|
|
Dari bagian 6 Kulitku yang cerah membuat bikini hitamku nampak kontras indah
menggiring mata-mata haus melata pada tubuhku. Buah dadaku memang tak
menjanjikan macam para bitang di serial Baywatch, tetapi aku yakin
pinggulku nampak sangat seksi.
Sementara Bella memang lebih sempurna. Pinggulnya indah dan buah
dadanya juga sangat indah. Ah.. Aku bangga berteman dengan dia. Kami
menuju tangga kolam. Kami melangkah ke anak tangganya dan menapaki
turun. Kami mulai dengan membasahi tubuh sebelum benar-benar nyebur ke
kolam. Aku rasakan betapa para lelaki terbakar hasratnya. Mata mereka
tak bisa menyembunyikan hati mereka. Aku perkirakan sebagian yang
sedang berendam di air mengelus-elusi penisnya.
Tak ada suitan atau suara-suara miring untuk kami. Mereka berpegang
pada etika bagaimana berenang di tempat umum. Apalagi ditempat berkelas
seperti Novotel ini.
Sesudah melakukan pemanasan, aku berenang dengan gaya katak bolak
balik dan memutari sudut-sudut kolam. Terkadang aku menyelam. Pada saat
menyelam ini aku berkesempatan untuk untuk melihat situasi medan.
Kulihat ada kaki-kaki yang bergorombol di sana atau ada serombongan
kaki-kaki lain yang sedang mengayuh berenang.
Seseorang mengacungkan jempolnya padaku saat berpapasan menyelam di
air. Sesudah beberapa kali mengitari kolam Bella mengajak aku naik ke
sunken bar. Aku minta juice orange yang pekat. Seorang bapak-bapak,
sekitar 50 tahunan, dengan penuh sopan dan seakan telah akrab menyapa
kami,
"Enak, suz, renangnya?".
Dia duduk sendirian, tampangnya nge-bossy. Tubuhnya nampak gempal ber-otot. Atau mungkin pejabat atau ABRI? Aku tidak pasti.
"Hah, seger banget, pak", Bella yang menyahut.
Kemudian bisu sunyi. Yang terdengar hanyalah dentingan sendok
beradu gelas minuman. Kami masing-masing ngobrol dengan kelompoknya
sendiri. Aku lagi jenuh. Sampai hari ke 4 tadi malam aku penuh dengan
acara bercumbu. Aku lelah. Aku hanya kepingin berenang untuk
menyegarkan kembali tubuhku.
Sesudah menghabiskan juice aku tinggalkan Bella untuk kembali
nyebur ke kolam renang. Aku berenang hingga hari gelap. Bella ternyata
tidak kembali ke kolam. Dia biasa datang ke tempat ini. Mungkin ketemu
dengan orang-orang yang di kenalnya. Kelihatannya dia asyik ngobrol
dengan orang-orang di sunken bar.
Sebaiknya aku menyudahi renangku. Aku naik dari air untuk mandi
bilas di kamar ganti. Saat aku melewati deretan kamar ganti untuk
menuju kamarku tiba-tiba ada suara 'sspp' di belakangku. Ah..
Kenapa suara itu ada disini pula? Aku terhenti. Kutengok ke arah
suara itu. Seseorang nongol dari pintu salah satu kamar ganti. Ternyata
bapak yang menyapa di sunken bar tadi.
"Suz, mau?", pertanyaan yang sangat singkat tetapi bukan main efektipnya.
Pertanyaan itu dia sertai dengan tangannya yang merogoh ke celana
renangnya yang tanpa kuduga merogoh dan mengeluarkan kemaluannya. Dia
pamer dan tawarkan kepadaku. Aku terkesima. Tak pernah terpikir penis
bapak itu besar dan panjang macam itu. Dalam keadaan tidak atau belum
ngaceng, batangnya menjuntai hingga kepalanya hampir menyentuh
dengkulnya. Bagaimana saat ngacengnya?! Aku bengong.
"Aku pengin diisepin sama suz", sambil tangannya menggoyang-goyang batang panjang itu.
Darahku tersirap langsung naik ke-ubun-ubun. Kata-kata yang
diucapkan dengan penuh vulgar itu seperti men-telikung kesadaranku.
Hasrat birahiku langsung lepas me-liar. Perasaan jenuhku tadi langsung
sirna. Aku diterpa godaan syahwat yang hebat. Aku diam tetapi jelas
lumpuh dan menampakkan penyerahan. Bapak itu mendekatiku dan meraih
lenganku.
Dia menyeret aku masuk ke kamar bilasnya. Kejadian itu berlangsung
sangat cepat. Rasanya tidak lebih dari 20 detik aku sudah dalam
kekuasaan hasratnya. Di dalam kamar bilas, nggak tahu kenapa, aku
begitu saja mepet ke dinding dan jongkok dengan mulutku yang langsung
terbuka menganga. Tanganku bergerak meraih penis luar biasa itu,
mengelusi dan mengocok pelan dengan mengarahkan lubang kencingnya ke
arah mulutku. Aku ingin memenuhi keinginannya.
Bapak itu pengin aku mengisepi penisnya itu. Lidahku menjilat
kepalanya, kemudian melumatnya. Rasa asin langsung menyentuhi saraf
rasa dalam rongga mulutku. Precum bapak itu telah meleleh keluar. Aku
mengulum dan memompa. Dan penis itu dengan cepat tegak, membesar dan
mengeras hingga mulutku penuh. Aku semakin terbakar. Syahwatku menyala
membara. Aku memompa dengan penuh semangat dan cepat. Aku ingin
selekasnya merasakan tumpahnya air mani dari penis yang segede ini.
Aku ingin melumat-lumat kentalnya dan menelannya. Bapak itupun
demikian. Dia ingin selekasnya menggapai orgasmenya. Aku rasakan betapa
dia dikejar oleh hasratnya 'ngentot' mulutku. Dan ingin menumpahkan air
maninya ke mulutku. Dia raih kepalaku dan memaju mundurkan pantatnya.
Dia memastikan bahwa arah penisnya tepat di mulutku.
Saat aku menunjukkan tanda-tanda lelah memompa, dia cepat mengambil
alih. Dia pepetkan kepalaku ke dinding sebagai tumpuan. Dan ganti dia
yang memompa. Penisnya yang gede itu keluar masuk ke mulutku. Makin
cepat. Makin cepat. Aku hampir tersedak saat ujungnya menyentuhi
tenggorokanku. Bapak itu sama sekali tidak mengurangi intensitas
pompaannya. Dan akhirnya, dalam kondisi penuh ketidak sabaran, dia
melepaskan cairan spermanya.
Sepertinya waktu dia begitu sempit, penisnya berkedut besar dengan
disertai tembakan cairan panas ke rongga mulutku. Berkali-kali itu
berlangsung. Dari mulutku meleleh air maninya yang tak lagi tertampung,
jatuh ke dagu terus ke dada dan perutku. Dia masih bilang dalam
racaunya,
"Telan, ya, suz. Telan.. Telan.. Yaa", dan aku memang menelannya.
Aku akan kecewa seumur-umurku kalau tidak menuruti keinginannya.
Air mani yang keluar dari penis segede itu.., uuhh.., aku nggak
akan pernah menyesal.. Aku merasakan betapa gurihnya cairan bapak itu..
Aku masih mengecap-kecap nikmat spermanya ketika tiba-tiba bapak itu
bilang,
"Terima kasih, suz, yaacchh.. ", sambil tangannya memasukkan
kembali penisnya ke celananya. Dengan cepat dia menghilang keluar pintu
sebelum aku sempat menyahuti omongannya.
Edaann..
Seluruh kejadian itu dari awal hingga akhir rasanya tidak lebih
dari 3 atau 4 menit. Sungguh peristiwa seksual tercepat yang pernah
kualami. Kenikmatan kilat! Edan! Bahkan aku nggak tahu siapa dia.
Dengan agak terseok-seok aku menuju ke kamar bilasku. Rupanya Bella
telah menunggu aku di luar. Aku mandi dan membersihkan segala noda.
Sebelum pulang aku ngajak Bella ke coffee shop untuk sekedar minum
panas. Aku menceritakan apa yang barusan aku alami.
Bella mentertawakan aku. Dia bilang ceritaku itu campuran antara
tragedi dan komedi yang sarat dengan erotik masocisme dan erotic
sadisme dengan kadar ringan. Bukan main si Bella, kaya dokter yang
doktor saja..
Dia juga bilang, enak loh, pengalaman macam itu. Sambil matanya
memandang dalam dan penuh arti padaku. Terus terang, walaupun aku
merespon ucapannya dengan ikut tertawa, aku tak pernah tahu persis apa
yang dia maksudkan dengan omongannya itu. Barangkali dia berpikir
kenapa bukan dirinya yang mengalaminya. Sekali lagi aku tertawa.
Malam itu di jalan IB aku sama sekali hanya nongkrong di warung wak
Sena. Rasa jenuhku kembali menyerangku. Beberapa lelaki berusaha
membujuk aku. Aku tak bisa. Aku hanya ingin mengisi waktuku dengan
ngobrol bersama teman-teman sesama waria di jalan IB ini.
Bella mendapat beberapa tamu yang cukup dipuaskan dalam mobil
mereka atau dalam gubuk kardus di jalur hijau dekat jalan IB itu. Kami
pulang ke tempat kost jam 1 malam. Rasanya aku perlu istirahat total.
Besoknya aku baru bangun jam 11 siang.
Aku berada di hari ke 6 'full waria'-ku. Aku perlu konfirmasi tiket
Garudaku untuk hari lusa. Aku keluarkan HP-ku untuk telpon ke kantor
Garuda Surabaya. Aku sengaja matikan HP-ku beberapa hari selama berada
di Surabaya ini. Aku tidak ingin diganggu macam-macam. Terutama oleh
kantorku atau pekerjaanku. Kulihat ada lebih 20 pesan SMS memenuhi
HP-ku. Biarlah aku lihat..
Pertama dari kantorku. Pesannya, Mohon bpk telpon ke surya. Aku pencet option dan pilih delete.
Kedua dari kantorku juga. Isi pesan, Apa kabar. Surya. Aku pencet
option dan pilih delete. Ketiga dari Bardi stafku, Bapak sehat? Kapan
pulang? Aku pencet option dan pilih deleteKemudian aku scan untuk cepat
melihat SMS dari siapa saja. Sudah kutebak. Semua dari kantor.
Kubersihkan layar monitorku. Aku suruh Kirman pelayan tempat kost
untuk membelikan nasi bungkus Padang. Sesudah makan aku ngobrol sama
Bella. Ngantuk. Aku tidur lagi sampai jam 5 sore.
Aku bangun dengan perasaan seakan lahir kembali. Badanku yang
sangat nyaman dan segar. Aku mandi air panas yang disiapkan oleh
Kirman. Aku usul pada Bella bagaimana kalau makan ke MD Darmo Plasa
sebelum ke jalan IB. Tetapi Bella usul lain. Dia ngajak ke Slizer Steak
House di jalan Darmo. OK!
Cukup diantar Mas Parto dengan becaknya, aku bersama Bella ke
restoran Amerika yang terkenal itu. Sama dengan Bella aku pesan
shirloin medium 200 gram dengan orange juice berukuran besar. Makanan
datang dengan secarik kertas untuk Bella,
"Selamat makan cah ayu-ayu. Ttd. Donny".
Bella melihat sana-sini,
"Haii.. ", dengan wajah sumringah dia nyamperin seseorang yang
dikenalnya. Mereka mendekat ke aku. Aku diperkenalkan sebagai teman
Bella. Donny menyilahkan kami menyantap hidangannya. Dia telah selesai
makan. Dia pamit untuk meninggalkan kami. Semua makanan kami ini telah
dibayar oleh Donny. Bella bilang Donny sering main ke jalan IB.
Aku sedang nongkrong sambil makan pisang goreng di warung wak Sena
ketika seseorang mendekat dan mengenalkan dirinya sebagai Robet Manu.
Tampangnya nampak sangat jantan tetapi juga sedikit sangar. Kulitnya
ke-hitaman dengan tubuhnya yang tegap ber-otot. Dia mengajak aku
kencan.
Aku tidak langsung mengiyakan, aku perlu konfirmasi dari
teman-teman. Terutama dari Bella. Tetapi rupanya Bella telah pergi
dengan tamunya. Teman-teman yang lain bilang tak pernah melihat lelaki
ini. Ternyata dia memang bukan orang Surabaya. Robet adalah orang Ambon
yang kerja di Jakarta dan sekarang sedang bertugas di Surabaya.
Kami para waria memang perlu hati-hati. Banyak orang datang untuk
menyalah artikan keinginan baik para waria. Menjadi waria seperti hidup
di atas kawasan tak bertuan. Tak ada tempat mengadu. Tanpa ada yang
melindungi. Sesudah beberapa saat ngobrol aku merasa tak perlu khawatir
tentang Robet ini. Perawakannya tinggi gede dengan kulit ke-hitaman.
Tampang Ambonnya nampak jelas. Wajahnya yang tampan dengan kontur
wajahnya yang tajam membuat Robet mudah dikenali dari mana dia asalnya.
Ternyata orangnya penuh perasaan dan humoris. Dia seorang engineer
pertambangan. Tugasnya banyak di tengah laut. Dia bekerja di off shore
milik perusahaan Amerika yang terletak di antara Kalimantan dan Jawa.
Sepanjang ngobrol kami saling bersentuhan. Dari balik celana dia meraba
penisku. Dan aku juga meraba penisnya. Penis Robet normal saja
sebagaimana orang Indonesia lainnya. Sementara dia bilang kagum dengan
penisku yang gede.
Terus terang dia telah membuatku bergidik dan merinding. Sentuhan
tangannya yang penuh bulu membuat hasrat birahiku bangkit. Aku
membayangkan bulu-bulu macam itu menyebar di sekujur tubuhnya. Aku
memang sangat terobsesi dengan lelaki macam Robet ini. Lelaki yang
penuh bulu dengan tubuhnya yang tegap ber-otot dan kulitnya yang
ke-hitaman. Akhirnya aku berdiri untuk mengikutinya saat dia mengajak
aku naik taksi menuju ke hotelnya.
Ternyata Robet tinggal di Hyyat Regency Hotel yang bintang 5 itu.
Dia bilang mesti tinggal disana sesuai dengan standart yang ditetapkan
oleh perusahaannya untuk tenaga staff macam dia, demikian bicara Robet
yang terasa merendah. Staff? Bintang 5? Aku yakin dia bukan staff
biasa.
Dengan penuh santun, dia mohon padaku untuk secara terpisah menuju
ke kamarnya. Dia akan berjalan lebih dahulu untuk menunggu aku. Dia
nggak mau nampak berdua-an sama aku. Banyak orang-orang yang telah
dikenalnya di hotel tersebut. Aku memakluminya. Back street, begitulah.
Aku menunggu sambil 'window shopping' di shopping arcade hotel bintang
5 ini.
Robet tinggal di kamar 515.
Begitu aku mengetok pintunya Robet membuka pintu dan langsung
menyambutku. Dia merengkuh tubuhku. Belum sempat aku melihat-lihat
kamarnya, bibirnya telah memagut bibirku. Bulu-bulu tercukur di pipi
dan dagunya seperti amplas memarut pipiku. Aku dipeluk dengan eratnya.
Aku suka sekali bau tubuhnya. Inilah bau orang jantan. Ada semburat
parfum lelaki, tetapi alami tubuh Robet sendiri memancarkan bau
khasnya. Aku merengkuh kepalanya. Aku menyambut lumatan bibirnya dengan
lumatan bibirku. Masing-masing setengah menutup matanya, merasakan
kenikmatan ciuman. Dengan sedikit memutar-mutar wajah yang bertumpu
pada bibir kami mencari posisi yang paling pas dan menyalurkan hasrat
syahwat kami. Jari-jari tangannya sesekali meremas punggungku. Dan
jari-jariku meremasi rambutnya.
Ke bagian 8
| Title | Author | Views |
| Aku Dan Pakaian Dalam Cewek |
Kuntilanak |
28,936 |
| Kencan Waria di Jakarta - 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
27,583 |
| Bercinta dengan Waria |
Jayus |
24,850 |
| Sang Tukang Pijat |
David Lie |
23,996 |
| Kencan Waria di Jakarta - 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
20,854 |
| Malam yang Indah |
Agus Sumitro |
18,969 |
| Seminggu Full Waria, Duh Nikmatnya.. - 1 |
lisa_ramon@yahoo.com |
13,054 |
| Pengalaman Pribadi Lucy |
Mas Hoo |
12,322 |
| Saling Telan Sperma Dengan Waria - 1 |
lisa_ramon@yahoo.com |
11,969 |
| Emma, Oh Emma 02 |
Mahmud Yunus |
11,836 |
| Pengalaman Pertamaku Menjadi Waria - 1 |
suratnatasha@yahoo.com |
11,667 |
| Emma, Oh Emma 01 |
Mahmud Yunus |
11,123 |
| Siang Pejabat, Malam Waria 1: Sekda Propinsi |
lisa_ramon@yahoo.com |
9,958 |
| Sensasi Erotik Saat Menjadi Waria - 3 |
lisa_ramon@yahoo.com |
9,911 |
| Kencan Waria di Jakarta - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
9,717 |
|
|
|
|
|
|
|