|
|
Dari bagian 5 Bella cerita bahwa di Tunjungan ada tempat ngumpulnya waria. Di salon
B&I, milik Budi dan Ine. Kedua-duanya adalah waria. Ternyata aku
aku telah kenal mereka saat sama-sama mejeng di jalan IB. Nyaman juga
tempat ini. Beberapa waria nampak sedang mencukur atau merapikan rambut
para pelanggan.
Kulihat ada bapak-bapak yang sedang creambath di kursi 7 terus
menerus mencuri pandang ke aku. Kayaknya usianya sekitar 50-an.
Kumisnya lebat. Ahh.. Sudah lama aku menginginkan kumis macam itu. Aku
bayangkan betapa menggelitiknya saat meng-'usel-usel' selangkanganku.
Atau saat mengendusi pantatku. Apa dia mau?
Sesungguhnya aku masih ingin ber-lama-lama duduk di salon itu.
Sambil nungguin tuh bapak. Siapa tahu dia benar naksir aku. Tetapi
Bella mengajak aku 'window shopping' lagi. Apa boleh buat. Menyenangkan
teman lebih penting, khan?!
Hari sudah mulai gelap. Jam tanganku menunjukkan pukul 7 malam. Aku
lapar. Bella aku ajak masuk ke restoran cepat saji dan banyak pilihan
Happy Times. Aku suka makan Thai yang pedas dengan Tom Yam Kung-nya.
Bella memilih makan yang lebih ringan tanpa lemak, Salad Tuna. Kami
makan dengan santai sambil menunggu waktu ke jalan IB.
Surabaya di waktu sore. Ahh.. Betapa nikmat 'full waria'-ku.
Jalan-jalan, 'masochisme erotic', makan, 'ngentot' atau di-'entot',
menjilati sperma lelaki ngganteng.. Ini hari ke. 4 ku sebagai 'full
waria'.
Sekitar jam 8 malam kami beranjak dan pergi ke jalan IB markas
besarnya para waria Surabaya. Saat aku turun dari taksiku, sebuah sedan
Mercy 300 SE th. 2004 berderit berhenti di dekatku. Seseorang membuka
pintu, turun dan memanggil aku,
"Lisaa.., apa kabar..??". Ramah tetapi aku belum mengenalnya. Dia bergegas mendekatiku.
"Kenali, dong. Oscar", sambil mengulurkan tangannya.
"Aku nunggu kamu, lho. Sudah 1 jam sejak tadi",
"Aku tahu kamu dari Vera. Tuh yang berdiri dekat lampu", Ya.., aku tahu Vera, dia juga teman baikku.
"Mau nggak jalan sama aku. Kita ke motel, yok", bisiknya.
Aku memandang Bella yang menyusul turun dari taksi. Dia
menganggukkan kepalanya. Itu tanda bahwa dia mengenal pria ini dan
menyilahkan kalau aku minat pada ajakannya.
"Oke, Mas. Terserah Mas deh. Kemanapun aku dibawa terbang aku
akan.. Hheecchh.. ", aku teruskan kata-kataku dengan remasan pada
selangkangannya.
Itulah dialog para orang jalanan. Vulgar dan'to the point' sesuai
dengan tujuan-tujuan utama dari setiap perjumpaan di jalan IB ini. Aku
masih pengin tahu, kenapa dia tidak ambil Vera saja. Dan bahkan Vera
kemudian menunjukkan ke aku. Ternyata Oscar sedang pengin waria yang
berpenis gede. Dan Vera tahu aku.
Kami memasuki halaman motel. Entah di mana ini. Oscar memilih motel
VVIP. Sesudah parkir kami masuk ke kamar. Oscar langsung memaguti
bahuku. Hatiku berdesir. Lelaki ini sangat terobsesi pada diriku. Saat
bibirnya ketemu bibirku aku menyambutnya dengan penuh antusias.
Ternyata dia pintar merangsang syahwatku. Lidahnya menjilat rongga
mulutku. Ludahku disedot habis olehnya.
Untuk lebih mematangkan situasi aku raih selangkangannya. Kuremasi
celana yang membungkus kemaluannya. Kurasakan penisnya yang telah
tegang mengeras. Kuelus dan terkadang kupiji-pijit. Kami pelan bergeser
untuk rebah ke ranjang. Dengan terus melumat bibir dia menindih
tubuhku. Kami berguling dalam dekapan. Sepintas bau tubuhnya menyergap
hidungku dan meningkatkan hasrat birahiku.
Oscar mengangkat lenganku ke atas kepalaku. Lembah ketiak putihku
terbuka. Dengan histeris dia menjilatinya. Aku menjerit kecil menahan
kegatalan yang tiba-tiba menyeruak relung birahiku. Duhh.. Lumatan
ituu.., duh jilatannyaa.., duuh isepanyaa.. Bisa-bisa ketiakku penuh
cupang nihh..
Tangan Oscar dengan lincah melepasi gaunku. Tanpa melepas isepan
pada ketiakku dia urai tali kecil dekat bahuku. Kemudian dia lepas pula
BH-ku. Kemudian tangannya menurunkan gaun dan BH hingga ke perutku. Dia
mulai melata mengisepi buah dadaku. Duh, mass.. Darahku berdesir-desir
merasakan kecupan bibirnya pada ujung pentilku. Aku menggelinjang.
Aku memang tidak membesarkan buah dadaku. Bagaimanapun aku masih
tetap seorang manager pada sebuah perusahaan multi nasional dengan
karier planning yang bagus dan penuh tantangan ke depan. Kuperhatikan,
juga berkat bacaan, tidak semua pria mendambakan buah dada montok.
Bahkan bagi pecinta waria, banyak di antaranya yang tetap menghendaki
seorang pria saat sama-sama bertelanjang. Aku pikir demikianlah Oscar
ini. Dia begitu bernafsu menciumi dadaku.
Dia isepi puting-puting susuku. Dia lumat hingga kuyup tulang
rusukku. Kemudian turun ke perut dan pinggulku. Pada saatnya dia raih
dan turun lepaskan rokku melalui sepasang tungkai kakiku.
Oscar mulai menjilati bawah perutku.
Di tempat ini birahiku mudah terangsang apabila kena
sentuhan-sentuhan erotis macam lidah dan bibir Oscar ini. Aku
menggelinjang dan menggeliat-gelitakan tubuhku menahan rasa geli tapi
nikmat ini.
Aku tahu sasaran akhir Oscar adalah penisku. Tetapi dia memang
pintar. Dia akan terlebih dahulu membuat aku terangsang setengah mati.
Ciumannya yang dari perut terus turun tidak menyentuh kemaluanku. Bibir
dan lidahnya memindah sasarannya ke ujung kakiku.
Dia turun dari ranjang dan merambahi ujung jari-jari kakiku. Kini
siksaan nikmat untukku datang dari arah bawahku. Jiltan dan kuluman
lidah Oscar pada jari-jari kakiku sungguh membuat aku blingsatan.
Sedemikian geli nikmat yang melandaku membuat aku seperti cacing
kepanasan. Memberontak-berontak tetapi tak ingin dilepaskan. Terkadang
aku bangun untuk meraih dan mencabuti rambut Oscar sebagai pelampiasan
kegelianku. Tetapi Oscar tak mundur. Bahkan lidahnya juga menyelinap
pada celah di antara jari-jari itu yang akibatnya uuaahh..,
"Amppuunn.. Oossc.. ",
Dari jari-jari itu dia ikuti lidahnya yang menjulur ke betisku yang sangat mulus.
"Ini benar-benar betis milik Sharon, Liss.. ", masih sempat dia mengingat Sharon Stone yang mirip denganku itu.
Dengan penuh 'greget' Oscar melumat-lumat kedua tungkai kakiku. Aku
merasakan betapa lidahnya meratai pori-pori kulitku dan membuat aku
gemetar merinding. Gigitan dan sedotan kecilnya meninggalkan tebaran
cupang-cupang dari batas lutut hingga ke celah selangkanganku. Oscar
juga sangat menikmati selangkanganku. Dia jilat dan kecupi lembah dan
palung-palungnya. Aku yang nggak tahan pada rasa geli berkali-kali
menahan kepala Oscar dengan sedikit mengangkat untuk menghambat jilatan
dan kecupan lidahnya.
Aku menggigit bibirku sambil meremas-remas susuku sendiri untuk serangan syahwatku ini. Oouuhh.. Ampun deh..
Kini, sesudah aku belingsatan karena ulahnya, Oscar mulai
menjalarkan lidahnya ke penisku. Dia memulai dengan cara yang sangat
erotis. Dengan mengangkat tungkai kakiku hingga pahaku nempel ke dada.
Oscar mendapati analku yang terbuka menghadap ke wajahnya. Lidahnya
mulai dari sana.
Dia melakukan jilatan bijih pelirku. Bukan jilatan, tetapi lumat
dan kuluman sambil hidungnya menikmati aroma yang khas dari wilayah
itu. Adduuhh.. Aku langsung seperti terbang mengawang. Wwuuwww..
Kenikmatan syahwatku membuat aku melayang-layang dalam nikmat
birahi. Lumatan dan kuluman Oscar membuat aku sangat tersanjung. Betapa
seorang Oscar yang ber-Mercy 300 SE ini membiarkan mulutnya mengulum
bijih pelirku. Dduuhh.. Ampuunn..
Kurasakan kuluman dan lumatannya berubah menjadi kecupan dan
jilatan yang merambah pada seluruh batang penisku. Naik, turun, naik
turun, naik.. Dan dia melumat kembali. Kini lumatan itu untuk ujung
penisku yang telah menunggunya sejak awal tadi. Ujung itu nampak padat
dan menglkilat karena tekanan darah syahwat dari dalam merasakan
sentuhan perangkat mulut Oscar. Bibir, lidah dan ludahnya membuat
kepala penisku menjadi kuyup.
Cairan birahi yang keluar dari lubang kencingku dijilatinya. Seakan
dia memerlukan rasa cairan itu lebih banyak lagi dia terus
mengulum-ulum sambil lidahnya berputar menjilati seluruh permukaannya.
Yang terjadi kemudian adalah rontoknya pertahananku. Aku tak mampu
menahan lajunya spermaku yang terasa mulai keluar dari kantong kemihku.
Aku merasakan betapa air maniku kini sedang deras mengaliri seluruh
otot-otot di seputar batang penisku. Aku dijemput oleh puncak
nikmatku..
Ketika segalanya telah berada di ambangnya, tanganku
menggapai-gapai. Aku ingin memerasi sesuatu. Dan jangan salahkan
tanganku apabila rambut dan kepala Oscar jadi korbanku. Begitu spermaku
mengalir deras untuk membobol pintunya, perasan dan remasan tanganku
sungguh menyakitkan kepala Oscar. Dia menjerit kesakitan sekaligus
mendesah penuh nikmat. Air maniku yang panas tumpah ruah meluber di
mulutnya.
Dengan rasa pedih pada kepalanya Oscar begitu menikmati semburan
cairan kental air maniku di mulutnya. Entah berapa banyaknya. Aku
langsung terhempas rubuh ke kasur. Seluruh tangan dan sendi-sendiku
luruh dan lumpuh. Oscar telah membuat aku ngos-ngosan. Nafasku
berkejaran dengan pipa-pipa udaraku yang rasanya terlampau sempit untuk
menghirup sebanyak mungkin udara segar.
Aku memerlukan udara segar yang sesegar-segarnya. Aku merentangkan tangan dan dadaku untuk menghirup nafas panjangku.
Aku lihat Oscar masih sibuk dengan menjilat. Spermaku yang
berceceran di pahaku dan di kain sprei ranjang motel itu dia jilati
hingga bersih. Oscar tak mau kehilangan setetespun cairan nikmat yang
keluar dari penisku itu. Kami seling percumbuan dengan makan dan minum
yang dipesan dari room service. Oscar nampak sangat puas dan lega. Dia
merasakan betapa obsesinya tentang penis gede dari waria cantik macam
aku terpenuhi.
Dia terus menggeluti diriku hingga menjelang pagi. Entah berapa
banyak cupang-cupang yang telah meratai dengan noda merah-merah di
tubuhku. Entah berapa kali dia berhasil mengeluarkan dan meminum air
maniku. Entah berapa kali aku mesti menampung air maninya, entah dalam
mulutku atau dalam lubang analku. Energiku habis tersedot.
Aku sampai di tempat kostku dengan lunglai. Jam menunjukkan pukul 4
pagi. Aku terbangun jam 11 siang sesudah tertidur tanpa sempat
mengganti bajuku. Bella menyediakan mie rebus yang sangat sedap untuk
sarapan siangku. Dia benar-benar teman setiaku. Dia juga pulang pagi.
Bahkan pulang lebih lambat dari waktuku. Dia tidur di Hotel Hayyat
bersama tamu langganannya. Dia menunjukkan tas kulit yang cantik yang
dibawa tamunya dari Hongkong.
Aku sangat gembira melihat wajah Bella yang berseri-seri. Aku
merasakan betapa persahabatanku dengannya tak akan luntur oleh masa.
Hari ini hari yang ke-5 aku 'full waria' di Surabaya. Ternyata sangat
melelahkan. Lelah fisik dan lelah non fisik. Aku masih banyak merasakan
ketegangan. Mungkin hal yang biasa terjadi bagi orang yang baru
merasakan bagaimana 'full waria' setiap hari ini.
Tetapi aku sangat bahagia dan puas. Aku telah melakukan apa yang
jadi obsesiku. Aku juga bisa menyalurkan hasrta seksualku setiap hari.
Aku ketemu dengan orang-orang yang memberikan aku kebanggaan dan rasa
penuh tersanjung. Aku pikir aku mengalami keunikan dalam hidupku.
Tiba-tiba suara Bella menyadarkan aku. Sore ini dia mengajak aku
berenang. Wahh.. Pasti seger, nih. Badan lagi capai macam begini paling
cocok memang hanya berenang. Dimana Bell? Bagaimana kalau Hotel Novotel
di jalan Ngagel?!
Aku pikir Bella lebih tahu dari aku. Jadinya ya, ngikut saja.
Terserah pada Bella, pokoknya berenang.. Aku memang sudah siap dengan
kemungkinan acara macam begini. Jadinya aku keluar rumah sudah lengkap
dengan segala macam perabot untuk renang. Aku akan berenang pakai
bikini.
Aku percaya bahwa pinggang dan pinggulku bagus dan indah. Aku yakin
setiap orang yang melihatnya akan 'kesengsem' dengan bikiniku. Sebagai
waria aku tak kalah seksi dengan para gadis-gadis seksi penolong pantai
di serial Baywatch itu. Kembali aku memilih jeans ke-abu-abuan dengan
blus biru tua yang menunjukkan sedikit perut dan puserku. Kali ini aku
memakai sepatu kets-ku
Bersama Bella aku keluar dari tempat kost dan pakai taksi menuju ke
Novotel. Ternyata kolam renang Novotel memang benar indah. Luas dengan
suasana tropika yang nyaman dipandang mata. Ditengahnya ada 'sunken
bar' yang sangat romantis. Beratap ijuk dengan pohon kelapa kecil di
tengahnya.
Saat kami baru datang, semua mata, baik lelaki maupun perempuan
pada menengok ke arah kami. Hampir pada setiap kesempatan aku mengalami
hal seperti ini. Inilah salah satu kenikmatannya jadi waria.
Aku dan Bella langsung menuju kamar ganti. Nah.. Inilah pesona yang
mata-mata haus telah menantinya.. Aku dengan bikini hitamku, Bella
dengan bikini putihnya.
Ke bagian 7
| Title | Author | Views |
| Aku Dan Pakaian Dalam Cewek |
Kuntilanak |
28,936 |
| Kencan Waria di Jakarta - 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
27,583 |
| Bercinta dengan Waria |
Jayus |
24,850 |
| Sang Tukang Pijat |
David Lie |
23,996 |
| Kencan Waria di Jakarta - 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
20,854 |
| Malam yang Indah |
Agus Sumitro |
18,969 |
| Seminggu Full Waria, Duh Nikmatnya.. - 1 |
lisa_ramon@yahoo.com |
13,055 |
| Pengalaman Pribadi Lucy |
Mas Hoo |
12,322 |
| Saling Telan Sperma Dengan Waria - 1 |
lisa_ramon@yahoo.com |
11,969 |
| Emma, Oh Emma 02 |
Mahmud Yunus |
11,836 |
| Pengalaman Pertamaku Menjadi Waria - 1 |
suratnatasha@yahoo.com |
11,667 |
| Emma, Oh Emma 01 |
Mahmud Yunus |
11,123 |
| Siang Pejabat, Malam Waria 1: Sekda Propinsi |
lisa_ramon@yahoo.com |
9,958 |
| Sensasi Erotik Saat Menjadi Waria - 3 |
lisa_ramon@yahoo.com |
9,912 |
| Kencan Waria di Jakarta - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
9,717 |
|
|
|
|
|
|
|