|
|
Dari Bagian 1 Waktu berjalan begitu cepat. Tak terasa sudah hampir satu bulan sejak
kejadian waktu aku hampir saja mengkhianati suamiku dengan kejadian di
ruangan kantorku. Aku pun sudah mulai dapat melupakan kejadian itu
soalnya selama ini aku juga hampir tidak pernah melihat Parjo. Aku pun
tidak berusaha ingin mengetahui keberadaannya.
Kira-kira satu minggu menjelang bulan puasa kegiatanku semakin
bertambah sibuk. Aku harus banyak mempersiapkan kegiatan promosi
menjelang penjualan untuk hari raya lebaran nanti. Untuk itu aku banyak
melakukan lembur seperti biasanya.
Aku masih ingat saat itu hari Kamis tanggal 7 Oktober, aku seperti
biasanya lembur di kantor. Saat itu yang ada di kantor hanyalah aku dan
Ida yang juga sedang lembur menyelesaikan tugasnya. Kira-kira pukul
18.00, Ida mendatangi ruanganku dan mengajakku pulang bersama-sama,
namun aku yang masih harus menyelesaikan beberapa laporan memintanya
untuk pulang duluan, sehingga praktis di kantor hanya tinggal aku
sendirian. Aku tidak takut karena sudah terbiasa, lagi pula ada
security yang selalu berjaga-jaga di lobby bawah di lantai satu.
Entah karena ruangan AC yang dingin atau mungkin karena sejak sore
tadi aku belum ke rest room maka aku merasa ingin sekali buang air
kecil. Karena desakan itu aku pun meninggalkan ruanganku dan pergi ke
rest room yang letaknya di luar ruangan kantor namun masih satu lantai
dengan kantorku. Karena aku yakin sudah tidak ada orang lain, maka aku
melepas CD-ku dan memasukannya ke tasku sebelum ke rest room. Hal ini
kulakukan agar mudah melepas hajatku nanti. Praktis saat itu aku tanpa
mengenakan CD saat pergi ke rest room. Toh rok pendekku cukup tebal,
jadi kalau pun masih ada orang tidak bakalan ketahuan, pikirku.
Keadaan memang sepi di kantor. Saat aku melewati koridor di samping
kantorku pun tidak tampak ada satu orang pun di sana. Aku lalu masuk ke
rest room dan menutup pintu kemudian langsung menghambur masuk ke salah
satu toilet yang berjajar di sana. Aku merasa lega sekali setelah
hajatku yang sedari tadi merongrongku terlepas sudah. Kini aku bisa
kembali bekerja dengan tenang.
Saat itu aku sedang merapikan pakaianku di depan cermin di ruangan
rest room. Aku terkejut setengah mati saat aku tersadar bahwa ternyata
di rest room sudah ada orang lain selain diriku. Yang lebih mengejutkan
ternyata orang itu adalah Parjo yang sedari tadi memperhatikan diriku
saat mematut diriku di depan cermin.
Belum sempat hilang rasa terkejutku, Parjo sudah mendatangi dan
langsung memeluk tubuhku. Aku yang termasuk sudah cukup tinggi untuk
ukuran wanita ternyata masih terlalu kecil bila dibandingkan dengan
Parjo. Mungkin tingginya sekitar 175-an lebih karena ternyata tinggi
tubuhku hanya sebatas hidungnya saja. Selain tinggi, tubuh Parjo sangat
kekar dan tegap hingga aku tak mampu bergerak saat kedua tangannya yang
kokoh menyergapku.
Didekapnya tubuhku erat-erat dengan kedua lengannya yang kokoh.
Kemudian sambil sedikit menundukkan kepalanya, bibir Parjo yang tebal
mulai menyentuh bibirku. Lidahnya mulai menerobos bibirku dan
mencari-cari lidahku. Napasnya mendengus-dengus menggebu-gebu. Aku
tidak mampu menghindar karena tubuhku terjepit lengannya yang begitu
kokoh.
"Hmmngghh.. Ughh..", saat lidah Parjo dapat menemukan lidahku, ia
mulai mengerang dengan suara yang benar-benar maskulin. Aku yang
tadinya berusaha meronta-ronta, mulai berdesir darahku mendengar
erangan maskulinnya itu.
Aku merasa betapa dekapan Parjo begitu ketat menarik tubuhku hingga
tubuhku dan tubuhnya berhimpitan sangat ketat. Aku dapat merasakan ada
benda yang mengganjal di perutku dari balik celana Parjo. Tangan Parjo
yang mendekapku mulai bergerak nakal. Satu tangannya mulai meremas buah
pantatku dari luar rok ketatku sedangkan tangan satunya sangat ketat
mendekap punggungku.
Aku mulai terangsang saat lidah Parjo yang bergerak liar di dalam
mulutku mulai mendorong-dorong lidahku dan tangannya yang tadinya
meremas-remas buah pantatku mulai menyingkap rokku ke atas. Rokku
ditariknya ke atas hingga pantatku yang tidak tertutup CD segera
tersentuh langsung oleh telapak tangannya yang kasar. Aku menggerinjal
karena tangannya yang kasar terasa geli di pantatku yang halus.
"Hhsshh.. Oughh.." tanpa sadar aku sedikit melenguh karena tangan
kasar Parjo meremas buah pantatku yang terbuka dengan gemasnya. Napasku
mulai memburu dan gairahku mulai terusik. Apalagi bau keringat Parjo
yang menusuk sangat maskulin dalam penciumanku.
"Ja.. Jangan.. Joo.. Ohh.. Sshh" antara sadar dan tidak aku masih
sempat meronta dan mulutku masih mencoba mencegah perbuatan Parjo lebih
jauh. Namun seolah tak peduli dengan desisanku atau mungkin karena
penolakanku tidak begitu sungguh-sungguh, Parjo tetap saja merangsekku
dengan serbuan-serbuan erotisnya.
Lidah Parjo terus saja menjilat-jilat mulutku dan turun ke daguku.
Aku semakin gelisah menerima rangsangan ini, apalagi tangan Parjo yang
tadinya meremas-remasa pantatku kini bergeser ke depan dan mulai
mengelus-elus daerah perut di bagian bawah pusarku. Tubuhku
bergoyang-goyang kegelian menahan serbuan tangan nakal Parjo yang sudah
mulai merambah daerah selangkanganku.
"Joo.. Jang.. Jangannhh.. Ohh.." aku semakin mendesis antara menolak dan tidak.
Tangan Parjo yang nakal semakin liar mengaduk-aduk daerah
sensitifku. Mulutnya kian gencar menyedot-nyedot leherku. Seolah tak
peduli dengan rengekanku, Parjo terus saja bergerak. Kini tangannya
bahkan mulai meremas-remas labia mayoraku yang sudah mulai basah
berlendir.
Tubuhku tersentak saat jari tangan Parjo mulai menyusup ke dalam
labia mayoraku dan mulai mengorek-korek tonjolan kelentitku.
Digerakannya jarinya berputar-putar menggesek kelentitku. Kakiku seolah
sudah tak bertenaga hingga tubuhku sudah tersandar sepenuhnya di
pelukan Parjo. Sambil terus memutar-mutar jarinya di tonjolan
kelentitku, Parjo mulai mendorong tubuhku dan diangkat untuk didudukkan
di atas toilet rest room yang dingin itu. Aku yang sudah mulai pasrah
hanya diam saja atas perlakuannya.
Parjo lalu melepaskan jarinya dari selangkanganku dan ia mulai
berjongkok di hadapanku. Wajahnya berada dekat sekali dengan
selangkanganku yang terbuka lebar.
"Aw.. Ohh.." tubuhku kembali tersentak saat tiba-tiba Parjo
menyurukkan wajahnya ke selangkanganku dan mulutnya menyedot-nyedot
bibir kemaluanku.
Lidahnya yang panas menerobos masuk di antara labia mayoraku dan
mengais-ngais daging hangat lubang vaginaku. Tanpa sadar aku meremas
rambut Parjo yang jabrik itu. Tanpa bicara, Parjo terus bekerja! Ya
sedikit bicara banyak bekerja!! Ini benar-benar tepat untuk keadaan
Parjo saat itu. Lidahnya kini mulai mempermainkan kelentitku yang sudah
semakin mengembang. Perutku mulai kejang karena menahan kenikmatan yang
hampir meledak.
"Shh.. Ouhh.. Shh.. Ter.. Rushh Jo.." bibirku tak henti-hentinya berdecap menahan kenikmatan yang mulai naik ke ubun-ubunku.
Aku yang tadinya berkata jangan, sekarang meminta Parjo untuk
terus! Tanganku tanpa sadar merengkuh kepala Parjo agar semakin ketat
menempel ke selangkanganku. Rupanya Parjo tahu kalau aku sudah hampir
mencapai orgasme. Lidahnya semakin gila mempermainkan kelentitku.
Bibirnya menyedot seluruh cairan yang semakin membuat vaginaku basah.
Aku hampir saja mencapai klimaks saat tiba-tiba Parjo menarik kepalanya
dari selangkanganku. Aku hampir saja terjatuh dari dudukku karena
pantatku tanpa sadar bergerak maju mengejar wajah Parjo yang
ditariknya.
Parjo benar-benar mempermainkan aku. Saat aku sudah menjelang
orgasme, tiba-tiba ia menghentikan pekerjaannya yang belum tuntas.
Napasku sudah ngos-ngosan karena didera nafsu. Parjo yang sudah berdiri
di depanku mulai melepas gespernya dan memerosotkan celana sekaligus
CD-nya hingga ke lututnya. Aku benar-benar terkejut melihat kontol
Parjo yang luar biasa. Besar dan panjang.. Luar biasa. Aku ngeri
melihatnya. Jangan-jangan vaginaku bisa jebol dibuatnya. Benar-benar
sesuai dengan ukuran tubuhnya yang perkasa.
Kontol Parjo yang perkasa berdiri tegak mengacung ke arah wajahku
yang terpaku melihatnya. Tanpa memberi kesempatan padaku untuk
berlama-lama melihat kontolnya yang perkasa, Parjo segera menarik
tubuhku dan membaliknya. Kini aku berdiri menghadap cermin. Kedua
tanganku bertumpu di atas toilet yang tadi kududuki. Tangan Parjo yang
kekar mendorong punggungku sedikit membungkuk hingga pantatku agak
menungging. Lalu kedua kakiku digesernya agar lebih membuka.
Bulu-bulu di tubuhku mulai merinding saat ada benda hangat dan
tumpul mulai bergesek-gesek di bibir kemaluanku mencoba masuk. Lubang
vaginaku yang sudah licin sangat membantu penetrasi yang dilakukan
Parjo dari arah belakang.
"Oghh.." kudengar Parjo menahan napas saat ujung kontolnya yang
seperti topi baja mulai terjepit labia mayoraku. Aku pun tak mampu
bernapas karena benda itu terasa sesak sekali mengganjal
selangkanganku.
"Hkk.. Hh.. Shh.. Ouchh" aku mendesis tercekat.
Parjo agak kesulitan mendorong kontolnya masuk ke dalam lubang
vaginaku yang agak kesempitan menerima serbuannya. Aku sendiri heran,
aku yang sudah pernah melahirkan terasa seperti perawan saja saat
ditembus batang kontolnya. Terus terang ukurannya jauh lebih besar
dibandingkan dengan milik suamiku. Aku menjadi lupa diri saat itu. Yang
kutahu aku harus menuntaskan gairah napsuku.
Berkali-kali Parjo terus mendorong batang kontolnya. Tanpa sadar
aku ikut membantunya dengan menggeser pantatku hingga kontol Parjo
terdorong masuk. Tubuhku bergetar karena seluruh lubang vaginaku
seperti tergesek oleh besarnya kontol Parjo yang baru masuk kira-kira
setengahnya saja.
"Ouchh.. Hhahh.." aku berkali-kali pula mendesis menahan nikmat yang kembali naik ke kepalaku.
Dengan pelan Parjo kembali menarik batang kontolnya dari jepitan
lubang vaginaku. Didorongnya lagi hingga bertambah dalam batang itu
menerobos masuk ke dalam lubang vaginaku yang sudah mulai bisa
beradaptasi dengan besarnya kontol Parjo. Sekarang gerakan maju mundur
batang kontol Parjo mulai lancar.
"Hugghh.." kami sama-sama menahan napas saat kurasakan seluruh
batang kontol Parjo sudah masuk ke dalam jepitan lubang vaginaku hingga
ke pangkalnya. Itu aku rasakan karena pantatku menempel ketat pada
kantung biji telur kemaluan Parjo. Lubang vaginaku terasa
berdenyut-denyut meremas batang kontol Parjo yang memenuhi lubang
vaginaku. Panjang sekali batang kontolnya hingga mulut rahimku
seolah-olah seperti tersodok benda tumpul. Tubuh kami terdiam seperti
terpatok satu sama lain oleh pasak yang menyumpal lubang kemaluanku.
Tangan Parjo yang tadinya memegang kedua sisi pinggulku mulai
menyusup ke dalam gaunku dan bergerak meremas kedua payudaraku.
Tangannya yang kasar membuat tubuhku menggelinjang saat meremas
payudaraku yang sudah terlepas dari BH-ku. Kait BH-ku memang ada di
depan hingga mudah bagi Parjo melepas penjepitnya.
Mataku terpejam menahan desakan napsu yang mulai mendesak dari
perutku. Dengan pelan Parjo mulai menarik batang kontolnya dari jepitan
lubang vaginaku lalu mendorongnya kembali. Tubuhku mulai bergetar saat
batang kontolnya menggesek-gesek seluruh dinding vaginaku.
Ke Bagian 3
| Title | Author | Views |
| Cerita Remaja 2: Nakalnya Mama Andre |
Joko Susilo |
188,725 |
| Selingkuh Dengan Istri Teman |
roy_takeshi@yahoo.com |
102,303 |
| Pembantu Hasrat |
dark.blackest@yahoo.co.id |
97,967 |
| Pengalamanku Dengan Suami Orang |
deknas@yahoo.com |
78,401 |
| Pantat Bahenol Mbak Surti |
radhiepatahdenkul@gmail.com |
75,752 |
| Perawatku yang Seksi |
syidi_theman@astaga.com |
75,295 |
| Syahwat di Celah Dinding Rumah Kontrakan - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
67,676 |
| Sperma Lelaki Lain di Celana Dalam Istriku – 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
63,657 |
| Pesona Iparku Yang Mempesona |
priaasli@yahoo.com |
62,519 |
| Warnet Hot - Buka Perawan |
ipank.metal@gmail.com |
61,916 |
| Perselingkuhan Istri Muda - 1 |
ab1071@yahoo.com |
61,046 |
| Shinta Sang Sekretaris |
wirlise@crb.elga.net.id |
60,714 |
| Tetanggaku Sayang |
M. Hakim |
56,365 |
| Penjual DVD Cantik |
ebiznet88@yahoo.com |
54,845 |
| Pengalaman Pertamaku Bercinta |
deknas@yahoo.com |
54,245 |
|
|
|
|
|
|
|