|
|
Dari Bagian 2 Sambil berpegangan pada kedua payudaraku, Parjo terus mendorong dan
menarik pantatnya. Gerakan batang kontol Parjo dalam lubang kemaluanku
semakin lancar karena sudah banyak sekali cairan pelicin keluar dari
lubang kemaluanku. Mulut Parjo yang tak henti-hentinya menjilati
kudukku terasa semakin membuatku melayang ke awan tak bertepi.
Tangan Parjo yang tadinya meremas payudaraku dilepasnya dan menarik
wajahku agar menengok ke belakang. Bibirku langsung dipagutnya dengan
bibirnya yang tebal begitu wajahku menoleh. Lidah Parjo segera didorong
masuk ke dalam mulutku dan mulai menggelitik rongga mulutku. Aku jadi
ingat saat membaca majalah porno yang dibawa suamiku dulu. Ini rupanya
yang disebut posisi 99. Baru kali ini aku merasakannya.
Posisi 99 dilakukan dengan kedua pasangan menghadap ke arah yang
sama, laki-laki di belakang dan perempuan di depan. Penis laki-laki
menusuk vagina atau anus si perempuan dari arah belakang, sementara
tangan si lelaki meremas-remas payudara si perempuan dan keduanya
saling berpagutan bibir. Indah sekali!!
Aku tidak pernah membayangkan kalau akhirnya aku melakukan hubungan
seks dengan posisi seperti ini. Tangan Parjo kembali menyusup ke dalam
gaun kerjaku dan mulai mengerjakan tugasnya meremas-remas kedua
payudaraku. Bibirnya memagut bibirku dengan lidahnya mendorong-dorong
lidahku. Sementara batang kontolnya terus menghunjam lubang vaginaku
tanpa ampun. Berkali-kali rambut kemaluan Parjo yang kasar seperti
habis dicukur menggaruk-garuk pantatku saat kontolnya melesak ke dalam
lubang vaginaku hingga ke pangkalnya. Aku pun berkali-kali mengerang
tanpa rasa malu-malu lagi. Aku memang selalu ribut kalau sedang
bersenggama.
Tanpa harus diperintah, aku mulai menggoyangkan pantatku mengikuti
irama tusukan kontol Parjo. Tubuhku mulai terhentak-hentak dan gerakan
pantatku sudah tidak terkendali. Pantatku semakin cepat bergoyang dan
mundur menyambut dorongan kontol Parjo hingga masuk sedalam-dalamnya ke
dalam jepitan lubang vaginaku.
"Ter.. Rushh.. Joo.. Oohh" aku terus mendesis-desis tak terkendali.
Tubuhku seolah melayang dan ringan. Parjo semakin cepat menarik dan
mendorong kontolnya menghunjam lubang vaginaku. Aku tersentak. Perutku
terasa kejang menahan desakan yang hampir meledak.
"Terushh Linn.. Terushh.." kudengar Parjo menggeram sambil
menusuk-nusuk lubang vaginaku kian kencang. Lalu mulutnya kembali
melumat bibirku dan tanpa dapat kutahan lagi tubuhku berkelojotan
melepaskan ledakan birahi yang sudah tidak terbendung lagi. Aku
menggigit bibir Parjo yang melumat bibirku. Pada saat yang sama, tubuh
Parjo pun menggeliat dan tersentak-sentak seperti penari breakdance.
Tubuh bagian bawah kami yang saling menempel menggeliat secara
bersamaan. Pantatku yang menempel ketat dan seperti terpaku pada tulang
kemaluan Parjo memutar tak terkendali.
"Arghh.. Shh.." seperti suar koor, kami berdua menggeram secara bersamaan.
Otot-otot vaginaku berdenyut-denyut mencengkeram kontol Parjo yang
tertanam sepenuhnya didalamnya. Cratt.. Cratt.. Cratt.. Crat.. Crat..
Akhirnya kontol Parjo mengedut-ngedut dan hampir lima kali menyemburkan
cairan hangat yang menyiram ke dalam mulut rahimku. Terasa begitu
kencang semburan air mani Parjo menyemprot dalam lubang vaginaku. Kami
terus bergerak hingga tuntas sudah air mani Parjo terperas denyutan
lubang vaginaku.
Akhirnya kami sama-sama terdiam lemas tak berdaya. Napas kami
saling memburu. Denyut jantungku berdentum setelah bekerja keras
memburu kenikmatan. Aku yang kelelahan tak mampu bergerak lagi dan
ambruk di atas toilet. Kubiarkan saja kontol Parjo yang masih menancap
erat dalam lubang vaginaku. Tubuh Parjo pun ambruk menindihku. Pantatku
tetap menempel ketat pada tulang kemaluannya. Aku merasakan betapa
banyak cairan air mani yang disemprotkan Parjo ke dalam lubang vaginaku
hingga sebagian meleleh ke pahaku.
Perlahan-lahan kontol Parjo mulai melembek dan akhirnya terlepas
dari jepitan lubang vaginaku dengan sendirinya. Beberapa saat kemudian
Parjo bangkit dan masuk ke WC. Kudengar suara gemericik air, mungkin ia
sedang membersihkan kontolnya yang lengket oleh cairan kami berdua. Ia
juga mengambil tissue dari WC dan kemudian membersihkan lelehan air
maninya yang membasahi pahaku dengan telaten. Beberapa kali ia
mondar-mandir ke WC mengambil tissue dan membersihkan semua cairan dari
selangkanganku. Geli sekali rasanya saat tangannya yang kasar dengan
nakal meremas-remas vaginaku saat membersihkan dengan tissue.
"Terima kasih Lin.. Sorry aku sudah tidak tahan ingin menikmati
keindahan tubuhmu" ia tidak lagi memanggilku dengan ibu tapi langsung
namaku begitu saja. Aku hanya terdiam. Aku sebenarnya menyesal juga
telah melakukan pengkhianatan pada suamiku. Tapi semua sudah telanjur.
Aku hanya mengangguk saja saat ia meminta maaf untuk yang kedua
kalinya.
Aku merapikan pakaianku dan kembali ke ruanganku dengan langkah
gontai akibat kelelahan setelah bersetubuh sambil berdiri tadi. Parjo
pun segera membersihkan lantai dari lelehan air maninya yang tercecer
di rest room itu.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul 19.30 malam saat aku masuk
ruanganku. Jadi hampir satu jam aku bersetubuh dengan Parjo di rest
room tadi. Aku masih sangat lelah hingga tak mampu lagi berkonsentrasi
dengan pekerjaanku. Aku hanya terpaku di depan mejaku menatap layar
monitor yang tetap menyala.
Aku tersentak dari lamunanku saat HP-ku berdering. Kulihat di layar ternyata suamiku menelpon.
"Hallo mah.. Kemana saja kamu? Dari tadi kutelepon kok tidak diangkat?" terdengar suara suamiku di seberang sana.
"Oh.. Eh.. Anu.. Tadi aku ke toilet.. Habis perutku rasanya mulas setelah makan siang" jawabku mencari alasan yang tepat.
"Tapi.. Kamu enggak apa-apa kan?" terdengar suara Mas Edy agak khawatir
"Enggak apa-apa kok pah.." jawabku.
"Ya sudah kalau enggak apa-apa.. Mau pulang bareng enggak?" kata suamiku lagi.
"Enggak ah.. Aku masih mau lembur soalnya laporan musti selesai
malam ini juga" aku yang memang berniat mau meneruskan pekerjaanku
meminta suamiku tidak usah menjemputku.
Aku kembali menatap monitor yang menyala di depanku. Pikiranku
belum bisa diajak berkonsentrasi. Aku sangat merasa bersalah telah
mengkhianati suamiku yang begitu mencintaiku. Di sisi lain aku merasa
ada rasa aneh saat mengingat kejadian tadi. Pikiranku masih melayang ke
tempat lain saat ada tangan kuat memelukku dari belakang. Aku kembali
tersadar dari lamunanku.
"Eh.. Su.. Sudah Jo.. Jangan lagi" aku berusaha berontak setelah
aku tahu bahwa pemilik tangan kekar itu ternyata Parjo yang memelukku
dari belakang.
"Enggak apa-apa Lin.. Aku sayang sama kamu.." bisik Parjo sambil
memelukku. Aku tak mampu melawan Parjo yang sudah mulai bernafsu lagi.
Apalagi tubuhku masih terasa lemas sekali sejak digoyang Parjo di rest
room tadi.
Napas Parjo yang memburu terasa panas menghembus di leherku saat
lidahnya mulai menjalar menjilati kudukku. Aku masih berusaha
menghindar saat bibirnya berusaha mencium pipiku. Tetapi tangan Parjo
yang kokoh segera memaksa wajahku menghadapnya dan bibirnya yang tebal
segera melumat bibirku. Aku hanya mampu menutup bibirku erat-erat
sebagai upaya penolakanku. Namun lidah Parjo tak putus asa berusaha
menggesek bibirku dan menyusupkannya ke dalam mulutku. Akhirnya
pertahananku bobol juga. Lidah Parjo berhasil menyusup ke dalam mulutku
dan mulai mendorong-dorong lidahku. Tangannya yang kokoh mulai
meremas-remas payudaraku dari luar gaun.
Mendapat rangsangan seperti itu, perlahan-lahan gairahku mulai
bangkit lagi. Lidahku akhirnya membalas dorongan lidahnya hingga kami
saling berpagutan. Sambil tetap menciumi lidahku, Parjo mengangkat
tubuhku dan memondongku dibawa ke ruang meeting VIP yang khusus dipakai
menjamu tamu VIP. Ruangan itu cukup luas dan dilengkapi dengan sofa
yang empuk.
Tubuhku segera dihempaskan ke sofa itu dan kembali Parjo mencumbuku
dengan ganasnya. Dengan sikap posesif, Parjo terus mencumbuku di ruang
meeting VIP itu. Seluruh tubuhku mulai bergelora dan tergelitik. Tangan
Parjo yang terampil mulai melepaskan kancing gaunku satu persatu.
Sekarang aku hanya mengenakan rok ketat dan BH. Kembali Parjo
menggumuliku di sofa empuk itu. Lidahnya yang tadinya menggelitik
lidahku mulai bergeser turun ke leherku, sementara itu tangannya segera
melepaskan pengait BH-ku dan melepaskan BH tersebut hingga tubuh bagian
atasku sudah tanpa penutup lagi.
Lidah Parjo terus bergeser turun dari leher ke bahuku yang terbuka
lebar. Tangan Parjo secara otomatis bergerak ke dadaku yang sudah
terbuka dan bermain-main di sana. Kedua payudaraku terasa agak sakit
karena Parjo meremasnya dengan kasar dan gemas.
"Ohh.." tanpa sadar aku menggumam saat kedua puting payudaraku yang
didekatkan satu sama lain dilumat mulut Parjo dengan rakus secara
bersamaan. Lidahnya yang kasar dan panas mempermainkan kedua puting
payudaraku. Tubuhku terasa bergetar menahan gairah.
Aku tak henti-hentinya mendesis menahan geli dan nikmat saat mulut
Parjo melumat payudaraku dengan gemasnya. Tangan Parjo lalu melepaskan
satu-satunya penutup tubuhku. Rokku dilepasnya hingga aku betul-betul
telanjang bulat. Aku baru kali ini telanjang bulat di kantorku sendiri.
Aku berbaring telentang di sofa sambil tanganku berusaha menutupi
selangkanganku karena jengah. Mata Parjo tak pernah lepas dari tubuhku
ketika ia membuka pakaiannya satu demi satu.
Aku menahan napas melihat Parjo yang sudah telanjang bulat di
depanku. Perutnya datar dan keras. Tungkai dan lengannya yang kokoh
sangat lebat ditumbuhi rambut. Tubuhnya tegap berotot, urat-urat darah
yang kuat terlihat jelas di lengannya. Parjo lalu duduk di dekat tubuh
telanjangku.
"Tubuhmu seksi sekali Lin.." bisik Parjo di telingaku.
Tangannya segera bergerak mengelus dadaku. Ibu jarinya melakukan
gerakan melingkar di atas payudaraku hingga membuatku menggelinjang
kegelian. Tangannya lalu meraba perutku dan terus bergeser turun dan
menyingkirkan tanganku yang menutupi selangkangan. Ditangkupkannya
telapak tangannya di bukit vaginaku dan ditekankannya tangannya di sana
sambil meremas pelan.
"Ohh.." aku hanya mendesis menahan gairah.
Parjo lalu menundukkan wajahnya dan merangkak di atasku dengan
posisi terbalik. Mulutnya segera menyerbu payudaraku. Lidahnya
menyapu-nyapu seluruh permukaan kulit payudaraku dan menyedot putingku
dengan gemasnya. Tanpa sadar tanganku bergerak meremas-remas rambut
kepalanya. Parjo pun semakin bersemangat begitu mendapat respons
dariku.
Lidahnya terus merayap turun hingga ke perutku. Kini wajahku
menghadap dadanya yang bidang. Mulutku yang menempel ketat di dadanya
secara otomatis mulai merespons. Keringat Parjo yang berbau menyengat
menjadi obsesiku. Aku tak menyia-nyiakan untuk merasakan keringatnya.
Lidahku tanpa malu-malu lagi mulai menjilati puting dada Parjo yang
hitam kecoklatan.
Lidah Parjo terus turun ke selangkanganku. Otomatis wajahku kini
menghadap ke arah selangkangannya yang merangkak di atasku dengan
posisi terbalik. Batang kontolnya yang berukuran super menggantung
bergoyang-goyang di depan mulutku seperti terong. Karena ujungnya
menyentuh-nyentuh mulutku, aku terusik untuk membuka mulutku dan mulai
menjilati ujung topi bajanya.
"Ouchh.. Jo.." tubuhku tersentak saat lidah Parjo mulai menjilati
vaginaku dan lidahnya menyeruak ke dalam lubang vaginaku menjilati
dinding-dindingnya. Pantatku terangkat secara otomatis.
"Arghh.." Parjo pun melenguh saat mulutku menyedot-nyedot ujung kepala kontolnya yang sudah sangat keras.
Setelah puas saling menjilat dan mencumbu, Parjo membalikkan
tubuhnya menghadap ke arahku. Tangan Parjo segera menguakkan kedua
pahaku lebar-lebar. Ia menempatkan tubuhnya di antara kedua pahaku dan
mulai menyatukan tubuhnya ke tubuhku. Kulit Parjo yang sudah licin oleh
keringatnya yang berbau menyengat tampak mengkilap. Titik-titik
keringat bermunculan di kening dan lehernya. Parjo menghunjamkan
tubuhnya dalam-dalam berulang kali ke dalam hingga kedua tulang
kemaluan kami saling melekat satu sama lain.
Mulut Parjo segera melumat bibirku yang setengah terbuka karena
merasa sesak napas saat selangkanganku terganjal kontol Parjo yang
melesak ke dalam lubang vaginaku hingga ke pangkalnya. Dalam sekali
rasanya hingga mulut rahimku terasa agak ngilu tersodok ujung
kontolnya.
Ke Bagian 4
| Title | Author | Views |
| Cerita Remaja 2: Nakalnya Mama Andre |
Joko Susilo |
188,725 |
| Selingkuh Dengan Istri Teman |
roy_takeshi@yahoo.com |
102,303 |
| Pembantu Hasrat |
dark.blackest@yahoo.co.id |
97,967 |
| Pengalamanku Dengan Suami Orang |
deknas@yahoo.com |
78,401 |
| Pantat Bahenol Mbak Surti |
radhiepatahdenkul@gmail.com |
75,752 |
| Perawatku yang Seksi |
syidi_theman@astaga.com |
75,295 |
| Syahwat di Celah Dinding Rumah Kontrakan - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
67,676 |
| Sperma Lelaki Lain di Celana Dalam Istriku – 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
63,657 |
| Pesona Iparku Yang Mempesona |
priaasli@yahoo.com |
62,519 |
| Warnet Hot - Buka Perawan |
ipank.metal@gmail.com |
61,916 |
| Perselingkuhan Istri Muda - 1 |
ab1071@yahoo.com |
61,046 |
| Shinta Sang Sekretaris |
wirlise@crb.elga.net.id |
60,714 |
| Tetanggaku Sayang |
M. Hakim |
56,365 |
| Penjual DVD Cantik |
ebiznet88@yahoo.com |
54,845 |
| Pengalaman Pertamaku Bercinta |
deknas@yahoo.com |
54,245 |
|
|
|
|
|
|
|