Brahmacari
adalah masa belajar, masa menuntut ilmu/pendidikan. Brahmacari dalam
arti sempit adalah masa belajar secara formal misalnya belajar sejak TK
sampai perguruan tinggi. Brahmacari dalam arti yang lebih luas, adalah
upaya meningkatkan pengetahuan dengan berbagai cara (formal dan
informal) yang berlangsung sepanjang masa kehidupan karena sebenarnya
proses belajar-mengajar berlangsung tiada henti. Brahmacari dalam arti
khusus ada dua yaitu :
1)
Brahmacari dalam kaitan masa aguron-guron (belajar agama/spiritual)
seorang sisya (siswa) kepada Nabe (guruspiritual) dimana Nabe tidak
hanya mengajar tetapi juga mendidik dan melatih, dan
2) Brahmacari dalam arti menjauhkan diri dari keinginan sex atau tidak
kawin/nikah selama hidup. Yang terakhir ini disebut sebagai sukhla
brahmacari. Pentingnya Brahmacari Ashrama, disebutkan dalam Atharvaveda
sebagai berikut :
Brahmacaryena tapasa, raja rastram vi raksati, acaryo brahmacaryena,
brahmacarinam icchate (XI.5.17). Sa dadhara prthivim divam ca (XI.5.1).
Tasmin devah sammanaso bha vanti (XI.5.1)
Artinya :
Seorang pemimpin dengan mengutamakan brahmacari dapat melindungi
rakyatnya, dan seorang guru yang melaksanakan brahmacari menjadikan
siswanya orang yang sempurna; Seseorang yang melaksanka brahmacari akan
menjadi penopang kekuatan dunia; Tuhan (Hyang Widhi) bersemayam pada
diri seorang brahmacari.
Dari kutipan Veda itu jelaslah kiranya bahwa kewajiban manusia yang
utama dan yang pertama dilakukan adalah menuntut ilmu atau belajar dan
berpendidikan, karena dari pendidikan/pengajaranlah pikiran
dikembangkan untuk menuju kepada Catur purushaarta seperti yang telah
dikemukakan dalam uraian tentang catur purushaarta terdahulu. Pelajaran
dan pendidikan juga akan membangun kemampuan berpikir untuk memilah
antara dharma (perbuatan baik) dan adharma (perbuatan tidak baik)
sehingga manusia dapat mencapai kesempurnaan hidup.
Kitab suci Sarasamusccaya 2 :
Manusah sarvabhutesu varttate vai subhasubhe, asubhesu samavistam
subhesvevavakarayet.
Artinya :
Diantara semua mahluk hidup, hanya yang dilahirkan sebagai manusia
sajalah yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk, leburlah
kedalam perbuatan baik segala yang buruk itu; demikianlah pahalanya
menjadi manusia.
Dalam
Upanisad disebutkan pula bahwa arti kata Manusah adalah : Manu =
kebijaksanaan, sah = mempunyai. Jadi manusia adalah mahluk yang
mempunyai kebijaksanan. Kebijaksanaan diperoleh dari tiga kemampuan
kodrati manusia yaitu Sabda (kemampuan berbicara), Bayu (kemampuan
bergerak) dan Idep (kemampuan berpikir). "Idep" yang dituntun oleh
ajaran agama dan ilmu pengetahuan akan menjadikan manusia itu lebih
bijaksana sehingga disebut sebagai manusia yang sempurna. Mahluk lain
seperti binatang hanya mempunyai dua kemampuan saja yaitu kemampuan
bergerak (bayu) dan kemampuan bersuara (sabda). Binatang tidak
mempunyai kemampuan berpikir (idep) oleh karena itu binatang
beraktivitas berdasarkan naluri, tidak berdasarkan pikiran.
Tumbuh-tumbuhan hanya mempunyai kemampuan tumbuh (bayu) saja, tidak
mempunyai sabda dan idep.Selanjutnya Sarasamusccaya menyatakan bahwa
kita wajib bersyukur karena atman telah menjelma menjadi manusia,
mahluk yang utama, karena itu gunakanlah kesempatan hidup yang sempit
ini dengan sebaik-baiknya, kesempatan mana sungguh sangat sulit
diperoleh; lakukanlah segala sesuatu yang baik (melalui brahmacari)
yang mencegah kejatuhan harkat kemanusiaan, gunakanlah kesempatan ini
untuk mencapai moksa/sorga. "Paramarthanya, pengpengen ta pwa
katemwaniking si dadi wwang, durlabha wi ya ta, saksat handaning mara
ring swarga ika, sanimittaning tan tiba muwah ta pwa damelakena"
Grahasta