RUMAH TANGGAkU memang benar-benar berantakan. Bayangkan, dulu kami yang terbilang kaya dengan memiliki sejumlah usaha. Tapi, kini usaha itu bangkrut satu per satu. Tinggallah aku tinggal bersama ayah dan ibu tiriku, Bahkan, mobil pun telah dijual.
Kami
tinggal di salah satu kompleks perumahan di kota ini. Rumah kami tidak
terlalu besar, tapi cukup bagus untuk ukuran di kompleks kami. Maklum,
ayahku yang juga seorang karyawan, juga memiliki sejumlah usaha,
seperti wartel dan lainnya: Aku adalah anak bungsu dari lima
bersaudara. Orang-orang memanggilku Yani (nama samaran). Semula, kami
hidup begitu bahagia. Namun, entah mengapa, keretakan mulai terlihat
ketika suatu saat ayah dan ibu bertengkar. Mereka menyebut-nyebut
kata-kata cerai. Entah apa yang terjadi, aku tidak tahu. Maklum, selama
ini aku memang tidak begitu mau tahu urusan orangtua.
Selang beberapa bulan, tiba-tiba ibu pergi. Entah kemana. Aku bingung.
Berulangkali aku tanyakan kepada ayah, tapi ayah pun mengaku tidak
tahu. Belakangan aku tahu ibu pergi bersama seorang pria. Tahu akan
itu, aku begitu terpukul. Apalagi ayah. Dia sering murung.
Apa
sih yang membuat mereka bertengkar hingga ibu harus minggat? Rupanya,
selama ini ibu serong dengan seorang pria dan telah diketahui oleh ayah
hingga terjadilah peristiwa itu. ibu minggat bersama pria tersebut.
Setelah ditinggal ibu, rumahtangga kami betul-betul tak menentu.
Bayangkan, tak ada yang mau mengurus kami saat hendak pergi sekolah.
Kalau pulang, tak ada makanan. Belakangan, ayah juga mulai
uring-uringan. Dia sering pulang larut malam. Usaha kami yang tak
terurus, satu per satu bangkrut, termasuk wartel. Kini, penopang hidup
kami hanya tinggal gaji dari pekerjaan ayah di kantornya.
Melihat ayah yang begitu menderita, kami pun sedih. Kami lalu
menyarankan ayah untuk nikah lagi. Ternyata disetujui. Setahun
kemudian, ayah menikah. Katanya sih, dengan teman kerjanya.
Ternyata, memiliki ibu tiri membuat kami seperti berada di rumah orang
lain. Kikuk. Apalagi, ibu tiriku tak terlalu banyak berkomunikasi
dengan kami. Kalau pun mengobrol, hanya seadanya. Hal itu membuat
keempat saudaraku uring-uringan.
Beruntung, aku mencoba bertahan dengan keadaan ini, meski harus
sengsara lahir dan bathin. Bayangkan, meski ibu tiriku termasuk baik,
tapi anehnya aku tetap menganggapnya sebagai orang lain.
Hingga kini, aku tetap merasa tersiksa dengan kondisi rumah tangga.
Apalagi, ayah sering marah dan sepertinya lebih memperhatikan istrinya
daripada kami. Pokoknya, aku merasa lebih sengsara dibanding sebelum
ibu pergi.