|
|
Dari bagian 1 "Mas, aku kepingin ditembak. Ayo Mas, masukkan penismu", rintih penuh harap keluar dari bibir Vera.
Vera, aku memang kepingin melakukan penetrasi padamu. Demikian kata
hatiku. Aku pengin penisku menembusi analmu yang nikmat ini. Tetapi aku
masih ingin mendengar kehausan birahimu. Aku masih ingin mendengar
rintihan nikmatmu. Aku masih doyan menikmati bau pantatmu. Aku masih
doyan menjilati lubang analmu. Biarkan aku, ya, Veraa.. Biar kunikmati
dulu anal ini dengan permainan oralku. Biar kunikmati dulu desah dan
rintihmu karena siksaan nikmat yang kamu derita.
"Ayoo, tembak pantatku maass.. Masukkan maass.. ", Vera semakin
menggoyangkan pantatnya sebagai tanda desakkan birahinya yang tak
terbendung.
Sesudah aku cukup lelah dan pegal, khususnya leherku yang hampir
terus menerus mendongak untuk bisa menjilat anal lebih tepat pada
lubangnya, aku bangun dan balikkan tubuh Vera agar telentang menantikan
penetrasiku. Aku merangkak menghampiri bibirnya. Tanganku berangkat
memeluki punggungnya. Aku rebah menindih tubuhnya. Dadaku ketemu
dadanya. Bibirku ketemu bibirnya dan kami langsung saling melumat.
Paha Vera membuka dan pinggulku masuk ke dalamnya. Penisku yang
sudah sangat tegang mengarah menuju 'vagina'nya. Tangan Vera sigap
menangkap kemaluanku untuk menuntunnya tepat ke arah lubang pantatnya.
Aku mendorong. Keras. Aku kembali mendorong. Masih keras juga.
Vera menaikkan kaki-kakinya hingga melipat ke arah dada. Kini
analnya lebih terbuka. Vera meludah ke tangannya untuk di jadikan
pelumas. Sekali lagi dia pegang kemaluanku yang sudah tak sabar untuk
melakukan penetrasi. Aku kembali mendorong pelan.
Terus mendorong. Aku merasakan kepala penisku yang mendesak lubang
sempit itu. Dan aku merasakan betapa lubang itu semakin menguak untuk
menerima tembuasan penisku. Dan.. Akhirnya.. Blezz. Nampak wajah Vera
menyeringai. Pedih tapi nikmat, begitu kira-kira yang dia rasakan.
Penisku berhasil menembus gerbang anal Vera. Masuk lagi pelan.
Masuk lagi. Masuk lagi. Dan kini seuruh batang penisku telah tenggelam.
Aku diam sesaat. Aku biarkan penisku menyesuaikan dengan lubang anal
Vera yang sempit itu. Dan aku juga sedang merasakan betapa dinding anal
itu mulai meremas-remas batang penisku. Ooo.. Nikmatnyaa..
Dengan sambil menikmati lumatan di bibir, aku memompa anal Vera.
"Duh.. Veraa.. Analmu legit banget ssiihh.."
Vera sendiri telah demikian tenggelam dalam samudra nikmat
syahwatnya. Dia pegang erat kepalaku untuk bisa lebih menekan dalam
lumatan bibirnya. Dia remasi rambutku sebagai pelampiasan tersalurnya
emosi birahinya.
Sementara untuk mencapai kenikmatan di bawah sana, dia menggoyang
naik turunkan pantatnya untuk menjemputi pompaan penisku. Suara desah,
gumam, racau yang tak jelas maknanya, nafas-nafas yang tak beraturan
meramaikan ruang kabin kapal mewah itu. Aku mulai merasakan keringat
kami berdua yang saling membasah.
Kami terus mendayung kenikmatan. Vera minta merubah posisi. Dia
turun dari ranjang dan tangannya berpegang pada 'backdrop' ranjang itu.
Dengan itu tubuh Vera menjadi setengah membungkuk. Ditariknya aku untuk
meneruskan penetrasiku. Aku mendekat dan kembali menusuk pantatnya.
Kini dari arah belakang. Bermenit-menit aku mendayung untuk memompakan
kemaluanku. Racau Vera tak juga hilang,
"Mas, enak banget. Enaakk bangeett.. Maass. Enak.. Huh.. Hacchh.. Hhuucchh.. ".
Aku sendiri sedang terbawa larut dalam nikmat ritmis yang
kudapatkan dari dayungan penisku pada anal Vera itu. Rasanya posisi
macam ini membuat aku benar-benar mendapatkan kenikmatan birahi yang
tak terkira ini.
Pada suatu saat tiba-tiba tangan Vera meraih kebelakang dan
meremasi pinggulku. Dia sedang menapaki puncak nikmatnya. Dia
menggelinjang hebat dan mengaduh serta merintih. Aku tahu. Vera sedang
menjemput orgasmenya. Kusaksikan betapa penisnya ngaceng banget. Dan
aku melihat betapa penisnya itu tak ada apapun yang menyentuhnya.
Mungkinkah dia mendaptkan orgasme tanpa ada yang menyentuh kemaluannya
itu?
Tetapi itulah yang kemudian terjadi.
Dengan teriakkan keras tertahan, Vera, "Ammppuunn.. Maass, ak.. Aa.. Akuu.. Keluaarr.. ".
Menyaksikan itu aku sigap. Dengan cepat aku mencopot kemaluanku
dari analnya. Aku jongkok dan menangkap penis Vera. Aku membuka
mulutku. Aku kocok-kocok agar penis itu muntah ke dalam mulutku. Vera
merem melek. Dan tiba-tiba semburan panas melanda bibirku, lidahku dan
meruyak masuk ke mulutku. Air mani Vera telah tumpah.
Berdenyut-denyut dalam beberapa anggukan, penis Vera memompa
seluruh kandungan spermanya agar muncrat keluar. Mulutku menjadi
berlepotan. Cairan kental Vera bercipratan. Sebagian yang masuk ke
mulutku langsung aku kenyam-kenyam dan kutelan. Sebagian lain menyiprat
ke daguku dan meleh turun. Sebagian lain mengenai pipi dan mataku.
Dan sebagian lainnya pula langsung bercipratan di atas sprei
ranjang dan juga terserak di lantai. Masih dalam angguk-angguk untuk
menuntaskan keluarnya air mani itu, jari-jari tangan Vera mencoleki
sperma yang tercecer di wajahku. Gumpalan-gumpalan kental berhasil dia
raih ke jarinya. Gumpalan itu di suapkan ke bibirku yang sudah siap
melahapnya pula. Vera juga mencoleki spermanya yang tercecer di kain
sprei untuk kembali aku suap langsung dari jarinya.
"Kamu mau menjilat air maniku yang tercecer di lantai?", Vera
menawari aku. Dan tak ayal akupun langsung nungging. Tanpa ragu aku
jilati sperma Vera yang tercecer di lantai kabin yang super bersih itu.
"Sayang kan, kalau sampai terbuang percuma", kudengar suara Vera yang erotis banget.
Kami langsung telentang di ranjang untuk isirahat sejenak. Vera
menyambar Anker Bir dingin dan melahapi makanan yang di sediakan
penjaga kapal itu. Aku mengikuti apa yang dilakukan Vera.
Malam itu beberapa kali kami saling melakukan penetrasi. Aku
merasakan betapa kemaluan Vera yang sangat gede seakan hendak merobek
bibir analku. Aku merasakan betapa pedih dan panas saat kemaluan gede
itu memompa analku. Aku merasakan betapa nikmat dan hangatnya saat
akhirnya sperma Vera menumpahi liang anusku.
Hingga Vera telah berhasil 3 kali menyemprotkan air maninya, aku
belum juga mendapatkan orgasmeku. Walaupun untuk sementara aku
merasakan kepuasan bisa mendorong Vera mendapatkan kepuasan seksualnya.
Tetapi pada akhirnya aku khan harus memuncratkan air maniku pula. Dan
itu juga ditunggu oleh Vera yang sangat ingin makan air maniku.
Aku memang agak kesulitan dalam mengeluarkan spermaku. Aku
memerlukan rangsangan-rangsangan yang spesifik. Kepada Vera aku minta
dia meludahi mulutku sementara tanganku atau tangan dia mengocoki
penisku. Entah telah berapa belas kali aku menerima serpihan ludahnya,
belum juga spermaku mau keluar.
Kemudian aku minta air kencingnya. Aku minta Vera mengencingi
mulutku sambil aku melakukan onani. Dan ah.., rupanya cara ini bisa
menghasilkan harapanku. Sesaat aku harus sabar menunggu. Vera sedang
merangsang dirinya untuk kencing. Anker Bir yang diminumnya mempercepat
keinginan kencingnya.
Mulutku mulai menganga untuk menerima pancuran kencingnya.
Sementara itu di bawah daguku aku membawa gayung bak mandi untuk
menampung kencing yang tercecer. Akhirnya cairan pekat kekuningan
mancur dari ujung penis Vera. Kehangatannya langsung menyirami mulutku
dan mengaliri tenggorokanku. Syahwat birahiku langsung melonjak saat
hidungku membaui aroma air kencing Vera. Aku merasakan aroma Anker Bir
menyertai air kencing wangi itu.
Tanganku mulai bersemangat mengocoki kemaluanku. Aku mendapatkan
nafsuku birahiku yang semakin meninggi. Aku terus mengocok-ocok dan
semakin mempercepat. Aku bisa merasakan aliran syahwat yang mulai
terkonsentrasi di seputar kemaluanku. Aku merasakan ketegangan yang
luar biasa pada penisku. Aku merasakan sebuah sensasi.
Di atas mulutku menganga menerima pancuran kencing kuning pekat
milik Vera, di bawah aku harus menyiapkan semprotan spermaku tumpah ke
lantai kabin mewah ini. Dan tak ayal lagi. Rangsangan syahwat yang
merambati saraf-saraf peka di seputar kemaluanku mulai mendorong keluar
air maniku. Makin dekat. Dan semakin dekat. Aku masih sempat bilang
pada Vera bahwa air maniku akan tumpah.
Kini ganti Vera yang jongkok dan aku dimintanya berdiri sambil
terus mengocoki penisku. Sambil meneguk air kencing Vera dari gayung
aku terus merangsang penisku hingga..
"Veraa.., aku keluaarr.., Vveerr.. ", aku rasakan saluran spermaku
menegang. Dan betapa nkmat saat terasa aliran sperma itu melalui
saluran tadi. Crot, crot, crot.. Kulihat mulut Vera yang telah tengadah
menganga menyambut semprotanku. Dengan rakusnya dia menelan seluruh
cairan kentalku.
Kami kembali rebah ke ranjang. Aku nggak tahu lagi macam apa aroma
yang memenuhi di kabin mewah itu. Ada keringat, ada parfum ada bau laut
Ancol. Apapun itu dalam kenyataannya telah mampu mengiringi kami meraih
kepuasan hubungan seksual antara aku dengan Vera si waria cantik itu.
Aku sedang mengantuk berat saat pintu kabin diketok seseorang.
Tiba-tiba bau amis ikan di pantai Ancol yang menyengat menerpa
hidungku. Aku baru mau buka pintu yang terkunci ketika seseorang telah
berada di dalam. Aku kaget. Lho, kamu Vera. Bukannya kamu masih tidur?
Aku menengok ke sampingku yang kuyakini Vera yang masih tertidur.
"Dia itu Vera palsu. Akulah yang asli. Akulah Vera yang sesungguhnya. Seharusnya kamu berasyik masyuk denganku".
Aku belum sempat menjawab ketika dengan sangat kuatnya, namun
nampaknya bagi dia itu ringan banget, dia angkat aku untuk balik
telentang ke ranjang. Tanpa ba bi bu, dia langsung merangsek aku. Dia
nyosor melumati bibirku. Bau amis pantai Ancol langsung sirna. Aku
diterpa aroma yang sangat harum dan sangat memukau dari tubuhnya. Aku
langsung merespon lumatannya.
Kami bertukar ludah. Lidahnya menyeruak seperti ikan sembilang yang
mengaduk rongga mulutku. Aku bergelinjang. Libidoku terpana dan bangkit
berkobar. Aku tak lagi peduli. Entah ini Vera palsu atau Vera asli. Aku
dikejar syahwat birahiku. Tenagaku telah kembali segar yang sebelumnya
telah habis kelelahan bercumbu dengan Vera yang lain. Kurenggut penis
Vera baruku. Duh, ternyata kerasnya bukan main. penis ini gedenya tepat
segede Vera sebelumnya, tetapi kerasnya berlipat kali.
Telapak tanganku merasakan otot-ototnya yang kasar
melingkar-lingkar di seputar batangnya. Dan saat kuraba lubang
kencingnya aku merasakan precumnya telah mengalir deras. Precum yang
sangat licin itu kubalurkan pada batangnya yang membuatnya jadi licin
banget dan ngacengnya semakin keras.
Aku pengin banget dia melakukan penetrasi ke lubang pantatku. Aku
akan merasakan legit dengan permukaan batang yang bulat gede dan licin
itu. Aku menggoyangkan tubuhku dan merubah posisi. Aku setengah
tengkurap dan nungging. Vera tahu. Dia bergeser dan memeluki aku dari
arah belakangku.
Dengan merangkul dan menciumi kudukku dia berusaha menusukkan
kemaluannya yang licin banget itu ke analku. Dan.. Bleezz.. Ah, sangat
mulus. Duh, nikmatnyaa..
Dia langsung mengayun. penisnya yang gede panjang itu kurasakan
setiap mili meternya menerobosi dinding analku. Nikmatnya luar biasa.
Bahkan aku tak dapatkan kenikmatan macam ini dari Vera yang kubawa dari
Taman Lawang tadi.
Sementara itu aku juga sambil berpikir. Kenapa Vera Taman Lawangku
nggak terbangun sementara kami demikian seru bergelut mengumbar nafsu
syahwat kami. Apakah karena demikian lelahnya hingga tak mendengar
rintihan atau desahan-desahan kami? Ah, masa bodo.
Aku demikian terampas oleh kenikmatan yang diberikan Vera baruku
ini. Kemaluannya yang sangat keras itu demikian tegar menghunjam-hunjam
lubang analku. Aku demikian mendapatkan nikmat yang tak terhingga. Aku
mengaduh dan merintih-rintih menerima nikmat. Dan aku merasakan betapa
puncak orgasmeku mulai menampakkan wujudnya.
Aku kini sama sekali nungging dengan kepalaku yang menekan ke
bantal. Vera baruku menaiki aku. Kami melakukan seperti anjing kawin.
Dengan perkasa dia menaik turunkan pantatnya memompakan kemaluannya ke
analku.
Tak pelak lagi, spermaku telah berada di ambang muncrat. Tanganku
meraba dan membuat kocokkan untuk menggiring aliran sperma menuju ke
saluran keluarnya. Dan itulah yang kemudian terjadi.
Bersamaan dengan itu aku mendengar desahan histeris dari mulut Vera
baruku. Itu pertanda dia juga sedang menghadapi orgasmenya. Adakah kami
akan mendapatkan orgasme secara bersamaan??
"Mass, ayoo.. Keluar bareengg.. Ayyoo mass.. ", demikian teriakan Vera baruku.
Ah, benar. Pada saat yang bersamaan kami saling renggut dan cakar.
Spermaku muncrat tumpah ke sprei. Dan Vera baruku melepaskan spermanya
ke dalam analku. Sebuah getar panas terasa meruyak dalam
dinding-dinding pantatku. Sepertinya Vera baruku ini melepaskan sebuah
sengatan.
Sperma Vera baruku ini demikian panas dan keras menyemproti ke
dalaman analku. Aku nggak tahu, mungkinkah penisnya yang gede itu
melukai dinding-dinding analku?
Aku tak mampu berpikir terlalu jauh. Kini aku sedang merasakan
kenikmatan ganda yang melandaku. Kenikmatan sperma Vera yang muncrat
dalam analku dan kenikmatan spermaku yang tumpah hingga membuat spreiku
penuh lengket oleh cairan kentalku.
Dan tiba-tiba aku merasa sangat lelah. Aku sempat melihat saat Vera
'misterius' itu keluar pintu kabin. Tetapi mataku sangat berat. Sebelum
sempat bertanya atau mengucapkan terima kasih atas kenikmatan yang dia
berikan aku telah jatuh tertidur.
Aku tertidur pulas hingga subuh. Penjaga kapal itu membangunkan
kami. Aku agak geragapan membuka pintu kabin. Loh, kok masih terkunci?
Bukannya tadi malam telah dibuka oleh seseorang yang mengaku Vera asli
itu?
Sementara itu aku kembali diterpa bau yang sangat amis seperti yang
aku rasakan tadi malam menjelang kedatangan Vera 'misterius' itu. Aku
tidak banyak bertanya karena bau macam itu memang khas bau pantai macam
Ancol ini.
Tetapi sempat kutanyakan kepada penjaga kapal apakah ada perempuan
atau waria yang datang ke kapal tadi malam? Dia bilang tidak
melihatnya. Dia sendiri pulas tertidur sehingga tidak tahu apakah ada
yang datang atau pergi.
Kulihat secercah semburat cahaya matahari sudah menampakkan diri di
langit timur. Aku merasa kesiangan. Aku sedikit panik. Bagaimana
mungkin aku memboncengkan Vera saat hari menjelang terang.
Siapa tahu ada kawan yang sedang lari pagi atau seseorang lain yang
mengenaliku. Kubangunkan cepat-cepat si Vera. Kami masih sempat
berpagutan. Aku masih merasakan ludahnya bertukar dengan ludahku. Aku
janji untuk menjumpai pada kesempatan lain.
Aku minta penjaga kapal memanggilkan taksi untuk Vera. Aku tidak
menceritakan tentang Vera lain yang kutemui tadi malam pada Vera. Aku
hanya bertanya apakah tidurnya enak? Mimpi indah? Aku juga pastikan
untuk menjemput kembali Vera dalam beberapa hari ini.
Aku juga pesan pada penjaga kapal untuk sewaktu-waktu kalau aku
kembali. Dia senang menyambutku. Apalagi beberapa lembar ratusan ribu
rupiah juga masuk ke koceknya. Saat mau turun, kulihat seekor ikan
sembilang yang gede banget terdampar di lantai kapal sedang berontak
untuk kembali ke air. Penjaga kapal itu cepat menangkapnya dan
memasukkannya ke keranjang ikan yang selalu tersedia di situ.
Dia cerita bahwa banyak ikan sembilang di Dermaga Marina ini yang
sering loncat ke kapal. Kuperhatikan ikan sembilang itu. Sangat indah
dan mempesona. Besarnya luar biasa. Mungkin sekitar 2 atau 3 kg. Pasti
ekor dan sirip-siripnya sangat indah saat berenang di pantai.
Matanya yang bulat yang memang tak berkedip itu seakan minta aku
menurunkannya kembali ke air. Tubuhnya menggeliat saat aku
menyentuhnya. Bau amisnya yang sangat menyengat mengingatkan bau amis
di kabin tadi malam menjelang ketemu Vera 'misterius' itu.
Aku menyaksikannya sesaat. Timbul perasaan ibaku. Bukankah dia akan
lebih nyaman dan senang apabila kembali ke air untuk menemukan dunianya
sendiri. Kusodorkan lembaran 50 ribuan kepada penjaga kapal itu. Ikan
dan keranjangnya pindah ketanganku.
Sesudah Vera pergi dengan taksinya, dengan motorku aku menyusuri
pantai Ancol hingga ke ujung timur. Udara laut di pagi hari sangat
sehat bagi manusia. Ikan sembilang besar itu kukeluarkan dari
keranjangnya dan kulepaskan kembali ke laut. Sangat gembira hatiku
melihat ikan sembilang itu cepat menghilang ke pasir-pasir yang
terserak di sepanjang pantai itu.
E N D
| Title | Author | Views |
| Aku Dan Pakaian Dalam Cewek |
Kuntilanak |
28,935 |
| Kencan Waria di Jakarta - 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
27,583 |
| Bercinta dengan Waria |
Jayus |
24,850 |
| Sang Tukang Pijat |
David Lie |
23,996 |
| Kencan Waria di Jakarta - 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
20,854 |
| Malam yang Indah |
Agus Sumitro |
18,969 |
| Seminggu Full Waria, Duh Nikmatnya.. - 1 |
lisa_ramon@yahoo.com |
13,054 |
| Pengalaman Pribadi Lucy |
Mas Hoo |
12,322 |
| Saling Telan Sperma Dengan Waria - 1 |
lisa_ramon@yahoo.com |
11,968 |
| Emma, Oh Emma 02 |
Mahmud Yunus |
11,836 |
| Pengalaman Pertamaku Menjadi Waria - 1 |
suratnatasha@yahoo.com |
11,667 |
| Emma, Oh Emma 01 |
Mahmud Yunus |
11,123 |
| Siang Pejabat, Malam Waria 1: Sekda Propinsi |
lisa_ramon@yahoo.com |
9,958 |
| Sensasi Erotik Saat Menjadi Waria - 3 |
lisa_ramon@yahoo.com |
9,911 |
| Kencan Waria di Jakarta - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
9,717 |
|
|
|
|
|
|
|