|
|
Aku telah menikah lebih dari 8 tahun, istriku
Erni adalah seorang wanita yang cantik dan menggairahkan. Semua yang
dapat kugambarkan tentang sosoknya hanyalah, aku tak mungkin bisa
mendapatkan seorang pasangan hidup sebaik dia.
Akhir-akhir ini kesibukanku di kantor membuat kehidupan rumah
tanggaku sedikit tergoncang, pagi-pagi sekali sudah berangkat dan
pulang sudah larut malam. Erni tak bekerja, dia hanya mengurus rumah,
jadi bisa dikatakan dia sendirian saja di rumah tanpa teman, tanpa
pembantu selama kutinggal kerja. Tapi terkadang dia pergi keluar dengan
teman-temannya, tapi dia selalu menghubungiku lewat telepon sebelum
pergi.
Hari Rabu, pekerjaanku di kantor selesai lebih awal, dan ingin
pulang dan mengajak Erni keluar untuk menebus semua waktuku untuknya.
Aku meninggalkan kantor sebelum jam makan siang dan memberitahukan pada
sekretarisku bahwa aku tidak akan kembali ke kantor lagi hari ini.
Kupacu mobilku secepatnya agar segera sampai di rumah dan mungkin
aku akan mendapatkan kenikmatan siang hari sebelum kami pergi keluar.
Saat hampir tiba di rumahku, kulihat ada sebuah mobil yang diparkir di
depan. Aku pikir itu mungkin milik temannya. Aku lalu keluar dari mobil
dan melangkah masuk ke dalam rumah. Kubuka pintu depan, sengaja aku tak
mengeluarkan suara untuk mengejutkannya.
Di ruang tengah tak kujumpai siapa pun, lalu aku melangkah ke
dapur, tapi tetap tak ada seorang pun kutemui. Mungkin mereka ada di
kamar tidur, perempuan bisanya berada di sana untuk mencoba beberapa
pakaian barunya. Semakin mendekat ke pintu kudengar suara, kucoba
mencermati pendengaranku dan mencoba untuk mendengarkannya dengan
seksama.
Ini adalah hari dimana aku berharap seharusnya berada di kantor
saja. Begitu kuintip dari pinggir pintu yang sedikit terbuka,
kusaksikan istriku berada dalam pelukan lelaki lain, istriku dalam
posisi merangkak dengan batang penis lelaki itu terkubur dalam lubang
anusnya..
"Oh bangsat, lebih keras lagi dong!" perintah istriku.
"Kamu menyukainya kan, jalang, kamu suka penisku dalam anusmu, iya kan?"
"Oh ya Bud, kamu tahu itu!"
Aku berdiri mematung di sana tanpa mampu bereaksi, terlalu shock
untuk mengatakan atau melakukan sesuatu dan hanya menyaksikan
pemandangan mengejutkan ini. Istriku, yang aku bersedia mati untuknya,
sedang melakukan anal seks dengan lelaki ini, sebuah hal yang
kuinginkan tetapi tak pernah mau dia lakukan bersamaku. Dan sekarang
dia melakukannya dengan lelaki ini! Aku terpaku memandangnya
mengayunkan bongkahan pantatnya yang indah, kepalanya menggantung ke
bawah dan sekujur tubuhnya bermandikan keringat mengisyaratkan pada
lelaki ini agar memberinya lebih lagi.
Air mata mengaburkan pandanganku dan kedua kakiku seakan direkat
pada lantai membuatku tak bisa beranjak dari sana dan menyaksikan
keseluruhan peristiwa ini. Serasa hancur hatiku saat lelaki itu
menjambak rambutnya dan menarik kepalanya ke belakang dan memanggil
istriku dengan sebutan 'jalang', dan memaksakan batang penisnya masuk
ke dalam lubang anus istriku yang terlihat mengerut. Istriku memohon
agar lebih dalam lagi dan pinggulnya menghantam berlawanan dengan
pinggang lelaki ini.
Dengan tangan kanannya, lelaki itu menjangkau ke bawah tubuh
istriku dan menggenggam payudaranya yang sekal, menjepit ujung puting
susunya yang kecoklatan dengan keras sekali, jeritan yang keluar dari
bibir istriku menandakan bahwa dia merasakan kesakitan. Kami tidak
pernah bercinta dengan cara begitu, kami selalu melakukannya dengan
penuh cinta, aku tak pernah ingin menyakitinya dan aku tak mengerti
bagaimana dia bisa menyukai saat diperlakukan kasar seperti ini.
"Ya Budi, puaskan aku, beri aku apa yang tak dapat diberikan
suamiku, kamu tahu betapa senangnya aku saat kamu melakukannya sayang!"
Lelaki ini semakin menarik rambutnya dengan keras dan juga menarik
payudaranya ke samping hingga kupikir puting susunya akan terkoyak
karenanya, tapi dari bibirnya malah keluar jeritan memohon lagi. Aku
harap aku dapat menikmati hal ini dan dapat bergabung dengan mereka,
tapi aku tak bisa.
Budi, itu nama lelaki ini yang kudengar disebutkan istriku,
mengatakan padanya bahwa dia akan meraih orgasmenya, dan dia menarik
keluar batang penisnya dari lubang anus istriku. Istriku memutar
tubuhnya dengan cepat dan menaruh batang penisnya yang masih berlumuran
cairan dari lubang anusnya sendiri itu ke dalam mulutnya, mulut yang
sama yang aku suka menciumnya selama 8 tahun terakhir ini, 10 tahun
jika kuhitung sejak kami pertama berkencan sewaktu kuliah dulu.
Hampir saja aku muntah begitu dia menelan penis kotornya itu ke
dalam mulutnya dan menghisap spermanya begitu lelaki ini menyemburkan
spermanya dengan hebat hingga tumpah sampai ke dagunya.
"Benar begitu penghisap penisku, hisap terus jalang, telan spermaku pelacurku."
Ingin rasanya kubunuh lelaki itu, bagaimana mungkin dia bisa
memanggil wanita secantik ini dengan sebutan kotor begitu. Bagaimana
bisa istriku membiarkannya memanggilnya dengan sebutan itu. Seperti
seorang bodoh saja saat aku melihat dan mendengarkan aksi mereka saat
istriku menyelesaikan hisapannya pada batang penis lelaki ini.
Dengan kasar dia menarik wajah istriku mendekat padanya untuk
mencium bibirnya yang penuh. Memasukkan lidahnya ke dalam mulutnya saat
istriku dengan senang menghisapnya. Tangan lelaki itu berada pada
bongkahan pantat istriku, menekan tubuhnya agar merapat saat mereka
berciuman layaknya sepasang remaja yang sedang dimabuk cinta.
Akhirnya aku baru bisa bergerak, dan aku berbalik lalu melangkah ke
ruang keluarga kami, duduk di atas sofa sambil memegangi kepalaku,
kedua sikuku bertumpu pada paha. Air mata meleleh membasahi wajahku
mengingat segala peristiwa mengejutkan yang baru saja kusaksikan.
Memikirkan tentang bagaimana dan apa yang membuat Erni melakukan
perbuatan terkutuk ini padaku. Aku selalu memperlakukannya dengan penuh
cinta dan kasih sayang, kami mempunyai kehidupan seks yang indah,
setidaknya itu menurutku. Aku selalu melihatnya mendapatkan orgasme
setiap kali kami bercinta.
Dia tak pernah menuntut padaku bahwa dia menginginkan lagi dan aku
pasti akan memenuhinya. Apa yang membuatnya melakukan ini. Aku pikir
aku akan melihat mereka keluar dari dalam kamar sebentar lagi, tapi aku
salah. Aku tak ingin melihat apa yang mereka lakukan, tapi ada sesuatu
dari dalam diriku yang mendorongku untuk kembali ke kamar itu. Saat aku
kembali mengintip dari balik pintu, kedua kaki istriku berada di bahu
lelaki ini dan dia sekarang sedang menyetubuhi vaginanya, lubang yang
sama dimana kudapatkan kenikmatan selama 10 tahun. Tak dapat kupercaya
pendengaranku akan kata-kata hina yang keluar dari mulut manis istriku.
"Oh ya, puaskan aku dengan penismu, isi mulutku lagi dengan
spermamu. Lebih keras Budi, berikan yang aku mau, lebih keras lagi
bangsat!!" Belum pernah kudengar dia berkata seperti ini sebelumnya.
"Ya jalang, milik siapa vagina lezat ini?"
"Oh milikmu Budi, semuanya milikmu sayang."
Setiap kata yang terucap seakan sebilah belati yang menghunjam ke
hatiku, merobeknya menjadi berkeping-keping seiring pinggul istriku
bergoyang mengiringi hentakan lelaki ini dengan gairah yang belum
pernah kulihat darinya. Sebuah pemikiran melintas dalam benakku, aku
senang, senang karena sampai dengan saat ini kami belum mempunyai
seorang anak yang akan menemukan bahwa ibunya adalah seorang pelacur!
"Siapa yang dapat memuaskanmu, siapa yang mampu memenuhi keinginanmu?"
"Kamu Budi, hanya kamu yang bisa memberiku!"
Apa yang harus kulakukan, pergi, tetap di sini, melabrak mereka,
atau hanya menghajar lelaki ini? Tak kulakukan apa pun, selain hanya
melihat. Mungkin jika aku lebih dari seorang pria, atau setidaknya
lebih dari seorang pria yang tega, aku akan melakukan sesuatu daripada
hanya berdiri saja di sini. Seharusnya kulabrak mereka, menghajar
mereka berdua, atau apa pun, tapi aku hanya menyaksikan perbuatan
mereka dengan hati yang hancur berkeping-keping.
Nafsu istriku begitu besar dan lelaki itu memuaskannya, mereka
bersetubuh seperti sepasang binatang di atas ranjang cinta kami. Bed
covernya sudah sangat kusut seperti kedua pakaian mereka yang tercampak
di lantai dalam pergulatan birahi mereka berdua. Kusaksikan batang
penisnya yang keras ditarik hampir keluar seluruhnya dan dilesakkannya
kembali dengan hentakan yang mampu membuat pinggul istriku terangkat
dengan kedua pahanya yang terpentang lebar untuk menerima seluruh
batang keras milik lelaki itu ke dalam vaginanya.
"Puaskan aku sayang, berikan penismu padaku. Jangan coba berhenti, jangan pernah berhenti!"
Kembali mereka berciuman dengan begitu bernafsu. Pinggul mereka
saling menghantam berulang kali. Mereka tak menyadari kehadiranku di
belakang mereka yang sebenarnya bahkan hanya dengan menolehkan
kepalanya saja mereka akan dapat melihatku yang sedang berdiri
mengintip dari balik pintu. Tapi mereka sedang sibuk dengan kegiatannya
yang lebih penting sekarang, pendakian untuk sebuah orgasme lagi.
Sudah cukup apa yang kusaksikan, lebih dari apa yang ingin kulihat.
Aku bebalik dan keluar dari rumah. Kukendarai mobil di bawah sinar
mentari yang cerah sampai mataku terbakar, dari sinar mentari dan dari
air mata. Kejadian yang baru saja kusaksikan berputar dalam benakku.
Aku berhenti pada sebuah kafe dan memesan segelas minuman yang
paling keras. Kutatap jam di dinding hingga jarum jam menunjukkan pukul
7 malam, kembali ke mobilku dan pulang ke rumah kami, jika masih bisa
disebut rumah kami sekarang.
Baru saja aku masuk ke dalam, aku langsung bertemu dengan Erni, dia hendak mencium bibirku, tapi kulengoskan mukaku.
"Ada yang salah, sayang?" tanyanya.
"Nggak, hanya capai saja!"
Kami melangkah ke meja makan dan saling berbincang sebentar, aku
lebih pendiam daripada biasanya, dan dia berlagak seolah tak ada apa
pun yang terjadi hari ini. Kuselesaikan makan malamku dan beranjak
untuk mandi, berharap aku mampu mencuci ingatan mengerikan tentang
istriku yang berselingkuh dengan lelaki lain dari benakku, tapi itu tak
terjadi.
Aku naik ke pembaringan, tak dapat tidur dengan nyenyak karena
ingatan akan istriku yang bertingkah seperti seorang pelacur yang haus
akan batang penis sedang memuaskan lelaki bangsat yang bernama Budi.
Memberinya apa yang seharusnya hanya untukku. Rasanya jarum jam tak
akan pernah beranjak ke pukul 6 pagi agar aku dapat pergi dari sini dan
merenung.
*****
Hari ini seakan berlalu dengan sangat lambat, akhirnya jam 11 siang
tiba. Kukendarai mobilku dan kembali ke rumah. Kembali kulihat mobil
Budi terparkir di depan rumah. Kemarahanku sekarang sudah melampaui
batasnya. Dengan tergesa aku mesuk ke dalam rumah dan menemukan mereka
berdua sedang bergulat di atas ranjang kami lagi. Dengan marah
kuteriakkan padanya agar menjauh dari istriku dan mengusirnya keluar
dari rumahku. Budi hanya tertawa dan dengan batang penis yang masih
berlumuran dengan cairan istriku, dia mengenakan pakaiannya, sedangkan
Erni berusaha untuk menjelaskan semuanya. Tak ada satu pun kata-kata
yang ingin kudengar dari mulutnya.
Setelah Budi pergi, kemudian Erni menemuiku di meja makan.
"Erni, kenapa kamu lakukan semua ini? Apa yang terjadi?"
"Penyebabnya kamu! Kamu nggak pernah ada, kamu nggak pernah
memperhatikanku, mengajakku keluar. Yang kamu lakukan hanya kerja,
kerja, kerja! Persetan dengan semua itu. Aku menginginkan lebih dari
itu dan Budi memberinya."
"Aku dapat memberimu lebih Erni, Aku akan memaafkanmu jika kamu
menghentikan semua kegilaan ini. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu!" Dia
memandang tajam ke arahku.
"Kamu boleh berkata sesukamu, aku tidak peduli. Kenyataannya kamu
membuatku muak, kamu bukan seorang lelaki. Seorang lelaki akan membunuh
pria yang berselingkuh dengan istrinya, tetapi kamu bahkan tak
melakukan apa-apa. Kamu pecundang!"
"Tolong jangan lakukan ini Erni, kamu tahu betapa aku mencintaimu."
"Persetan dengan kamu!" dia meneriakiku, lalu menelepon Budi.
"Budi, jemput aku, sekarang juga!" dan membanting teleponnya.
Dia masuk ke dalam kamar dan tak lama kemudian keluar dengan
membawa koper, lalu pergi untuk menunggu jemputan Budi. Lelaki bangsat
ini datang tak lama berselang..
E N D
| Title | Author | Views |
| Cerita Remaja 2: Nakalnya Mama Andre |
Joko Susilo |
188,837 |
| Selingkuh Dengan Istri Teman |
roy_takeshi@yahoo.com |
102,345 |
| Pembantu Hasrat |
dark.blackest@yahoo.co.id |
97,979 |
| Pengalamanku Dengan Suami Orang |
deknas@yahoo.com |
78,405 |
| Pantat Bahenol Mbak Surti |
radhiepatahdenkul@gmail.com |
75,790 |
| Perawatku yang Seksi |
syidi_theman@astaga.com |
75,321 |
| Syahwat di Celah Dinding Rumah Kontrakan - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
67,685 |
| Sperma Lelaki Lain di Celana Dalam Istriku – 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
63,676 |
| Pesona Iparku Yang Mempesona |
priaasli@yahoo.com |
62,532 |
| Warnet Hot - Buka Perawan |
ipank.metal@gmail.com |
61,925 |
| Perselingkuhan Istri Muda - 1 |
ab1071@yahoo.com |
61,111 |
| Shinta Sang Sekretaris |
wirlise@crb.elga.net.id |
60,751 |
| Tetanggaku Sayang |
M. Hakim |
56,373 |
| Penjual DVD Cantik |
ebiznet88@yahoo.com |
54,850 |
| Pengalaman Pertamaku Bercinta |
deknas@yahoo.com |
54,258 |
|
|
|
|
|
|
|