|
|
Dari bagian 2 Setelah puas mendapatkan jilatan serta kuluman akhirnya Arman meraih
lengan istriku untuk kembali duduk memunggungi dalam pangkuannya. Dik
Narti dengan cepat melepasi sendiri rok bawahnya. Dalam pangkuan Arman
dia membetulkan serta mengepas posisinya hingga kontol Arman persis di
bawah bokongnya. Tangan Dik Narti memegang erat batang kontol itu dan
menuntun agar tepat mendongkrak lubang kemaluannya yang masih
terbungkus celana dalam.
Dengan menyibak sedikit tepian celana dalam itu akhirnya kemaluan
gede milik Arman itu berhasil menemukan lubang vagina Dik Narti. Desah
dan lenguh kedua orang yang asyik masyuk itu mengantarkan masuknya
kontol ke lubang vagina mereka. Arman cepat memindahkan tangannya
memeluki tubuh telanjang istriku yang membelakanginya. Hidungnya
kembali nyungsep serta mengenyot-enyot ketiak dan buah dada Dik Narti.
Tangan-tangan Dik Narti nampak menggeliat ke atas dan berusaha meraih
kepala Arman. Sementara ayunan telah langsung di mulai. Dik Narti
menaik-turunkan pantatnya untuk memompakan kontol Arman ke lubang
vaginanya. Sementara Arman dengan penuh kegatalannya menaik turunkan
pantatnya menjemputi memek Dik Narti.
Itulah puncak perselingkuhan Dik Narti dengan Arman petugas Satpam
kantorku. Genjotan yang terus nyambung dan bertubi mendekatkan
saraf-sarah birahi mereka dan menggiring dera nafsunya menuju ejakulai
Arman. Dan tak ayal pula orgasme Dik Narti telah berada di ambangnya.
Dengan riuh racau, desah dan rintihan keduanya akupun dengan pasti
tergiring untuk lekas melepaskan spermaku. Aku mengkhayalkan seandainya
sperma itu tumpah kemudian meleleh keluar dari bibir vagina istriku.
Atau sperma itu tumpah muncrat-muncrat di mulut Dik Narti istriku.
Khayal-khayalan itu mendongkrak syahwatku.
Dan akhirnya tanpa bisa ditahan Arman meremas buah dada ranum Dik
Narti dengan kerasnya. Dan Dik Narti berteriak tertahan dilanda
orgasmenya yang telah di ambang. Kedua orang berasyik masyuk ini tanpa
hambatan melepaskan kontrolnya dan meraih puncak-puncak birahinya.
Nampak dari memek istriku Dik Narti 'ndlewer' mengalir cairan putih
kental terbawa keluar masuk batang kontol Arman. Mungkin
berliter-liter. Sperma Arman seakan tak habisnya hingga melumuri lubang
dan seluruh tepian memek Dik Narti.
Tiba-tiba birahiku cepat bangkit lagi saat melihat bagaimana seprma
Arman 'ndlewer' dari vagina istriku. Betapa nikmatnya seandainya aku
menjilati langsung sperma itu dari memek Dik Narti. Aku berpikir keras.
Dan akhirnya dengan buru-buru dan tergetar aku bangkit menuju pintu.
Aku menggedor-gedornya,
"Dik Nartii.. Mas pulang niihh.. Dik Nartii.."
Dor, dor, dorr.. Aku pukul-pukul daun pintu dan tak lama,
"Ah, Mas Gito, kok sudah pulang Mas. Ituu.. Ss.. Sii Arman baru
saya suruh balik cepat ke kantor," istriku membuka pintu, mungkin
sekitar 3 atau 4 menit sesudah aku menggedor pintu. Dan di belakangnya nampak Arman sedang mengepit bundel dokumen yang aku
minta. Mereka berdua dengan cepat telah nampak berpakaian lengkap.
Disamping juga nampak tegang ada yang kutandai, rambut Arman nampak
belum nyisir, mungkin hanya ditarik dengan jari-jarinya dan pakaian Dik
Narti nampak agak lusuh berantakan. Namun aku tidak memperlihatkan
kecurigaanku sama sekali,
"Iya, Man. Lekas kamu balik kantor. Nih aku tambahin uang lagi kamu
cari taksi. Nih surat-surat serahkan sekretaris. Bilang bahwa anak buah
Pak Jarwo akan mengambil siang ini. OK? Nanti aku nyusul," Nada
bicaraku ini langsung menghilangkan ketegangan mereka. Aku benar-benar
menunjukkan bahwa sediktpun aku tidak khawatir atau curiga pada mereka
berdua.
Namun begitu Arman balik ke kantor aku langsung menggelandang Dik
Narti ke ranjang pengantin kami. Aku langsung tubruk dan menciumi
istriku yang sangat kucintai ini. Pasti Dik Narti heran akan ulahku.
Tak biasanya pulang kantor langsung merangsek begini padanya.
Aku buka setengah paksa pakaiannya dan aku langsung menenggelamkan
mukaku ke buah dada dan ketiaknya. Aku menjilati dan menciuminya. Masih
sangat terasa adanya bau ludah Arman pada tubuh Dik Narti. Hal itu
justru semakin merangsang birahiku.
Sesudah melepaskan rok Dik Narti tangan kananku langsung merabai
kemaluannya. Aku langsung tangkap lengketan yang sangat banyak pada
bibir dan lubang vaginanya itu. Amun yang aku pertanyakan justru,
"Aahh Dik Nartii.. Cepet sekali naik birahinya ya.. Lihat nih..
Sudah becek banget," seakan tahuku bahwa becekan itu adalah cairan
birahinya. Dik Narti memandang aku dengan matanya yang ayu sambil
mengangguk-angguk setuju akan omonganku.
Dan aku tak lagi sabar. Ciuman di ketiak dan buah dadaku merambat
meluncur turun dan langsung melabuh ke wilayah selangkangannya. Tanpa
ragu aku julurkan lidahku. Aku menjilati dan menyedoti selangkangannya.
Kembali bau keringat Arman kurasakan pada selangkangan Dik Narti.
Dan akhirnya kudapatkan. Aku tergetar saat menyaksikan betapa
menggelembung ranum memek istriku ini. Betapa jembut, bibir dan liang
memek istriku belepotan oleh sperma Arman. Nampak gumpalan besar
meleleh dari vagina Dik Narti. Sungguh sangat menggairahkan hasrat
syahwatku. Aku mengenduskan hidung, menjulurkan lidahku dan mendekat.
Aku mulai menyedot dan menjilati sperma Arman itu. Kurasakan begitu
kental dan legitnya sperma Satpam-ku yang terasa ada asin dan sikit
pahit-pahit ini. Kusedot lengket-lengket di jembutnya, di bibirnya.
Dengan rasa penuh rakus kujilat hingga bersih yang meleleh dari
kemaluan istriku Dik Narti.
Pada kesempatan itu aku juga berhasil meraih orgasme dan
ejakulasiku. Dengan menjilati cairan kental sperma Arman di seputar
memek Dik Narti istriku aku merapatkan serta menggoyang pompa
menggesek-gesekkan kemaluanku pada betisnya. Dan akhirnya tak
terbendung pula air maniku muncrat membasahi kasur dan betis yang
sangat seksi ini. Aku langsung lunglai.
Aku tak sempat untuk melakukan penetrasi pada lubang vagina istriku
karena mesti cepat balik ke kantor. Kutinggalkan Dik Narti tergolek
telanjang di ranjang pengantin kami. Entah apa yang terpikir pada benak
Dik Narti melihat ulahku ini.
[Cerita 3, Sperma Tetangga]
Pesta 17 Agustus kemarin sunguh sukses di kampungku. Namun bagiku
kegiatan itu justru meninggalkan luka dan kenangan yang tak pernah
kuharapkan.
Untuk partisipasi pada panitia yang telah berusaha untuk
menggembirakan warganya aku mengikuti lomba catur yang diselenggarakan.
Lumayan untuk memperebutkan Piala Lurah Jonggol. Dan sebagai pecatur
yang banyak pengalaman aku yakin bahwa Piala Pak Lurah akan menambah
koleksi pialaku di rumah.
Pada malam final aku dipertemukan dengan jagoan catur RW lain
dengan dihadiri Pak Lurah sendiri yang membuka acaranya. Dengan
disaksikan para tetangga dekat maupun jauh pada sekitar jam 8 malam aku
telah duduk semeja menghadapi papan catur dengan lawanku. Diperkirakan
pertandingan final ini akan berlangsung sedikitnya 2 jam sejak dimulai.
Waktu merangkak semakin malam. Udara Jonggol yang cukup berangin
memberikan kesejukan yang nyaman. Aku bayangkan alangkah nikmatnya
tidur dengan udara sejuk macam begini sesudah beberapa malam kurang
tidur dalam upaya memperebutkan malam final ini.
Tiba-tiba, belum juga 1 jam pertandingan berlangsung, aku diserang
perut mulas dan harus ke belakang buang air. Kepada panitia aku memberi
tahu dan minta ijin. Sesudah berunding dengan pemain lawanku, akhirnya
aku setengah berlari pulang untuk buang air. Aku pikir salah makan apa
hari ini.
Sesampai di depan rumah kulihat pintu rumahku telah tertutup dan
lampu ruang depan nampak telah dimatikan. Kemungkinan istriku telah
tidur atau sibuk nonton TV di ruang belakang. Namun aku yang memang
siap pulang malam telah membawa kunci cadangan agar tidak perlu
membangunkan istriku.
Saat aku hendak memasukkan kunci ke lubangnya aku terhenti.
Jantungku berdegup kencang. Kulihat di lantai depan pintu kok ada
sandal yang sangat aku kenali. Sandal itu milik Pakde Darmo tetangga
sebelahku. Kami panggil Pakde karena usianya yang cukup jauh di atas
kami. Lebih dari 55 tahunan.
Kami memang akrab bertetangga dan sering saling bertandang, Tetapi
bukan malam-malam macam sekarang ini, apalagi saat aku tidak berada di
rumah. Aku langsung khawatir dan cemas. Ada apa Pakde Darmo bertandang
ke rumahku malam-malam begini? Dan dimana istriku? Apa yang mereka
lakukan berdua di dalam rumahku?
Aneh, sakit perutku langsung lenyap. Aku penasaran dan aku tunda
untuk tidak memasuki rumah. Aku akan ke jendela samping. Ada 2 jendela
di samping rumahku. Dari lubang angin diatas jendela pertama aku bisa
melihat ruang keluarga dimana istriku biasanya menghabiskan waktunya di
depan TV. Dan dari jendela yang kedua aku bisa melihat kamar tidurku.
Aku mengendap-endap dirumahku sendiri menuju jendela pertama.
Dengan bangku plastik yang selalu ada disana aku naik mengintip lubang
anginnya. Ah.. Tak nampak orang disana. Aku mulai curiga. Kalau bertamu
kenapa tidak di ruang tamu. Pelan-pelan aku turun dan pindah ke jendela
ke dua.
Belum juga aku naik aku mendengar suara orang ngomong,
"Paling Mas Bas baru pulang nanti sekitar jam 11 malam. Kalau
menang khan harus menunggu upacara penyerahan piala dulu," itu jelas
suara Indri istriku. Aku heran kenapa yang semestinya merindukan aku
agar cepat pulang malahan mensyukuri aku lambat pulang.
"Hhmm.." sebuah jawaban yang sangat berwibawa. Tanpa kata namun
penuh makna. Suara berat macam itu siapa lagi kalau bukan suara Pakde
Darmo. Aku penasaran. Dengan bangku plastik itu aku melongok ke kamar
tidurku.
Seperti Saddam Husein yang kena roket pasukan Sekutu aku hampir
jatuh telentang saat menyaksikan apa yang telah kusaksikan. Di atas
ranjang pengantinku dua orang yang aku cari ini sedang berasyik masyuk,
melepaskan hasrat syahwat birahinya. Seperti penampilan hari-harinya
Pakde Darmo hanya bersarung dengan kaos singletnya. Perutnya yang
buncit tak bisa disembunyikan. Sementara istriku Indri telah setengah
bugil. Hanya celana dalam dan BH-nya yang tinggal.
Dengan menindih tubuh Indri-ku mulut Pakde Darmo nyosor ngenyot-enyoti teteknya. Pantesan dia tak bisa ngomong.
"Sarung dan kaos singletnya dibuka dulu Pakde, nanti lecek,"
istriku mengeluarkan omongan lagi sambil tangannya meraih menarik lepas
sarung dan singlet Pakde Darmo. Kini Pakde sepenuhnya telanjang dan
istriku tinggal bercelana dalam dan kutang saja.
Dengan perut buncitnya Pakde memeluki istriku dari belakangnya.
Nampaknya Pakde suka nembak perempuan dari arah belakangnya. Tangan dan
kakinya yang berbulu cukup lebat memeluk tubuh istriku. Bibirnya nyosor
terus ke kuduk, ketiak dan buah dadanya. Indri-ku nampak begitu
menikmati dan larut dalam ulah Pakde Darmo ini. Rupanya permainan ini
sudah cukup jauh. Kini mereka tengah mendaki puncak nikmat hubungan
syahwat antar tetangganya.
Pakde Darmo adalah tetangga samping kanan rumahku. Dia adalah
pensiunan pegawai rendahan sebuah BUMN. Walaupun usianya sudah lebih 55
tahun namun perawakannya masih sangat sehat. Dia tak pernah berhenti
joging di pagi hari dan sesekali mengangkat barbel untuk merawat
ototnya. Sebagai lelaki Pakde Darmo sesungguhnya tidak tampan. Namun
dengan perut buncitnya dan bulu-bulu di badannya, Pakde Darmo sering
mendapat lirikan para perempuan di kampung. Mungkin istriku, yang
usianya 20 tahun lebih muda dari Pakde diam-diam mengimpikan bagaimana
tidur dengan lelaki berbulu macam Pakde Darmo ini.
Dalam gelinjangnya istriku bangkit berbalik. Bibirnya menjemput
bibir Pakde Darmo untuk berpagut sesaat sebelum lumatannya melata ke
leher kemudian dada Pakde. Nampaknya istriku begitu keranjingan dengan
bulu-bulu Pakde Darmo. Dengan penuh gairah lidah dan bibirnya menjilat
dan mengenyoti bulu dada Pakde. Aku sangat 'shock' menyaksikan apa yang
tengah berlangsung ini.
Aku sama sekali tidak mengira bahwa Indri istriku selama ini juga
terobsesi pada Pakde Darmo. Tetapi yang lebih menampar harga diriku
adalah membawanya ke ranjang dimana sehari-hari dia bersamaku. Aku tak
mengerti apakah Pakde Darmo yang secara aktif memulai ataukah Indri
yang sering menggoda syahwat Pakde.
Kini segalanya berubah cepat. Pakde sudah mengambil alih kendali.
Dia sepenuhnya menindih tubuh Indri yang membuka selangkangannya.
Tangan Indri dengan tangkas meraih kemaluan Pakde Darmo yang memang
lebih gede dan panjang dari kemaluanku. Mungkin hal ini juga hal yang
membuat Indri demikian terobsesi pada Pakde.
Dan yang terjadi berikutnya adalah ayunan Pakde dan goyangan
istriku yang di bawahnya. Kontol Pakde nampak begitu kaku dan tegar
menembusi memek Indri.
Istriku menjerit kecil dan terus mendesah dan merintih. Kenikmatan
birahi begitu menenggelamkan keduanya. Nampak cakar-cakar Indri sudah
siap menghunjamkan kukunya pada punggung Pakde. Menyaksikan Pakde Darmo
dan Indri istriku demikian nikmatnya saling mengayuh syahwat aku jadi
terbawa hanyut. Kontolku jadi ngaceng. Aku pengin mengelusi dan
mengocok-ocoknya sambil menyaksikannya bagaimana istriku dilanda nikmat
orgasmenya saat dientot Pakde Darmo ini.
Dengan dengusnya yang cukup meriuhkan kamarku nampaknya Pakde
sedang menjemput puncak nikmatnya. Dia percepat genjotan kontolnya.
Sementara demikian pula Indri istriku. Nampaknya orgasmenya akan hadir
bersama ejakulasi Pakde. Kuperhatikan batang kontol Pakde yang
berkilatan oleh lendir birahi nampak seperti piston mesin diesel yang
keluar masuk ke lubangnya. Aku membayangkan betapa nikmat melanda
sanubari istriku. Dan.. Aahh.. ttuuhh.. lihaatt..
Kontol yang terus menggenjot itu nampak membawa begitu banyak
lendir dan busa keluar masuk memek Indri. Pakde Darmo telah
mengeluarkan cadangan spermanya. Dan tubuh istriku nampak menegang dan
kemudian berkejat-kejat. Cakarnya menghunjam dan melukai punggung
Pakde. Indri mendapatkan orgasmenya selama, yang dalam pikiran dia, aku
sedang bermain catur demi Piala Lurah Jonggol.
Dan aku tak mampu menahan diriku. Aku kocok terus kontolku sambil
menyaksikan betapa sensasionalnya melihati istriku dientot tetanggaku
sendiri dan kini melihati pejuh lelaki itu berserak meleleh dari lubang
memeknya. Spermaku muncrat menembak kaca jendelaku.
Aku cepat turun dari bangku plastik. Aku harus cepat balik ke pertandingan sebelum panitia menyusul aku.
Malam itu aku pulang dengan Piala Lurah Jonggol bersusun tiga yang kemasan. Tingginya sama dengan tinggi badanku yang 167 cm.
Istriku membuka pintu dan menyambut aku dengan bangga. Dia yang menaruh pialaku itu di tempat yang terbaik di ruangan itu.
Aku langsung ngaceng lagi. Sepintas aku masih mencium aroma
keringat Pakde Darmo pada tubuh Indri istriku. Hasrat syahwatku
bangkit. Kuseret Indri ke ranjang pengantinku. Dengan bibir dan lidah
aku melumat-lumat tubuhnya. Aku berusaha menangkap sisa keringat dan
sperma Pakde Darmo di tubuh istriku.
Ke bagian 4
| Title | Author | Views |
| Cerita Remaja 2: Nakalnya Mama Andre |
Joko Susilo |
234,735 |
| Selingkuh Dengan Istri Teman |
roy_takeshi@yahoo.com |
121,177 |
| Pantat Bahenol Mbak Surti |
radhiepatahdenkul@gmail.com |
108,098 |
| Pembantu Hasrat |
dark.blackest@yahoo.co.id |
106,492 |
| Perawatku yang Seksi |
syidi_theman@astaga.com |
85,356 |
| Pengalamanku Dengan Suami Orang |
deknas@yahoo.com |
85,036 |
| Perselingkuhan Istri Muda - 1 |
ab1071@yahoo.com |
83,994 |
| Syahwat di Celah Dinding Rumah Kontrakan - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
74,685 |
| Shinta Sang Sekretaris |
wirlise@crb.elga.net.id |
70,980 |
| Sperma Lelaki Lain di Celana Dalam Istriku – 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
70,523 |
| Pesona Iparku Yang Mempesona |
priaasli@yahoo.com |
68,937 |
| Warnet Hot - Buka Perawan |
ipank.metal@gmail.com |
67,854 |
| Kesempatan dalam Kesempitan |
zaibatsu22@hotmail.com |
64,443 |
| Mbah Blabar Dukun Cabul - 2 |
marini_adit@yahoo.com |
63,313 |
| Pengalaman Pertamaku Bercinta |
deknas@yahoo.com |
61,881 |
|
|
|
|
|
|
|