|
|
Dari bagian 4 Berti minta aku tiarap dengan pantatku diangkat tinggi sehingga lubang analku terpampang.
"Ambil nafas dan relaks," seperti suhu relaksasi yang mengajari para muridnya bagaimana harus bersikap relaks.
Kurasakan ujung kontolnya menyentuhi lubang analku. Sementara
sebelumnya Berti telah melumasi lubangku dan ujung kontolnya dengan
ludahnya.
"Ahh.. Sakit Berr.." aku mengaduh.
"Sabar Mass.. N'tar enak dehh.."
Aku berusaha percaya. Namun ketika bonggol gede itu kembali
berusaha menguak lubangku aku kembali berteriak sakit. Untung aku bukan
orang yang mudah menyerah. Kupastikan kontol itu bisa menembusi analku.
Aku bertahan dan menahan rasa sakit dengan berusaha lebih relaks dan
kendor sambil mengatur nafasku.
Akhirnya gerbang kritis terlewati. Kontol Berti yang telah
menyeruak ke gerbang analku sementara berdiam memberi kesempatan padaku
untuk adaptasi. Di lain bagian bibir Berti terus melumati punggung dan
belikatku. Dia berusaha merawat hasrat syahwatku. Rasa aneh
menyelimutiku. Ada benda hangat kini menyumpal lubang pantatku. Namun
bukan hanya rasa aneh, pelan-pelan saraf peka di dinding analku
memberikan sinyal nikmat. Kontol Berti terasa nikmat menyentuhi dinding
analku.
"Terus maass.. Enakk.." aku jadi bersemangat banget.
Berti mulai mendorong lagi. Kini disamping rasa sakit aku juga
merasakan nikmat legit kontol gede yang menyeruak lubang taiku. Blezz..
Rasa itu sungguh sangat nikmat. Kepala dan batang kontol Berti yang
segede jagung bakar itu menyentuhi saraf peka analku.
Dan puncak kesakitan akhirnya datang. Namun aku sudah tak mampu
menghindar. Berti memeluk erat tubuhku. Seperti anjing kawin, dengan
setengah menaiki tubuhku tanpa ampun Berti menggenjot dan
mengayun-ayunkan kontolnya. Analku seakan dimasuki pipa panas. Aku
menjerit tanpa suara, aku meremasi kasur pondokkan itu. Seluruh tubuhku
merasakan sakit dan mengeluarkan keringat dengan derasnya. Aku pengin
pingsan rasanya.
Ahh.. Pada ujungnya siksa ini ditutup dengan nikmat syahwat. Saat
ayunan mengencang dengan sangat cepat aku terjatuh meratap ke kasur.
Dan bersamaan itu datang kedutan besar kontol Berti yang disusul
siraman hangat spermanya. Berti mendapatkan ejakulasinya. Dia juga
langsung rubuh. Namun siraman hangat itu seperti air es yang memadamkan
panas duburku. Aku mendapatkan sensasi seksual dari muncratnya sperma
Berti ke lubang analku.
Pedihnya pantatku berlangsung hingga 3 hari. Namun pada hari-hari
itu juga aku dipenuhi kenangan erotis. Aku melakukan masturbasi. Aku
mengkhayal kontol Berti menusuki analku hingga kontolku menyemprotkan
pejuhnya.
Waria Terminal Grogol, cerita Abong Pulang kampus sekitar jam 9 malam aku nunggu kendaraan omprengan di
halte depan terminal Grogol. Setelah menunggu cukup lama tak ada
omprengan sedianya menyeberang jalan nunggu dari arah lain, namun
seseorang menyapa aku,
"Hai ganteng, mau kemana? Bagi rokok donk?"
Ah, lagi-lagi waria. Ngapain ngasih rokok lu, suara dalam hatiku.
Namun aku nggak tega. Kusodorkan juga sebatang dengan apinya. Dia
tersenyum padaku. Ternyata manis banget nih banci, pikirku Saat
tersenyum tadi kulihat pipinya yang 'dekik', dan itu membuatnya nampak
manis. Aku tak lagi terburu-buru pergi. Kusempatkan waktuku untuk
ngomong,
"Siapa namamu Mbak?"
"Erni, Mas. Mau kemana sih, kok buru-buru? Duduk dulu yok"
Aku pikir OK sajalah. Aku bisa pulang ke tempat kost jam berapa
saja. Erni mengajak aku minggir dan mepet ke tembok. Di situ ada batu
kanstin sisa bangunan jalan yang tertinggal. Tangan-tangan kami saling
menjelajah tubuh, saling raba dan remas hingga hasrat syahwat melonjak
tinggi.
"Kita pindah ke dalam yok," ajaknya.
"Ke dalam mana?"
"Ada tempat yang nggak banyak orang di sana, ayoo," aku heran, itu khan kampusku.
Namun nafsu birahi yang telah menggelegak membuat pertimbanganku
asal OK saja. Ternyata dia mangajak aku ke belakang gardu PLN yang
gelap remang-remang.
"Aman nggak?" tanyaku khawatir.
Namun Erni langsung saja hendak mengeluarkan kontolku dari celana. Aku pegang tangannya,
"Aku dulu yang ngisep kamu punya," kataku.
Soalnya aku akan kehilangan selera kalau sudah telanjur pejuhku muncrat.
Aku berjongkok dan merogoh kontol dari roknya. Aku mulai
mengisepnya. Kontol yang tak terlampau gede. Pas untuk mulutku. Erni
mulai naik tensinya. Kepalaku diraihnya. Pantatnya maju mundur ngentot
mulutku. Nafsu birahiku menyala. Rasanya aku mau makan dan telan apa
saja yang keluar dari anak manis ini. Aku merintih dan mendesah dalam
sesaknya kontol di mulutku. Aku merasakan kontol Erni semakin kaku dan
keras. Sementara pantatnya semakin cepat maju mundur. Erni sedang
menunggu muncratnya spermanya. Aku mencoba menyempitkan kuluman
bibirku. Lidahku kuputar-putar untuk memberikan nikmat pada ujung
kontolnya.
Dengan jambakan yang pedih di rambutku kontol Erni berkedut-kedut
yang kemudian disusuli pejuhnya yang tumpah ruah ke mulutku. Aku sibuk
mengunyah dan menelannya.
"Sudah lebih dari seminggu pejuhku nggak keluar, Mas," dia memberikan info kenapa begitu banyak pejuhnya.
"Sekarang gantian. Mas keluarin ya..." dia melepasi celanaku.
Kembali kutahan. Aku ingin lain. Terobsesi dalam khayal birahiku untuk menikmati ludah Erni.
"Aku pengin ngocok sendiri kontolku. Kamu ludahi saja mulutku ya".
Rupanya Erni tahu keinginan erotisku. Dia menganggukkan kepalanya.
"Boleh. Mas suka ya?" aku tak perlu menjawabnya.
Aku kembali berjongkok. Atau kami sama-sama berduduk. Dan akhirnya
kami temukan posisi yang enak. Erni duduk setengah jongkok di semen
gardu itu dan aku telentang selonjor dengan kepalaku ditahan tangannya
di pangkuannya.
Beberapa kali Erni meludahi mulutku sementara tanganku mengocok
kontolku. Kulihat setiap kali mulutnya mengumpulkan liur berikut
busanya untuk diludahkan ke mulutku. Kocokkan kontolku semakin cepat.
Khayal birahiku mengajak aku terbang ke awang. Aku memasuki alam nikmat
tanpa batas. Ludah Erni membasahi tenggorokanku. Saraf pekaku
mengisyaratkan air maniku akan tumpah. Aku terus menganga menunggu
buangan ludahnya. Aarrcchh.. Aarrcchh..
Kontolku berdenyut keras. Airmaniku muncrat ke langit. Kembali
berkedut dan muncrat. Muncrat lagi.. Dduuhh.. Ternyata sangat nikmat
bermain syahwat birahi dengan banci semanis Erni.
Kutinggalkan rokok yang tersisa dalam bungkusan untuk Erni.
Kuberikan seluruh uangku yang di dompet yang hanya 20 ribu rupiah. Aku
cukup beberapa recehan untuk pulang. Aku berjanji untuk ketemu lagi
dengannya kalau kiriman uang dari 'ortu' sudah sampai.
Waria Bekasi, Cerita Tarjo Bagiku Bekasi adalah Jakarta juga. Dan pangkalan waria Bekasi yang
di sepanjang rel KA di belakang pompa bensin ii salah satu tempat yang
paling sering aku datangi. Soalnya tidak begitu jauh dari rumahku yang
di kompleks Jaka Sampurna, Kali Malang.
Sesudah mengisi bensin aku parkir dan titip mobil pada penjaga
pompa. Dengan 10 ribu rupiah dia akan menjaga sepenuhnya mobil bututku
ini. Tempat ini cukup ramai dan banyak orang Jakarta yang datang ke
mari.
Aku sudah pernah berhubungan dengan beberapa waria Bekasi ini. Aku
suka mengisepi kontol mereka dan minum spermanya. Itu memang obsesi
seksualku. Ada yang gede panjang, ada yang sedang-sedang saja atau
bahkan yang kecil. Dari yang kecil ini bahkan bisa mengeluarkan sperma
sangat banyaknya.
Aku juga tak pernah melewatkan untuk menjilati dan mencium ketiak
mereka. Bau ketiak-ketiak para waria sungguh-sungguh sangat mendongkrak
syahwat birahiku.
Aku juga suka mencium dan menjilati lubang dubur. Waria yang
cantik, atau setidaknya nampak bersih selalu menggoda syahwatku untuk
menjilati pantatnya. Sungguh nikmat saat menyedot-nyedot lubang tai
sambil mendengarkan desah atau rintih nikmat dari bibir-bibir waria
ini. Tangan mereka menggapai-gapai untuk meraih rambutku dan
meremasinya. Bagiku aroma lubang tai sangat menjanjikan kepuasan
orgasme yang sangat tinggi.
Bahkan pernah seorang waria yang baru kukenal, dia baru datang dari
Sukabumi, aku tungguin saat dia buang air besar di sawah di dekat rel
itu. Aku bisikkan padanya bahwa aku ingin mencebokinya. Dan aku akan
memberikan 100 ribu rupiah untuk kesempatan itu.
Namanya Erna, 19 tahun. Jangkung, mungkin hampir 170 cm, berkulit
kuning, buah dadanya sangat ranum, dadanya bidang dengan bahu dan
ketiaknya yang sangat mempesona. Aku langsung mendekatinya saat
melihatnya datang turun dari ojek. Aku menggamitnya. Pikirku, biarlah
malam ini aku akan habiskan waktuku dengan dia.
Memakai rok terusan berwana gelap kulit kuningnya sangat resep di
pandangan mataku. Rasanya aku jatuh cinta pada Erna ini. Aku ajak Erna
ke tenda kumuh yang paling mewah milik Cak Rus penjaga sawah di situ.
Aku sudah mulai menggeluti tubuh sensualnya saat dia bilang
perutnya mules dan pengin berak dulu. Tak masalah. Aku bisa
menunggunya. Erna keluar tenda dan melangkah berjalan di pematang
menjauh dari keramaian. Ke bagian 6
| Title | Author | Views |
| Aku Dan Pakaian Dalam Cewek |
Kuntilanak |
28,932 |
| Kencan Waria di Jakarta - 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
27,571 |
| Bercinta dengan Waria |
Jayus |
24,844 |
| Sang Tukang Pijat |
David Lie |
23,988 |
| Kencan Waria di Jakarta - 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
20,844 |
| Malam yang Indah |
Agus Sumitro |
18,963 |
| Seminggu Full Waria, Duh Nikmatnya.. - 1 |
lisa_ramon@yahoo.com |
13,054 |
| Pengalaman Pribadi Lucy |
Mas Hoo |
12,319 |
| Saling Telan Sperma Dengan Waria - 1 |
lisa_ramon@yahoo.com |
11,968 |
| Emma, Oh Emma 02 |
Mahmud Yunus |
11,836 |
| Pengalaman Pertamaku Menjadi Waria - 1 |
suratnatasha@yahoo.com |
11,667 |
| Emma, Oh Emma 01 |
Mahmud Yunus |
11,123 |
| Siang Pejabat, Malam Waria 1: Sekda Propinsi |
lisa_ramon@yahoo.com |
9,958 |
| Sensasi Erotik Saat Menjadi Waria - 3 |
lisa_ramon@yahoo.com |
9,907 |
| Kencan Waria di Jakarta - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
9,716 |
|
|
|
|
|
|
|