|
|
Hubunganku dengan wanita-wanita yang menjadi
sex partnerku biasanya berlangsung lama, bahkan ada beberapa yang
sampai mencapai bilangan tahunan. Hal ini akan menjadikan kami lebih
saling mengetahui, mengerti keinginan masing-masing lebih detail, namun
ada pula beberapa yang merupakan hubungan One Night Stand. Untuk
hubungan seperti itu, biasanya aku tidak akan mengeluarkan teknik
permainanku habis-habisan tapi tetap berkualitas.
Cerita berikut adalah satu dari beberapa One Night Stand yang pernah aku alami.
*****
Tugas dari kantor baruku beberapa tahun yang lalu, mengharuskan aku
sering bepergian seputar Asia Tenggara. Di antaranya yang paling sering
aku kunjungi adalah Malaysia karena prospek di sana yang masih terbuka
untuk produksi barang yang aku pasarkan yang buatan Amerika ini, juga
karena produk ini masih merupakan barang baru di sana walau pun di
Indonesia sudah dikenal sejak tahun 90-an.
Setiap kali ke Malaysia, aku selalu tinggal disekitar KL atau PJ,
berbagai hotel berbintang aku jelajahi minimal bintang 4. Rate hotel di
sana waktu itu mungkin merupakan rate yang termurah di ibukota
negara-negara Asia Tenggara, bayangkan dengan cara Go Show tanpa
reservasi atau tanpa corporate rate, sebuah kamar standard di hotel
bintang 5 pusat kota KL hanya sekitar US$ 100, sedangkan dengan
corporate rate bisa didapat dengan $60 paling mahal. Aku selalu
menggunakan corporate rate kawan bisnisku di PJ.
*****
November 2001 Aku tiba siang hari di KLIA, dengan menggunakan taxi, aku check-in
di Mandarin Oriental, samping KLCC dan Petronas Tower, gedung kembar
tertinggi di dunia, kali ini aku akan tinggal 1 malam di Malaysia.
Sorenya setelah menemui customer di kantornya yang terletak di
seputaran Petronas Tower, aku kembali ke hotel jam 6.30 sore. Setelah
beristirahat sejenak, aku menyegarkan tubuhku di shower lalu
bersiap-siap pergi ke Beach Club untuk bertemu dengan kawan bisnisku
jam 8 malam.
Namanya Beach Club, tapi bukan berada di pantai, terletak tidak
jauh dari Mandarin, hanya berjalan kaki sekitar 5 menit, sepanjang
jalan sekitar 300 m itu, terdapat berbagai club dan disco, dari mulai
seberang hotel Shangrila pojok Jl Sultan Ismail sampai ujung Modesto
dekan Mandarin mungkin ada kira kira 15 tempat hiburan.
Beach Club adalah club paling ramai dikunjungi, saat jam 8 waktu
aku tiba, tempat itu telah penuh sesak dan hingar bingar, bentuk club
sedemikian terbuka hingga orang yang berjalan kaki di trotoarnya, bisa
melihat ke dalam serta dentuman musik yang keras terdengar sampai
jalanan padahal bukan weekend.
Aku bertemu dengan kawanku di tengah sesaknya jalan masuk dan
hampir tidak ada tempat duduk kosong sehingga kami berdiri sambil
mengobrol dengan sedikit berteriak. Banyak gadis belasan tahun sampai
yang usia 30-an di sana, minum, bercengkrama sambil menikmati lagu-lagu
yang dibawakan oleh Disc Jockeynya.
Jam menunjukkan pukul 10:30 malam, tiba tiba di balik seberang bar
dari tempatku berdiri, sekelebat aku menangkap mata seorang wanita yang
sedang memperhatikan aku, tapi tak kuperhatikan. Karena rasa penasaran
aku menoleh lagi, ternyata dia agak tersenyum, kubalas dengan senyuman
pula. Ketika itu aku terlintas di pikiranku dengan kuat bahwa aku
pernah bertemu dengan wanita itu, tapi aku tidak pernah ingat dimana
walaupun aku telah berpikir dengan keras.
Untuk mendatangi? Terus terang aku kurang berani untuk mendatangi
dan berkenalan dengan wanita, mungkin aku harus lebih PD ya, biasanya
yang aku lakukan hanyalah memandang dari kejauhan seperti yang
kulakukan saat itu. Kulihat dia bergerombol kira kira 9 orang pria dan
wanita.
Akhirnya pada pukul 12 aku kembali ke hotel dan tidur, esok aku
harus melakukan presentasi produk. Malamnya masih sempat aku buka
komputerku untuk membaca email yang masuk.
Esoknya presentasi dilakukan di lantai 19 di samping Petronas
Tower, sehingga aku hanya berjalan kaki melewati pintu samping KLCC dan
keluar di ujung pintu yang lain untuk mencapai gedung yang aku tuju.
Ternyata presentasi tersebut selesai pukul 14:30. Berarti aku bisa
mengejar pesawat MAS terakhir kembali ke Jakarta. Aku bergegas kembali
kehotel untuk check-out. Tetapi perut terasa lapar, karena di tempat
presentasi hanya disuguhi minum saja.
Akhirnya aku mampir di sebuah restoran untuk makan seadanya
mengganjal perutku. Saat aku menikmati makanan, sekilas aku lihat
seseorang mendatangiku.
"Kamu Virano kan..", seorang wanita dalam bahasa Indonesia menegurku, kalau bahasa Malaysia aku pasti dipanggik encik
Aku tengok, ternyata dia wanita yang aku lihat tadi malam di Beach Club, wah ternyata dia orang Indonesia
"Seratus buat kamu.. Saya memang Virano.. Kamu siapa ya? Kamu yang
ada di Beach Club tadi malam ya? Kamu dari Indonesia? Tinggal di sini
atau sedang berkunjung? Sendiri? Mana gengnya yang semalam? Sud.."
"Stop stop stop, itu ada 20 pertanyaan, yang mau dijawab yang mana dulu nih he he he.." dia tertawa.
Aku baru sadar bahwa mulutku yang nyerocos bagai mitraliur
melontarkan pertanyaan pertanyaan klasik padanya. Aku ulurkan tanganku
dan berjabat tangan sambil menariknya untuk duduk di hadapanku.
"OK, sekarang pertanyaan pertama, kamu siapa?" tanyaku sambil aku
panggil waiter dan menawarkan dia untuk memesan, dia hanya memesan
minuman saja, karena sudah makan katanya.
"Ratih" jawabnya pendek
"Ratih yang mana ya?" tanyaku lagi.
"3 tahun lalu kita ketemu di Jakarta, aku bersama Vivi dan Dino
serta kawan lainnya, kamu datang sama Della waktu itu dan kalian berdua
bikin sensasi malam itu di table umum, kamu serakah dan gila juga ya,
Della yang cantix dan sexy begitu masih nggak cukup, Vivi kamu kerjain
juga malam ini, di depan cowonya pula, gimana, udah belum sama Vivi?"
cerocosnya.
"Hei.. Hei.., ini kan bukan pengadilan.. Ok aku ingat sekarang..,
tapi lu juga melirik kan waktu Della buka celanaku, berartu lu liat
juga isinya kan.." ujarku seenaknya.
Pembaca yang ingin mengetahui ceritanya silakan baca "Della Yang (Ternyata) Liar"
"Sialan lu ya, ngebacain gua.." kami sudah memakai kata lu gua pertanda keakraban dalam pembicaraan.
"Nah lu dulu yang mulai.., so.. Lagi ngapain di KL?" tanyaku.
Ternyata Ratih juga sedang ditugaskan kantornya untuk suatu
negosiasi dengan calon investor Malaysia yang berencana melakukan
investasi di Indonesia di bidang konstruksi. Negosiasi akan dilanjutkan
esok siang untuk memberikan kesempatan calon investor melakukan rapat
internal dan dia datang beserta 3 orang staffnya dari bagian teknik
yang semuanya pria.
Ratih, 34, tinggi 164, 50 kg, married dengan 2 anak, tinggi
semampai, rambut sedikit bergelombang panjang sebahu, dada tidak
seberapa besar, mungkin 32B, kulit agak coklat dan memiliki wajah
cantik dan merangsang, mengundang minat setiap lelaki yang bertemu
dengannya. Mungkin itu juga sebabnya dia dikirim oleh kantornya untuk
bernegosiasi dengan para datuk berduit di KL.
Akhirnya kami berbincang mulai dari urusan bisnis sampai urusan
malam, berkali kali dia bertanya apakah Vivi sudah pernah tidur
denganku, aku selalu mengalihkan pembicaraan saat dia menanyakan hal
itu. Aku tidak pernah membicarakan dengan siapa aku pernah berhubungan
sex pada siapa pun. Hal ini merupakan prinsip buatku, kecuali saat ini
melalui sumbercerita.com.
Tak terasa sudah pukul 17:30, wah nggak keburu aku kejar pesawat terakhir ke Jakarta.
"Lu tinggal dimana" tanyaku.
"Mandarin, sebelah" jawabnya singkat, "Lu dimana" tanyanya balik. Timbul niat menggoda dia.
"Gua tinggal di PJ, gua nggak sanggup bayar Mandarin, mahal!"
"Cuma 68 dollar, murah dibanding Jakarta" sergahnya.
"Masih mahal, Gua bayar 35 dollar di PJ" jawabku.
"G-A-K P-E-R-C-A-Y-A" Ratih mencibir sambil mengeja huruf itu satu persatu.
"Ntar malem ke Beach Club lagi yuk" ajaknya.
"Gak sanggup bayar" jawabku sekenanya.
"On my Bill, Boss" sindirnya kesal.
"Gak keburu, PJ jauh, jam begini macet, naik LRT pun makan waktu 45 menit, mungkin jam 9-an baru bisa sampai ke sana" pancingku.
"OK, gua paksa sekarang ya, gua bayar makan lu, kita ke toko beli
baju buat lu, perlu CD nggak? Lu mandi di kamar gua terus kita ke Beach
Club bareng sampai mabok, semuanya OMB, kalau masih nolak gua cium lu
di sini" heh kepancing dia.
"Hah mandi di kamar lu? Malu gua" jawabku bercanda.
"Apa perlu gua bukain kamar satu lagi di Mandarin" dia protes. Aku
tersenum dalam hati, di kantungku juga ada kartu magnetik kunci kamar
Mandarin
"OK Boss, gua nggak bisa nolak, tapi boleh kan lu cium gua di sini" ujarku memancing.
"Dasar" dia memajukan kepalanya, demikian pula aku, kami berkecup
bibir sebentar, lalu aku panggil pelayan dan kubiarkan Ratih membayar
billnya.
Bersama dia aku masuk ke counter ashworth, kubeli t-shirt seharga
209 ringgit lalu kubawa ke kasir. Kulihat Ratih bersiap mengeluarkan
credit cardnya. Dari belakang kupeluk pinggangnya sambil berbisik di
telinganya..
"I am joking honey, this is mine" aku sodorkan kartuku kepada kasir.
"Yeah, but we've just make a deal for it" jawabnya sambil
menolehkan kepalanya ke samping dan harum rambutnnya tercium semerbak,
kukecup lubang telinganya.
"Keep your deal for the next one or two" kataku penuh arti.
Ke Bagian 2
| Title | Author | Views |
| Cerita Remaja 2: Nakalnya Mama Andre |
Joko Susilo |
188,768 |
| Selingkuh Dengan Istri Teman |
roy_takeshi@yahoo.com |
102,314 |
| Pembantu Hasrat |
dark.blackest@yahoo.co.id |
97,970 |
| Pengalamanku Dengan Suami Orang |
deknas@yahoo.com |
78,402 |
| Pantat Bahenol Mbak Surti |
radhiepatahdenkul@gmail.com |
75,760 |
| Perawatku yang Seksi |
syidi_theman@astaga.com |
75,305 |
| Syahwat di Celah Dinding Rumah Kontrakan - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
67,681 |
| Sperma Lelaki Lain di Celana Dalam Istriku – 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
63,663 |
| Pesona Iparku Yang Mempesona |
priaasli@yahoo.com |
62,523 |
| Warnet Hot - Buka Perawan |
ipank.metal@gmail.com |
61,919 |
| Perselingkuhan Istri Muda - 1 |
ab1071@yahoo.com |
61,070 |
| Shinta Sang Sekretaris |
wirlise@crb.elga.net.id |
60,732 |
| Tetanggaku Sayang |
M. Hakim |
56,368 |
| Penjual DVD Cantik |
ebiznet88@yahoo.com |
54,847 |
| Pengalaman Pertamaku Bercinta |
deknas@yahoo.com |
54,248 |
|
|
|
|
|
|
|