|
|
Dari bagian 3 Dan akhirnya bukan hanya meremas dan memijit. Larsih juga mengelus dan
mengurut-urut kemaluan Mas Diran dari ujung hingga ke pangkalnya.
Larsih juga merabai betapa lebat jembut Mas Diran itu. Dia rasakan
adanya rimba yang tebal pada pangkal kemaluan Mas Diran. Tangannya
menarik dan jambaki gelimang rambut kemaluan itu.
Dia juga mengelusi dan memijit halus bijih pelir Mas Diran.
Jari-jarinya merabai bijih itu dan saat datang geregetannya dia sedikit
memjit sehingga Mas Diran berteriak kecil merasakan ngilunya.
Dia rabai kepala yang mirip topi baja tentara Nazi itu. Larsih bisa
merasakan betapa licin dan mengkilatnya kepala penis Mas Diran yang
sangat mengeras itu. Jari-jarinya seakan mengelusi pucuk terong ungu
yang licin besar.
Kemudian jari-jari itu merabai seputar lingkar leher penis itu
untuk kemudian bergerak lagi merabai kepala serta lubang kencing
kemaluan Mas Diran itu. Jangan dikata nikmat yang dirasakan Mas Diran
dari permainan jari-jar lentik dan rabaan tangan lembut Larsih ini.
"Duuhh.. Dikk, teerruuss.. Enak bangeett.. Dik Larsihh..".
Hati Larsih dirambati semacam perasaan tersanjung dan puas saat
mengetahui Mas Diran menerima kenikmatan remasan tangannya. Mas Diran
mulai maju mundur menggoyang-goyangkan pantatnya. Dia berharap Larsih
mengocoki batangnya pula. Goyangan maju mundur pantat Mas Diran
menandakan dia tak mampu menahan derita kenikmatan itu.
Mendengar rintihan yang keluar dari mulut Mas Diran, Larsih
membayangkan.. Seandainya penis Mas Diran yang segede ini menembusi
vaginanya, rintihan macam bagaimana yang akan keluar dari mulutnya itu.
Dan.. Betapa nikmat pula yang akan diraih dan didapatkan Larsih.
Kembali vaginanya menggatal dan terus melelehkan cairan birahinya
hingga celana dalamnya semakin kuyup. Permainan tangan Larsih itu
memang bukan untuk menghilangkan kegatalan birahi kemaluan seorang
lelaki. Lumatan, pijatan dan urutan tangan Larsih itu justru
mendongkrak syahwat Mas Diran untuk lebih dipuaskan lagi.
Kenikmatan remasan tangan Larsih membuatnya serasa terbang ke
awang-awang. Nikmat itu kini mulai mencari terminal transitnya. Nikmat
itu harus ada saat terminalnya sebelum nyambung ke nikmat berikutnya.
Mas Diran merasakan air maninya mendesak-desak untuk keluar dari
saluran penisnya.
"Ach.. Ww.. Uuch.. Aacchh," terdengar ah uh Mas Diran merasakan desakan nikmatnya.
Air mani ini tentu akan sangat pekat karena telah lebih sebulan tak
pernah tersalurkan. Murni istrinya tak pernah punya waktu untuk
berasyik masyuk melepas kerinduan dengan Mas Diran. Dan kini ada Larsih
perempuan 'hot' istri tetangganya yang dengan tangan lembutnya sedang
mempermainkan saraf-saraf peka di sekujur batang tubuh penisnya yang
gede panjang itu.
Dan lebih-lebih lagi mulut Larsih yang memperdengarkan desahan-desahan erotis itu yang semakin memacu syahwat birahinya,
"Enak ya maass.. Tangan Larsih?? Terus ya Maass?? Mas Diraann.. Larsih juga senaanng sekali bisa memuaskan Maass..".
"Enak, maass..?," tanya dalam desah Larsih berulang-ulang.
Tak pelak lagi pantat Mas Diran semakin tak terkendali maju
mundurnya. Rasanya air maninya tak akan mampu ditahan lagi. Mas Diran
kembali menghiba,
"Diikk Larsiihh.. Kencengin dong remasannyaa.. Cepetin.. Kocok-kocookk.. Yang cepeett..,"
"Ayyoo, Ddikk, Mas Diran mau keluarr, nniihh..".
Dengar ucapan terakhir Mas Diran, Larsih tanggap. Dan lebih dari
itu memang Larsih telah sangat menunggunya. Dia ingin penis Mas Diran
menyemprotkan pejuh-nya. Dia ingin tangannya kena semprotan air mani
Mas Diran yang pasti sangat hangat itu. Larsih juga ingin menyaksikan
betapa air mani Mas Diran akan tumpah sangat banyak dan kental.
Larsih ingin merabai air mani kental itu. Mungkin juga akan dia
jadikan lulur untuk dadanya, bahkan untuk lulur wajahnya.. Mungkin juga
Larsih akan menciuminya atau menjilati air mani itu.
Larsih nggak tahu kenapa dan bagaimana keinginan seperti itu tiba-tiba hadir dari dalam dirinya.
Keinginan seperti itu bahkan tak pernah muncul saat berhubungan badan dengan suaminya selama ini.
Larsih terlampau merasa jijik saat air mani Tono kesenggol
tangannya sekalipun. Dan biasanya dia cepet-cepet cebok sesudah
bersebadan dengan Tono. Dia ingin selekasnya terbebas dari cairan yang
menjijikkannya dalam liang vaginanya.
Tetapi dengan Mas Diran ini, justru dia mendapatkan dorongan nafsu
birahi yang beda. Rasanya Larsih Ingin melahap apapun yang keluar dari
tubuh Mas Diran. Dipercepetnya kocokkan tangannya. penis Mas Diran
terasa semakin menegang dan semakin keras dalam genggaman tangannya.
Larsih merasakan pegal menggenggam penis segede itu.
"Yaa.., yaa.., teruss Dik Larsihh.. Enakk bangeett diikk..,
Larsiihh, oohh Larsiihh, Larsiihh," Mas Diran menyongsong puncak
nikmatnya sambil meracau memanggil manggil nama Larsih. Pantatnya
semakin kuat dan cepat maju mundurnya.
Ah.. Akhirnya datanglah..,
Dengan meremasi tangan Larsih dan juga menahan agar tangan itu terus mijat-mijatnya Mas Diran menunggu air maninya tumpah,
"Ampuunn.. Dik Larsihh.. Ampuunn.. Dik Larsiihh, .. Enak banget Dik Larsihh..".
Diawali dengan meregang-regang sesaat penis Mas Diran menyemprotkan sperma dengan kerasnya.
Genggaman tangan Larsih merasakan sebuah kedutan yang sangat keras.
Urat besar penis Mas Diran mengedut dan memompa keluar muncrat cairan
putih kental. Air mani Mas Diran deras terpompa keluar. Mungkin ada
sekitar 8 atau sembilan kedutan besar yang memompa dan memuncratkan
cairan putih kental itu.
Tangan Larsih merasakan cairan hangat berlumuran pada sekujur
lengannya. Telapak tangannya merasakan ada pelumas hangat kental yang
memperlicin genggamannya. Air mani Mas Diran telah berlelehan pada
tangan dan lengan Larsih.
Untuk sementara Mas Diran merasakan kelegaan yang sangat mendalam.
Kehausan syahwatnya telah mendapatkan saluran keluar dengan muncratnya
spermanya. Kini dia membiarkan saat tangan Larsih mengendorkan dan
melepaskan remasan pada kemaluannya. Mungkin Larsih ingin menyaksikan
sperma yang berlumuran di tangannya.
Dia menarik lengannya. Dia memang ingin melihat bagaimana air mani
Mas Diran kini belepotan di tangannya. Dia juga ingin sekali hidungnya
mendekat untuk mengendusi baunya. Dan saat tangannya keluar nyeplos
dari lubang dinding itu Larsih langsung menyaksikan betapa air mani Mas
Diran telah belepotan pada telapak, jari-jari dan lengan tangannya.
Mata Larsih melihat tangannya menjadi lebih indah dan sangat
menggairahkan dengan sperma yang berserakan itu. Saat mendekatkan
tangannya yang berlepot itu ke wajahnya, hidungnya menangkap bau yang
khas. Bau air mani. Air mani yang keluar dari penis Mas Diran. Pelan
dan dengan lembut, Larsih mengusap-usapkan tangannya ke wajahnya. Dia
gunakan cairan kental yang keluar dari penis Mas Diran sebagai masker
untuk mempercantik wajahnya.
Kemudian dia juga lulurkan sebagian lainnya ke leher dan kemudian
dadanya. Dia pencet-pencet dan lumur buah dada dan puting susunya
dengan air mani itu. Dia tak perlu malu pada Mas Diran. Karena dengan
sedikit menjauh dan menepi ke dinding, Mas Diran tak akan bisa melihat
apa yang dia lakukan.
Sebatas untuk melumuri bagian tubuhnya, Larsih telah memuaskan
dirinya dengan air mani Mas Diran itu. Memang Larsih belum tega hatinya
untuk menjilat sperma itu. Perasaan jijiknya masih menguasainya.
Hingga sore hari tak ada bisikkan antar dinding yang terdengar. Mas
Diran tergolek lemas di ranjangnya. Dia langsung tertidur. Dan Larsih
sibuk menunggu air mani yang dilulurkan di seantero tubuhnya mengering
sendiri. Dia menikmati sensasi erotik dari cara itu.
Rasanya Larsih ingin membiarkan sperma kering itu tetap nempel pada tubuhnya sampai kapanpun.
Saat suaminya pulang, bekas-bekas lulur sperma Mas Diran di wajah
dan lehernya telah ngelotok dan lepas. Tono tidak lagi melihat sesuatu
yang aneh di wajah dan lehernya itu.
Sementara pada dadanya Larsih telah menutupinya dengan kaos oblong
yang memang dipakai sehari-harinya. Dengan membiarkan kering dan
ngelotok sendiri sperma Mas Diran yang dilulurkan ke tubuhnya Larsih
mendapatkan semacam kepuasan erotis. Sesekali bau khas air mani itu
masih menyirat pada hidungnya.
Malam itu, sebagaimana malam-malam yang lain Tono makan bersama
istrinya. Secangkir kopi dan sepiring pisang goreng telah melengkapi
kegiatan makan malam mereka. Sesekali tanpa sepengetahuan suaminya,
Larsih melirik ke lubang nikmat di dinding itu. Hatinya berdesir saat
mengingat betapa lewat lubang itu tangannya telah menggenggam dan
meremasi penis Mas Diran yang gede, keras dan hangat milik Mas Diran.
Larsih masih terkesan saat penis Mas Diran berkedut dengan kerasnya
yang kemudian disusul dengan muncratnya air mani yang berlepotan di
tangannya. Sementara itu di rumah sebelah, Murni sedang sibuk merangkai
bunga kering yang menjadi hobi utamanya. Setiap ada kesempatan dia
mampir di toko depan tempat bekerjanya untuk membeli bahan-bahan bunga
kering.
Secara sambilan dia juga menjual hasil karyanya kepada siapa yang
berminat. Banyak teman-teman atau tetangganya yang membeli hasil karya
Murni. Mas Diran, suaminya mendukung hobi istrinya yang juga terbukti
bisa menghasilkan tambahan uang untuk dapurnya ini. Walaupun terkadang
dia harus sedia berkorban.
Sering Murni lupa membuatkan kopi saat suaminya hendak berangkat
kerja. Bahkan dalam pemenuhan konsumsi libido seksnya selaku suami
istri, Murni juga kurang memberikan perhatian kepada Mas Diran. Tadi
sore mereka nggak sempat ketemu lama karena begitu Murni pulang, Mas
Diran sudah siap hendak tugas jaga malam.
Murni juga nggak terlampau perhatian pada dinding rumahnya yang
bolong-bolong itu. Sesekali nampak suaminya menambal dengan kertas
koran untuk kemudian disapu dengan cat dinding. Sebelum berangkat
menuju tugas malamnya, Mas Diran memastikan bahwa lubang tempat masuk
tangan Larsih saat meremasi penisnya tadi tidak menarik perhatian
istrinya. Ah.. Indahnya lubang itu.
Masih terkenang betapa lewat lubang itu tangan lembut Larsih telah
memberikan nikmat melalui remasan-remasannya. Dia ingin sepulang kerja
besok bisa mengulangi kenikmatan itu. Dia akan memberikan kejutan bagi
Larsih. Sore itu Mas Diran berangkat ketempat kerjanya dengan membawa
penisnya yang ngaceng sepanjang jalan.
Sepanjang malam itu Larsih tak bisa nyenyak tidurnya. Dia masih
menyimpan obsesi birahinya. Keasyikan ber-asyik masyuk dengan Mas Diran
tadi siang belum memberikan akhir nikmat yang tuntas. Memang dia merasa
cukup puas saat mendengar bagaimana Mas Diran mendesah dan merintih
karena remasan serta lumatan-lumatan tangannya.
Dia juga sangat puas bisa melulur wajahnya, lehernya dan dadanya
dengan air mani Mas Diran. Tetapi vaginanya sendiri yang sempat basah
dan sangat gatal tadi belum menerima sentuhan apapun untuk menyalurkan
syahwatnya.
Larsih nampak gelisah dalam tidurnya. Obsesi birahinya sempat
terbawa dalam mimpi. Dia melihat Mas Diran sedang menyetubuhi istrinya
Murni. Dia menyaksikan betapa Murni menjerit nikmat saat kemaluan Mas
Diran yang gede panjang itu menusuki vaginanya.
Kemudian dilihatnya pula bagaimana Murni nungging dan Mas Diran
memasukkan senjatanya dari arah belakang. Dia melihat bagaimana Murni
mengaduh dan merintih merasakan hebatnya kenikmatan syahwat yang
diraihnya. Belum lagi usai mimpinya Larsih terbangun. Udara rumah
kontrakannya yang sempit itu serasa sangat panas. Dia perlu turun dari
ranjang untuk minum untuk mengobati tenggorokannya yang kehausan.
Dilihatnya suaminya begitu lelap tidurnya. Mungkin karena bekerja
seharian, Tono langsung tertidur begitu selesai makan malam tadi.
Begitulah yang sering ditemui Larsih dalam kehidupan suami istrinya.
Hingga pagi hari, praktis Larsih tak bisa benar-benar memejamkan
matanya. Ingatan akan peristiwa yang terjadi bersama Mas Diran kemarin
siang benar-benar membuatnya menyimpan dendam syahwat yang memerlukan
saluran keluar.
Betapa kemaluan Mas Diran itu demikian menggoda sanubarinya. penis
yang demikian gede dan tegar itu pasti akan membuat setiap perempuan
yang kehausan birahi siap bertekuk lutut kepada Mas Diran. Dan mimpinya
tentang Murni istri Mas Diran yang nampak demikian nikmat menerima
tusukkan penis suaminya!?
Mungkinkah dia meniru Murni seperti dalam mimpinya? Mungkinkah dia
nungging di depan lubang itu dan Mas Diran mau menusukkan kemaluannya
dari sebelah dinding yang lain? Cukup lebarkan lubang itu untuk
kemaluan Mas Diran? Bisakah hal itu terjadi padanya?
"Ahh.. Bagaimana aku mesti menyampaikan keinginanku ini pada Mas Diran?," demikian pikir Larsih. Ah, bagaimana nanti sajalah.
Dari ranjangnya Larsih sempat mengamati lubang di dinding itu.
Lubang yang telah memberikan nikmat siang hari tadi dan akan memberikan
nikmat-nikmat yang lain pada siang hari nanti.
Ke bagian 5
| Title | Author | Views |
| Cerita Remaja 2: Nakalnya Mama Andre |
Joko Susilo |
234,556 |
| Selingkuh Dengan Istri Teman |
roy_takeshi@yahoo.com |
121,139 |
| Pantat Bahenol Mbak Surti |
radhiepatahdenkul@gmail.com |
108,032 |
| Pembantu Hasrat |
dark.blackest@yahoo.co.id |
106,459 |
| Perawatku yang Seksi |
syidi_theman@astaga.com |
85,335 |
| Pengalamanku Dengan Suami Orang |
deknas@yahoo.com |
85,019 |
| Perselingkuhan Istri Muda - 1 |
ab1071@yahoo.com |
83,894 |
| Shinta Sang Sekretaris |
wirlise@crb.elga.net.id |
70,956 |
| Sperma Lelaki Lain di Celana Dalam Istriku – 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
70,493 |
| Pesona Iparku Yang Mempesona |
priaasli@yahoo.com |
68,929 |
| Warnet Hot - Buka Perawan |
ipank.metal@gmail.com |
67,818 |
| Kesempatan dalam Kesempitan |
zaibatsu22@hotmail.com |
64,402 |
| Mbah Blabar Dukun Cabul - 2 |
marini_adit@yahoo.com |
63,226 |
| Pengalaman Pertamaku Bercinta |
deknas@yahoo.com |
61,848 |
| Tetanggaku Sayang |
M. Hakim |
60,806 |
|
|
|
|
|
|
|