|
|
Dari bagian 3 Suara Dian juga mirip suara Dian Nitami. Aku pikir kalau Anjas sempat melihat Dian Taman Lawang ini dia akan 'embat' juga.
Akhirnya memang kupenuhi jalan-jalannya. Tetapi jalan di sepanjang
trotoir pinggir kali di sepanjang Taman Lawang itu. Pada dasarnya kita
tahu bahwa waria adalah seorang lelaki yang cenderung ke
perempuan-perempuanan. Namun aku sangat terobsesi untuk berhubungan
seks dengan para waria. Aku senang karena mereka adalah tetap seorang
lelaki. Aku dapatkan kontol mereka, bulu dadanya, ketiaknya, bulu di
tangan dan kakinya.
Seorang jantan dengan sedikit wajah lembut, sangat seksi saat
mereka memakai busana wanita. Sepatu dengan hak tinggi yang dipakai
kaki berbulu, sangat erotis nampaknya. Dada bidang orang jantan memakai
blus perempuan yang setipis sutra, duuhh.. Aku akan langsung ngaceng
melihatinya. Dan itu kudapatkan pada Dian yang sekarang sedang
melangkahkan kakinya di depanku. Aku mengikuti kemana dia mau.
Dian belok kiri dan turun di undakan rerumputan. Dengan sedikit
menundukkan kepalanya dia menyingkap sebuah tenda kumuh di pinggir
kali. Dengan melepasi sepatu hak tingginya dia mengajak aku masuk. Kami
duduk di tikar plastik yang juga kumuh. Hasrat syahwat yang menyala
telah menolak segala alibi tentang ruang kumuh yang kotor itu. Tanganku
meraih pinggul Dian dan kuraih ke dalam pelukanku. Kami berpagutan.
Tanganku merabai tubuhnya hingga menemukan selangkangannya yang
begitu penuh bulu. Kuelusi gundukkan yang masih terbungkus cawat.
Sambil menyedoti dada dan pentilnya aku meremasi kontol waria yang gade
dan panjang milik Dian. Dia melenguh menikmati remasanku,
"Isep dulu ya Mas, biar nafsu.." permintaannya.
Aku memang pengin kesana. Kubaringkan tubuh Dian ke tikar dan aku
merambatinya. Aku menjilati perutnya dan mengenyot-enyot pusernya. Dan
mengikuti tangan Dian saat menjamah dan mendorong kepalaku agar lebih
turun lagi ke kemaluannya.
Aroma selangkangannya langsung menyambar hidungku. Nafsuku
menggelegak. Tanganku meraih kontolnya yang sesak di genggamanku. Aku
mulai menjilati dan mengulumnya. Bijih pelernya kulumat-lumat. Dian
mendesah histeris.
"Terus maass.. Enakk.." aku jadi bersemangat banget.
Kontol gede yang sesak di mulutku itu kukulum. Aku mulai mengayun.
Kepalaku naik turun memompakan mulutku pada kontol Dian. Sambil setiap
kali menekan kepalaku pantat dian naik turun membantu memompakan
kontolnya ke mulutku. Dan semakin lama semakin cepat. Aku rasa dia
pengin secepatnya menumpahkan air maninya ke mulutku.
"Mmaass.. Enaakk.. Aku mau keluar ya.. Di mulut Mas yaa.. Kamu minum pejuhku yaa.." dia mendekati ejakulasi.
Dan kedua paha dan betis penuh bulunya kurasakan merengkuh tubuhku
hingga.. Dengan kedutan besar kontolnya memuncratkan air maninya ke
tenggorokanku. Aku gelagapan. Aku menelan semua ciran yang disemprotkan
kontol Dian. Aku sempat merasakan asin pahitnya.
Hhoohh.. Suara Dian lunglai. Sesaat dia terkapar namun kemudian bangkit.
"Mas mau dikeluarin?" tanyanya padaku.
Aku tidak langsung menjawab. Aku melihatinya.
"Mau dikeluarin nggak?" desaknya.
"Boleh yang lain nggak?" jawabku tanya balik.
"Apaan?"
"Aku pengin kamu kencing di mulutku. Aku pengin minum kencingmu"
"Bener Mas? Boleh. Yok, kebetulan aku memang sedang kebelet nih"
Jawaban enteng yang sangat menggairahkan syahwatku. Mungkin
sebelumnya ada tamu-tamu lain yang punya permintaan macam aku. Kami
merangkak keluar. Dian menuju ke tepian kali untuk kencing. Aku
mengikutinya. Dia minta aku jongkok di sampingnya dan menganga.
Hanya dengan mengangkat gaunnya Dian memegangi kontolnya yang siap
memancurkan air seninya tepat ke arah mulutku. Dan sseerr.. Seerr.. Air
seninya mengalir deras ke mulutku. Sebagian bisa ku teguk dan sebagian
lain tumpah membasahi ke mejaku. Ah, ya sudah. Baunya sangat khas.
Warnanya kuning pekat. Aku merasakan asin yang kuat dari kencing itu.
Aku langsung pulang dengan taksi. Mungkin sopirnya kesal akan bau
yang kubawa. Sambil duduk di jok belakang aku membuka kancing celana
dan mengeluarkan kontolku. Tanpa terlihat sopir, aku melakukan
masturbasi hingga ejakulasi. Aku melakukan khayalan adegan ulang
bersama Dian tadi. Dalam lipatan kertas tissue spermaku muncrat saat
bayangan kencing Dian mancur ke mulutku.
Waria Dukuh Atas Di arah bawah jembatan Dukuh Atas di tepi kali Malang merupakan
terminal waria. Itu merupakan poros komunitas waria dari Dukuh Atas -
Taman Lawang - Krakatau yang menjadi pusat orientasi waria Jakarta.
Datang dari Kebayoran, rumahku di Cipete, pada seputar jam 8 malam
aku turun dari bis kota di halte Blora kemudian jalan kaki ke arah
balik sekitar 150 m. Dari kejauhan aku sudah melihat gerombolan
orang-orang di tepi jalan. Itulah mereka para waria Dukuh Atas bersama
para 'fans'-nya. Aku akan bergabung di sana.
Mengisi kantong dengan rokok dan korek merupakan modal utama di
tengah waria jalanan ini. Aku mampir ke penjual rokok untuk mengisi
kantongku dan sekedar minum teh botol sambil melihati situasi lapangan.
Nampaknya mereka banyak mondar-mandir di sepanjang rel KA, kereta api,
Manggarai ke Tanah Abang. Aku naik ke gundukan rel itu.
Aku melewati beberapa waria yang menegur atau menyapa, namun aku
jalan terus. Rasanya belum ada yang mampu menggoda seleraku. Namun..
"Haii.. 'lonely'.. Tunggu donk.."
Aku terhenti karena nada suaranya yang terasa lelakinya. Aku nengok
ke arah suara itu. Seorang waria tinggi besar melangkah mendekati aku.
"Cari siapa Maass.." nada lelaki namun bergaya merayu macam perempuan.
"Nyari kamu.." jawabku yang memang langsung terangsang hasrat birahiku melihat postur tinggi dan besarnya.
"Hhiihh.." geregetnya saat telah dekat padaku.
"Kita duduk situ, yok," mengajak aku menepi dimana ada kayu bantalan KA yang melintang yang bisa dimanfaatkan untuk duduk.
"Bagi rokoknya dong".
Kami ngobrol sambil membebaskan tangan-tangan kami untuk 'ngapain
saja'. Terus terang aku paling suka pada waria yang gede tinggi macam
orang ini. Aku puas saat tanganku merabai dadanya yang bidang dengan
bisepsnya yang padat. Aku juga merabai buah dadanya. Duhh.. Enak banget
nih kalau ngisepi pentilnya.
"Siapa namamu?"
"Berti', jawabnya. Mungkin maksudnya Berto.
"Kontolmu gede ya..?" elusanku turun ke bawah.
"Lihat saja sendiri," dia menahan tanganku, sementara tangannya merabai pahaku.
"Dimana?"
"Kalau ala kadarnya bisa di tenda tuhh.. Kalau yang lengkap Mas
bisa ke pondokkan Mat Sani. Naik becak 3 ribu dari sini. Disana lebih
santai. Bisa pesen minuman dan ada kamar mandinya"
"Berapa ?" aku mesti berhitung.
"20 ribu sejam. 35 ribu sampai pagi,"
"Ayo, kesana saja," jawabku tanpa pertimbangan lagi.
Tak sampai 15 menit aku dan Berti telah saling bertelanjang di
kamar yang sederhana namun nyaman dan bebas. Hasrat syahwatku berkobar.
Terutama sesudah melihat telanjangnya Berti. Tampilan 'shemale'-nya
sangat menggiurkan. Aku menelan ludah. Postur itu postur pekerja kasar.
Mungkin kuli bangunan.
Aku memeluk tubuhnya yang gede kekar. Kami saling memagut. Aku
terangsang akan lumatan bibir dan lumatan lidahnya. Terasa demikian
gede di mulutku. Sepintas aku mencium bau rokok kretek dari mulutnya.
Tangannya mencemol kontolku, merabai dan meremasinya. Aku menahan
nikmat nafsu birahiku. Tanganku juga mencari kontolnya.
Dduhh.. Ini kejutan untukku. Aku serasa menggenggam jagung bakar
yang panjang dan gede. Di telapak tanganku aku rasakan urat-urat
kontolnya bergelut melingkar-lingkar di batang kontol Berti. Aku meraba
bonggol kepalanya yang keras dengan celah dalam lubang kencingnya.
Tanganku sangat bergairah mencemol dan meremas-remasinya.
"Mau dientot pantatmu Mas?"
Itu bukan pertanyaan tetapi keinginan. Tangannya langsung merabai
pantatku dan jari-jarinya berusaha mengelusi lubang analku. Dia mau
kontolnya menembusi analku. Aku sama sekali belum pernah di sodomi.
Selama ini aku selalu menghindarinya. Aku ngeri, apakah kontol gede itu
tidak akan merobek dinding analku ini.
"Nggak usah takut. Kamu kendori saja. Relaks saja. Urat-urat anal
itu sangat elastis kok. Pernah nengok situs interasial khan. Kontol si
hitam yang gede banget bisa memasuki pantat bule laki atau perempuan
yang sempit. Bahkan ada adegan fisting di mana tangan-tangan bisa
menembusi anal atau vagina. Itu berdasarkan ilmu para dokter Mas.
Pokoknya enak banget deh. Berti jamin"
Berti menjamin aku nggak akan kesakitan di tembusi kontol gedenya
itu. Wah, omongannya bukan omongan kuli, nih. Pasti aku keliru. Siapa
tahu dia dokter juga.
Jari-jarinya terus mengutik-utik lubang analku hingga berhasil
masuk menembusi hingga setengah jarinya. Sangat sensasional. Aku
merasakan erotis banget. Dan lagi, beberapa kali Berti mkenarik jarinya
untuk dibawa kemulutnya. Dia bilang semen analku sangat nikmat di
lidahnya.
Akhirnya, mungkin perlu untuk mencoba. Dan aku mencoba dengan yang gede ini. Sehingga lain kali aku tak perlu ragu.
Ke bagian 5
| Title | Author | Views |
| Aku Dan Pakaian Dalam Cewek |
Kuntilanak |
28,930 |
| Kencan Waria di Jakarta - 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
27,567 |
| Bercinta dengan Waria |
Jayus |
24,841 |
| Sang Tukang Pijat |
David Lie |
23,984 |
| Kencan Waria di Jakarta - 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
20,840 |
| Malam yang Indah |
Agus Sumitro |
18,962 |
| Seminggu Full Waria, Duh Nikmatnya.. - 1 |
lisa_ramon@yahoo.com |
13,054 |
| Pengalaman Pribadi Lucy |
Mas Hoo |
12,318 |
| Saling Telan Sperma Dengan Waria - 1 |
lisa_ramon@yahoo.com |
11,968 |
| Emma, Oh Emma 02 |
Mahmud Yunus |
11,836 |
| Pengalaman Pertamaku Menjadi Waria - 1 |
suratnatasha@yahoo.com |
11,666 |
| Emma, Oh Emma 01 |
Mahmud Yunus |
11,123 |
| Siang Pejabat, Malam Waria 1: Sekda Propinsi |
lisa_ramon@yahoo.com |
9,958 |
| Sensasi Erotik Saat Menjadi Waria - 3 |
lisa_ramon@yahoo.com |
9,906 |
| Kencan Waria di Jakarta - 2 |
tante_mirna@yahoo.com |
9,126 |
|
|
|
|
|
|
|