|
|
Jaguar Koh Abong kabur menuju suatu tempat. Aku
tidak begitu tahu di mana nih, belok, belok, belok lagi langsung masuk
garasi. Koh Abong kemudian turun, kulihat dia berbicara sebentar dengan
penjaga garasi itu. Kemudian baru mendatangi dan membuka pintu mobil
untukku.
Aku merasa sangat tersanjung. Aku diperlakukan bak putri jelita,
bak selebriti yang jadi rebutan para pecintanya. Abong meraih tanganku,
menggandeng, naik tangga kayu, membuka pintu dan masuk ke kamar. Kamar
tidur yang luas, mewah, sejuk karena AC-nya. Ada meja rias besar,
itulah yang diam-diam kucari, dan diam-diam aku melintas di cermin
besarnya dan, wow.., aku sendiri tidak mengira, aku benar-benar sangat
cantik dan sensual. Aku.., Lisa Ramon.
Dan aku langsung menggeliat saat kurasakan Koh Abong meraih
pinggangku. Dia mencium leherku, kudukku, bahuku. Dia terus mencium,
turun ke belikatku. Aku menggeliat, "AACCHH..", kukeluarkan desahan
untuk Koh Abong. Desahan pelacur waria yang haus, desahan seakan dari
waria peot yang sudah setahun tidak ada yang mau ngentot bokongnya.
Kemudian bak gasing di tangannya tubuhku diputar hingga kami saling
berhadapan. Dia benamkam wajahnya ke leherku, dia isap leherku dan
menyedotnya. Wah, berabe nih, timbul bekas cupang dong, tapi hal itu
terlalu nikmat untuk kutolak atau kuhindari.
Kemudian kami saling melumat. Rupanya jago sekali Koh Abong ini
dalam kissing. Lidahnya berputar-putar dalam rongga mulutku, sedotannya
menguras seluruh air liurku. Kemudian Koh Abong mendorongku ke ranjang,
uuhh.., dia menyergapku, menyerangku, menerjangku, meradang.., rasanya
Koh Abong ini sangat.., sangat memujaku.. Dia rengkuh tubuhku, di
telanjanginya aku, dijilatinya aku, seluruh tubuhku, seluruh
pori-poriku, seluruh celah, bukit, maupun lembah yang terhampar di
tubuhku tak ada yang tertinggal dari jilatannya.
Aku rasakan begitu nikmatnya saat wajahnya tenggelam dalam
selangkanganku, bagaimana lidahnya itu terus mengocok-ngocok celah
selangkanganku itu.
'Bau khan Kohh.., baauu khann..', aku mengerang.
'Biarin sayangg.. aku rasanya ingin menelan kamu Lisaa.. biarkan aku menelan kamu yyaa..', pintanya penuh kehausan.
Juga saat dia menjilati duburku, 'JANGANN KOHH.., BAUU KOHH.., JANGAANN..', tetapi Koh Abong tetap tidak menggubrisku.
Dia juga menjilat seluruh permukaan telapak kakiku, jari-jari kakiku, dia jilati betisku hingga pedih rasanya.
Entah dia sudah 'keluar' berapa kali, tetapi malam itu aku telah
memuntahkan spermaku 3 kali. Dan dari semua muntahan spermaku, selalu
dia minta padaku agar tidak dimuncratkan ke tempat lain kecuali ke
mulutnya.
'Jijik khan Koh..', kataku, tetapi dia tidak mempedulikannya.
Dan kulihat bibirnya yang telah belepotan spermaku, begitu sibuk
mengecap-ngecap sebelum akhirnya ditelan. Pada pukul 2 malam, setelah 6
jam dia puas mengeksplorasi seluruh tubuhku, dia mengantarkanku ke
stasiun Pasar Turi. Dia turun membukakan pintu mobil untukku dan
membantu menghidupkan mesinnya, dia khawatir kalau terjadi masalah
dengan kendaraan tersebut setelah cukup lama di parkir.
Kemudian dia kembali membukakan pintu dan membantuku keluar. Aku
turun untuk pindah ke Daihatsu sewaanku. Tiba-tiba diberikannya
berlembar-lembar uang padaku. Aku menolak, tetapi dia memaksa, karena
dirinya juga senang, katanya. Aku jadi terharu, Koh Abong sangat baik
padaku dan aku menjadi merasa sangat tersanjung.
Sesudah dia pergi, aku kembali berbenah. Kuambil cermin riasku,
kuseka semua coreng moreng di mukaku. Lipstik, pensil alis, bedak
segala macam merk, shiseido dan sebagainya. Kuganti rokku dengan celana
pendek, blusku dengan T-shirt, hingga aku kembali menjadi Norman, staf
akunting dari sebuah perusahaan di Jakarta yang sedang bertugas di
kantor cabangnya di Surabaya.
Aku kembali ke hotel untuk tidur. Ternyata aku merasa sangat lapar.
Kuambil sisa bekal roti dari tasku, kuambil juga Coca Cola kalengku.
Aku bangun pukul 8 pagi, walaupun sebenarnya aku masih merasa lelah,
tetapi pagi itu aku merasa sangat segar.
Setelah mandi, aku bersiap ke kantor. Aku mengenakan dasi Valentino
yang baru kubeli dari Singapore lengkap dengan jepitannya. Kuambil
blazer Hugo Boss-ku. Aku pergi sarapan di Bumi Hyatt. Saat aku akan
membayar, kurogoh kantongku, aku terperanjat.., Koh Abong.., uang yang
diberikannya tadi malam itu.., 2 juta rupiah dalam pecahan ratusan ribu
yang masih baru. Ooohh.., aku langsung ereksi kembali.., aku gembira
bukan karena besarnya jumlah uang itu, tetapi itu pasti diberikan Koh
Abong untukku dengan penuh penghargaan padaku, dan penghargaan itulah
yang membuatku berbinar-binar sepanjang hari itu.
Di kantor, Pak Hendro, kepala cabang Surabaya menyambutku dengan
sangat santun. Aku tahu, dia berharap pemeriksaan audit olehku akan
kuberikan sedikit kelonggaran apabila terjadi hal-hal yang kurang 'pas'
di mataku. Aku paham, hal seperti itu lazim di mana-mana. Kebanyakan
orang kita memang kurang paham akan makna hakiki setiap aspek dalam
akunting. Mereka biasanya sekedar pengguna jasa saja.
Hari itu aku pulang seperti biasa, pukul 3 sore dari kantor cabang
itu. Dengan penuh gairah aku menghadapi malam yang kedua untuk kembali
menjadi Lisa Ramon di Jalan Irian Barat Surabaya itu. Aku akan membeli
pakaian baru dari uang pemberian Koh Abong semalam. Aku mampir ke Mall
Tunjungan. Kali ini aku ingin tampil dengan sangat berbeda dibandingkan
tadi malam. Aku yakin bahwa hal ini juga akan menjadi suatu surprise
bagi diriku sendiri. Aku ingin melihat diriku yang lain dalam kostum
yang berbeda, Lisa Ramon pada malam yang ke-dua di Jalan Irian Barat
Surabaya.
Aku pilih rok terusan dengan kain yang lembut berwarna hitam,
dengan tali kecil yang menggantung pada bahu, sehingga bahuku yang
mulus akan nampak terbuka. Kemudian dengan penuh keyakinan pula, aku
membeli sepatu berhak tinggi model boot hingga sedikit di atas mata
kakiku. Untuk semua itu, aku menghabiskan hampir sejumlah 800 ribu
rupiah. Biarlah, aku benar-benar ingin memuaskan diriku sendiri kali
ini.
Berdasarkan pengalaman kemarin, setelah puas makan di Restoran
Padang di depan hotelku, pada pukul 7.00 malam aku baru keluar dari
hotel. Langsung menuju stasiun Pasar Turi, kemudian parkir dan
berdandan di sana. Tepat pukul 7.40, aku sudah kembali menjadi Lisa
Ramon. Aku segera keluar dari mobilku, memanggil taksi dan menuju Jalan
Irian Barat.
Kepada sopir taksi, aku minta diturunkan di dekat kerumunan
waria-waria di bawah lampu lalu lintas Jalan Irian Barat itu. Begitu
aku membuka pintu dan turun dari taksi, kerumunan waria-waria itu
nampak terkesima.
'Wee.., anak baru.., anak baru.., waria baru nihh..', suara mereka dengan jelas kudengar.
Aku berusaha untuk menahan diri dan berendah hati.
'Selamat malam teman-teman', satu dua di antara mereka menyahut kemudian mendatangiku.
'Baru yaa.., dari mana, uhh kamu cantik sekalii..'.
'Trims. Aku dari Jakarta. Kesepian nih sendirian di rumah. Boleh gabung yaa.., paling cuma sampai besok koq..'.
Hal ini perlu kujelaskan, karena biasanya para waria kurang suka
jika ada 'pesaing' baru, apalagi jika 'pesaing' tersebut sangat seksi
seperti diriku ini.
'Ada yang namanya Bella tidak?', aku bertanya sekalian menginformasikan bahwa aku mengenal seseorang di Jalan Irian Barat ini.
'Aku punya pesan untukk Bella dari temannya Norma di Jakarta', kataku lebih lanjut.
'Ooouuwww.., kamu teman Norma. Bagaimana kabarnya?', ternyata Norma
sangat dikenal di daerah ini, maklum Norma juga seorang organisator
para waria yang biasanya memimpin kegiatan-kegiatan sosial di berbagai
kota, atau ikut meramaikan berbagai acara hiburan yang melibatkan
banyak waria.
Tak lama kemudian yang namanya Bella muncul kedepanku. Benar kata
Norma, Bella ini sangat cantik dan apik, dan juga sangat ramah serta..,
menurut Norma cocok dengan seleraku, kontol Bella sangat besar dan
panjang, dia adalah satu-satunya waria di Jalan Irian Barat yang
memiliki kontol sebesar itu. Aku pasti akan sangat terkesan. Kemudian
aku diperkenalkan dengan teman-temannya, juga dengan pemimpin komunitas
mereka di Jalan Irian Barat itu, namanya Angel, yang juga sangat baik
dan ramah.
Mereka semua mengerumuniku dan memuji penampilanku. Tentu saja aku
berbunga-bunga, tetapi aku berusaha untuk tetap rendah hati. Kusambut
simpati mereka semua padaku. Aku berusaha ramah pada semuanya, yang
jelek, yang tua, yang muda, yang pendek dan lain-lainnya. Aku merasakan
kehangatan mereka sebagai sesama banci atau waria.
Jalan Irian Barat ini sangat ramai di malam hari. Mobil segala
merk berseliweran, lampunya sengaja disorotkan besar-besar.
Penumpangnya ingin menikmati pemandangan para waria di sepanjang jalan
itu. Jalan Irian Barat berubah menjadi 'cat walk' bagi para waria.
Nampak sekali malam itu aku menjadi pusat perhatian para tamu yang
berseliweran di situ. Didampingi oleh Bella, aku menyambut sapaan
mereka dengan ramah. Nampak beberapa anak muda memarkir mobilnya,
kemudian turun mendatangiku. Mereka sopan, mengajakku mengobrol,
terkadang berbisik ke telingaku.
'Kamu cantik sekali, mirip Sharon Stone', demikian pendapat mereka.
Rupanya kemiripan dengan Sharon Stone itu menjadikanku sangat populer. Bahkan banyak yang memanggilku dengan julukan 'Sharon'.
Beberapa waktu kemudian tak kulihat lagi Bella, mungkin dia sudah
dibawa tamunya, juga Angel, Betty, Angie, Bonny, Mariam, Nelly.
Aachh.., saat ini mungkin bibir mereka sedang disesaki penis-penis
lelaki, atau lidah-lidah mereka sedang menjilati anal pasangannya, atau
pantat mereka sedang ditembus kontol lelaki dan dikocok-kocoknya.
'BBLLAARR.., SRREETT.., SUUIITT..', sebuah Honda Accord berhenti tepat di sampingku.
Kaca jendelanya nampak bergerak terbuka. Dari balik pintunya nampak
bapak-bapak yang gemuk dengan kulitnya yang hitam serta bibirnya yang
tebal, sepertinya orang Ambon atau Irian.
'Halloo, apa kabarr? Jalan-jalan nyookk..', aku mendekat, tanganku
memegang pinggiran pintu sambil sedikit membungkuk untuk memberi
perhatian pada yang di dalam.
Dia berdua, sama-sama berkulit gelap, sama-sama gemuk dan
nampaknya juga seumur. Aku merasa agak ngeri juga. Sebagai pendatang
baru aku perlu berhati-hati. Tetapi toh aku harus tetap bersikap ramah,
tidak pilih-pilih.
'Haii Pak Adop, apa kabar?', tiba-tiba dari belakangku seorang waria menyapa penumpang Honda Accord itu.
Nampaknya di antara mereka sudah biasa bertemu.
Orang yang bernama Pak Adop itu menyambutnya dengan ramah,
menanyakan tentang diriku yang baru kali ini dilihatnya di Jalan Irian
Barat ini. Dan akhirnya aku tahu, Pak Adop itu adalah pengusaha yang
terkenal di Surabaya, dan dia sering mampir ke jalan ini. Dia sangat
dikenal baik dan pemurah.
'Jangan khawatir Liss, terima saja kalau dia mengajak kencan. Baik koq orangnya, tetapi hati-hati, barangnya gedee buanget..'.
Kata-kata terakhir yang menyangkut barang Pak Adop itu membuatku
merinding dan menggelinjang. Saraf-saraf libidoku langsung bereaksi.
Lubang pantatku juga langsung terasa mengencang dan gatal.
'Jangan bengong, non Lisa.., ayoo naik..', teman Pak Adop, Pak Abi
namanya sudah turun dengan menggandeng tanganku, membuka pintu Accord
itu dan sepertinya aku tak punya pilihan, dan aku masuk ke mobil.
Mobil itu langsung bergerak meninggalkan Jalan Irian Barat.
'Tunggu Pak Adop, masa Lisa sendirian nihh..?', aku bertanya setengah protes.
'Nggak pa-pa lah, sekali-kali sendirian, nggak usah khawatir,
pokoknya Lisa akan balik utuh, mungkin ada tambahan sedikit, beberapa
cc yang terbawa di tubuh Lisa nanti..', rajuknya sambil diringi tawa
kedua tamu baru saya ini.
Aku langsung membayangkan, malam ini aku akan 'dimakan habis' oleh
orang-orang hitam ini. Pantatku akan dijebol oleh 'tank-tank'
orang-orang Ambon atau Irian ini, seperti halnya tank-tank Amerika dan
Inggris yang menembus kota Baghdad. Ah biarlah, hitung-hitung untuk
pengalaman, toh mereka baik dan cukup dikenal di tengah komunitas jalan
Irian Barat itu. Aku tidak perlu terlalu khawatir.
Dari neon box di depan hotel, nampaknya aku diajak memasuki Motel
Kenanga, aku sendiri tidak tahu dimana itu. Seperti halnya kemarin,
petugas motel menunjukkan tempat yang masih kosong. Mobil langsung
masuk ke garasi yang kemudian secara otomatis menutup. Pak Adop, Pak
Abi dan aku sendiri turun dari mobil dan segera naik ke lantai dua.
Kamar yang telah dipesan cukup luas dan bersih. Aku lihat ada dua
bed dengan spreinya yang putih. Ada telepon dan TV. Melalui telepon di
kamar itu, Pak Adop memesan minuman dan makanan kecil. Aku rasakan
angin lembut menghembus telingaku. Pak Adop yang rupanya sangat sigap,
sudah dalam keadaan setengah telanjang, dia merangkulku dari belakang,
tangannya memeluk dadaku, kontolnya terasa mengganjal di bokongku. Dia
menempelkan bibirnya di bawah telingaku sambil berbisik, 'Sharon
Stone-ku (lagi-lagi Sharon Stone), aku horny sekali melihatmu..',
wajahnya langsung merangsek, merambati punggungku. Tali blusku digigit
dan direnggutnya untuk melepaskan blus dari tubuhku.
| Title | Author | Views |
| Aku Dan Pakaian Dalam Cewek |
Kuntilanak |
28,936 |
| Kencan Waria di Jakarta - 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
27,583 |
| Bercinta dengan Waria |
Jayus |
24,850 |
| Sang Tukang Pijat |
David Lie |
23,996 |
| Kencan Waria di Jakarta - 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
20,854 |
| Malam yang Indah |
Agus Sumitro |
18,969 |
| Seminggu Full Waria, Duh Nikmatnya.. - 1 |
lisa_ramon@yahoo.com |
13,055 |
| Pengalaman Pribadi Lucy |
Mas Hoo |
12,322 |
| Saling Telan Sperma Dengan Waria - 1 |
lisa_ramon@yahoo.com |
11,969 |
| Emma, Oh Emma 02 |
Mahmud Yunus |
11,836 |
| Pengalaman Pertamaku Menjadi Waria - 1 |
suratnatasha@yahoo.com |
11,667 |
| Emma, Oh Emma 01 |
Mahmud Yunus |
11,123 |
| Siang Pejabat, Malam Waria 1: Sekda Propinsi |
lisa_ramon@yahoo.com |
9,958 |
| Sensasi Erotik Saat Menjadi Waria - 3 |
lisa_ramon@yahoo.com |
9,911 |
| Kencan Waria di Jakarta - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
9,717 |
|
|
|
|
|
|
|