|
|
Dari bagian 2 Aku tak bisa merubah posisiku yang nungging saat Arman dengan cepat
menggantikan posisi Omen. Dia mulai dengan menjilati pantatku. Aku tahu
pasti Arman senang menikmati cairan kental yang mengalir keluar dari
duburku. Cairan itu adalah air mani buangan dari penis Omen.
Arman begitu haus dan rakusnya. Pantatku seakan ingin ditelannya.
Mulutnya hendak mencaplok seluruh lubang bokongku ini. Kemudian Arman
mengikuti jejak Omen. Dia nomplok seperti anjing jantan ke bokongku dan
menusukkan penisnya ke lubang pantatku. Dan blezz..
Serpihan cair kental Omen memperlicin lubang analku. Penis Arman
yang lebih gede dari milik Omen telah menembus lebih lancar. Penis itu
amblas ditelan analku hingga ke pangkalnya. Arman langsung memompa.
Makin cepat dan makin cepat.
Rupanya dia telah memendam syahwatnya sejak mula tadi. Kini dia
ingin cepat menumpahkannya. Arman ingin selekasnya meringankan beban
nafsu birahinya. Kembali cairan panas terasa menyemproti dinding lubang
analku. Air mani Arman telah tumpah pula. Arman juga telah meraih
kepuasan puncaknya.
Begitulah permainan 'three some' di pondok hotel GP di jalan Yos
Sudarso ini. Malam itu anusku menampung 2 batang hangat dan keras milik
Omen dan Arman. Mereka meninggalkan cairan-cairan kentalnya dalam ruang
anusku yang sempit ini.
Aku mendapatkan kesempatan meraih orgasmeku saat kami kembali ke
kamar mandi untuk mandi bersama. Mereka ganti mengencingi tubuhku. Pada
kesempatan itu aku mengangakan mulutku dan meneguk air kencing mereka
sambil mengocok-ocok penisku hingga air maniku tumpah. Aku merasakan
kepuasan yang luar biasa pada malam pertamaku di Surabaya ini.
Saat hendak pulang Arman dan Omen memberikan amplop yang cukup
tebal untukku. Omen bilang untuk mengganti celana dalamku yang
tenggelam dalam sup kepiting itu. Aku sangat terhibur dengan selera
humor mereka yang tinggi. Sungguh senang berteman dengan mereka.
Malam pertama itu aku sampai ditempat kostku pukul 3 pagi. Penjaga
kost membukakan pintu. Bella dan teman-temannya sudah tidur lelap. Aku
mandi air hangat. Menghilangkan segala noda dan mengurangi rasa pedih
pada bibir analku. Kurasakan sisa-sisa air mani kedua sahabat itu
mengalir keluar dari lubang anusku.
Aku harus tidur cukup. Masih banyak yang harus kulakukan besok.
Saat aku bangun kulihat Bella telah rapi menunggu aku. Sorry, Bell. Aku
langsung bergegas mandi dan berpakaian. Ini adalah hari saat yang
paling penting dalam kehidupanku. Inilah hari siang pertama bagiku
untuk tampil sebagai 'full waria' yang atinya aku akan sebagai waria
sepanjang 24 jam sehari.
Selama itu aku akan berpakaian, berbicara, berjalan, bertelpon,
bergaya dan melakukan berbagai hal lainnya sebagaimana seorang
perempuan. Aku harus nampak selalu cantik. Harus ingat untuk selalu
luwes. Mengenai suaraku, aku tak perlu merubah apa-apa. Yang diperlukan
hanyalah sedikit mengolah nafas, tekanan pada tenggorokan dan
intonasinya pada saat berbicara.
Mampukah aku? Siapkah aku merubah diriku?
Aku memandang Bella. Dia membalas tajam pandanganku sambil
mengacungkan jempolnya. Bella memang jadi pendukungku. Dia
inspiratorku. Dia pendorong semangatku. Dia memang sahabat sejatiku.
Untuk siang pertama ini aku memilih pakaian yang adem dan 'casual'. Aku
memakai celana jeans Armani-ku yang lembut dan menampakkan bayangan
bokongku yang cukup 'bahenol' ini. Untuk atasannya aku pilih blus tipis
dari katun. Dan yang tak ketinggalan, sepatu hak tinggi favoritku.
Blus ini masih menyisakan bahu dan ketiakku untuk bisa dinikmati
mata-mata yang penuh hasrat birahi. Dan sepatu hak-ku memberikan
sentuhan seksi dan anggun saat aku melangkahkan kakiku.
Kami sepakat menuju ke Darmo Plaza, mall termewah di Surabaya.
Bella sudah menyusun program '4 jam di Darmo Plasa'. Dengan perkiraan
pada pukul 11 siang kami memasuki kawasan, kami akan 'site seeing' atau
'window shopping', kemudian makan siang di MD atau Mac Donald.
Sesudah makan Bella mengajak main 'play station' di lantai 4 sampai
jam 2 siang. Selanjutnya kami akan nonton bioskop di Teater 21 Darmo
Plasa itu. Kalau tak ada aral sesudah nonton bioskop kami akan langsung
pulang. Woow.. Aku akan benar-benar merasakan bagaimana menjadi Lisa
Ramon siang dan malam. Aku akan kenal, ketemu dan berdialog dengan
banyak orang. Aku akan terjun membaur dengan siapa saja secara umum.
Hatiku berdesir..
Cobaan untukku sudah nongol sejak keluar dari pintu pagar halaman
tempat kost. Aku sudah mulai merasakan betapa banyak mata yang
mengikuti langkah-langkah kami. Bella yang telah beberapa waktu tinggal
disitu banyak ketemu orang atau tetangga yang telah dikenalnya. Mereka
menyapa dengan ramah dan santun. Apabila dia pandang perlu aku
diperkenalkan pada mereka. Kebanyakan para perempuanlah yang tidak ragu
untuk menyapanya.
Adapun para lelaki, hanya nampak dari matanya bahwa mereka
mempunyai hasrat untuk menyapa, namun tak terucapkan. Mereka malu dan
takut atau khawatir dianggap naksir waria. Di mata masyarakat umum,
waria adalah penyakit. Yang naksirpun dimasukkan ke dalam golongan
orang-orang yang sakit. Ya, sudah.. Untuk sementara kami harus menerima
kenyataan macam begitu. Jangan sakit hati. Memang masih demikian yang
terjadi.
Kulihat di depan sana, di pangkalan becak nampak banyak lelaki pada
nongkrong. Aku tanya pada Bella siapa mereka. Dia bilang tenang saja.
Mereka itu pemuda nganggur di seputar kampung ini. Mereka pada sibuk
dengan judi buntut, atau gangguin orang lewat. Ada diantara mereka yang
kecanduan narkoba. Terkadang mereka 'malak' atau maksa minta uang dari
siapapun. Tetapi Bella tak pernah memandang serius dalam menghadapi
orang-orang macam mereka. Sesekali saat pulang malam, Bella membawa
rokok untuk diberikan kepada mereka.
Kami terus melangkah tanpa ragu. Nampak mereka mulai menengok ke
arah kami. Kemudian ramailah suara dari para lelaki nongkrong itu,
"Hallo, Mbak. Kemana nih yaa..?!",
"Duhh, ganjelannya seksi banget yaa??",
"Uhh jalannya kaya seleb",
"Minta susunya dong",
"Mau naik beca, zus?"
"Atau mau bawa beca sendiri?" Ha, ha, ha, haa..
Kalau ada lontaran kata yang lucu, tak terhindarkan mereka menjadi
riuh mentertawakannya. Kupingku terbakar mendengar celoteh mereka.
Yaahh.., aku sih memakluminya.
Mereka ini adalah orang-orang awam yang selalu cenderung melihat
masalah secara sempit dan na'if. Mereka tidak pernah atau tidak mau
atau mungkin tidak mampu membuka wacananya sendiri. Terjebak oleh
definisi khalayak tanpa melihat bahwa di balik sikap macam itu terkait
adanya nasib, keberuntungan, kegembiraan atau kesedihan, kekecewaan
atau kepuasan orang lain.
Bella nyamperin sebuah becak. Sepertinya langganannya.
"Ke Darmo, yo Mas Parto".
Di atas becak aku melirik Bella yang nampak sangat tenang dan
anggun. Hebat. Aku berusaha belajar dan meniru sikapnya. Pada lain
waktu, di suatu kesempatan dia cerita, bahwa itu bukanlah masalah
tenang atau anggun. Dia memberikan tekanan, itu adalah masalah
bagaimana kami para waria bisa 'menikmati' sebuah sikap dan fenomena
sosial budaya masyarakat di sekitar kita.
Pada saat seperti itu dia justru merasakan hasrat birahinya
berdesir. Ejekan, hinaan atau mungkin pelecehan pada waria justru
membangkitkan semangat syahwatnya. Bella justru membayangkan para
lelaki itu berada dalam pelukan birahinya. Mereka akan terus menceloteh
dengan hinaannya atau pujiannya sementara penis-penis mereka ada dalam
lumatan atau kuluman kami. Celotehan mereka bukan lagi untuk
merendahkan waria yang melumat selangkangannya tetapi sebagai ungkapan
birahi mereka saat menapaki ujung kepuasan libidonya. Tidak mudah.
Tetapi aku berusaha keras untuk mencerna kata-kata Bella yang
diungkapkan berdasarkan pengamatan, pengalaman dan analisa rasionalnya.
Ternyata Darmo Plasa hanya sekitar 20 menit dari rumah kost. Mas
Parto adalah tukang beca langganannya. Bella sarankan padaku kalau
pergi pakai saja becak Mas Parto. Atau cari yang namanya Darman teman
Parto. Mas Parto tahu membawa becaknya melalui jalan tembus, lewat
gang-gang kecil di kampung. Jarak Darmo Plasa tinggal separohnya.
Begitu turun dari becak aku kembali menyaksikan mata-mata yang
haus. Mereka ini sedikit ada beda dengan para lelaki yang nongkrong di
mulut gang tadi. Mereka dari strata sosial yang lain. Mereka lebih
diam. Dalam sikap diam itu nampak matanya menjadi lebih jujur. Aku
merasakan mereka itu 'kepincut' atau terpesona.
Dan aku pastikan bahwa hasrat libido mereka mendapatkan ruang dalam
dirinya. Entah macam khayal yang bagaimanapun. Nampak seorang pria muda
datang pelan mendekat. Dia memandang aku dengan sorot 'naksir' tetapi
tidak menghentikan langkahnya. Yang kemudian aku tangkap hanyalah suara
desis dari bibirnya 'sspp'.
Aku tahu yang dia maksud. Itu khan bahasa para banci. Pertama kali
aku dengar desis macam itu di Taman Lawang, Jakarta. Saat itu aku
sedang berkunjung sebagai tamu. Aku berhenti ingin tahu apa yang mereka
ucapkan.
Ooo.. Ternyata yang dimaksud adalah 'isep' yang diucapkan secara ringkas dan cepat 'sspp'.
Mereka menawarkan jasanya untuk menghisap atau mengkulum penis
tamunya. Dan akhirnya para tamupun menggunakan desis itu untuk bertanya
'maukah kamu mengisep kemaluanku?'.
Aku hanya tersenyum. Aku tidak bereaksi serius. Banyak orang macam
dia yang belum tentu benar-benar menginginkan kami untuk mengisep-isep
penisnya. Woow, mall Darmo Plasa ini memang luas dan tidak kalah dengan
mall-mall di Jakarta.
Bella ingin menemui temannya yang punya salon Rudy di lantai dasar.
Aku diperkenalkan dengan pemiliknya. Namanya Rudy sesuai dengan nama
salonnya. Dia banyak mempekerjakan waria di salonnya itu. Rudy sendiri
mengakui sebagai seorang 'gay'. Rudy nawari kalau aku mau kerja selaku
asisten manager di salonnya dia akan menerimanya dengan tangan terbuka.
Bella yang menanggapinya sambil menebar senyum,
"Kamu mau ngabisin uangmu untuk menggajih dia, Rud? Lisa ini adalah
manager perusahaan multi nasional Jakarta yang sedang menikmati
liburannya. Dia sedang menikmati bagaimana setiap hari tampil sebagai
putri yang cantik dan anggun".
Rudy bengong tetapi lantas balas senyuman Bella. Dia menawarkan
soft drink pada kami. Dari Rudy Salon kami melakukan 'window shopping'.
Jalan pelan-pelan di tengah ramai lalu-lalangnya para pengunjung sambil
menyaksikan etalase toko-toko yang menawarkan berbagai barang yang
serba menarik. Sesekali berhenti untuk memenuhi keingin-tahuan akan
barang, melihati harganya, melihati mutunya dan sebagainya.
Tentu saja mataku yaa.. Jelalatan. Mata yang selalu haus kalau melihat lelaki-lelaki ganteng.
Terkadang aku mencubit lengan Bella saat menyaksikan seseorang,
"Kamu gatel banget, sih, Lis", komentarnya sambil mengusapi pedasnya cubitanku.
Entah aku diajak kemana saja sama Bella ini. Naik turun lift dan
eskalator. Masuk toko sana-sini dengan gaya hendak belanja. Nyoba
ini-itu seakan-akan sedang mencari barang yang sangat dibutuhkan. Nawar
segini dan segitu seolah-olah benar-benar akan beli. Walaupun aku agak
ngeri akibatnya, senang juga melihat gaya Bella temanku ini. Lihat
saja, begitu keluar toko dia tertawa atau cekikikan mentertawakan
ulahnya sendiri. Setidak-tidaknya aku jadi lebih santai dan terhibur.
Akhirnya kami istrirahat untuk makan dan minum di Mac Donald. Aku
kebagian ngantre, sementara Bella menunggu di meja agar tidak ada yang
menyerobot tempat duduk. Jam makan siang begini membuat MD penuh orang
mau makan. Sesekali aku menengok ke meja Bella untuk sabar menanti
antreanku yang panjang ini.
Aku pesan untuk Bella dan makanan favoritku plus 2 gelas Coca Cola jumbo. Total Rp. 60.000, -
Saat aku mau bayar kasir bilang bahwa sudah ada yang membayar.
Tangannya menunjuk kepada seorang pria yang telah berada di luar
antrean. Orang itu tersenyum padaku sambil mengulurkan tangannya ke
kasir untuk menerima uang kembaliannya. Ah, sungguh merupakan kejutan
bagiku.
"Ah, Mas koq repot-repot sih. Aku mesti bilang apa??",
"Nggak pa-pa. Soalnya aku pengin kenal kamu lho. Itu temanmu khan? Kita duduk di sana?", sungguh lelaki yang handsome.
Tingginya sama dengan tinggiku dengan sepatu hak yang kupakai kini,
sekitar 180 cm. Dengan kemeja Piere Cardin dan dasinya yang Valentino
serta aroma Clinique Happy For Men-nya Estee Lauder yang lembut itu dia
nampak sangat gentlemen.
"Nama saya Nico. Kebetulan lagi istirahat makan siang lihat
cewek-cewek cantik. Nama anda siapa?", Bella dan aku sama-sama
terpesona dengan pria yang tiba-tiba muncul di haribaan kami ini.
Ke bagian 4
| Title | Author | Views |
| Aku Dan Pakaian Dalam Cewek |
Kuntilanak |
28,936 |
| Kencan Waria di Jakarta - 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
27,583 |
| Bercinta dengan Waria |
Jayus |
24,850 |
| Sang Tukang Pijat |
David Lie |
23,996 |
| Kencan Waria di Jakarta - 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
20,854 |
| Malam yang Indah |
Agus Sumitro |
18,969 |
| Seminggu Full Waria, Duh Nikmatnya.. - 1 |
lisa_ramon@yahoo.com |
13,055 |
| Pengalaman Pribadi Lucy |
Mas Hoo |
12,322 |
| Saling Telan Sperma Dengan Waria - 1 |
lisa_ramon@yahoo.com |
11,969 |
| Emma, Oh Emma 02 |
Mahmud Yunus |
11,836 |
| Pengalaman Pertamaku Menjadi Waria - 1 |
suratnatasha@yahoo.com |
11,667 |
| Emma, Oh Emma 01 |
Mahmud Yunus |
11,123 |
| Siang Pejabat, Malam Waria 1: Sekda Propinsi |
lisa_ramon@yahoo.com |
9,958 |
| Sensasi Erotik Saat Menjadi Waria - 3 |
lisa_ramon@yahoo.com |
9,912 |
| Kencan Waria di Jakarta - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
9,717 |
|
|
|
|
|
|
|