|
|
Kemudian Pak Abi datang dari depan, dia juga
sudah setengah telanjang. Kontolnya nampak besar sekali, membayang dari
celana dalamnya. Dia langsung meraih selangkanganku, meremas kontolku
yang juga sudah ngaceng. Dia melepaskan kancing dan resluiting celana
pendekku, diangkatnya kakiku bergantian untuk mengeluarkan celanaku dan
melemparnya ke kursi di ruangan itu. Dan tanpa membuka celana dalamku
terlebih dulu, Pak Abi langsung membenamkan wajahnya ke selangkanganku,
menggigit pangkal pahaku, kemudian menggigit gundukan kontolku.
Selanjutnya tangannya merogoh serta membetot kontolku dari pinggiran
celana dalamku.
Ternyata pada malam itu, selama hampir 4 jam mereka berdua
mengeroyokku. Dengan penuh nafsu birahi, dan dengan penuh semangat,
mereka memuja kecantikan serta sensualitas tubuhku. Mereka bersama-sama
menggarapku. Semua permukaan kulitku dirambahnya, semua lubang-lubang
kumiliki dirambahnya, ditembusnya. Kontol-kontol mereka yang berukuran
di atas 18 cm, dengan warna hitam dan penuh kilapan saat ngaceng,
benar-benar memberiku kepuasan seksual tak terhingga.
Sperma mereka secara beruntun mengisi lubang pantatku, dan juga
mulutku. Entah sudah berapa mililiter sperma Pak Adop dan Pak Abi
membasahi tenggorokanku untuk menghilangkan kehausanku. Kontol-kontol
hebat itu menggenjot analku hingga serasa robek-robek, sangat pedih dan
sangat pedas. Dalam kesempatan itu, aku sama sekali tidak diberikan
peluang untuk aktif. Merekalah pemegang komandonya, sementara aku hanya
menerima kenikmatan yang tiada taranya dari mereka. Kontol-kontol
mereka memenuhi mulutku, memancarkan sperma hangat ke langit-langit
rongga mulutku. Sperma orang-orang hitam entah dari Irian atau Ambon
yang kurasakan sedemikian nikmatnya, seakan aku meminum air nira sagu
dari tempat asal mereka.
Setelah masing-masing menyemprot mulutku dengan spermanya 2 kali,
dan sekali ke lubang duburku, pada pukul 1 dini hari aku dikembalikan
ke Jalan Irian Barat. Nampak Bella dan teman-temannya juga sudah berada
di situ. Sebelum aku turun dari mobil, Pak Adop menyerahkan
lembaran-lembaran ratusan ribu rupiah untukku. Sebenarnya aku tidak
memintanya, dan aku memang tidak akan pernah memintanya, karena
saat-saat seperti ini bagiku merupakan saat untuk mengekspresikan diri
sebagai waria seutuhnya, bukan untuk uang. Tetapi mereka, Pak Adop
maupun Pak Abi berpikir lain. Dia merasa wajib membayar atas semua
kenikmatan yang telah diraihnya dari tubuhku.
Malam itu, Pak Abi maupun Pak Adop, seperti halnya Koh Abong
kemarin, nampak sangat memuja tubuhku, sangat terpesona pada
sensualitas yang memancar dari penampilanku, dan itu nampak dari
bercak-bercak cupang mereka berdua yang bertebaran di lengan, perut,
punggung, paha maupun betisku. Uuuhh.., sungguh pemandangan yang sangat
erotis, karena cupang itu selalu muncul dari dorongan birahi yang
tinggi para pembuatnya.
Aku tidak menghitung lagi berapa jumlah uang yang diberikan Pak
Adop dan Pak Abi padaku. Gepokan uang dalam genggaman itu langsung
kuserahkan pada Bella dan Angel.
'Nih.., bagi ke teman-teman..', dan langsung mereka terima dengan senang hati.
Bella menginformasikan padaku, uang sebanyak 800 ribu rupiah dariku
itu, setengahnya dimasukkan ke kas organisasi waria Jalan Irian Barat
itu. Setengah sisanya lagi mereka pakai untuk makan-minum di warung
pinggir jalan setempat. Bella memintaku ikut bersama-sama minum, tetapi
aku meminta maaf tidak dapat berpartisipasi, karena aku harus sampai di
hotelku sebelum pukul 3 pagi. Mereka dapat memahamiku.
Pukul 8 pagi esoknya, aku sudah duduk di Bumi Hyatt untuk sarapan.
Ini adalah merupakan hari terakhir tugasku di Surabaya. Besok pagi aku
sudah harus masuk kantor pusat di Jakarta. Sementara itu aku masih
ingin menikmati penampilanku sebagai Lisa Ramon di Jalan Irian Barat
itu. Akhirnya kuputuskan untuk membeli tiket Garuda saja. Kalau aku
bertolak dari airport besok pukul 8 pagi, maka aku akan sudah berada di
kantor pada pukul 10 pagi itu. Malam ini Lisa Ramon akan kembali
menikmati peranannya di Jalan Irian Barat.
Aku bergegas ke kantor cabang, kepada Pak Hendro kusampaikan bahwa
setelah aku memeriksa semua catatan pembukuan yang ada, tak ada hal-hal
yang serius menyimpang dari yang seharusnya. Aku hanya minta beberapa
istilah akun disesuaikan, agar dapat sinkron dengan bahasa akun yang
sudah merupakan standar laporan keuangan umumnya. Pak Hendro sangat
gembira dengan kesimpulanku. Siang itu dia bersama para eksekutif
lainnya mengajak berdarma wisata ke pinggir selat Madura. Di tempat
itu, terdapat puluhan warung dan restoran yang menjajakan masakan khas
laut, ikan bakar. Sesudah pilih sana dan pilih sini, kami memasuki
restoran yang terkenal di daerah itu.
Kami menunggu beberapa saat sambil berbincang kesana kemari, hingga
hidangan yang kali ini sangat eksotik dan merangsang perut yang lapar
ini tersaji melimpah ruah di meja. Tampak ada ikan kerapu tim, baronang
dibakar dengan bumbu Madura, cumi-cumi telor yang dikelilingi daun
selada segar, beberapa botol bir, juice tomat, orange juice dan banyak
macam lagi. Siang itu kami benar-benar memuaskan dan memanjakan perut
kami. Hari itu pada pukul 5 sore, aku baru bisa kembali ke hotel. Aku
segera mandi. Kemudian aku memasukkan semua baju perempuan beserta
sepatunya.
Untuk malam terakhir di Jalan Irian Barat ini, aku ingin tampil
beda lagi. Semua yang pernah kupakai selama 2 malam di jalan Irian
Barat itu, akan kuberikan untuk Bella dan teman-teman lain, sebagai
kenanganku atas keramahan teman-teman di Jalan Irian Barat itu. Tentu
saja aku akan membeli pakaian baru untuk penampilanku malam ini. Dan
rencanaku, aku akan memarkirkan mobilku di jalan ini saja. Bella bilang
aman kok. Nanti akan ada orang yang menjaganya sampai pagi. Dan aku
tidak perlu mondar-mandir untuk urusan parkir dan mobil.
Aku kembali ke butik di Tunjungan Plaza. Aku menjadi sedemikian
terobsesinya pada pakaian perempuan. Kali ini aku pilih celana jeans
pendek lengkap dengan ikat pinggang kulitnya yang beraksesoris
paku-paku, sehingga membuatnya nampak sangat sensual pada penampilanku.
Dan aku tampak seperti seorang wanita yang sedang bersafari di gurun
Africa yang tengah mencari gerombolan singa untuk sasaran perburuannya.
Pasangan atasnya kupilih blus tipis, setengah badan, yang digantungkan
ke bahu dengan tali yang kecil lembut. Aku juga membeli wig dengan
rambut lurusnya yang jatuh ke bahuku. Untuk sepatunya, aku masih
memakai sepatu yang kemarin. Aku menghabiskan 800 ribu rupiah lagi
untuk perlengkapan perempuan baruku kali ini.
Pada pukul 9 malam ini, aku sudah kembali turun dari Daihatsuku
sebagai Lisa Ramon, yang tampak seperti sedang melakukan safari mencari
korban lelaki hidung belang di belantara Irian Barat ini. Ha, ha, ha..,
nyamannya hidup ini.. Bella, Angel, Letty dan teman-teman lainnya
tampak memperhatikan saat seseorang turun dari Daihatsu sewaanku.
Begitu mereka tahu kalau orang itu adalah aku, Bella dan teman-teman
langsung menyambutku. Mereka benar-benar telah menjadi sahabatku,
sahabat malamku, sahabat Lisa Ramon.
Mereka kembali mengagumi penampilanku, mereka berkata bahwa
sebenarnya pakaian yang kupakai tidak terlalu mahal, tetapi saat
pakaian itu telah menempel di tubuhku, maka pakaian itu jadi nampak
mahal dan yang aku tahu juga adalah bahwa Norman yang biasa-biasa saja,
seketika itu juga bisa beralih bentuk, berubah total menjadi Lisa Ramon
yang cantiknya bukan main, lengkap dengan segala keanggunan dan
lebih-lebih sensualitasnya, yang bisa dipastikan akan mendongkrak
libido para lelaki hidung belang yang manapun.
Aku sudah tahu sekarang. Agar tidak menimbulkan perasaan iri atau
cemburu antara sesama waria, maka aku tidak akan melayani tamu-tamu
yang datang di jam-jam awal ramainya Jalan Irian Barat ini. Aku harus
memberikan kesempatan bagi para waria yang lain untuk 'laku' lebih
dahulu. Dan bagiku, tidak perlu merasa khawatir, karena keramaian Jalan
Irian Barat ini menjanjikan banyak tamu hingga cukup larut malam.
Bella mendekatiku, dia berkata bahwa tadi sore ia telah menerima
telepon dari Norma, dan dia ceritakan bahwa pesan salamnya sudah dia
terima dari Lisa. Dan Norma mengatakan padanya bahwa ia tidak mengenal
dengan seseorang yang bernama Lisa, kemudian Bella menceritakan
ciri-ciri postur tubuhku. Akhirnya Norma berteriak di ujung telepon,
'Kurang asem, itu sich temanku si Norman, pengin nge-waria kali. Ya
deh, salam balik', demikian cerita Bella yang kemudian dilanjutkannya
dengan pertanyaan, 'Benar yaa, kamu Norman?', aku hanya nyengir kuda.
Tetapi Bella tidak berhenti disitu, dia pepet tubuhku hingga menuju ke
bawah pohon yang gelap dalam bayang-bayang lampu jalan itu. Tangannya
meraih selangkanganku, dia remas kontolku, dia mendesah dan minta,
ingin mendapat kesempatan untuk memuaskanku. Memuaskan birahiku. Bella
meraih tanganku dan dengan serta merta dibawanya tanganku ke
selangkangannya. Dia memaksaku untuk merasakan kontolnya, untuk
meremasnya. Uuhh.., benar sekali kata Norma, kontol Bella sungguh luar
biasa. Aku berada di persimpangan. Bimbang, bingung, dan rasa ingin
silih berganti.
'Kalau kamu lagi tidak mood, ya nggak apa-apa Lis, kapan-kapan
saja. Walaupun aku sebenarnya sangat ingin nihh..', kata-kata Bella
sangat membuatku terharu bercampur nafsu yang telah menyelinap.
'Bell, kita bisa main bertiga nggak?', akhirnya aku berkata.
Tujuan utamaku sebenarnya adalah memuaskan libido, mencoba mencari
solusi, dan aku perhatikan ada waria muda sekali di situ, anaknya
jangkung, kerempeng, tetapi di mataku nampak sangat sensual.
'Kamu mau bertiga? Dengan siapa..?? Ada yang kamu taksir..? Bisa,
nanti kita main di tempat kosku saja beres. Kamarnya ber-AC, ada
kulkas, ada kamar mandi sendiri..'.
Wah, hebat juga waria-waria Surabaya ini, pikirku.
'Bagaimana kalau kamu ajak tuh.., tuh.., siapa namanya anak muda
itu tuhh..', kutunjuk si jangkung kerempeng yang tidak jauh dari
tempatku mengobrol ini.
'Ooo, diaa.., si Nancy, boleh.. n'tar kuomongin dulu yaa..', Bella langsung mendatangi waria muda itu.
Dan malam itu kami bertiga pesta seks. Ternyata body Nancy ini
indah sekali. Dia bagaikan anak perawan lugu yang tubuhnya masih 100%
mulus, kontolnya tidak terlampau besar, apalagi kalau dibandingkan
dengan kontol Bella. Tetapi saat menggenjot mulutku, kontol itu mampu
memberikan sensasi tersendiri di dalam mulutku. Spermanya yang
muncrat-muncrat di mulutku terasa asin pahit, tetapi kental sekali.
Rasanya seluruhnya merupakan lendir pekat yang saat melewati
tenggorokanku terasa seperi lendir bergumpal-gumpal yang
berkesinambungan. Tenggorokanku mengalami sensasi kenikmatan yang tak
terhingga.
Dia juga ngentot pantatku dan meninggalkan spermanya di analku. Dan
pada saat aku cebok di kamar mandi Bella, lendir-lendir Nancy itu tak
kunjung habis-habisnya. Akan halnya Bella, tidak perlu diragukan lagi,
ternyata menurutnya dia sudah sangat horny saat melihatku pertama
kalinya pada malam kemarin. Dan pada malam terakhir aku di Surabaya
ini, Bella menyalurkan nafsu birahinya habis-habisan, untuk memberikan
kepuasan padaku, dan sekaligus untuk meraih kepuasannya sendiri. Dia
jilat lubang pantatku, dia jilat spermaku yang tercecer di lantai, di
sprei, di paha Nancy, bahkan di pantat Nancy.
Dia menumpahkan spermanya 2 kali ke mulutku dan sekali ke lubang
analku. Kami beriga mendapatkan kepuasan yang akan selalu menjadi
kenangan bagi kami. Spermaku sendiri sempat 2 kali tumpah. Nancy dan
Bella menunggu kesempatan itu. Saat aku hendak memuncratkan spermaku,
mulut mereka menganga di depan kontolku. Kukeluarkan spermaku dengan
kocokan. Dan saat spermaku muncrat, mereka saling berebut untuk
menadahinya. Sebagian yang tercecer di dagu atau pipi Bella, dengan
rakus dijilati oleh Nancy dan demikian pula sebaliknya, sperma yang
muncrat di dagu, pipi dan dada Nancy, dengan rakusnya dijilati oleh
Bella.
Sungguh 3 malam yang indah bagiku selama bertugas di Surabaya. Ini
adalah hari terakhirku, seharusnya aku sudah di atas KA BIMA malam ini,
tetapi aku tunda. Aku akan pulang menggunakan pesawat Garuda saja
esoknya. Pada Norma, sekembalinya aku dari Surabaya, kuceritakan
pengalamanku, dia mendengarkannya dengan takjub. Dia mendengarkannya
sambil tangannya menggerayangi kontolku. Sambil kedua tangannya
mengocok-ngocok kontolku. Dia mendengarkannya sampai menelan spermaku
yang muncrat di mulutnya, sebagaimana yang telah biasa diterima dan
dilakukannya, Norma adalah waria peminum spermaku yang setia.
Jakarta, April 2003,
Teriring salam untuk Bella dan seluruh komunitas waria di Jalan Irian Barat, Surabaya.
| Title | Author | Views |
| Aku Dan Pakaian Dalam Cewek |
Kuntilanak |
28,936 |
| Kencan Waria di Jakarta - 1 |
tante_mirna@yahoo.com |
27,583 |
| Bercinta dengan Waria |
Jayus |
24,850 |
| Sang Tukang Pijat |
David Lie |
23,996 |
| Kencan Waria di Jakarta - 3 |
tante_mirna@yahoo.com |
20,854 |
| Malam yang Indah |
Agus Sumitro |
18,969 |
| Seminggu Full Waria, Duh Nikmatnya.. - 1 |
lisa_ramon@yahoo.com |
13,055 |
| Pengalaman Pribadi Lucy |
Mas Hoo |
12,322 |
| Saling Telan Sperma Dengan Waria - 1 |
lisa_ramon@yahoo.com |
11,969 |
| Emma, Oh Emma 02 |
Mahmud Yunus |
11,836 |
| Pengalaman Pertamaku Menjadi Waria - 1 |
suratnatasha@yahoo.com |
11,667 |
| Emma, Oh Emma 01 |
Mahmud Yunus |
11,123 |
| Siang Pejabat, Malam Waria 1: Sekda Propinsi |
lisa_ramon@yahoo.com |
9,958 |
| Kencan Waria di Jakarta - 4 |
tante_mirna@yahoo.com |
9,717 |
| Kencan Waria di Jakarta - 2 |
tante_mirna@yahoo.com |
9,130 |
|
|
|
|
|
|
|