|
|
Dari bagian 2 Ciuman Warni terus turun ke perut. Godaan hasratku bangkit menyaksikan
otot perut lelaki tua itu. Demikian kencang dan sangat serasi
tampilannya. Aku iri dengan bentuk perut indah macam itu. Betapa nikmat
selusuran bibir Warni merambahi perut lelaki itu.
Rasa iriku ini mendorong nafsuku untuk ikut menciuminya. Yaa, aku
demikian ingin menciumi tubuh lelaki yang jelas-jelas telah menggeluti
dan menumpahkan spermanya ke tubuh istriku sendiri. Aku dilanda sensasi
erotis yang membuat orientasi seksualku tiba-tiba bergeser. Aku yang
seharusnya melawannya malahan kini menjadi menikmati syahwat dari
kekalahanku. Aku berubah menjadi pemuja penaklukku. Aku ingin
menggantikan peranan Warni. Aku membayangkan aku sebagai Warni yang
sedang menciumi otot-otot gempal lelaki yang bukan suamiku. Aku menjadi
sangat kehausan.
Tenggorokanku terasa sangat kering. Dan rasanya obatnya hanyalah
menyaksikan sperma lelaki itu tumpah di mulut istriku dengan bayangan
syahwat yang membuat seakan sperma itu tumpah di mulutku. Tampak Warni
tak melewati seinchipun ciuman dan bahkan kini juga jilatannya pada
perut lelaki itu. Dan aliran bibir dan lidah Warni alur selanjutnya
sudah kubayangkan. Pasti ciuman dan jilatannya akan meluncur ke arah
kemaluan lelaki itu. Dan itu terjadi.
Warni memang type perempuan penikmat syhawat sejati. Lihatlah,
tangannya yang penuh perasaan dan peka dia merintis dengan rabaan-nya
merambah ke wilayah kemaluan lelaki itu. Dan kini bibir Warni 'napak
tilas' mengikuti alur rintisan tangannya. Lidah dan bibir Warni
menapaki jalur jari-jarinya untuk mencium dan menjilati batang kemaluan
lelaki itu. Seperti si buta dengan tongkatnya. Jari-jari Warni menjadi
pedoman bibir dan lidahnya dalam upaya melumat 'tongkat base ball'
milik lelaki itu. Dan kini jari-jarinya sedang mengelusi batang tegar
kaku serta hangat penuh otot itu untuk menuntun jalan jilatan dan
lumatan lidahnya.
Dan ketika bibir dan lidah Warni menyentuh kemudian menciumi dan
menjilati batang penis itu, si lelaki tua mendesis. Kenikmatan erotis
yang sungguh luar biasa telah menimpanya. Tangannya yang kekar penuh
otot merampas rambut-rambut Warni dan memerasinya. Dia menebar rasa
pedih pada kulit kepala istriku. Dia ingin mendengarkan rintihan sakit
yang nikmat dari mulut Warni. Saat dia benar mendengar rintih dan jerit
sakit Warni, tangannya menekan keras kepala istriku. Dia tunjukkan
keinginan hewaniahnya. penisnya dijebloskan lebih dalam ke mulut Warni.
Dia ingin istriku melumati penisnya.
Tak lama kemudian kusaksikan lelaki itu cepat berbalik. Dia dorong
Warni untuk telentang. Lelaki tua itu bergerak setengah berdiri untuk
melangkahkan pahanya dan meng-angkangi dada istriku. Masih dalam
remasan tangannya rambut Warni ditekankannya ke bantal sehingga kepala
Warni terdongak dengan bibir yang setengah menganga. Pada saat itulah
kangkangan lelaki itu bergeser maju. penisnya kembali disorongkan ke
mulut istriku agar dilahapnya. Dan istriku cepat me-respon. Kini aku
menyaksikan kembali gerakan mengayun. Dengan penisnya yang gede panjang
lelaki itu ngentot mulut istriku Warni.
Seperti bayi yang berangkang dengan selangkangannya pas diatas
wajah lelaki itu berayun naik turun memompa mulut istriku. penisnya
keluar masuk menembusi bibir indah Warni. Nampak pipi Warni menjadi
penuh seperti anak rakus yang menjejalkan seluruh kuenya masuk
kemulutnya. Mulailah kedua mahkluk ini saling mengayuh, yang satu
jemput dengan mulutnya dan yang lain antar penisnya.
Ucchh.. Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan..
Aku mengakui stamina hasrat seksual kedua orang ini. Belum lama
mereka telah menumpahkan hampir semua energinya saat menjemput
orgasmenya tadi, kini mereka telah kembali ke arena pacu untuk kembali
melampiaskan syhawat birahinya. Aku yakin puncak nikmat ke dua segera
menyusul.
Aku sendiri sepertinya kena sihir. Apa yang istriku lakukan bersama
lelaki itu telah meng-eksplorasi seluruh cadangan energiku. Aku telah
pulih dan langsung bergairah untuk kembali melakukan eksplorasi pada
kemaluanku. Tanganku mengelusi, mengocok-ocok, menjepit atau mencubiti
penisku yang tak seberapa besar ini. Aku mencoba merasakan setiap
elusan atau kocokkan tanganku sejauh bisa merangsang libidoku. Apa yang
kini tampak di depan mataku mendorong habis hasrat birahiku. Aku
mempercepat kocokkanku seiring dengan percepatan kuluman dan pompaan
penis lelaki itu pada mulut istriku.
Kini aku merasakan kembali nikmatnya tanganku mengocok sendiri
kemaluanku. Saraf-saraf peka baik yang langsung tersentuh elusan atau
kocokkan tanganku maupun yang cukup tersentuh oleh khayalan syahwat ku
telah berhasil merangsang kantong spermaku untuk memompakan
simpanannya. Kini tak bisa kuhindari, aku merasakan spermaku merambati
jaringan pipa-pipanya untuk selekasnya bisa menyembur keluar dari
penisku. Yang membuat aku menjadi sangat terbakar adalah datangnya
khayalanku yang bisa melahirkan sensasi baru bagi dorongan syahwatku.
Aku membayangkan betapa aku menjadi Warni yang kini sedang dijejali
batangan panas gede dan panjang milik lelaki itu. Aku membayangkan tak
lama lagi cairan kental panas akan luber muncrat memenuhi mulutku. Aku
sudah membayangkan rasa asin, gurih, lengket atau kenyal-kenyal sperma
lelaki itu di mulutku. Yang kemudian mengalir memasuki tenggorokanku.
Rambatan itu demikian gatal dan nikmatnya. Dengan paduan penuh
irama tanganku yang mengelus, mengocok dan mejit-pijit aku sedang
memasuki ambang orgasmeku. Aku semakin melototkan kepalaku ke arah
wajah istriku. Kulihat pompaan penis lelaki itu mengayun semakin cepat
dan semakin cepat.. Cepat.. Cepat..
Woowww.. Ayyoo.. Warnii.. Hohh.. Hohh.. Hohh.. Wajah lelaki itu.. Wajah ituu..
Aku kembali melayang.. Gelapnya malam serasa berputar.. Bayangan
lampu jalusi nampak bergoyang seperti jendela kapalku. Kembali tanganku
di jalusi itu lepas. Kembali aku terayun limbung. Kakiku tak mampu
berpijak tegak. Bangku plastikku lepas dari injakanku. Amppuunn.. Aku
tak mampu melepaskan kocokkan tanganku..
Spermaku muncrat tepat saat aku oleng dan melayang jatuh terguling
ke tumpukkan puing bongkaran rumahku. Sementara itu sayup-sayup
kudengar pula suara lelaki dan perempuan yang seperti sedang meregang
jiwa dari kamar pengantinku. Rupanya pada saat yang bersamaan aku dan
mereka sama-sama dilanda gegap orgasme.
Tanganku masih terus menggerakkan kocokkannya untuk memperpanjang
nikmat orgasme dengan berusaha menangkapi suara-suara erotis dari
istriku bersama lelaki itu. Dan hasilnya adalah hadirnya orgasme
beruntunku. Desahanku serasa tak pernah henti. Dalam keadaan
terjerembab ke tumpukan puing itu aku terus mendesah dan mendesis
mengiringi denyutan muntah spermaku. Entah apa yang terjadi, rasanya
spermaku terus muntah tak mau berhenti.
Pelan-pelan aku bergeser ke kegelapan di balik pot-pot tanaman
hias. Aku tunggu beberapa saat kemungkinan yang berada dalam kamar
mendengar suara jatuh dan menengok keluar jendela. Ternyata tak ada
yang memperhatikan jatuhku. Rupanya mereka begitu asyik dalam jebakan
nikmat syahwatnya. Mereka tetap tidak mendengar suara yang cukup gaduh
karena tubuhku yang terjengkang ke puing ini. Aku sendiri sudah nggak
lagi tahu, apakah aku terluka atau tidak.
Aku masih tetap ingin menuntaskan keingin tahuanku. Sejauh mana dan
apa yang diperbuat Warni istriku bersama lelaki itu dalam kamar
pengantinku. Kulihat jam tanganku menunjukkan pukul 3 dini hari. Aku
terseok bangun dari tumpukan puing di luar jendela kamarku. Walaupun
tubuhku terasa ngilu dan pedih aku tetap berusaha mengatur bangku
plastik untuk kembali ke lubang kisi-kisi jendela.
Kulihat betapa Warni yang memang betul-betul perempuan penuh haus
syahwat ketemu dengan lelaki yang memiliki kekuatan untuk melayaninya.
Dalam telanjang bugilnya dan coreng moreng wajahnya sperma di seputar
mukanya istriku menindih dan memagut bibir lelaki itu. Nampak sesekali
mengangkat wajahnya untuk melihati wajah lawannya kemudian kembali
memagut bibir dan mengelus-elusi rambut lelaki itu.
Ooo.. Rupanya Warni masih menuntut agar vaginanya mendapatkan
giliran penis lelaki itu. Nampak kini tangan kanannya turun untuk
mengelusi kemaluan lelaki itu. Dan nampak banget olehku betapa Warni
begitu 'keranjingan' pada penis gede panjang milik lelaki itu.
Kusaksikan lembutnya tangan Warni demikian bertolak belakang dengan
kasar otot-otot kemaluan lelaki itu. Dan tangan lembut itu memeras,
memijit dan mengelusi batang yang kekar dan kasar itu. Sungguh sebuah
'kontrastistik erotisme' yang sangat indahnya.
Tak diragukan lagi, kedua insan ini langsung memasuki keadaan yang
memanas penuh atmosfir birahi. Warni dan lelaki itu siap untuk menempuh
pergulatan barunya. Mereka memasuki ettape ke.3-nya menuju puncak
syahwat berikutnya. Dan yang terjadi kemudian kendali di atas ranjang
itu beralih ke sang lelaki itu. Dia mendorong telentang kembali tubuh
Warni. Dia raih tubuh itu pada tungkai kakinya menuju pinggiran
ranjang.
Tepat saat bokong Warni menyentuh tepiannya, lelaki itu mengangkat
tungkai kiri Warni untuk dipanggul ke bahunya sementara tungkai lainnya
menjuntai ke lantai. Selanjutnya yang terlihat adalah penis lelaki itu
dengan pasti diarah tuntunkan ke vagina istriku yang sudah demikian
menantinya.
Semuanya berjalan begitu mengalir, seakan hal demikian sudah
merupakan ritual rutin dalam pertemuan-pertemuan mereka. Butuh beberapa
detik untuk lelaki itu mendesakkan kemaluannya ke vagina Warni. Aku
melihat betapa kepalanya penis yang demikian bulat dan berkilatan
menekan bibir vagina Warni hingga terbawa melesak ke dalam. Dan betapa
desis nikmat langsung terbit dari mulut istriku mengiringi amblasnya
penis ke dalam lubang kemaluannya.
Yang kusaksikan melalui kisi-kisi jendelaku ini menjadi 'gong' dari
perselingkuhan istriku dengan lelaki itu. Dalam posisi begini kulihat
mereka lebih 'profesional' dalam saling mengayun. Irama sodokkan penis
dan lahapan bibir vagina yang teriringi oleh desah dan rintihan
bertalu-talu dari pasangan selingkuh itu. Wajah lelaki yang begitu
nikmat merasai lubang sempit vagina istriku, atau wajah istriku yang
begitu hanyut dalam pusaran nafsu birahinya merasai batang tegar gede
panjang milik lelaki yang bukan suaminya itu benar-benar sesuatu yang
nyata telah kuhadapi.
Dan tak aku pungkiri, aku menikmati ke-selingkuhan istriku. Aku
menikmati bayanganku yang mengajak orientasi seksualku untuk bergeser
ikut menjilati atau melahap tubuh lelaki itu. Aku merindukan peristiwa
ini berulang dan aku bisa menyaksikannya lagi.
Goyang dan ayun Warni bersama lelaki itu sampai pada puncaknya saat
tiba-tiba istriku bangkit dan tangannya merenggut gumpalan dada lelaki
itu. Kulihat cakarnya terhunjam pada daging dadanya yang menghasilkan
alur luka yang panjang berdarah. Itulah puncak orgasme Warni yang buas
dan liar. Nafsu hewaniahnya yang tak pernah dia perlihatkan padaku.
Ketika segalanya telah usai, sementara ketelanjangan dalam kamar
pengantinku belum juga berakhir, lelaki itu mengambil sepotong kain
berwarna terang dan lembut yang terserak di lantai. Sementara Warni
istriku telentang kelelahan di ranjang, dengan sabar lelaki itu
menge-lap sperma dia yang tercecer pada tubuh istriku dengan celana
dalam istriku yang ada di tangannya.
Dia menge-lap spermanya yang meleleh dari lubang dubur, dari lubang
vagina serta di seputar selangkangannya dan juga yang terserak di dagu,
pipi, leher serta buah dada istriku. Kuperhatikan pula saat celana
dalam istriku dia lemparkan kembali ke lantai. Aku tak lagi
menyangsikan cerita Giman. Tetapi aku hari ini bukan lagi aku kemarin
lusa yang seorang suami baru turun dari kapalnya. Aku sekarang adalah
lelaki yang menikmati istrinya mendapatkan nikmat syahwat dari lelaki
lain.
Lelaki itu pulang sangat dini hari. Mungkin sekitar pukul 4.30
pagi. Mungkin istriku mengingatkan kemungkinan aku suaminya pulang pagi
ini.
Dan aku memang pulang pagi ini. Aku telah berdiri di ambang pintu
rumahku jam 7.30 pagi. Istriku menyambut aku dengan penuh rindu. Dia
sedang bersiap untuk belanja ke pasar. Dia bertanya padaku ingin
masakan apa untuk makan siang nanti. Aku serahkan saja padanya. Dia toh
tahu kesukaanku. Aku hanya berharap Warni lekas berangkat ke pasar. Aku
sudah tak sabar untuk memasuki kamar mandi.
Aku menemukan apa yang sangat ingin kutemukan pagi itu. Celana
dalam istriku yang berwarna terang dan lembut nampak berada di
gantungan kamar mandi. Tanganku meraihnya dan jari-jariku merabainya
hingga kutemukan gumpalan lengket itu. Kini aku tak lagi sekedar
menciumnya. Aku mempersiapkan seluruh diriku. Celana dalam itu kuamati
lebih cermat. Kupandangi dimana saja gumpalan-gumpalan lengket nempel
pada celana dalam itu. Kemudian aku memulai apa yang sangat aku
rindukan. Aku dekatkan celana dalam itu kemulutku. Aku mulai melahap.
Aku lumat-lumat celana itu pada gumpalan lengketnya. Aku merasai sperma
dingin yang sangat kental larut dalam mulutku. Aku meyakini sedang
mengunyah dan akan menelan sperma milik lelaki teman selingkuh Warni
istriku.
Aku mendapatkan nikmat orgasmeku tanpa tanganku menyentuh apalagi
mengocok penisku. Air maniku muncrat-muncrat saat sperma lelaki itu
mulai mengaliri tenggorokanku.
Jakarta, Mei 2004
E N D
| Title | Author | Views |
| Cerita Remaja 2: Nakalnya Mama Andre |
Joko Susilo |
188,853 |
| Selingkuh Dengan Istri Teman |
roy_takeshi@yahoo.com |
102,351 |
| Pembantu Hasrat |
dark.blackest@yahoo.co.id |
97,980 |
| Pengalamanku Dengan Suami Orang |
deknas@yahoo.com |
78,406 |
| Pantat Bahenol Mbak Surti |
radhiepatahdenkul@gmail.com |
75,795 |
| Perawatku yang Seksi |
syidi_theman@astaga.com |
75,324 |
| Syahwat di Celah Dinding Rumah Kontrakan - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
67,692 |
| Pesona Iparku Yang Mempesona |
priaasli@yahoo.com |
62,537 |
| Warnet Hot - Buka Perawan |
ipank.metal@gmail.com |
61,929 |
| Perselingkuhan Istri Muda - 1 |
ab1071@yahoo.com |
61,130 |
| Shinta Sang Sekretaris |
wirlise@crb.elga.net.id |
60,752 |
| Tetanggaku Sayang |
M. Hakim |
56,376 |
| Penjual DVD Cantik |
ebiznet88@yahoo.com |
54,853 |
| Pengalaman Pertamaku Bercinta |
deknas@yahoo.com |
54,260 |
| Kesempatan dalam Kesempitan |
zaibatsu22@hotmail.com |
53,560 |
|
|
|
|
|
|
|