|
|
Dari bagian 3 Lihat tuh, gaya makannya. Uuhh.. Indahnya bibirnyaa.. Rasanya aku mau
jadi sendoknya. Mulutnya yang sungguh tegas garis-garisnya membuat Nico
nampak sangat jantan. Aku dan Bella langsung jatuh hati.
Nggak usah bayar, deh, Nik. Biar aku jilati dadamu, lehermu, pentil
susumu, kaki-kakimu. Biar kuminum ludahmu atau kalau kamu mau, aku juga
akan minum air kencingmu. Begitu gelora syahwat yang berkobar di
hatiku. Aku sangat berharap dan menunggu lamarannya. Mungkin demikian
pula Bella.
Seusai makan kami meneruskan ngobrol sebelum pada akhirnya dia melihat jam tangannya,
"Terima kasih Lisa dan Bella. Saya makan sangat nikmat kerena
bersama anda hari ini. Sayang saya harus balik kantor. Siapa tahu lain
waktu kita bisa jumpa lagi".
Yaacchh.. Sayaang..
Dengan perasan kesal dan kecewa kami melanjutkan 'window shopping'
hingga kakiku pegel. Sekitar jam 2 siang Bella ngajak naik ke Teater
Darmo Plasa 21 di lantai 5. Tak ada film yang menarik. Aku usul pada
Bella bagaimana kalau kita terusin saja ngobrol di cafe teater itu.
Siapa tahu ketemu orang macam Nico lagi. Aku masih penasaran.
Ternyata ini cafe yang sangat laris. Suasananya sangat akrab.
Rupanya tempat ini menjadi tempat 'rendesvous' bagi para muda-mudi
Surabaya. Kursinya-kursinya nyaris selalu penuh. Kami langsung jadi
pusat perhatian. Seorang pelayan menunjukkan kursi kosong di pojok
sana.
Aku minta capuchino dengan cake seledri. Entah Bella. Aku rasa
banyak mata kini tertuju ke kursi kami. Aku bergaya 'cool', demikian
pula Bella. Saat aku menarik kursiku, mataku beradu pandang dengan
seseorang yang duduk pada meja sebelah meja depanku. Tidak terlampau
menarik, tetapi orang ini, atau tepatnya anak ini gayanya simpatik
sekali.
Wajahnya yang bercorak Semit mengingatkan aku pada seorang
selebritis cowok bernama Didi Riadi yang pemain drum dan bintang
sinetron itu. Tubuhnya hanya dibungkusi kaos oblong ber-iklan rokok
kretek terkesan anak yang cuek. Rambutnya yang dilepas begitu saja
men-citrakan sebagai anak muda yang santai dan bebas.
Dia mengangkat alisnya. Itu adalah bentuk kontak komunikasi antar
para gay atau dengan waria macam kami sekarang ini. Aku memandangnya
dengan menebar senyumanku. Sesudah itu kami bermain mata. Bella melihat
gayaku dia tersenyum geli,
"Ah, laparnya si Lisaa..!".
Namun rupanya hanya sebatas itu yang bisa dilakukan anak itu. Anak
ini tidak berusaha lebih jauh, misalnya mendekat dan mengenalkan
dirinya. Mungkin belum percaya diri. Maklum masih sangat muda. Aku
taksir paling baru 19 atau 20 tahunan.
Sesungguhnya aku sering mengimpikan anak-anak muda seumur dia ini.
Bau tubuhnya masih sangat alami. Dan penisnya saat lagi ngaceng, uuhh..
Keraass banget. Aku juga membayangkan betapa air maninya pasti kental
dan pekat. Dan nembaknya sangat kencang saat air maninya muncrat.
Mungkin seharusnya akulah yang lebih agresif. Tetapi hal itu tak
mungkin kulakukan di tengah orang ramai begini. Yaa.. Sudahlah.
Tiba-tiba pelayan menyodori aku secarik kertas. Ada catatan ringkas,
"Anda berdua sangat cantik. Aku pengin kencan. Bolehkah aku
menunggu di parkir mobil lantai dasar? Mau, ya? Aku sangat mengharap..
Ttd. Roni".
Aku tak sempat bertanya ke pelayan dari mana surat itu. Aku
serahkan surat itu kepada Bella. Dia tersenyum penuh arti dan kemudian
mengangguk. Kembali aku ke meja anak simpatik itu. Ternyata dia telah
pergi. 'What ever'-lah. Kini toh ada yang serius menunggu di tempat
parkir.
Bella memanggil pelayan untuk membayar. Tetapi sekali lagi,
ternyata hari ini uang kami memang tidak laku. Pemberi surat tadi telah
membayar seluruh bon makan dan minum kami. Dan orang itu telah
meninggalkan ruang cafe ini. Hebat.. Aku merasa sangat bahagia dan
tersanjung. Betapa demikian banyak orang yang menaruh atensi kepada
kami.
Kami langsung turun ke lantai dasar dengan lift. Begitu keluar lift
dan celingak-celinguk mencari siapa yang mengundang kami nampak dari
arah depan sebuah BMW seri 5 merangkak mendekati kami. Dari kaca mobil
depan yang terbuka nongol anak simpatik itu. Mobilnya berhenti tetapi
dia tidak turun karena ada mobil lain di belakangnya yang menunggu
jalan. Tetapi,
"Ayoo, Mbak-Mbak, naik sini", sambil tangannya membuka pintu
belakang. Kami seperti kerbau yang dicocok hidungnya langsung bergegas
memasuk ke BMW itu dari pintu belakang.
"Ini surat anda, Mas, dik?", tanyaku ragu.
Ternyata bacaanku tentang anak ini tidak betul. Walaupun masih muda
dia telah menunjukkan percaya dirinya. Dialah yang nulis surat ini
kemudian membayar bon-bon kami di kafe tadi dan kemudian tanpa ragu
membuka pintu BMW-nya untuk kami.
Panggilannya Roni, dari nama lengkapnya yang Baron Gumilang. Benar
usianya baru 19 tahun. Dia mengaku hanya suka dengan waria. Dia bahkan
takut sama gadis-gadis. Takut bunting, katanya. Kami tertawa sekaligus
mengagumi anak ini.
Disamping tampilannya yang simpatik, gaya Roni yang muda ini sangat
dinamis dan berani. Kalau bicara terus terang dan lugas. Dia tidak
merasa perlu memberikan pilihan yang rumit ke kami.
"Mbak, aku pengin banget tidur ber-3. Boleh, khan? Bagaimana kalau
kita menuju Tretes saja. Pulangnya n'tar malam atau sekalian besok
pagi, OK? Ongkos-ongkosnya jangan khawatir, aku yang tanggung. Termasuk
untuk Mbak-Mbak. Setuju?", dia begitu lancar bicara.
"Sekedar info, Mbak. Aku bukan sok kaya. Memang aku cukup kaya.
Walaupun masih muda aku sudah mandiri. Aku punya usaha Rokok Kretek
merk BXX (nama sebenarnya disamarkan) warisan Ortu-ku. Aku punya
anggaran khusus untuk rekreasi macam ini".
Rasanya semua sudah ada skenario di otak Roni. Terserah kita, Yes
atau No. Ya, tentu saja Bella dan saya tidak akan mengeluarkan kata
'tidak' untuk Roni yang muda dan simpatik ini. Dan rata-rata kami
memang sangat merindukan anak-anak seumur Roni ini. Apalagi pergi ke
Tretes juga merupakan salah satu rencanaku selama di Surabaya ini.
Sebelum memasuki Tretes Roni turun membeli makanan dan minuman. Aku
dan Bella sepakat untuk berpegang pada prinsip 'pokoknya
bersenang-senang'. Kami tak mengharapkan uang Roni. Kalau perlu aku
pribadi juga ada uang untuk menikmati senang-senang ini.
Kami memasuki sebuah rumah kecil untuk peristirahatan. Udara Tretes
sungguh sejuk. Rasanya nyaman banget kalau kita ber-3 akan bisa saling
memberikan kehangatan. Roni memasukkan mobilnya ke garasi, menyuruh
pelayan memasukkan barang-barang ke rumah. Dia memberikan beberapa
lembar ratusan ribu kepada penjaga sambil,
"Pak Mijan boleh pulang dulu, nanti kalau aku pulang malam atau
besok pagi kutaroh kunci di atas pintu, ya?". Nampaknya ini rumah Roni.
Benar.
"Ini rumah pribadi untuk peristirahatan keluarga. Mereka tahu saya suka kemari dengan teman-teman saya".
Begitu masuk rumah, Roni sepertinya tak mampu menunggu. Sudah
kebelet. Dia langsung jamah tubuhku. Dia lumatkan lidahnya ke bahu
kemudian leherku. Tangannya langsung mencopoti celana jeansku. Kemudian
menyeruak merogoh celana dalamku. Bergetar karena menanggung hasrat
birahinya yang menyala, tangannya meraih penisku.
"Wwoowww.., gede banget mbakk.. Uuuhh.. Aku seneng banget, nihh..
", dielus dan remasi batang penisku yang langsung ngaceng ini. Dia
nampak sangat geregetan merabai batang hangatku.
Aku mendesah tak tahan menerima serangan bertubi dari Roni.
Kemudian tangan Roni melepas aku dan meraih Bella. Dia merangkul
pinggul dan melumat bibir Bella. Kenikmatan main ber-3 macam ini adalah
saling menonton teman lain yang sedang bercumbu. Bella
menggeliat-geliat saat tangan Roni menggerilya paha dan
selangkangannya. Dia menyibak rok Bella dan memasukkan jari-jari
tangannya menembus tepian celana dalam Bella. Dia meremasi batang penis
Bella yang gede dan panjang juga.
"Uuaacchh.. Aku puaass.. Penis-penis geedeeii..!!", racau histeris Roni.
Tetapi Roni kemudian melepaskan semuanya.
"Lisa dan Bella, kita keluarin dulu makanan dan minumannya yok",
ajak Roni sambil meraih kantong plastik dari depan pintu yang memang
belum sempat diurusinya.
Roni nampak puas dengan apa yang dia dapatkan. Hal ini membuatnya
lebih tenang. Sepertinya dia ingin menikmati banget apa yang dia
dapatkan kali ini. Hasrat seksualnya semakin meninggi sejak menyaksikan
kemaluan kami. Nampaknya Roni yang anak muda ini siap untuk berasyik
masyuk sampai pagi.
Sesudah mengeluarkan berbagai belanjaan makanan dan minuman, Roni
melepaskan kemeja dan celana panjangnya. Dengan hanya bercelana dalam
dia naik dan telentang di ranjang. Aku terpesona penampilannya. Oohh..,
betapa indah tubuh muda.
Aku akan puaskan kamu Ron. Aku akan buat kamu kelojotan menerima
nikmat dariku. Pentil-pentil susunya sangat menggodaku. Aku langsung
menyusul ke ranjang dan langsung mencium, menjilati dan melumatinya.
Gelinjang nikmat langsung merambati Roni. Dia meraih kepalaku,
merangkulnya sambil mendesah,
"Enak banget, Liss.. ", dengan setengah menggeliatkan tubuhnya.
Bella menyusul. Dia datang dari arah bawah. Dia jilat dan gigiti
kedua tungkai kaki Roni yang berbulu lembut itu. Jilatan Bella langsung
membuat Roni kelojotan. Rasa geli nikmat yang sangat telah memaksa Roni
beberapa kali bangkit dari telentangnya. Dia buru-buru meraih kepala
Bella untuk menahan jilatan dan gigitannya.
"Ampun, Bell.. Aku benar-benar tak tahan. Nikmat luar biasa tetapi aku tak tahan, uuhh.. ".
OK. Kini Bella meruyak ke pahanya. Dia menciumi setiap sentimenter
pori-pori paha Roni. Benar-benar Roni kelojotan, tetapi masih mau
menahan diri. Dia biarkan Bella meneruskan jilatan dan ciumannya.
Tetapi Bella sendiri tidak berhenti di paha. Dia naik menlumat-lumat
selangkangan Roni. Dia ciumi gundukan celana dalam yang menyimpan
kemaluannya.
Bayangan ukuran penis Roni yang nampak di celana dalamnya
normal-normal saja. Tetapi paha dan selangkangannya yang sangat
'perawan' itu membuat Bella demikian bernafsu. Paha dan selangkangan
yang sangat 'perawan', begitu bersih dan mulusnya.
Bella tak akan puas-puasnya menjilat dan menciuminya. Dari sana
ciuman Bella merambat ke perut dan akhirnya bertemu dengan aku di dada
Roni. Aku terus melumat pentil kiri dan Bella melumat pentil kanannya.
Roni seperti raja yang dilayani 2 dayangnya. Dia menggeliat-geliat
menahan kegelian syahwat yang menderanya. Desahan dan rintihannya
terdengar seperti nyanyian merdu di telingaku dan telinga Bella. Kini
aku melata. Lengan Roni kuangkat ke atas kepalanya. Aku pengin banget
membuat ketiaknya kuyup oleh ludahku.
Rupanya Bella juga mempunyai keinginan yang sama. Kedua tangan Roni
terentang di atas kepalanya. Sungguh merupakan pemandangan yang sangat
mengairahkan birahi. Ketiak Roni yang penuh bulu halus sangat
mengundang lidah-lidah kami. Lereng-lereng atau lembah-lembah ketiak
itu sangat mempesona. Hidungku menangkap bau alami dari tubuh 'perawan'
Roni. Dia jauh dari aroma imitasi dan kimia.
Keringatnya yang membasah dan lengket pada ketiaknya memberikan
rasa asin dan menebarkan rangsangan pada libidoku. Rasanya kami tak
pernah puas merambahkan lidah kami pada lembah dan lereng indah itu.
Aku terus menerus menciumi ketiak kiri dan Bella terus menciumi dan
menjilat-jilat ketiak kanannya.
Kepala Roni mengayun-ayun ke kanan dan kiri menahan gelinjangnya.
Ciuman kami pada ketiaknya membuat birahinya terbakar membara. Di bawah
sana kulihat celana dalamnya terangkat menonjolkan penisnya yang telah
ngaceng banget. Dengan tangan kiriku aku meraih tonjolan itu untuk
mengelusi dan meremasinya. Bella kini bergeser dan beralih melumati
bibir Roni. Suara kecupan-kecupan bibir mereka sangat menyenangkan.
Aku sendiri milih turun ke dada kemudian turun lagi ke perut dan
turun lagi, turun lagi, turun lagi hingga berhenti di penisnya.
Tanganku menarik turun melepaskan celana dalamnya. Nampak penis Roni
yang keras dengan kepalanya yang mengkilat banget muncul dari rimba
lembut jembutnya.
Aku tahu kini, penisnya tidak disunat. Kulupnya membungkus keindahan kepalanya yang mengintip dengan lubang kencingnya.
Pada kulup dan batangnya yang indah bersih itu menampakkan
urat-urat lembutnya. Karena tegang kulupnya terdorong dan menguak
memberi jalan bagi kepalanya yang mirip topi baja itu untuk nongol.
Dari lubang kencingnya nampak membasah oleh cairan birahinya.
Ah, begitu indahnya paduan batang, kulup, kepala dan cairan birahi
itu. Aku tak mampu menahan diri. Pelan-pelan kudekatkan wajahku. Aku
menjilati dan makan 'precum' Roni itu.
Tiba-tiba dia bangkit kemudian langsung nungging dan Bella bergeser mepet ke 'backdrop' ranjang sambil merenggangkan pahanya.
Wwoowww.. Rupanya Roni pengin menciumi atau mengulum penis Bella.
Aku cepat menyesuaikan dengan perubahan. Kini yang terpampang di
depanku adalah pantat Roni. Kembali aku disuguhi pemandangan penuh
pesona. Lubang duburnya seorang 'perawan'.
Ke bagian 5
| Title | Author | Views |
| Aku Dan Pakaian Dalam Cewek |
Kuntilanak |
28,936 |
| Kencan Waria di Jakarta - 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
27,583 |
| Bercinta dengan Waria |
Jayus |
24,850 |
| Sang Tukang Pijat |
David Lie |
23,996 |
| Kencan Waria di Jakarta - 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
20,854 |
| Malam yang Indah |
Agus Sumitro |
18,969 |
| Seminggu Full Waria, Duh Nikmatnya.. - 1 |
lisa_ramon@yahoo.com |
13,055 |
| Pengalaman Pribadi Lucy |
Mas Hoo |
12,322 |
| Saling Telan Sperma Dengan Waria - 1 |
lisa_ramon@yahoo.com |
11,969 |
| Emma, Oh Emma 02 |
Mahmud Yunus |
11,836 |
| Pengalaman Pertamaku Menjadi Waria - 1 |
suratnatasha@yahoo.com |
11,667 |
| Emma, Oh Emma 01 |
Mahmud Yunus |
11,123 |
| Siang Pejabat, Malam Waria 1: Sekda Propinsi |
lisa_ramon@yahoo.com |
9,958 |
| Sensasi Erotik Saat Menjadi Waria - 3 |
lisa_ramon@yahoo.com |
9,911 |
| Kencan Waria di Jakarta - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
9,717 |
|
|
|
|
|
|
|