|
|
Sambungan dai bagian 01 Kuelus terus batangannya, Emma semakin lupa daratan, erangannya semakin menjadi-jadi.
"Auw Mas.., aduh enak Mas..! Uh..!" desahnya sambil matanya terpejam dan kocokannya di penisku semakin keras.
Aku semakin nekat, kumasukkan tanganku ke dalam CD-nya. Ah.., terpegang
olehku stick milik Emma yang kuperkirakan lebih kecil dari punyaku.
"Auw.. Mas gila. Mas.., aduh enak Mas..!" ia berbisik untuk melanjutkannya di kamar, aku menurut saja dan mengikutinya.
Ternyata kamarnya di sebelah kamar mandi tersebut, kamarnya
berukuran 4x4 m dengan lampu tidur remang-remang dan satu tempat tidur
double berukuran 2x2 m dilapisi sprei warna biru muda dari bahan satin.
Emma melepas dasternya, lalu kemudian menghampiriku dan melepas
bajuku yang masih tersisa. Kami sama-sama sudah bugil, kuperhatikan
dalam keremangan itu ada rasanya aku ingin tertawa juga waktu melihat
tubuh Emma yang memang seksi itu, tapi lucunya kami sama-sama punya
rudal, yang beda payudaraku tidak membumbung, kulitku tidak sehalus
kulitnya. Aku berpikir kenapa aku tidak merasa jijik, kenapa aku tetap
terangsang. Aku tidak habis pikir dengan nafsuku ini yang dapat
menerima orang yang sama dengan jenisku, apa aku gay..? Tapi aku tidak
perduli lagi, karena Emma sudah melumat putingku dan menjilatinya
bergantian kiri dan kanan.
Kemudian disuruhnya aku telentang di tempat tidurnya, lalu ia mulai
menjilati ibu jari kakiku dilanjutkan ke jari kaki yang lainnya, terus
naik ke dengkul sambil lidahnya terus menempel di kulitku layaknya
orang sedang mengecat dengan kuas, tapi kali ini kuasnya menggunakan
lidah. Geli sekali rasanya, ada rasa sesuatu benar-benar sensasional
yang susah dilukiskan oleh seribu kata. Aku hanya dapat ber ah..uh ria
saja.
Setelah itu disuruhnya aku telungkup dan kembali aku dikuasnya,
hanya kali ini bagian belakang dari tumit hingga bokong yang kiri
dilanjutkan dengan yang kanan. Lalu ia naik ke pinggang, punggung lalu
ke leher, turun lagi ke bokong. Disuruhnya aku menungging, lalu
dijilatnya liang duburku, auwhh..! Hilang rasanya semua panca inderaku,
semua berkumpul di liang anusku ini. Dimain-mainkannya lidahnya di
sekitar anusku, lalu tangannya membuka bibir anus dan lidahnya masuk ke
dalamnya. Aku tidak dapat lagi menceritakan suara apa yang kukeluarkan
saat itu.
"Ma.. emm.. aduh Ma.., aku ngga kuat, aduh..!" desahku, tapi ia terus saja melumatnya.
Beberapa saat kemudian dibalikkannya tubuhku dalam posisi semula,
telentang. Dilumatnya lagi tubuhku, diawali dari jari-jari tangan
lanjut ke ketiak, kembali ke putingku lalu turun ke pusar.
Diputar-putar lidahnya di sana dan kemudian sampailah ke inti energi,
yaitu penisku.
"Agh..!" aku sedikit menjerit ketika dilumatnya dulu batangan berikut buahnya dan dilanjutkan mengulumnya.
"Agh.. Ma.. Sebentar Ma..!" kutarik ia lebih merapat sehingga rudalnya tepat di mulutku.
"Aduh.. duh.. Mas.. duh. Isep Sayang.., aduh terus Sayang..!" ia mengerang, tentu saja karena kenikmatan.
Jadilah kami menggunakan posisi 69, saling menghisap, saling
melumat, tidak ada rasa jijik sedikit pun yang kualami. Emma semakin
buas dan dengan lahapnya melumat penisku, begitu juga aku giat
memaju-mundurkan kemaluannya di dalam mulutku.
Kira-kira setengah jam kami saling melumat, saling menghisap dan
saling menjilat. Akhirnya ia memintaku untuk memasukkannya ke dalam
lubang anusnya. Dibasahinya kepala rudalku dengan ludahnya, lalu ia
telentang sambil mengangkat kakinya tinggi-tinggi. Dibimbingnya
kemaluanku untuk memasuki liang kenikmatannya.
"Pelan-pelan ya Mas..!" ia meminta.
Kudorong rudalku pelan-pelan, akhirnya dengan susah payah masuklah ke dalam goanya.
Untuk sekedar informasi, ternyata lubang dubur memiliki
keistimewaan yang tidak dimiliki vagina, karena ia lebih sempit dan
ototnya lebih terasa, mungkin ada ulir di dalamnya seperti laras
senapan, jadi penisku tidak hanya maju mundur tapi juga sedikit
berputar, bahkan serasa ada yang memijit, pokoknya uenak tenan.
Kumaju-mundurkan rudalku dengan irama yang perlahan. Mula-mula aku
merasa kagok juga, terutama oleh penisnya yang mengeras yang sedikit
agak mengganjal di perutku, tapi lama kelamaan terbiasa. Emma meliukkan
tubuhnya dan mengangkat kepalanya sehingga bibirnya dapat mencapai
puting susuku. Kembali dihisapnya tombol kenikmatan itu, sementara
tangannya mencari-cari yang akhirnya singgah di lubang anusku dan
dimasukkannya jarinya ke dalam lubang tersebut.
Kembali aku merasakan sensasi yang luar biasa. Untuk sekedar
meresponnya, satu tanganku kugenggamkan pada penisnya sambil kukocok
pula. Emma melepaska mulutnya dari puncak dadaku dan kulihat mata Emma
mendelik-delik, mulutnya monyong-monyong, kadang digigitnya bibir
bawahnya, kemudian ia kembali menyedot putingku dan disedotnya semakin
kuat.
"Mas.., ah.. auw.. enak Sayang.. augh.. yang dalam Sayang..!
Aduh.., aku mau bucat Mas, akh.. akh.. aku.. akh.. prt.., crt..,
crett..!"
Rupanya Emma sudah mencapai puncak orgasmenya, air maninya
membasahi perut dan tanganku, tapi tetap kuloco rudalnya. Sementara
liang anusnya terasa semakin mimilin pada saat ia orgasme, hingga
akhirnya aku pun merasa akan mencapai titik kulminasi hubungan seks.
Batangku terasa berdenyut, dengkulku bergetar.
"Ma.., aku keluar..! Aku.. augh.. aduhh.. uhh.. ah..!" desahku ketika hampir mengalami puncakku.
Emma semakin buas menghisap dan menggigit putingku, sementara
anusku pun dikocoknya pula. Aku serasa berputar tersedot semua melalui
kepala penisku. Pecah sudah air maniku di dalam liang duburnya, tapi
tetap kubenamkan sementara ia masih menjilati putingku. Kami
terjerembab di kasur tanpa sempat mencucinya. Aku tertidur merangkul
Emma yang juga kelelahan. Entah berapa lama aku tertidur.
Tiba tiba di antara sadar dan tidak, aku merasa ada sesuatu yang
hangat-hangat basah di tubuhku. Aku semapat bingun dimana asal rasa
itu, ternyata di lubang anusku karena tidurku menyamping dan dengan
ekor mataku aku melihat Emma sedang menjilati lubang itu.
"Ma.., buset.., lagi apa kamu..?" kataku.
"Sebentar Sayang ya..!" katanya tanpa menghentikan aksinya.
Lama-lama aku terangsang juga, aku merasa si bungsuku sudah
terbangun lagi. Kunikmati saja pekerjaannya. Tiba-tiba ia sudah tidur
di sampingku, dan posisi kami saat itu seperti sendok baris, ia mencoba
memasukkan rudalnya ke dalam lubangku.
"Ma.. eh.. eh.. jangan Ma..!" pintaku.
"Ngga apa-apa kok Sayang, ngga sakit kok, coba dulu deh..!" katanya.
Aku diam saja, benar saja ada yang menyodok ke dalam anusku,
rasanya aneh, sedikit sakit tapi aku ingin tahu juga rasanya, kudiamkan
saja. Sampai akhirnya habis semua tenggelam rudal milik Emma ke dalam
anusku. Perlahan dimaju-mundurkannya pantatnya yang membuat penisnya
pun maju mundur dalam lubangku.
Lama-lama kurasakan lumayan juga rasanya, aneh-aneh enak, gimana
gitu. Lidahnya menjilati punggungku, sementara tangan kanannya mengocok
si otong milikku dan tangan kirinya memilin-milin puting susuku. Wah..,
oke juga nih aku tidak banyak bekerja karena memang posisiku tidak
memungkinkan.
"Sh.. shh.. augh.. sh..!" Ema mendesis seperti kepedasan dan sambil terus menjilati punggungku dan tangannya tetap beraksi.
"Cplok.. cplok.." bunyi yang dihasilkan oleh pertemuan biji kemaluannya dan pantatku.
"Ough.. Mas. Mas.., Emma mau keluar lagi, uh.. uh.. ah.. adduhh.. aduh.. uh.. ugh.. auwww..!"
Ada cairan hangat di dalam liang duburku, aku tidak mengerti harus
bagaimana, tapi aku pun menikmatinya. Ia diam beberapa saat, disuruhnya
aku telentang, kemudian dimasukkannya penisku ke dalam duburnya.
"Alamak..! Ast.. uwsh..!" desahku.
Masuk sudah penisku. Kembali ia menggoyang pinggulnya dengan
sedikit histeris, diputar-putarnya putingku sambil tangan satunya
mengocok rudalnya sendiri. Matanya terpejam, tiba-tiba kepalanya
menengadah ke langit-langit.
Dan, "Ah.. ah.. ah.. mmhh..!" air maninya memancur sampai ke wajahku.
Wah.., Emma sudah dua kali, aku belum, gimana nih..? Emma
menungging sambil tetap tidak menghentikan goyangan pinggulnya dan
bibirnya dihisapkan pada putingku. Aku bergetar, kurasakan kalau aku
akan keluar juga. Benar saja, tidak lama kemudian aku keluar juga.
Kurasa banyak sekali air mani yang kukeluarkan di dalam liang anus
Emma.
Aku terbangun, kepalaku pening, mataku berat. Eit.., aku teringat
aku punya janji pagi ini. Wah.., ini sudah jam berapa, aku kaget bukan
main, ternyata sudah jam sepuluh pagi. Wah.., cilaka ini, mana janjinya
sama dosen lagi, terus aku mau alasan apa..? Ku cari-cari Emma sudah
tidak ada di tempat tidur. Waduh..! Makin pening kepalaku.
"Eh.., udah bangun si Sayang. Gimana, lemes ya..? Aku juga lemees banget..!" kata Emma tiba-tiba.
Emma datang sambil membawa sepiring nasi goreng dan segelas kopi.
Lalu kuhirup kopi panas, terasa darahku mengalir lagi. Semua terlihat
jelas dan aku sudah tidak ambil pusing lagi tentang janji, habis mau
gimana lagi toh sudah terlambat.
Akhirnya aku sarapan terus mandi dan bersantai-santai sambil nonton
TV. Aku agak malas pulang, dan ternyata Emma pun tidak membuka
salonnya. Akhirnya kami melakukan lanjutan pertandingan kami semalam
sampai sorenya aku pamit pulang sambil kurasakan dengkulku mau copot.
Entah sudah berapakali kukeluarkan air maniku.
Jadi begitulah kira-kira pengalamanku limabelas tahun yang lalu,
yang menghasilkan perilaku seksualku menjadi sedikit agak menyimpang.
Sekarang aku sudah menikah dan dikaruniai dua orang putra. Hidup kami
sekeluarga cukup bahagia. Dalam urusan seks pun aku tidak merasa punya
masalah, biasa-biasa saja.
Tapi yang uniknya aku punya mistress seorang waria yang kutemui di
sebuah salon pada saat aku cukur. Kami pun secara rutin berhubungan.
Secara tidak langsung kami menjadi pasangan dalam kebutuhan seks.
Sementara dengan istri tetap berjalan seperti biasa, dua kali dalam
satu minggu, kadang bisa tiga atau empat kali. Tapi ya begitulah..,
karena Emma aku jadi tahu sesuatu yang sebelumnya aku sendiri merasa
jijik. Aku sama sekali bukan gay, karena aku sama sekali tidak tertarik
dengan lelaki seperti apapun dia. Aku hanya tertarik dengan
transgender/transexual yang tentunya yang manis dan mulus seperti
halnya wanita.
TAMAT
| Title | Author | Views |
| Aku Dan Pakaian Dalam Cewek |
Kuntilanak |
28,925 |
| Kencan Waria di Jakarta - 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
27,561 |
| Bercinta dengan Waria |
Jayus |
24,838 |
| Sang Tukang Pijat |
David Lie |
23,980 |
| Kencan Waria di Jakarta - 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
20,830 |
| Malam yang Indah |
Agus Sumitro |
18,957 |
| Seminggu Full Waria, Duh Nikmatnya.. - 1 |
lisa_ramon@yahoo.com |
13,053 |
| Pengalaman Pribadi Lucy |
Mas Hoo |
12,315 |
| Saling Telan Sperma Dengan Waria - 1 |
lisa_ramon@yahoo.com |
11,968 |
| Pengalaman Pertamaku Menjadi Waria - 1 |
suratnatasha@yahoo.com |
11,664 |
| Emma, Oh Emma 01 |
Mahmud Yunus |
11,123 |
| Siang Pejabat, Malam Waria 1: Sekda Propinsi |
lisa_ramon@yahoo.com |
9,958 |
| Sensasi Erotik Saat Menjadi Waria - 3 |
lisa_ramon@yahoo.com |
9,906 |
| Kencan Waria di Jakarta - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
9,712 |
| Kencan Waria di Jakarta - 2 |
tante_mirna@yahoo.com |
9,124 |
|
|
|
|
|
|
|