|
|
Dari bagian 4 Lubang dubur Roni ini begitu bersih dan mulusnnya. Nampak bintik
pori-pori seorang 'perawan' tersebar meluncur turun dari bukit
pantatnya yang sangat ranum menuruni lembah bokong yang menderas menuju
lubang indah itu.
Duburnya sendiri terbentuk dari paduan harmonis dari garis-garis,
lipatan dan kerutan yang lembut yang memusat hingga membentuk citra
lubang dubur itu. Irama garis dan titik-titik pusat yang menuju citra
lubang dubur itu mengingatkan aku akan teori 'black hole'nya Stephen
Hawking yang jagoan fisika Inggris itu. Lubang itu akan menelan
segalanya.
Dan sebentar lagi penisku aku tertelan ke sana. Apa yang nampak
padaku membuat bibirku berkecap-kecap dan lidahku pengin menjilat
selekasnya. Aku langsung membenamkan wajahku. Ludahku melumasi seputar
anal itu, kemudian lidahku menjilati dan menusuk-nusuk untuk menembusi
anus Roni.
Dduuhh.., kenikmatan yang tanpa tepi..
Semburat aroma pantat Roni menerpa hidungku. Dan mendongkrak nafsu
birahiku kemudian mendorong saraf-saraf di kemaluanku. Penisku ngaceng
banget. Tentu saja lidahku tak akan mampu menembusi lubang dubur
'perawan' itu. Tanganku mulai ingin intervensi. Aku ludahi jari-jariku.
Aku raba dubur Roni dan aku coba dorongkan jari-jariku masuk ke lubang
itu.
"Aduuhh.. ", suara teriakan dari atas sana. Tetapi suara itu tidak
disertai upaya untuk menghindar. Jadi kuulang dan kuteruskan jariku
menusuknya pelan. Kutahan untuk kembali mendorongnya. Kemudian kutarik
sedikit dan kembali mendorongnya. Lumayan.
Jari tengahku telah berhasil melakukan penetrasi hingga satu ruas.
Kini kutarik dulu. Aku pengin mencium dan mengulum sebelum menusuk
lebih dalam lagi. Uuhh.. Jariku membawa bau anal yang khas itu dan
mulai merasakan rasa sepat di lidahku. Aku semakin bergairah untuk
melanjutkan penetrasiku. Kuludah lagi jari-jariku dan kembali
kutusukkan pelan ke anal Roni.
"Pelan, Lisaa.. ", ah, setidaknya bukan 'aduh' lagi. Dan kata
'pelan' dari mulut Roni itu artinya agar aku meneruskan penetrasiku.
Kini aku mulai bisa memompa dengan jariku ini. Ujung jari yang
sangat peka ini merasakan kelembutan di dalam sana. Dinding anus Roni
yang terasa hangat dan licin itu terkadang memberikan empotan pada
jari-jariku.
Aku kembali menarik keluar untuk mencium dan mengulumnya. Aku
merasakan kembali bau anal yang khas itu dan rasa sepat yang semakin
kuat di lidahku. Sementara di atas sana kudengar rintihan dan desah
Bella merasakan nikmatnya kuluman mulut Roni.
Mulut Roni terus bertubi meng-'usel-usel' kemaluan Bella. Lidahnya
menjalari pangkal, batang dan kepala kemaluan Bella yang gede itu.
Sementara tangannya tak henti-hentinya meremasi bijih pelirnya.
Aku tahu Bella sangat mudah terangsang saat kemaluannya diciumi
macam itu. Dan rupanya Roni sangat asyik melakukannya. Apalagi suara
Bella yang terdengar erotis itu membuat birahi Roni semakin
terdongkrak.
Dan aku disini juga sedang terbawa arusnya syahwat birahiku.
Melihat indahnya 'perawan' dubur Roni, penisku semakin tak tahan untuk
tidak melakukan penetrasi pada Roni. Dan rasanya Roni sengaja membakar
nafsuku. Dia tidak mengalihkan perhatian syahwatku. Dia juga tidak
merubah posisi nunggingnya. Akulah yang harus tanggap.
Dan aku kemudian bergegas, sekaligus mengimbangi desah dan rintihan
nikmat Bella dan Roni sendiri di ujung sana. Aku bergerak bangun dengan
penisku yang sudah demikian tegak dan kaku.
Sepintas aku nyamber tas kosmetik Bella. Aku ingat dia selalu
membawa 'baby oil'. Aku keluarkan sebotol kecil baby oil dari tas itu
dan kubuka tutupnya.
Aku basahi telapak tangan dan jari-jariku untuk kusapukan pada
lubang anal Roni dan kusapukan pula pada ujung penisku. Aku ingin
upayaku menembusi anal Roni bisa lancar. Sementara itu aku masih
berpikir bahwa ini bukan yang pertama bagi dia. Kemudian pelan-pelan
kuarahkan ujung penisku dan kudesakkan pada anus Roni.
Sekali. Dua kali. Tiga kali dan..
"Adduuhh.. Pelaann Liss.. ", tangan Roni menggapai-gapai ke arahku dan meraih pinggulku.
Tetapi rasanya aku tak bisa mundur lagi. Saat ujung penisku mulai
merasakan bahwa lubang anal itu mulai terkuak, aku telah merasakan
betapa nikmatnya tak terhingga. Aku akan terus mendesak-desak lubang
itu hingga penisku bisa menembus gerbang dubur Roni. Benar-benar sebuah
perjuangan penuh nikmat.
Setiap mili penisku masuk ke lubang analnya, setiap itu pula
kenikmatan campur kepedihan menyertai Roni. Dia terus menerus meng-aduh
tetapi tak ingin membatalkan upayaku. Aku sendiri merasakan yang sama
kecuali rasa pedihnya. Dan yang pelan tetapi pasti itu akhirnya
berhasil.
Sesudah sepertiga batangku masuk, aku gerakkan maju mundur untuk
mengorek semen pelumas dari anal Roni, kemudian kutusukkan kembali
hingga mencapai setengahnya. Demikian ku-ulang-ulang hingga seluruh
batang penisku melesak tenggelam ke anal Roni. Sesaat kubiarkan diam.
Aku merasakan empotan dinding anal Roni lebih mencengkeram. Betapa
nikmatnya. Seluruh pori batang kemaluanku merasakan nikmatnya empotan
dinding anal Roni itu.
Sesudah itu aku mulai memompa pelan. Tarik, dorong, tariikk, doroong.. Tarrikk.. Kemudian makin cepat.
Kini Roni benar-benar kesakitan. Mungkin saja saraf-saraf lembutnya
pada putus. Pedih dan panas rasanya. Tetapi anak muda tidak sedang
menghadapi pilihan. Tak terpikir untuk mundur. Roni mulai menggoyang
pantatnya. Bahkan dia mulai merasakan kenikmatannya. Dia mengimbangi
seirama tusukkan-tusukkan penisku.
Yang terdengar kini bukan lagi kesakitan tetapi rintihan dan desah
penuh nikmat. Ah.. Perawankuu.. Ronii.., rasanya kenikmatan macam ini tak perlu berakhir.
Sementara itu desahan Bella semakin memanas. Aku melihat betapa
Roni sangat terobsesi dengan penis gede Bella. Kepalanya terus nampak
memompa naik turun mengulum penis gede itu. Kini pada mulutnya ada
penis Bella dan di mulut lainnya, di lubang duburnya ada penisku.
Kedua-duanya bergerak dalam pompaan penuh irama untuk menapaki puncak
syahwat bersama.
Dan semakin lama dan semakin jauh yang terdengar adalah simpony
mulut-mulut yang menanggung derita nikmat. Tiga mulut bersama mendesah
dan merintih. Aku mengatupkan kelopak mataku sambil merasakan betapa
nikmatnya anal Roni mencengkerami kemaluanku.
Tiba-tiba bibir yang hangat menyentuh bibirku dan kami langsung
berpagutan. Bella yang sudah demikian histeris, mencaplok bibirku untuk
melampiaskan desakan birahinya yang mulai merambati ambang puncaknya.
Dan karena ciuman Bella ini aku juga mulai dijalari keinginanku untuk
melepaskan spermaku.
Aku pengin menapaki ambang puncakku. Aku tidak tahu bagaimana Roni
menanggung derita nikmat ini. Yang kutahu ldahnya terus menari mengedar
dari pangkal hingga ujung penis Bella. Dan pantatnya yang sangat ranum
ini terus maju mundur menjemputi penisku yang terbenam dalam anusnya.
Dan inilah puncak bersama itu..
Bella mendahului dengan teriakan nyaringnya sambil cakarnya
mencabik-cabik rambut di kepala Roni. Air maninya muncrat ke mulut
Roni. Menyaksikan Bella saraf saraf di seputar kemaluanku seakan
dirambati aliran listrik yang lembut. Terasa seakan spermaku mengalir
melalui jaringan otot-otot pada kemaluanku. Aku merasakan nikmat yang
merambat. Aku memeluk sambil menggigit atau menciumi punggung Roni
hingga spermaku menyemprot ke dalam analnya.
Dan yang terakhir Roni yang paling menyimpan obsesi-obsesi. Dia
telah menelan tuntas sperma Bella. Pantatnya telah menyimpan tumpahan
air maniku yang sebagian nampak tercecer mengalir keluar dari gerbang
analnya. Nampaknya kini dia memerlukan bantuanku.
Aku bangkit untuk men-telentangkan tubuhnya ke ranjang penuh nikmat
ini. Dengan tanganku aku mulai mengocok penisnya sementara ujung lubang
kencingnya kucegat. Mulutku mengatupnya agar spermanya tak berantakan
ke mana. Roni menggeliat-geliat. Pantatnya naik turun menjemputi
kocokan tanganku. Tangannya histeris menjambaki rambutku.
Bellapun akhirnya turun tangan. Dia menelungkup di ranjang untuk
melumati bibir Roni sambil tangannya memilin-milin puting susunya. Tak
pelak lagi nikmat luar biasa kini bak prahara melanda Roni. Nafasnya
memburu disertai desahan yang keluar dari mulut yang terpagut. Dan saat
tarikan remas tangannya pada rambutku memedas mulutku merasakan kedutan
besar yang disusul semprotan cairan kental yang panas. Kejadian itu
datang ber-ulang-ulang.
Roni telah menumpahkan air maninya ber-liter-liter ke mulutku. Air
mani Roni bersemburatan dan membusa di seputar bibirku. Dengan penuh
nafsu birahi Bella menubruk aku dan melumati mulutku. Dia pengin ikut
menikmati sperma Roni dari mulutku. Yaa.. Aku akan berbagi.
Permainan ber-3 sementara usai. Roni mengajak istirahat sambil
mencicipi makanan kecil dan minumannya. Kami banyak bercanda dalam
suasana penuh keakraban. Dalam berbagai cara dan gaya kami berasyik
masyuk sepanjang malam. Hanya karena badan lelah kami berhenti dan
tertidur.
Saat aku bangun di pagi harinya kulihat Bella sudah rapi. Dan aku
terkejut saat melihat Roni yang sudah rapi pula. Dia telah memakai
busana yang lengkap siap untuk pergi ke kantornya. Dia sungguh keren
dengan blazer dan dasinya. Kini dia benar-benar tampil sebagai boss.
Anak muda cukup kaya yang memiliki usahanya sendiri. Duuhh.. Aku
ngaceng menyaksikan penampilannya.
Tetapi aku tak berani mengganggunya. Dia nampak terlalu sibuk
dengan HP-nya yang terus memanggil. Dia sudah mulai bekerja untuk
perusahaannya. Saat hendak pulang aku usul pada Bella dan Roni
bagaimana kalau aku dan Bella diantar saja ke titik keramaian kota
wisata Tretes ini. Mereka setuju. Sebelum turun dari mobil Roni
menyerahkan 2 amplop tebal untuk aku dan Bella. Roni mengucapkan terima
kasih dan 'jangan kapok'. Sewaktu-waktu kapan nanti, dia ingin berjumpa
kami lagi.
Aku sedang memasuki hari ke 3 'full waria'-ku. Sesuai dengan
programku kini aku bersama Bella berada di titik keramaian kota Tretes.
Pemandangan gunung dan kehijauan yang lain melatar belakangi
gedung-gedung toko di seputar kami.
Bella lapar, aku juga. Kami masuk ke restoran yang terdekat.
Sesudah makan dan minum kopi kami 'site seeing' dengan kereta kuda
'andong' yang tersedia untuk wisatawan lokal. Sekitar 1 jam Pak kusir
mengajak kami meninjau obyek-obyek wisata di seputar Tretes.
Seperti biasa kami jadi sasaran pandang para mata haus birahi.
Tetapi suasana kami tak begitu mendukung. Kami sekarang tinggal
berpikir untuk pulang. Agar praktis dan cepat Bella memanggil taksi.
Sekitar jam 1 siang aku dan Bella sudah kembali berada di tempat kost
kami. Aku meneruskan tidurku hingga pukul 4 sore.
Sore ini Bella mengajak aku ke Mall Tunjungan yang sangat terkenal
berkat lagu Walang Kekek itu. Aku lantas memilih-milih baju yang akan
kupakai hingga nanti malam. Kuambil rok berbahan lembut dengan motif
kembang-kembang kecil. Ini rok bikinan Poppy Darsono yang disainer top
itu. Rok itu seakan hanya digantung pada pundakku dengan tali kecil.
Dengan rok Poppy ini aku nampak seksi banget. Bahu dan ketiakku
ter-ekspose dengan sempurna.
Aku keluar rumah dengan sepatu taliku yang berhak tinggi. Sepatuku
ini membuat betisku tampil sangat ranum. Nampak tumitku yang putih
meruntun ke atas hingga betis bunting padiku ini. Dan akhirnya dengan
kalung Mikimotto imitasi, Channel no.5 imitasi dan tas kulit Etienne
Aigner-ku yang imitasi pula sore itu kami keluar rumah untuk naik bis
kota.
Wuuwww.. Seru juga.
Para penumpang bis pada mencuri pandang ke kami. Ada yang tersenyum
sinis. Tetapi bagaimana hatinya siapa yang tahu. Ada pula yang
mencibir. Biasanya para ibu-ibu, takut suaminya menganggap kami lebih
menarik. Ada pula yang mengerdipkan matanya. Mencari peluang dalam
kesempitan. Ada pula yang bergaya ramah, menegor.
"Mau kemana, Mbak? Pemilu besok mau nyoblos siapa?".
Mungkin maksudnya dia kepengin kami coblos. Tapi kata Bella, ada
pula yang diam-diam mengamati kami sambil tangannya masuk ke saku
celananya. Dia masturbasi dengan cara memijit-mijit kemaluannya melalui
kantong celananya itu. Lumayan khan, 10 menit mengamati dan mengkhayal
tentang kami dalam perjalanan bis ini sudah cukup untuk membuat cairan
kentalnya muncrat. Hi, hi..
Kami turun dari bis kota tidak jauh dari Mall Tunjungan. Beberapa
suitan dan celoteh erotis membuat hatiku berdesir. Suitan dan celoteh
itu mulai aku nikmati sebagaimana saran Bella. Menjadi semacam 'siksaan
nikmat' atau 'masochism erotic' yang bisa menggetarkan saraf-saraf
birahi. Semakin kejam celoteh dan ejekan itu semakin tinggi efek nikmat
yang bisa dirasakan. Sekali lagi darahku berdesir saat berpapasan
dengan seseorang yang mulutnya langsung nyerocos,
"Ecchh, banci yaa.., waria yaa.., mau nggap ngisepin penisku..??",
vulgar banget tuh orang. Dan betapa orang-orang yang mendengarnya pada
tertawa. Bella mencubit tanganku sambil berbisik mengingatkan sebuah
prinsip, "Nikmat khan..?".
Ke bagian 6
| Title | Author | Views |
| Aku Dan Pakaian Dalam Cewek |
Kuntilanak |
28,936 |
| Kencan Waria di Jakarta - 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
27,583 |
| Bercinta dengan Waria |
Jayus |
24,850 |
| Sang Tukang Pijat |
David Lie |
23,996 |
| Kencan Waria di Jakarta - 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
20,854 |
| Malam yang Indah |
Agus Sumitro |
18,969 |
| Seminggu Full Waria, Duh Nikmatnya.. - 1 |
lisa_ramon@yahoo.com |
13,054 |
| Pengalaman Pribadi Lucy |
Mas Hoo |
12,322 |
| Saling Telan Sperma Dengan Waria - 1 |
lisa_ramon@yahoo.com |
11,969 |
| Emma, Oh Emma 02 |
Mahmud Yunus |
11,836 |
| Pengalaman Pertamaku Menjadi Waria - 1 |
suratnatasha@yahoo.com |
11,667 |
| Emma, Oh Emma 01 |
Mahmud Yunus |
11,123 |
| Siang Pejabat, Malam Waria 1: Sekda Propinsi |
lisa_ramon@yahoo.com |
9,958 |
| Sensasi Erotik Saat Menjadi Waria - 3 |
lisa_ramon@yahoo.com |
9,911 |
| Kencan Waria di Jakarta - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
9,717 |
|
|
|
|
|
|
|