan perusahaan, tiba-tiba Mas Roni muncul di depan meja kerjaku.
"Aduh sibuknya, sampai nggak lihat ada orang datang," sapa Mas Roni klise.
"Eh, sorry Mas, ini baru ngitung keuangan akhir bulan," jawabku.
"Jangan terlalu serius, nanti nggak kelihatan cakepnya lho..!" Mas Roni masih bergurau.
"Ah, Mas Roni bisa aja," aku menjawab pendek sambil tetap berkonsentrasi ke pekerjaanku.
Setelah itu seperti biasanya, di sela-sela pekerjaanku, aku dan Mas
Roni mengobrol dan bersendau-gurau ke sana kemari. Tidak terasa sudah
satu jam aku mengobrol dengannya.
"Ri, aku mau ngasih hadiah tahun baru, Riri mau terima nggak?" tanyanya tiba-tiba.
"Siapa sih yang nggak mau dikasih hadiah. Mau dong, asal syaratnya hadiahnya yang banyak lho," jawabku bergurau.
"Aku juga punya syarat lho Ri. Hadiah itu akan kuberikan kalau Riri mau memejamkan mata. Mau nggak?" tanyanya lagi.
"Serius nih? Oke kalau cuman itu syaratnya aku mau," kataku sambil menejamkan mata.
"Awas jangan buka mata sampai aku memberi aba-aba..!" kata Mas Roni lagi.
Sambil terpejam, aku penasaran hadiah apa yang akan diberikannya.
Tetapi, ya ampun, pada saat mataku terpejam, tiba-tiba aku merasakan
ada benda yang lunak menyentuh bibirku. Tidak hanya menyentuh, benda
itu juga melumat bibirku dengan halus. Aku langsung tahu, Mas Roni
tengah menciumku. Maka aku langsung membuka mata. Dari sisi meja di
hadapanku, Mas Roni membungkuk dan menciumi diriku. Tetapi anehnya,
setelah itu aku tidak berusaha menghindar.
Untuk beberapa lama, Mas Roni masih melumat bibirku. Kalau mau
jujur aku juga ikut menikmatinya. Bahkan beberapa saat secara refleks
aku juga membalas melumat bibir Mas Roni. Sampai kemudian aku sadar,
lalu kudorong dada Mas Roni hingga ia terjengkang ke belakang.
"Mas, seharusnya ini nggak boleh terjadi," kataku dengan nada tergetar menahan malu dan sungkan yang menggumpal di hatiku.
Mas Roni terdiam beberapa saat.
"Maaf Ri, mungkin aku terlalu nekat. Seharusnya aku sadar kamu
sudah menjadi milik orang lain. Tetapi inilah kenyataannya, aku sangat
sayang padamu Ri," ujarnya dengan lirih sambil meninggalkanku.
Seketika itu aku merasa sangat menyesal. Aku merasa telah
menghianati suamiku. Tetapi uniknya peristiwa semacam itu masih
terulang hingga beberapa kali. Beberapa kali kesempatan Mas Roni
berkunjung ke tokoku, ia selalu memberiku 'hadiah' seperti itu. Tentu,
itu dilakukannya jika kawan-kawanku tidak ada yang melihat. Meskipun
pada akhirnya aku menolaknya, namun anehnya, aku tidak pernah marah
terhadap tindakan Mas Roni itu.
Entahlah, aku sendiri bingung. Aku tidak tahu, apakah ini
dikarenakan pengaruh khayalan suamiku yang terangsang jika membayangkan
aku berselingkuh. Ataukah karena aku jatuh cinta pada Mas Roni. Sekali
lagi, aku tidak tahu. Bahkan dari hari ke hari, aku semakin dekat dan
akrab dengan Mas Roni.
Hingga pada suatu saat, Mas Roni mengajakku jalan-jalan. Awalnya
aku selalu menolaknya. Aku khawatir kalau kedekatanku dengannya menjadi
penyebab perselingkuhan yang sebenarnya. Tetapi karena ia selalu
mendesakku, akhirnya aku pun menerima ajakkannya. Tetapi aku mengajukan
syarat, agar salah seorang kawan kerjaku juga diajaknya. Dengan
mengajak kawan, aku berharap Mas Roni tidak akan berani melakukan
perbuatan yang tidak-tidak.
Begitulah, pada hari Minggu, aku dan Mas Roni akhirnya jadi
berangkat jalan-jalan. Agar suamiku tidak curiga, aku katakan padanya,
hari itu aku ada lemburan hingga sore hari. Selain aku dan Mas Roni,
ikut juga kawan kerjaku, Yani dan pacarnya. Oh ya, berempat kami
mengendarai mobil inventaris perusahaan Mas Roni. Berempat kami
jalan-jalan ke suatu lokawisata pegunungan yang cukup jauh dari kotaku.
Kami sengaja memilih tempat yang jauh dari kotaku, agar tidak
mengundang kecurigaan tetangga, keluarga dan terutama suamiku.
Setelah lebih dari satu jam kami berputar-putar di sekitar lokasi
wisata, Mas Roni dan pacar Yani mengajak istirahat di sebuah losmen.
Yani dan pacarnya menyewa satu kamar, dan kedua orang itu langsung
hilang di balik pintu tertutup. Maklum keduanya baru dimabuk cinta. Aku
dengan suamiku waktu pacaran dulu juga begitu, jadi aku maklum saja.
Mas Roni juga menyewa satu kamar di sebelahnya. Aku sebenarnya juga berniat menyewa kamar sendiri tetapi Mas Roni melarangku.
"Ngapain boros-boros, kalau sekedar istirahat satu kamar saja. Tuh, bed-nya ada dua," ujarnya.
Akhirnya aku mengalah. Aku numpang di kamar yang disewa Mas Roni.
Kami mengobrol tertawa cekikikan membicarakan Yani dan pacarnya di
kamar sebelah. Apalagi, Yani dan pacarnya seperti sengaja
mendesah-desah hingga kedengaran di telinga kami. Sejujurnya aku
deg-degan juga mendengar desahan Yani yang mirip dengan suara orang
terengah-engah itu. Entah kenapa dadaku semakin berdegup kencang ketika
aku mendengar desahan Yani dan membayangkan apa yang sedang mereka
lakukan di kamar sebelah. Untuk beberapa saat, aku dan Mas Roni diam
terpaku.
Tiba-tiba Mas Roni menarik tanganku hingga aku terduduk di pangkuan
Mas Roni yang saat sedang duduk di tepi tempat tidur. Tanpa berkata
apa-apa dia langsung mencium bibirku. Aku tidak sempat menghindar,
bahkan aku juga membiarkan ketika bibir dan kumis Mas Roni menempel ke
bibirku hingga beberapa saat. Dadaku semakin berdegup kencang ketika
kurasakan bibir Mas Roni melumat mulutku. Lidah Mas Roni menelusup ke
celah bibirku dan menggelitik hampir semua rongga mulutku. Mendapat
serangan mendadak itu darahku seperti berdesir, sementara bulu
tengkukku merinding.
Namun tiba-tiba timbul kesadaranku. Kudorong dada Mas Roni supaya ia melepas pelukannya pada diriku.
"Mass, jangan Mas, ini nggak pantas kita lakukan..!" kataku terbata-bata.
Mas Roni memang melepas ciumannya di bibirku, tetapi kedua
tangannya yang kekar dan kuat itu masih tetap memeluk pinggang
rampingku dengan erat. Aku juga masih terduduk di pangkuannya.
"Kenapa nggak pantas, toh aku sama dengan suamimu, yaitu sama-sama mencintaimu," ujar Mas Roni yang terdengar seperti desahan.
Setelah itu Mas Roni kembali mendaratkan ciuman. Ia menjilati dan
menciumi seluruh wajahku, lalu merembet ke leher dan telingaku. Aku
memang pasif dan diam, namun perlahan tapi pasti nafsu birahi semakin
kuat menguasaiku. Harus kuakui, Mas Roni sangat pandai mengobarkan
birahiku. Jilatan demi jilatan lidahnya di leherku benar-benar telah
membuat diriku terbakar dalam kenikmatan. Bahkan dengan suamiku
sekalipun aku belum pernah merasakan rangsangan sehebat ini.
Mas Roni sendiri nampaknya juga mulai terangsang. Aku dapat
merasakan napasnya mulai terengah-engah. Sementara aku sendiri semakin
tidak kuat untuk menahan erangan. Maka aku pun mendesis-desis untuk
menahan kenikmatan yang mulai membakar kesadaranku. Setelah itu
tiba-tiba tangan Mas Roni yang kekar itu membuka kancing bajuku. Tak
ayal lagi, buah dadaku yang berwarna putih bersih itu terbuka di depan
Mas Roni. Secara refleks aku masih berusaha berontak.
"Cukup, Mas jangan sampai ke situ. Aku takut," kataku sambil meronta dari pelukannya.
"Takut dengan siapa Ri, toh nggak ada yang tahu. Percayalah denganku," jawab Mas Roni dengan napas yang semakin memburu.
Seperti tidak perduli dengan protesku, Mas Roni yang telah melepas
bajuku, kini ganti sibuk melepas BH-ku. Meskipun aku masih berusaha
meronta, namun itu tidak berguna sama sekali. Sebab tubuh Mas Roni yang
besar dan kuat itu mendekapku sangat erat.
Kini, dipelukan Mas Roni, buah dadaku terbuka tanpa tertutup
sehelai kain pun. Aku berusaha menutupi dengan mendekapkan lengan di
dadaku, tetapi dengan cepat tangan Mas Roni memegangi lenganku dan
merentangkannya. Setelah itu Mas Roni mengangkatku dan merebahkannya di
tempat tidur. Tanpa membuang waktu, bibir Mas Roni melumat salah satu
buah dadaku, sementara salah satu tangannya juga langsung meremas-remas
buah dadaku yang lainnya. Bagai seekor singa buas ia menjilati dan
meremas buah dada yang kenyal dan putih ini.
Kini aku tidak dapat berbuat apa-apa lagi selain megap-megap dan
mengerang karena kenikmatan yang mencengkeram diriku. Aku
menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan karena rasa geli dan nikmat
ketika bibir dan lidah Mas Roni menjilat dan melumat puting susuku.
"Ri, da.. dadamu putih dan in.. indah sekali. A.. aku makin nggak
ta.. tahan.., sayang..," kata Mas Roni terputus-putus karena nafsu
birahi yang semakin memuncak.
Kemudian Mas Roni juga menciumi perut dan pusarku. Dengan lidahnya,
ia pandai sekali menggelitik buah dada hingga perutku. Sekali lagi aku
hanya mendesis-desis mendapat rangsangan yang menggelora itu. Kemudian
tanpa kuduga, dengan cepat Mas Roni melepaskan celana dan celana
dalamku dalam satu tarikan. Lagi-lagi aku berusaha melawan, tetapi
dengan tubuh besar dan tenaga kuat yang dimiliki Mas Roni, dengan mudah
ia menaklukkan perlawananku.
Sekarang tubuhku yang ramping dan berkulit putih ini benar-benar
telanjang total di hadapan Mas Roni. Sungguh, aku belum pernah
sekalipun telanjang di hadapan lelaki lain, kecuali di hadapan suamiku.
Sebelumnya aku juga tidak pernah berpikir melakukan perbuatan seperti
ini. Tetapi kini, Mas Roni berhasil memaksaku, sementara aku seperti
pasrah saja tanpa daya.
"Mas, untuk yang satu ini jangan Mas, aku tidak ingin merusak
keutuhan perkawinanku..!" pintaku sambil meringkuk di atas tempat
tidur, untuk melindungi buah dada dan vaginaku yang kini tanpa penutup.
"Ri.. apa.. kamu.. nggak kasihan padaku sayang.., aku sudah
terlanjur terbakar.., aku nggak kuat lagi, sayang. Please, aku..
mohon," kata Mas Roni masih dengan terbata-bata dan wajah yang memelas.
Entah karena aku tidak tega atau karena aku sendiri juga sudah
terbakar birahi, aku diam saja ketika Mas Roni kembali menggarap
tubuhku. Bibir dan salah satu tangannya menggarap kedua buah dadaku,
sementara tangan yang satunya lagi mengusap-usap paha dan selangkangan
kakiku. Mataku benar-benar merem-melek merasakan kenikmatan itu.
Sementara napasku juga semakin terengah-engah.
Tiba-tiba saja Mas Roni beranjak dan dengan cepat melepas semua
pakaian yang menempel di tubuhnya. Kini ia sama denganku telanjang
bulat-bulat. Ya ampun, aku tidak dapat percaya, kini aku telanjang
dalam satu kamar dengan lelaki yang bukan suamiku, ohh. Aku melihat
tubuh Mas Roni yang memang atletis, besar dan kekar. Ia jauh lebih
tinggi dan lebih besar dibanding suamiku yang berperawakan
sedang-sedang saja.
Tetapi yang membuat dadaku berdegup lebih keras adalah benda di
selangkangan Mas Roni. Benda yang besarnya hampir sama dengan lenganku
itu berwarna coklat tua dan kini tegak mengacung. Panjangnya kutaksir
tidak kurang dari 22 cm, atau hampir dua kali lipat dibanding milik
suamiku, sementara besarnya sekitar 3 sampai 4 kali lipatnya. Sungguh
aku hampir tidak percaya ada penis sebesar dan sepanjang itu.
Perasaanku bercampur baur antara ngeri, gemas dan penasaran.
Kini tubuh telanjang Mas Roni mendekapku. Darahku seperti terkesiap
ketika merasakan dada bidang Mas Roni menempel erat dadaku. Ada sensasi
hebat yang melandaku, ketika dada yang kekar itu merapat dengan
tubuhku. Ohh, baru kali ini kurasakan dekapan lelaki lain selain
suamiku. Ia masih terus menciumi sekujur tubuhku, sementara tangannya
juga tidak kenal lelah meremas-remas buah dadaku yang semakin kenyal.
Sekali lagi, sebelumnya tidak pernah kurasakan sensasi dan rangsangan
sedahsyat ini.
Aku tersentak ketika kurasakan ada benda yang masuk dan menggelitik
lubang vaginaku. Ternyata Mas Roni nekat memasukkan jari tangannya ke
celah vaginaku. Ia memutar-mutarkan telunjuknya di dalam lubang
vaginaku, sehingga aku benar-benar hampir tidak kuat lagi menahan
kenikmatan yang menderaku. Mendapat serangan yang luar biasa nikmat
itu, secara refleks aku memutar-mutarkan pantatku. Toh, aku masih
berusaha menolaknya.
"Mas, jangan sampai dimasukkan jarinya, cukup di luaran saja..!" pintaku.
Tetapi lagi-lagi Mas Roni tidak menggubrisku. Ia selanjutnya
menelusupkan kepalanya di selangkanganku, lalu bibir dan lidahnya tanpa
henti melumat habis vaginaku. Aku tergetar hebat mendapat rangsangan
ini. Tidak kuat lagi menahan kenikmatan itu, tanpa sadar tanganku
menjambak rambut Mas Roni yang masih terengah-engah di selangkanganku.
Kini aku benar-benar telah tenggelam dalam birahi.
Bersambung ke bagian 02
| Title | Author | Views |
| Cerita Remaja 2: Nakalnya Mama Andre |
Joko Susilo |
234,648 |
| Selingkuh Dengan Istri Teman |
roy_takeshi@yahoo.com |
121,161 |
| Pantat Bahenol Mbak Surti |
radhiepatahdenkul@gmail.com |
108,069 |
| Pembantu Hasrat |
dark.blackest@yahoo.co.id |
106,480 |
| Perawatku yang Seksi |
syidi_theman@astaga.com |
85,346 |
| Pengalamanku Dengan Suami Orang |
deknas@yahoo.com |
85,027 |
| Perselingkuhan Istri Muda - 1 |
ab1071@yahoo.com |
83,959 |
| Syahwat di Celah Dinding Rumah Kontrakan - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
74,679 |
| Shinta Sang Sekretaris |
wirlise@crb.elga.net.id |
70,966 |
| Sperma Lelaki Lain di Celana Dalam Istriku – 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
70,511 |
| Pesona Iparku Yang Mempesona |
priaasli@yahoo.com |
68,931 |
| Warnet Hot - Buka Perawan |
ipank.metal@gmail.com |
67,843 |
| Kesempatan dalam Kesempitan |
zaibatsu22@hotmail.com |
64,418 |
| Mbah Blabar Dukun Cabul - 2 |
marini_adit@yahoo.com |
63,282 |
| Pengalaman Pertamaku Bercinta |
deknas@yahoo.com |
61,867 |
|
|
|
|
|
|
|