|
|
Pukul 10.00 malam, suara musik masih terdengar
mendayu-dayu. Setengah jam lalu aku baru kembali dari pertemuan
panjang. Melelahkan. Untung saja besok diselingi dengan 1 hari
istirahat. Kucoba kembali konsentrasi ke layar televisi, ada tayangan
menarik. Tapi semakin dicoba semakin aku membayangkan suasana di bar.
Akhirnya kuputuskan untuk keluar. Kuganti baju terusan warna kulit
berbahan kaos agak ngepas mengikuti lekuk tubuh. Tanpa lengan, dengan
panjang 15 cm di atas lutut. Dan dengan belahan leher, belahan belakang
serta lingkar lengan yang sangat rendah. Memamerkan lekuk buah dadaku
dari depan dan samping yang tak dilindungi bra. Karena bahannya kaos,
bayangan putingku tercetak jelas. Hmm.. Cukup menarik, kutatap bayangan
di kaca besar dekat pintu. Yup.. Siap untuk menikmati malam ini.
Kukalungkan tas kecil dengan tali panjang menyilang dan kukenakan
sepatu terbuka dengan hak 4 cm. Dengan tinggi 170 cm dan berat 54 kg
ukuran dada 34B, rambut tebal sebahu, aku merasa makin seksi.
Hotel ini memang terkenal dengan entertainmentnya, kamar-kamarnya
pun diberi nama berdasarkan jenis musik yang ada. Tiba di bar,
kutebarkan pandangan ke sekeliling. Tampaknya tidak ada lagi meja
kosong di depan panggung. Kupilih untuk duduk di barisan meja bar,
tepat di bawah panggung. Kupesan shooter kesukaan sebagai pembuka.
Hentakan musik band yang ada malam itu sungguh menggugah untuk
bergoyang di tempat. Bartender tersenyum melihat aku bergoyang.
"Enjoy" ujarnya seraya meletakkan minuman.
"Sendiri aja?" lanjutnya
"Iya. Kok rame sih hari ini?" tanyaku karena hari ini bukan malam Minggu
"Oh, ladies night. Selalu rame" ujarnya kemudian menghilang sibuk dengan pesanan lain.
Musik berganti, lagu Senorita dari Justin Timberlake tak bisa
kulewati begitu saja. Di belakangku juga sudah mulai penuh dengan muda
mudi yang asik bergoyang. Kuhabiskan shooterku dalam satu kali teguk.
Kutenggelamkan diri mengikuti arus. Uhh.. Asiknya bergoyang. Tak
kupikirkan lagi dengan siapa aku bergoyang, ganti berganti, kadang
dengan wanita kadang dengan pria. Hingga akhirnya penyanyi band turun
ke meja bar mengajak para wanita untuk bergoyang dengannya di atas
meja. Tentu saja tak kulewatkan kesempatan ini. Lagu berganti lagu tapi
aku terus menikmati, apalagi sang penyanyi tak mau jauh-jauh dariku.
Keringat yang mengalir di badan, tak kuhiraukan. Bisa dibayangkan
seperti apa pemandangan bagian depan bajuku. Tapi aku tak peduli.
Semakin menarik banyak perhatian.
Akhirnya tiba para pemain band harus beristirahat, musik live pun
berhenti. Sang penyanyi mengucapkan terima kasih dan mengecup pipiku
halus. Kuberi senyuman kecil. Kuturuni meja, agak sukar, namun sebuah
uluran tangan datang membantu.
"Hi, enjoy the night?" suara si pemilik tangan itu ketika aku sudah duduk di bangku.
"Yeah, and.." Kutengok sebentar setelah merasa pasti.
"Kamu juga?" Ia mengangguk.
"Boleh saya tawarkan minuman?"
"Sure." Kusebut salah satu nama cocktail dan ia memesan pada bartender.
"So, sendiri aja nih. Atau suaminya lagi sibuk dengan meeting?" Aku
tertawa atas pertanyaannya yang langsung dan menyelidik. Kuangkat jari
jemari.
"Belum laku."
"Sama dong" jawabnya sambil menunjukkan 10 jarinya.
Baru kuperhatikan wajahnya dengan lebih jelas. Mm.., tampan juga.
Kulit sawo matang, rambut klimis tercukur rapi, dengan postur tubuh
tinggi. Sangat pas. Aku tahu mungkin diapun sudah dari tadi
memperhatikan gerak gerikku. Dengan duduk di bangku bar ini, ia bisa
mendapatkan pemandangan lebih leluasa. Tungkai panjang yang
kusilangkan, mengangkat ujung rok makin mendekat ke pangkal paha.
Memamerkan pahaku yang putih mulus. Belum lagi tonjolan dada putihku
yang masih dialiri keringat halus dan cetakan puting yang semakin
jelas. Dengan kesibukanku melap keringat di tengkuk dan daerah sekitar
dada, yang menyebabkan kedua tanganku ke atas serta memperlihatkan
ketiakku, sudah semakin menambah pemandangan indah baginya.
"Kamu sendiri sama siapa?" tanyaku kemudian.
"Tuh, gerombolan di situ yang dari tadi rame" tunjuknya ke arah
belakang kami. Tak kusangka teman-temannya malah berteriak heboh ketika
tatapan kami berpaling ke arah mereka. Sekitar 6 orang berpasangan.
"Nggak usah dihiraukan."
Aku tersenyum dan melambai sekenanya ke arah mereka, walaupun tidak
jelas apa yang diserukan ke arah kami. Perbincangan berlanjut ke topik
ringan. Mm.. Pasangan yang enak diajak berbincang. Tidak membosankan,
ada saja yang bisa kami bincangkan. Aku menikmati saat-saat bersamanya.
Dan kami bisa lepas tertawa tanpa rasa sungkan.
Tak terasa para pemain band kembali lagi manggung, gemuruh musik
kembali membangunkan para muda mudi dari tempat duduk, termasuk kami
berdua. Kuikuti irama musik di bangku sambil memegang gelas. Baru
kusadar ada yang tertinggal,
"Nama kamu siapa?" tanyaku dekat sekali di telinganya.
"Sam" serunya di telinga.
"Dea" sahutku memperkenalkan diri
"Hi" balasnya disambung dengan kecupan halus di pipiku.
Aku hanya tersenyum menanggapi kecupannya dan melanjutkan
bergoyang. Hentakan musik yang keras karena hanya berjarak beberapa
meter dari kami, kadang menyebabkan kami harus menempelkan mulut dan
bibir di telinga lawan, sekedar melanjutkan perbincangan. Hal ini
semakin mendekatkan tubuhnya dengan tubuhku. Sam sengaja berdiri
sementara aku tetap duduk di bangku bar. Tangannya pun sudah tak
sungkan lagi. Sudah berani memegang pundakku atau tanganku atau kadang
ujung pahaku. Kubiarkan saja. Aku menikmatinya juga. Dan tak bisa
ditutupi, pandangan tajam matanya sering menatap belahan putih di
dadaku. Apalagi dengan jarak yang semakin dekat, tak mungkin lagi untuk
menghindar.
"Sam. Gantian duduk, Sam." Aku ingin berdiri. Agak pegal juga.
"Ga apa-apa, aku ingin bergoyang sambil berdiri.." akhirnya Sam duduk, melihat tatapan yakinku.
Aku lanjutkan lagi bergoyang. Mengangkat kedua tanganku, menggoyang
pinggul, memainkan bibirku dan kadang menatap nakal ke arahnya. Begitu
berulang-ulang. Mungkin tak tahan melihatku seperti itu, ditariknya
pinggangku perlahan mendekat.
"Kamu cantik" bisiknya di telinga dari arah belakang. Kini tubuhku
berada di dalam rengkuhan, di antara kakinya, hingga ia bisa memeluk
erat.
"Kamu bikin aku horny" ucapnya lagi, kali ini diikuti dengan kecupan di telingaku.
Aku merinding kegelian, berusaha menjauh tapi malah didekapnya aku
dari belakang semakin erat. Aku membalikkan badan. Menatap, mengerling
ke arah selangkangannya dan tersenyum nakal.
"Really?" sekedar mengganggu.
"Iya." Matanya tak lepas dari belahanku yang sudah sangat dekat di hadapan mata.
"Apalagi yang putih mulus itu"
Kutaruh kedua siku tanganku ke belakang, kusandarkan ke meja bar
hingga dadaku semakin membusung. Dengan keringat halus yang masih
menempel, benar-benar sudah semakin mencetak jelas putingku, bukan
hanya ujungnya tapi lingkar sekitarnya juga tercetak jelas..
"Ga ada penahannya, loh" aku menurunkan tali bajuku setengah lengan
sekedar membuktikan dan beraksi seakan mengintip buah dadaku sendiri.
"Ikut liat dong" geraknya mendekat. Dengan cepat kututup lagi.
"Eh, ga boleh."
"Kok ga boleh. Boleh, ya. Aku harus ngapain, biar dibolehin?"
rayunya cepat, memohon. Sambil pura-pura berpikir, kubusungkan dada.
Sengaja kubiarkan agak lama.
"Ok. Sini deh." Kudekatkan lagi bibirku ke telinganya
"kalau kamu bisa buka CD-ku, kamu boleh lihat semua" kumundurkan lagi wajah, ingin melihat reaksinya.
"Ha..!" tatapannya beralih ke bawah, ke arah selangkanganku yang
tertutup baju dan kembali menatapku. Namun sesaat kemudian, senyum
nakal dan kerlingan menghias wajahnya.
"OK."
Ditariknya aku ke pelukannya. Begitu dekat, berhadapan tapi bukan
untuk berciuman. Kulingkarkan tanganku di lehernya. Tangannya mulai
bergerilya. Menyusuri punggungku halus merayap kemudian ke lekuk
pantatku, ditepuk-tepuknya sebentar dan diremas. Bikin aku terpekik
sesaat. Wajah kami tetap dekat, saling menatap dan merasakan dengusan
halus napas masing-masing. Makin ke bawah, kedua tangannya mendekati
ujung baju. Ditariknya ke atas perlahan. Aku sempat melihat sekeliling,
ingin memastikan tidak ada yang memperhatikan.
"Takut ada yang liat?" Aku hanya tersenyum. Kubusungkan lagi dada,
sekedar memacu gerak tangannya. Sembulan putih mulus kembali menarik
tatapannya dari wajahku ke arah dada.
"Pingin aku gigit. Bikin merah. Bikin basah."
"Really?" tatapanku seolah menyepelekannya
Sekali singkap, kedua tangannya sudah berada di balik bawahanku.
Bahkan tidak hanya sekedar mengelus kedua paha tapi juga
selangkanganku.
"Oh.."
"Basah, Dea.." ujarnya makin mendekat. Hampir seperti bisikan. Kini giliran tanganku, mengusap-usap pahanya.
"Hmm.. Pake tali." Akhirnya tau juga dia.
Tadi sengaja kupilih CD mini dengan tali tipis di kedua sisi.
Tangannya bergerak terampil. Membuka temali satu persatu dan menarik
perlahan. Uphh.. Terlepas sudah dan terasa dingin. Tak ada yang menutup
selangkanganku, membuat aku merasa semakin seksi. Digenggamnya CD di
tangan kiri dan 2 jari tangan kanannya yang masih di bawah, mengusap
halus daerah sensitifku dari arah depan.
"Ohh.." Enak sekali rasanya.
"Ini, CD kamu. Baunya enak," ujarnya sambil mengacungkan CD warna senada dengan bajuku, yang diciumnya terlebih dahulu.
Aku bergerak agak mundur, mengambil CD dan menyimpan di dalam tas.
2 tangannya sudah keluar dari balik baju. Diciumnya jari kanan yang
sudah basah cairanku dengan penuh rasa, dan dimasukkan ke dalam mulut.
Dikulumnya. Gerakan bibirnya benar-benar seksi. Membangkitkan birahi.
Kutarik jarinya keluar dari mulutnya, kumasukkan dalam mulutku.
Kukulum, kujilat, keluar masuk mulut, sambil menatapnya tajam.
"Kamu.. Kamu bikin aku tambah horny," ujarnya lagi sambil menarik jarinya.
"Really..?" lagi-lagi itu yang kuucapkan dengan manja sambil menatap nakal.
Ada napas birahi mulai menyusup di antara kata-kataku. Kemudian
kuraba selangkangannya. Gembulan lunak. Membesar. Kuusap-usap. Ke atas
ke bawah. Bikin dia tambah panas.
"Aku pingin kamu, Dea" bisiknya kemudian. Matanya penuh harap,
penuh birahi. Kumainkan ujung hidungku di hidungnya sambil tertawa
genit.
"Aku juga pingin kamu, Sam" kerlingku memberikan lampu ijo. Sam cepat memanggil bartender dan menyelesaikan pembayaran.
Kemudian kutarik tangannya, kutuntun ke tempat para muda bergoyang.
Aku tahu, dia sudah tak tahan tapi masih ada keinginan untuk melantai,
mumpung sebentar lagi band akan selesai dan bubaran. Kugoyangkan
tubuhku dengan erotis. Mengangkat tanganku ke atas, mengacak rambutku,
bergoyang menempelkan tubuhku di tubuhnya sambil sengaja membiarkan ia
merasa kenyalnya buah dadaku.
Tangannya pun tak mau diam, ditariknya aku mendekat. Dibiarkan aku
meliuk-liuk sementara lengannya erat di pinggangku, sambil
menggosok-gosok kegembulan yang ada di balik celananya ke arah
selangkanganku. Genggaman eratnya turun ke arah pantat. Karena tahu
pantatku telanjang, tangannya mengusap-usap nakal dari luar,
menggelindingkan jarinya di belahan pantatku. Tangannya berusaha
menarik ujung bajuku ke atas. Mencari yang basah di dalam. Aku berusaha
menjauh, sengaja, ingin menganggunya. Tapi ditariknya lagi tubuhku.
Kemudian paha kirinya mulai menggesek-gesek selangkanganku hingga
mau tak mau aku mengangkat kaki kananku bertopang di pahanya. Oohh..
Sungguh tarian nakal. Aku melingkarkan lengan di lehernya dan semakin
mendekatkan wajah. Pipi kami saling mengelus. Semburan panas napas kami
saling bertukar. Aku tak tahan lagi.
"Ikut aku, yuk" bisikku sambil menatapnya manja, penuh hembusan napas birahi.
Kutarik lengannya lagi. Kali ini dengan tergesa. Kuajak dia
melewati lorong hotel, menaiki tangga 1 lantai. Terasa sangat jauh.
Langkah kami semakin cepat. Akhirnya, kamar terbuka.
"Gak usah dinyalain, Dea."
Aku membatalkan keinginan untuk menyalakan lampu kamar. Ditariknya
aku lembut ke arah tempat tidur. Karena gorden tebal tidak kututup,
masih ada cahaya lampu dari taman di luar yang membantu penglihatan
kami. Dibiarkan aku berdiri sementara ia duduk di samping tempat tidur.
Diturunkannya perlahan tali bajuku. Hingga ia bisa mendapatkan buah
dada yang dari tadi diinginkannya.
"Benar-benar indah." Dijilatnya perlahan. Sementara kedua tangannya melanjutkan menurunkan bajuku.
"Aahh.." aku mendesah. Kuelus rambutnya halus. Jilatannya berubah
menjadi cubitan nakal dengan kedua bibirnya di kedua puting. Bikin aku
kelojotan.
"Samm.. Enak.."
"Kamu benar-benar cantik, Dea." Kini aku berdiri di depannya tanpa selembar benangpun.
Kubuka kaosnya. Uuhh.. Badan yang atletis. Tulang pundak yang
kokoh, diikuti dengan perut yang nyaris tanpa lemak. Kukulum putingnya.
Ia berkelojotan kecil. Aku duduk di pangkuannya, seperti duduk di
boncengan motor. Kulingkarkan kakiku di tubuhnya. Lidahnya dengan cepat
bergerilya di leher, di pundak dan dadaku. Mengecup, menjilat, oohh..
Aku mendesah semakin menjadi. Kugosok-gosokkan selangkanganku di
pangkuannya. Menghasilkan goyangan erotis tubuh telanjang.
"Sam.. Puaskan aku.." erangku kemudian.
Tanpa menurunkan aku, Sam berdiri, menggendongku dan meletakkan aku
di tempat tidur. Dengan gerakan tangannya yang cepat, Sam menurunkan CD
dan celana panjangnya sekaligus.
"Wow.."
Ke Bagian 2
| Title | Author | Views |
| Cerita Remaja 2: Nakalnya Mama Andre |
Joko Susilo |
188,768 |
| Selingkuh Dengan Istri Teman |
roy_takeshi@yahoo.com |
102,314 |
| Pembantu Hasrat |
dark.blackest@yahoo.co.id |
97,970 |
| Pengalamanku Dengan Suami Orang |
deknas@yahoo.com |
78,402 |
| Pantat Bahenol Mbak Surti |
radhiepatahdenkul@gmail.com |
75,760 |
| Perawatku yang Seksi |
syidi_theman@astaga.com |
75,305 |
| Syahwat di Celah Dinding Rumah Kontrakan - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
67,681 |
| Sperma Lelaki Lain di Celana Dalam Istriku – 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
63,663 |
| Pesona Iparku Yang Mempesona |
priaasli@yahoo.com |
62,523 |
| Warnet Hot - Buka Perawan |
ipank.metal@gmail.com |
61,919 |
| Perselingkuhan Istri Muda - 1 |
ab1071@yahoo.com |
61,070 |
| Shinta Sang Sekretaris |
wirlise@crb.elga.net.id |
60,732 |
| Tetanggaku Sayang |
M. Hakim |
56,368 |
| Penjual DVD Cantik |
ebiznet88@yahoo.com |
54,847 |
| Pengalaman Pertamaku Bercinta |
deknas@yahoo.com |
54,248 |
|
|
|
|
|
|
|