|
|
Dari bagian 7 Kemudian tangannya bergeser. Robet mulai melepasi busanaku.
Jari-jarinya cepat membuka kancing-kancingnya. Kemudian tali BH-ku
ditariknya dan lepas. Hampir serentak, blus dan BH-ku merosot dan jatuh
ke lantai. Sambil merabai penisku, jarinya melepasi kancing celana
jeansku. Didorongnya turun hingga aku tinggal memakai CD-ku. Saat aku
hendak melepas sepatu hak tinggiku, dia berbisik menahan,
"Tunggu.. ", hampir tak terdengar olehku.
Dia menuntun aku ke sofa empuk yang ada di kamar itu. Aku
disuruhnya duduk sementara dia bersedeku dengan lututnya berada di
lantai menghadap ke aku. Diraihnya satu tungkai kakiku dan diangkatnya.
Dia mulai mencium lagi.
Kali ini dia menciumi hak sepatu tinggiku. Kemudian nampak dengan
sepenuh perasaannya Robet mencium dan melumati sepatuku. Diangkatnya
kakiku lebih tinggi. Dia berusaha lidahnya menggapai jari-jari kakiku
di ujung sepatu. Lidahnya melata menjilati hingga tumitku yang putih
bersih ini, sementara tangan kirinya mengelus dan meremasi penis dalam
CD-ku.
Ciumannya merambah terus melaju ke betisku. Saat bibirnya menyentuh
betis aku sepertinya disambar sengatan listrik. Aku terlonjak kecil
dari sofa. Kegelian syahwat langsung menerpaku dan membuat aku
menggelijang.
Robet melumati seluruh permukaan betisku dengan penuh greget.
Kudengar erang atau desah dari mulutnya, "Lliss.., Lliss.. Lissa
Ramoonn.. ".
Penisku semakin berdiri ngaceng. Kemudian diletakkannya kembali
satu kakiku itu untuk meraih kaki yang lain. Dia mengulangi apa yang
dilakukan sebelumnya. Kakiku yang lain dilumatinya dari hak sepatu
hingga ke betisku. Robet telah melihat penisku yang tegak dan kaku,
tetapi dia menahan diri untuk belum menyentuhkan bibir atau lidahnya.
Bibirnya meneruskan rambahannya yang kini sampai pada lutut untuk
melaju ke pahaku. Gigitan-gigitan gemas pada lututku sungguh membuat
nafsu seksualku melonjak. Darahku serasa tersekat, nafasku jadi sedikit
tersengal dan membuat sesak dadaku. Dan gigitan pada lututku itu
mengakibatkan seluruh saraf birahiku terbangun. Ribuan anai serasa
merambati seluruh wilayah pekaku. Aku merintih menahan kegelian birahi
yang sangat.
Aku terbangkit bangun. Kuraih tak tertahan kepala Robet. Kujambaki
rambutnya. Aku ingin menghambat laju gigitannya pada lututku itu. Dan
sepertinya Robet acuh saja sambil melanjutkan rambahan bibirnya ke
paha. Dengan penuh kegemasan dia melumat pahaku. Jilatan dan kecupannya
beruntun hingga membuat pahaku kuyup oleh ludahnya.
Aku benar-benar tak mampu mengendalikan diriku. Tubuhku berpilin
menggeliat-geliat seperti cacing kepanasan. Dengan jatuh bangun aku
benar-benar ingin menahan ciuman dan jilatan Robet. Tetapi mana
mungkin?Posisi tubuhnya yang berada diantara paha pahaku membuat
tubuhku terkunci. Tangan-tangannya memeluki ketat kedua tungkai kakiku
dan mukanya siap untuk dibenamkan ke selangkanganku. Aku benar-benar
tersiksa.
Prahara nikmat ini menerjang dan melandaku. Membuat aku sangat
menderita. Tetapi kuakui aku tak hendak menyingkirkan semua ini. Yang
aku cari kini adalah sarana untuk mengkompensasikan deritaku ini
menjadi nikmat sepenuhnya. Aku memerlukan pegangan. Akhirnya tanganku
meraih kain penutup sofa Hyyat Regency ini. Aku remas-remas seakan
hendak menyobek-sobeknya.
Aku tarik lepas dari tempatnya hingga sofa ini nampak awut-awutan.
Ternyata Robet kembali menahan dirinya. Dia tidak membenamkan mukanya
ke selangkanganku. Dari paha dia bangkit dan melepasi kemeja serta
celananya. Tinggal CD-nya yang menampakkan gembungan kemaluannya yang
telah mengeras Robet merebahkan tubuhnya menindih tubuhku.
Kembali aku bergidik dan merinding. Benar perkiraanku, tangan,
lengan, dada dan paha atau tungkai kaki Robet penuh ditumbuhi
bulu-bulu.
Wwooww, Robet.. Sinii.. Biar kujilat dan 'kemot-kemot' bulu-bulumu itu, desahku.
Sungguh aku sangat terobsesi. Dia rengkuh dadaku. Memelukku sambil
kembali mendaratkan bibirnya ke bibirku. Kami berpagut. Dia sedot
ludahku seakan hendak dikeringkannya mulutku. Lidahnya menyeruak
berputar-putar di rongga mulutku. Bulu-bulunya yang serasa menggelitik
tubuhku itu membuat aku mendesah kenikmatan. Demikian pula dia. Kami
benar-benar saling menikmati ciuman yang terasa semakin meningkatkan
nafsu birahi kami.
Kemudian Robet merambah leher, bahu dan membuka lenganku untuk
membiarkan bibir dan lidahnya melata ke lembah-lembah dan lereng
ketiakku.
Wwuuhh.. Robettzz..
Sungguh tak bertara kenikmatan yang meghanyutkanku. Jari-jari
tanganku meremasi punggungnya. Situasi syahwat kami ternyata berkembang
sangat laju. Robet ingin analku menjemput kemaluannya. Dia merubah
posisinya. Dia duduk bersandar ke sofa sambil menghela tubuhku ke
pangkuannya.
Kembali kami berpeluk dan berciuman. Kurangkul bahunya sementara
tangan Robet merengkuh pinggulku. Dia angkat sedikit tubuhku agar
pantatku berada tepat dalam titik kemaluannya yang telah demikian tegak
dan berkilatan kepalanya. Aku tahu. Robet ingin selekasnya merasakan
penisnya dalam jepitan analku.
Aku mengangkat sedikit pantatku sambil tangan kananku meraih
penisnya untuk ku-pas-kan menusuk lubang anusku. Dan tak banyak
kesulitan. Anusku yang memang telah siap langsung menelan amblas
kemaluan Robet. Kini aku yang memompa. Aku menaik turunkan bokongku.
Slurp., slurp., slurp.. Penis Robet keluar masuk ke analku. Kami lantas
saling mempererat pelukkan untuk menikmati apa yang sedang berlangsung
ini. Sesudah sekian waktu, Robet ingin merubah posisi.
Tanpa melepas penisnya dari anusku dia rebahkan aku dan kembali
menindihku di sofa sempit ini. Diangkatnya satu kakiku untuk lebih
membuka pantatku. Dan gerakkan memompa kembali berulang. Hanya kini
yang harus beraksi adalah Robet sendiri. Aku menggoyang pantatku karena
nikmat yang tak tertahan ini. Tanganku mulai meremas-remasi dadaku
sendiri. Jari-jariku memilin-milin pentilnya.
Wwuuzz.. Roobetzz.. Tusukkan penis Robet makin cepat. Slurp, slurp, slurp..
Kulihat matanya tertutup sambil bibirnya meracau, "Lizz, lizz, Lizz.. Lizzaa.. ".
Pada suatu saat, dalam desakkan birahinya yang semakin tak tertahankan, dengan penuh gegas dia bilang, "Kamu nungging, Lizz.. ",
Ahh.., dia telah berada di ambangnya.. Dan dia mau menyodomi aku
dalam gaya 'anjing ngentot' atau 'doggy style'. Wuuwww.. Ini juga gaya
kesuakaanku. Aku cepat berbalik dan nungging. Dengan kepalaku yang
bertumpu pada tangan-tangan sofa, lubang pantatku menjadi terbuka dan
siap menerima tusukkan penis Robet.
Dan terjadilah..
Robet mulai kembali memompa dengan frekwensi, kekuatan dan
kecepatan yang lebih. Sesudah kemaluannya tepat keluar masuk ke anusku,
aku mulai bergerak merangkak hingga tubuhku setengah membungkuk dan
berdiri sementara tangan kananku berpegang pada sandaran sofa dan
tangan yang lain me-'ranggeh' pinggul Robet untuk membantu percepatan
tusukkannya. Kami sama-sama berayun dan menikmati penetrasi penis pada
lubang anus.
Dan benarlah.. Robet nampak tengah bersiap menjemput orgasmenya.
Dengan racauannya yang memanggil-manggil namaku terus menerus dia
mempercepat penisnya keluar masuk ke lubang pantatku. Aku sendiri
merasakan betapa nikmat setiap tusukkan ini. Aku tak lagi merasakan
betapa panasnya lubang anusku saat menerima tusukkan yang semakin cepat
ini. Aku ikut meracau dengan memanggil-manggil namanya.. Robetzz,
Robetzz.. Betzz..
Dan saat puncak itu datang, tangan Robet menyambar kepalaku. Dia
renggut rambutku. Dia tarik bagai tali lis kuda tunggangannya. Dia
berpacu bak joki ditengah pacuan. Dia maju mundurkan sangat cepat
penisnya hingga..
Ampuunn Betzz, amppuunn.., ampuunn.. Aku berteriak-teriak penuh
kepedihan di pantatku, sementara sperma Robet menyemprot dan tumpahkan
spermanya ke lubang analku. Pacuannya belum kunjung terhenti. Kedutan
penis Robet masih datang beruntun yang disertai semprotan cairan
kentalnya.. Aku yang demikian terbawa ke arus nafsu Robet, cepat
menarik bokongku, berbalik dan menyambar penis Robet.
Aku pengin banget menerima semprotan spermanya ke mulutku. Masih
beberapa tembakkan yang menyemprot yang kurasakan dalam rongga mulutku.
Aku merasakan cairan kental hangat yang langsung kukecapi rasa
gurihnya. Dengan penuh kerakusan nafsu, kutelan sperma Robet untuk
menutupi kehausanku.
Demikianlah babak awal perjumpaan sayhwatku dengan syahwat Robet.
Robet pesan makanan dan minuman dari room service. Kami istrirahat
sejenak, ngobrol. Tanpa sengaja kami bicara berkaitan dengan profesi.
Bukan maksudku untuk pamer pada dia, tetapi aku keceplosan bicara
tentang sebuah teori managemen yang dia tahu tidak banyak orang yang
memahaminya. Saat ngobrol tentang seks, aku bicara tentang Maslow
dengan teori 5 jenjang kebutuhan manusianya.
Dia agak kaget, namun tersenyum. Ah, kamu pasti waria dengan
profesi yang hebat. Dia nebak-nebak. Aku tidak tanggapi agar tidak
keterusan. Dia hanya kembali tersenyum sambil,
"Biasanya waria khan hanya di salon-salon", sebagaimana kebanyakkan waria yang kerja di salon kecantikan.
"Atau jadi perancang busana",
"Kalau perancang busana bukan waria tetapi gay", aku coba nyambung lagi.
Berasyik masyuk bersama Robet sungguh menyenangkan. Akhirnya
kurasakan betapa Robet menghargai aku sebagai teman intelek. Dia bilang
'nyaman berasyik masyuk' dengan seorang yang ber-profesi.
Aku menyetujui pendapatnya. Aku juga menikmati orang pinter macam
dia. Malam itu aku melampiaskan obsesiku. Aku berkesempatan mengambil
kendali.
Di atas ranjang Robet kulumat habis. Tak ada bagian tubuhnya yang
kulewatkan. Lidah dan bibirku asyik meng'emot-emot' detail tubuhnya.
Teristimewa bulu-bulunya yang terserak di segala tempat.
Selangkangannya juga menebarkan aroma jantan yang sungguh merangsangku.
Bulu-bulu analnya sempat menari-nari di rongga mulutku. Robet pengin
aku me-nyodomi pantatnya itu. Dia tidak takut dengan kemaluanku yang
gede. Dia berteriak histeris saat aku memuncratkan spermaku dalam
lubang pantatnya.
Entah berapa kali kami saling meraih orgasme malam itu. Aku keluar
dari kamarnya sekitar pukul 6 pagi, saat semua orang baru bangun atau
sibuk di fitness centre, atau bersiap mau ke bandara. Aku panggil taksi
yang banyak mangkal di Hyyat Regency Hotel itu.
Ini hari terakhir acaraku di Surabaya. Akhirnya 'kelakon' juga
keinginanku. Aku sangat menikmati 'full waria'-ku yang hampir usai ini.
Hari ini aku habiskan waktuku untuk keliling kota Surabaya bersama
Bella dan satu teman lamaku lagi Nancy yang cantik itu. Dengan busana
wanita yang sangat sensual kami naik turun bus dan naik turun taksi.
Kami juga pergi ke Kebon binatang dan makan sea food di pantai
Genjeran. Semuanya atas biayaku. Aku menerima banyak amplop uang dari
teman-teman kencan selama di Surabaya ini. Aku tak pernah membukanya
hingga pagi ini.
Ternyata isinya lebih dari modal yang telah kukeluarkan untuk
bersenang-senang ke Surabaya ini. Bahkan lebih. Aku bagikan sebagian
untuk Bella dan Nancy sebagai bentuk terimakasihku. Malam terakhir kami
lewatkan untuk nongkrong dan ngobrol bersama teman-temanku di jalan IB.
Kami pulang dari IB sekitar pukul 12 malam.
Kami tak sempat benar-benar bercumbu 'three some' antara aku, Nancy
dan Bella. Tetapi kami melakukan sekedar obat kangen. Kami saling pagut
dan remas. Hanya Nancy yang sempat mendapatkan orgasmenya. Aku bersama
Bella menampung puncratan spermanya di mulut, di pipi serta dagu-dagu
kami.
Ah, Nancy yang manis, yang tetap nampak 'innocent' sejak aku
pertama kali melihatnya beberapa waktu yang lalu di Surabaya yang sama.
Besoknya jam 7 pagi aku sudah berada di taksi menuju bandara. Aku tidak
membawa kembali busana wariaku. Semuanya kutinggalkan pada Bella dan
sebagiannya ke Nancy.
Kubayangkan merubah diriku kembali menjadi Norman ternyata lebih
rumit. Toilet pria biasanya lebih ramai dan akan lebih mengundang
perhatian apabila aku masuk ke dalamnya. Sejak dari tempat kost memang
sudah kupikirkan semuanya ini. Hari ini aku tidak lagi menggunakan
kosmetik dan parfum. Aku juga telah memakai jeans yang memang
kesukaanku.
Di dalam taksi dimana aku duduk tepat di belakang sopir, kubuka
tasku dan kukeluarkan satu lembar T. Shirt-ku. Secepatnya blusku kubuka
untuk kuganti dengan T. Shirt. Dengan cermin kecilku kuamati wajahku
untuk melihat sisa kosmetik kalau ada yang teringgal. Saat turun dan
membayar ongkos, kulihat sopir taksi sedikit bengong. Aku telah berubah
menjadi pria yang tampan.
Aku berjalan dengan gagah masuk ke ruang boarding pass. Tak ada
lagi mata-mata penuh birahi memandang ke arahku. Aku berbaur dengan
calon penumpang lain.
Jam 11 siang aku telah berada di taksi yang tersendat-sendat karena kemacetan menuju rumahku di Bintaro, Jakarta.
Jakarta, Mei 2004
E N D
| Title | Author | Views |
| Aku Dan Pakaian Dalam Cewek |
Kuntilanak |
28,936 |
| Kencan Waria di Jakarta - 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
27,583 |
| Bercinta dengan Waria |
Jayus |
24,850 |
| Sang Tukang Pijat |
David Lie |
23,996 |
| Kencan Waria di Jakarta - 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
20,854 |
| Malam yang Indah |
Agus Sumitro |
18,969 |
| Seminggu Full Waria, Duh Nikmatnya.. - 1 |
lisa_ramon@yahoo.com |
13,054 |
| Pengalaman Pribadi Lucy |
Mas Hoo |
12,322 |
| Saling Telan Sperma Dengan Waria - 1 |
lisa_ramon@yahoo.com |
11,969 |
| Emma, Oh Emma 02 |
Mahmud Yunus |
11,836 |
| Pengalaman Pertamaku Menjadi Waria - 1 |
suratnatasha@yahoo.com |
11,667 |
| Emma, Oh Emma 01 |
Mahmud Yunus |
11,123 |
| Siang Pejabat, Malam Waria 1: Sekda Propinsi |
lisa_ramon@yahoo.com |
9,958 |
| Sensasi Erotik Saat Menjadi Waria - 3 |
lisa_ramon@yahoo.com |
9,911 |
| Kencan Waria di Jakarta - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
9,717 |
|
|
|
|
|
|
|