|
|
Dari bagian 1 Aku sedang memperhatikan 2 waria yang ada di warung itu ketika ada
seseorang yang langsung duduk dan hampir nempel pada tubuhku. Ternyata
waria lain yang memang mendekati aku.
"Beliin aku minum dong Mas. Boleh ya.."
Aku mengamatinya. Bukan main. Waria ini tidak cantik namun aku
menilai bahwa dari gaya dan pakaiannya dia sangat seksi. Masih nampak
garis kelelakiannya. Bahunya yang bidang, kemudian juga tulang
gerahamnya yang kaku hampir persegi. Namun dia ini masih muda banget.
Aku taksir sekitar 18 tahunan. Dia mengenalkan dirinya sebagai Norma.
Mungkin di KTP-nya tertulis Norman. Dengan senang hati aku
mentraktirnya minum.
Sembari duduk dia merabai pahaku. Dan aku membalas dengan meraih
tangannya dan meremas-remasnya. Aku terangsang. Hasrat syahwatku
bangun. Dia bilang,
"Jalan-jalan yo Mas,"
"Kemana?"
"Di sana ada penginepan. Murah hanya 15 ribu. Kita bisa bermesraan sampai pagi," ujarnya tersenyum.
Aku lihat giginya gigi Pepsodent. Putih dan apik banget.
"Terawat banget nih orang," pikirku.
"Boleh. Minum dulu ya. Mau makan? N'tar dari pada lapar," aku tawari dia makan sebelum ke penginepan.
Ini penyimpangan. Aku sama sekali tak ada rencana hingga sejauh
ini. Namun.. Ah biarlah. Mumpung nggak ada yang menunggu di rumah.
Istriku sedang nginep di tempat kakaknya di Depok.
Kamar 15 ribu ini memang sangat sederhana namun punya kamar mandi
sendiri. Norma yang ngomong sama penjaganya. Aku berikan pada dia
ongkosnya. Kudapatkan ranjang dengan kasur kapuk yang kempes tetapi
cukup bersih. Aku lantas saja berbaring. Norma duduk di tepian ranjang
dan tangannya melepasi pakaianku.
"Biar nggak lecek, Mas"
Dia bukain kemeja dan celanaku hingga tinggal celana dalamku.
Demikian pula dia yang langsung menyusul berbaring disampingku sambil
memelukkan tangannya padaku.
Norma tak terlampau menampilkan kewanitaan. Dadanya tetap dada
lelaki. Demikian pula tangan dan kakinya. Nampak betisnya dipenuhi
bulu. Namun aku menyukai apa yang kini memelukku ini. Waria yang masih
menunjukkan kelelakiannya lebih merangsang syahwatku. Bagaimanapun aku
tahu, yang aku inginkan adalah menciumi kontolnya.
Aku berbalik kemudian menciuminya. Aku kejar bibirnya dan kami
berpagutan. Aku merasakan bibir dan lidah yang kasar. Kelelakiannya
sungguh mendongkrak syahwatku. Aku merangsek turun menciumi dadanya.
Aku kenyoti kedua pentilnya. Dia mengaduh dalam nikmat.
"Maass.. Enak mass.." aku terus merangsek.
Lengannya kuangkat agar naik dan membuka lembah ketiaknya. Aku
nyosor ke sana ke lembah semak berbulunya. Bibir dan lidahku
melumat-lumat kedua ketiaknya dan membasahi bulu-bulu itu. Aku bisa
merasakan keringat asin ketiaknya. Aku semakin merangsek. Lumatanku
meluncur turun ke perut kemudian turun lagi ke jembutnya. Hidungku
nyungsep dan menghirup dalam-dalam wilayah itu.
Ketika lebih turun lagi aku menyenggol batangan tegak kaku. Kontol
Norma benar-benar milik pejantan. Lihat, urat-uratnya berlingkaran
merapati batangnya yang tegak kaku itu. Lidahku tak tahan menunggu. Aku
menjilatinya. Aku menciumi lubang kencingnya. Dan akhirnya aku mengulum
serta memompanya. Kontol Norma sungguh memberikan aku rangsangan
syahwat yang hebat. Aku menelan apapun yang keluar dari kontol itu.
Precumnya yang asin aku jilat-jilat.
Tak lama. Tangan Norma mencengkeram rambutku. Pantat dan pinggulnya
menggenjot genjot mendorong-dorong kontolnya. Dia benar-benar ngentot
mulutku hingga cadangan spermanya muncrat tumpah ke mulutku. Aku
mendapatkan apa yang menjadi obsesiku selama ini. Minum pejuh dari
kontol gede milik waria.
Aku bilang Norma bahwa tak perlu sampai pagi. Dan aku juga tak
perlu memuntahkan spermaku. Aku akan masturbasi di rumah sambil
membayangkan kembali kontol Norma. Aku mau pulang. Dia menerima 20 ribu
rupiahku dengan senang hati.
Waria Jalan Krakatau, Cerita Karno Disepanjang Jalan Krakatau di samping kali Malang dan monumen Yani
banyak waria mangkal di sini. Aku bertekad sesekali akan mampir dan
kencan dengan mereka. Dan itu terjadi. Dengan turun dari metro mini
Tanah Abang Manggarai sore di malam Minggu ini aku telah berada di
sini.
Orang bilang Jalan Krakatau resep kalau malam Minggu. Banyak waria
berdatangan. Bahkan ada yang datang dari Bogor. Mereka sengaja
'hunting' mencari uang di sini. Dan memang benar. Sepintas kalau
sekitar 30 waria telah aku lihat sesaat aku turun dari metro mini tadi.
Kini aku melangkah santai tanpa target menuju trotoar di pinggir kali
Malang itu. Kalau cocok OK, kalau nggak cocok yah.. Hitung-hitung
jalan-jalan di malam Minggu.
Ahaa.. Dari arah depan aku melihat waria tinggi semampai berjalan
berpapasan. Dia nampaknya masih sangat muda. Kutaksir paling sekitar 15
tahunan atau lebih sedikit. Mungkin tingginya sekitar 160 cm. Dengan
rok kembang-kembang yang murahan dia jadi begitu lugu tampilannya.
Namun semua itu sama sekali tidak bisa menyembunyikan kecantikan alami
serta pesona seksualnya. Aku menghampirinya untuk bertegur sapa.
Aku cukup memanggilnya dengan Luh. Luh datang dari Bogor sore tadi.
Dia datang bersama 2 orang temannya. Apapun yang terjadi aku langsung
jatuh hati padanya. Aku pengin berasyik masyuk dengannya. Aku membujuk
dan merayunya. Aku remasi tangannya. Kuajak dia duduk minum di warung
pinggir kali itu. Aku merasa ketemu jodoh.
Pesona seksual. Itu benar. Aku melihati tangan dan jari-jarinya.
Dduhh.. Rasanya aku pengin banget menciumi dan mengulumnya. Tangannya
begitu mulus dan dengan kulitnya yang kencang. Aku tak perlu melihat
bagian lainnya. Tangan itu sudah mewakili keindahan keseluruhan tubuh
Luh.
Dengan taksi aku mengajak Luh ke sebuah hotel melati di bilangan
Tanah Abang. Aku memilih kamar atas yang dekat jendelanya untuk bisa
menengok ke jalanan. Aku pengin beberapa jam bersama Luh. Aku pesan
makanan dan minuman. Luh minta nasi goreng istimewa. Biarlah aku juga
makan yang sama. Aku tambahkan sebotol besar bir bintang.
Sangat menyenangkan berasyik masyuk dengan Luh. Tubuh telanjangnya
sungguh nikmat di jilat-jilat dan kenyot-kenyoti. Aku bisa menyalurkan
syahwatku tanpa harus menggelegak-gelegak. Bawaan Luh adalah tenang dan
itu mempengaruhi perangaiku.
Aku menjadi keranjingan menciumi dadanya, ketiaknya. Paling nikmat saat mendengar rintihannya,
"Ouchh.. Oomm.. Jangan.. Teruss.. Jangann.. Lagi oomm.." saat aku
menyedot-nyedot pentil susunya. Antara gatal, sakit tetapi nggak mau
berhenti.
Aku minta Luh tengkurap. Dengan lidah dan bibirku aku melata dari
tengkuknya hingga ke telapak kakinya. Bukit dan lembah tubuhnya tak ada
yang kelewatan dari jilatan dan kenyotan bibirku. Aku menangkapi asin
keringatnya dari setiap inchi tubuhnya yang kujilati. Saat aku menciumi
pantatnya dia sepertinya ingin menolak. Namun tindihan tubuh serta
rangkulan tanganku pada pahanya tak bisa ditolaknya. Dia menjerit-jerit
kecil ketika lidahku menusuki lubang tainya.
"Jangan oomm.. Gelii.. Aahh.. Oouucchh.. Jangann.. Kotoorr
aauucchh.." suara itu semakin merangsang syahwatku. Aku begitu
bersemangat untuk terus menjilatinya dalam aroma anus Luh.
Akhirnya kutemukan kontolnya. Ukuran biasa-biasa saja. Namun mulus
dan bersihnya membuat liurku menetes dan jakun naik turun pengin
mengenyotinya. Kontolnya nggak atau belum disunat. Kulupnya masih rapat
sehingga saat ngaceng setengah bonggolnya masih tertutup. Aku mengisepi
lubang kencingnya. Luh benar-benar kegelian. Namun tak juga
menghindarinya. Tanpa ragu dia meraih rambutku dan menarik-narik maju
mundur. Atau pantatnya yang dia maju mundurkan. Rupanya dia menikmati
kegatalan kontolnya yang tergaruk-garuk dalam rongga mulutku.
Saat hendak melepaskan pejuhnya Luh histeris sambil terus meracau,
"Oomm Luh pengin kencing nihh.. Luh pengin kencingg.. Rasanya Luh
pengin kencingg.. Oom minum kencing Luh yaa.. Oom minum yaa.." aku
hanya terus memompa dengan harapan pejuhnya cepat muncrat. Aku pengin
merasakan nikmatnya minum pejuh waria umur 15 tahun ini.
Ternyata Luh ini memiliki stamina yang hebat. Selama hampir 3 jam
Luh tak puas-puasnya terus menyodorkan kontolnya untuk kukenyoti. Dia
melepaskan spermanya hingga 3 kali. Pertama kali sangat kental, namun
tak begitu banyak. Yang kedua sangat banyak dan masih kental. Ketiga
banyak namun encer. Rasanya juga berubah-rubah. Pada semprotan terakhir
hampir hilang rasa asinnya.
Ternyata aku yang kalah. Capai karena kehilangan banyak energi. Aku
antarkan Luh kembali ke Jalan Krakatau. Namun hatiku tetap penasaran.
Aku merencanakan membawa dia ke villa–villa di Puncak Bogor. Entah
kapan.
Waria Taman Anggrek II, cerita Wawan Beberapa hari kemudian aku kembali menyusuri tempat yang sama di
Taman Anggrek. Aku masih ingin kembali menciumi kontol Norma dan
menenggak pejuhnya. Ternyata hari itu dia 'off'.
Aku kembali ke warung itu dan minta kopi. Beberapa makanan gorengan
menemani kopiku. Sekitar jam 9 malam aku bangkit untuk mencari udara
segar dan 'side seeing'. Aku berjalan menyusuri jalan Taman Anggrek dan
beberapa kali menyeberanginya.
Ke bagian 3
| Title | Author | Views |
| Aku Dan Pakaian Dalam Cewek |
Kuntilanak |
28,932 |
| Kencan Waria di Jakarta - 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
27,571 |
| Bercinta dengan Waria |
Jayus |
24,844 |
| Sang Tukang Pijat |
David Lie |
23,988 |
| Kencan Waria di Jakarta - 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
20,844 |
| Malam yang Indah |
Agus Sumitro |
18,963 |
| Seminggu Full Waria, Duh Nikmatnya.. - 1 |
lisa_ramon@yahoo.com |
13,054 |
| Pengalaman Pribadi Lucy |
Mas Hoo |
12,319 |
| Saling Telan Sperma Dengan Waria - 1 |
lisa_ramon@yahoo.com |
11,968 |
| Emma, Oh Emma 02 |
Mahmud Yunus |
11,836 |
| Pengalaman Pertamaku Menjadi Waria - 1 |
suratnatasha@yahoo.com |
11,667 |
| Emma, Oh Emma 01 |
Mahmud Yunus |
11,123 |
| Siang Pejabat, Malam Waria 1: Sekda Propinsi |
lisa_ramon@yahoo.com |
9,958 |
| Sensasi Erotik Saat Menjadi Waria - 3 |
lisa_ramon@yahoo.com |
9,907 |
| Kencan Waria di Jakarta - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
9,716 |
|
|
|
|
|
|
|