|
|
Umat Hindu di Nusantara mempunyai banyak
hari raya seperti Galungan, Kuningan,Saraswati, agerwesi, Nyepi dan
lain lainnya, setiap hari raya mempunyai makna tersendiri sesuai dengan
tatwa, teologi, sosiokultural. Di antara semua hari raya yang
dilaksanakan di Bali, Hari Raya Galungan merupakan hari
raya yang paling meriah, karena mempunyai makna sebagai hari
kemenangan. Arti kemenangan di sini adalah umat Hindu selama 6 (enam)
bulan, melakukan proses kegiatan kehidupan (karma) baik dalam bidang
Dharma Agama maupun Dharma Negara banyak mengalami rintangan-rintangan
yang selalu menghadang dalam kehidupan ini, tetapi dengan selalu menegakkan Dharma,
semua permasalahan tersebut dapat diatasi dengan baik, inilah yang
disebut dengan kemenangan.
Timbul pertanyaan bagi umat Hindu, apabila ada kemenangan berarti
adakah juga kekalahan? Dalam dunia spiritual sangat sulit mengukur
kemenangan dalam menjalankan Dharma, hanya yang bersangkutan dapat
merasakan selama 6 (enam) bulan apa saja yang telah dicapai, dengan
melakukan evaluasi dan koreksi sehingga setiap Galungan diharapkan dapat meningkatkan keimananya dalam beragama Hindu. Leluhur-leluhur
orang Bali mempunyai tradisi yang sangat tinggi nilainya baik sebelum
masuknya Hindu maupun setelah masuknya agama Hindu di Bali. Galungan secara tradisional dirayakan kembali semenjak zaman
pemerintahan Sri Jaya Kasunu. Galungan adalah hari raya asli Indonesia
khususnya Bali, bukan dibawa dari India sebagai tempat turunnya Weda
yang merupakan kitab suci Hindu. Pada saat agama Hindu masuk di Bali, tidak semua budaya yang ada di Bali dihapuskan, tetapi
agama Hindu tetap menjaga kelestariaan budaya setempat, sehingga
Galungan seolah olah suatu tradisi yang ada di India. Di India ada hari
raya hampir sama dengan Galungan yang disebut Wijaya Dasami yang intinya merupakan kemenangan Dharma melawan Adharma dan rangkaian
upacaranya berlangsung selama sepuluh hari dan puncak perayaannya pada
harikesepuluh, disebut Kuningan. Pengertian Dharma Kata "Dharma" berasal dari bahasa Sansekreta dari urat kata "DHR" yang
artinya menjunjung, memangku, mengatur dan menuntun. "Dharma" berarti
hukum yang mengatur dan memelihara alam semesta beserta semua makluk.
Untuk peredaran alam semesta, "Dharma" dapat diartikan dengan Kodrat,
sedangkan untuk kehidupan umat manusia "Dharma" berarti ajaran-ajaran/kewajiban-kewajiban atau peraturan suci yang memelihara
dan menuntun umat manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup laksana dan
budi pekerti yang tinggi demi tercapainya Moksarthan Jagadhita. Dalam menjalankan Dharma harus ditumbuhkan dalam diri kita sifat-sifat
yang mulia dan suci, dan memancar dalam jiwa kita seperti sinarnya
matahari mengandung tujuh warna, dharmapun mempunyai 7 sifat yaitu
Kebenaran, Karakter, Kebajikan, Pengendalian Indra, Tapa, Menjauhi
Duniawi dan Tanpa Kekerasan. 1. Kebenaran Dalam kehidupan ini menegakkan kebenaran gampang diucapkan sulit
dilaksanakan, mempertahankan kebenaran mempunyai resiko yang sangat
tinggi, menegakkan kebenaran menyebabkan seseorang kehilangan
kedudukan, teman dan kadang-kadang kehilangan nyawa, harus siap
menanggung resiko apapun. Apalagi zaman sekarang adalah Kali Yuga (zaman edan), banyak terjadi manipulasi kebenaran, sulit mencari
kebenaran dan keadilan, banyak terjadi kasus-kasus mafia peradilan,
siapa yang kuat dialah yang menang, bukan siapa yang benar dia yang
menang. Hukum kita begitu lincah menjerat orang kecil, tetapi begitu berat kalau berhadapan dengan orang kuat. Saat sekarang sulit mencari pemimpin yang benar dan berkeadilan,
sehingga bangsa kita mengalami multi dimensi krisis yaitu krisis
ekonomi, krisis moneter, krisis politik, krisis hankam, krisis pangan
maupun krisis moral, yang mengakibatkan semua krisis yang terjadi berkepanjangan dan pemerintah sangat sulit menanggulangi. Krisis dapat
diatasi apabila kebenaran dan keadilan harus segera ditegakkan,
perangkat-perangkat hukum harus direformasi (diberdayakan), harus ada
keberanian dan harus siap meninggalkan segalanya demi kebenaran. Dunia
berputar karena mengikuti kebenaran dan selalu mengabdi kepada kebenaran. Apabila kebenaran tidak ada tidak dapat dibayangkan
bagaimana nasib kehidupan yang ada, dan semua manusia akan ketakutan. Dengan kebenaran manusia mempunyai keberanian untuk hidup, dengan
kebenaran manusia merasa dilindungi, sehingga kebenaran harus
ditegakkan agar manusia dapat mencapai seperti sifat-sifat Brahman. Jika ragu-ragu dalam menegakkan kebenaran, tidak akan ada keselamatan dan perlindungan bagi kehidupan, sebab kita dilindungi dan diselamatkan oleh kebenaran itu sendiri. Jangan takut mempertahankan
kebenaran, walaupun nyawa taruhannya karena kita berjalan di atas
hukum-hukum Tuhan bukan di atas hukum-hukum manusia, sebab kalau kita
berjalan di atas hukum-hukum Tuhan inilah kebenaran yang hakiki. Memang
di mata manusia kita mendapat penderitaan-penderitaan, seperti masuk penjara, di kucilkan oleh penguasa, keluarga hidup
melarat akibat tidak mendapat fasilitas, tetapi di mata Tuhan inilah
pengabdian. Tuhan mengetahui mana yang benar mana yang salah, sebab
kebenaran ukuran manusia sifatnya hanya sementara, tetapi ukuran Tuhan sifatnya abadi hidup sepanjang masa. Dalam menjalankan
kebenaran kadang-kadang kita sering putus asa, sewaktu-waktu kita
hilang kendali ajaran-ajaran Dharma yaitu tidak yakin dharma adalah
kebenaran akibat dalam proses menjalankan dharma banyak cobaan dan
godaan yang harus dilalui, tetapi apabila kita tetap konsisten dengan ajaran Dharma apapun halangannya semua akan kita dapat atasi
dengan baik. Ada pendapat yang mengatakan bahwa manusia dalam kehidupan
ini dihukum oleh karmanya(ashuba karma), bukan polisi, jaksa, hakim
yang menghukum, mereka hanya sebagai alat (aparat hukum), tetapi sebenarnya mereka dihukum oleh karmanya sendiri.
Apabila dia tidak melakukan perbuatan yang tidak baik (mencuri), tidak
akan diproses kepengadilan. Siapa yang menegakkan kebenaran akan
dilindungi oleh kebenaran itu sendiri. 2. Karakter Untuk menegakkan Dharma pertama-tama karakter manusia harus dimantapkan
terlebih dahulu dengan ajaran-ajaran dharma, baik buruknya prilaku
manusia sangat tergantung dengan karakter manusia itu sendiri. Karakter
sangat penting dalam usaha menjalankan spiritual. Karakter membuat hidup kita abadi, karakter hidup terus
mengatasi kematian. Ada yang mengatakan, "Pengetahuan adalah kekuatan".
Ini tidak benar. Bahkan karakter yang baik merupakan prasyarat untuk
memperoleh pengetahuan. Karena itu, harus sungguh-sungguh menginginkan dan berusaha membuat karakter tidak
tercela, bebas dari segala noda kejahatan sehingga dalam kehidupan
selalu mendapat keselamatan. Budha, Yesus Kristus, Sankaracharya, dan
Vivekananda, semuanya selalu dikenang dan dikagumi karena mempunyai
karakter yang baik dan tidak ternodai selama hidupnya. Orang-orang suci dan bakta Tuhan yang agung ini dihormati hingga sekarang. Kualitas
apakah yang membuat mereka dikenang sepanjang masa? Mereka dikenang
adalah karena karakter mereka.Tanpa karakter yang baik, kekayaan,
pendidikan, dan status sosial, semua tidak berguna. Karakter adalah keharuman bunga yang memberi nilai dan hakikat. Seorang penyair atau pelukis, seniman atau ilmuwan, mungkin terkemuka
dalam bidangnya masing-masing. Meskipun demikian, tanpa karakter ia
tidak akan dihargai sebagai tokoh yang besar. Mungkin kita bertanya,
apakah semua orang yang kini dianggap besar dan dihormati masyarakat
benar-benar mempunyai watak yang luhur? Tetapi sekarang berbicara
tentang suatu masyarakat dan jenis karakter yang mengikuti nilai-nilai
yang tidak berubah dan ini berlaku sepanjang waktu di segala tempat.
Biasanya sifat-sifat yang dikagumi dunia berubah dari hari ke hari.
Ragam watak berubah-ubah seiring dengan tingkah laku masyarakat. Tetapi
watak yang tidak tercela mempunyai sifat utama yang abadi, tidak
terpengaruh oleh perubahan masyarakat. Dalam pengertian itu, karakter
yang baik bersifat langgeng karena berhubungan dengan sesuatu yang
abadi, yaitu Atma yang merupakan sinarnya Brahman atau "diri yang sejati". Sifat utama dalam karakter
yang ideal adalah: kasih, kesabaran, saleh, toleransi, ulet, kemampuan
untuk menahan diri, ketabahan, kesetiaan, dan kedermawanan. Inilah
sifat-sifat paling luhur yang harus kita jungjung tinggi. 3. Kebajikan Kabajikan adalah suatu sifat yang harus diaktualisasikan bagi seseorang
yang akan menjalankan Dharma, tanpa kebajikan sangat sulit Dharma
dilakukan. Sifat kebajikan adalah suatu sifat yang arif, selalu
mendahulukan kepentingan orang banyak, tidak mementingkan diri sendiri, setiap keputusan yang diambil selalu mengayomi kepada
makluk yang lemah, sehingga siapa yang dekat padanya merasa sejuk dan
terlindungi karena mempunyai sifat-sifat cinta kasih, yang transparan
dengan sifat-sifat Brahman. Pemimpin yang arif dan bijaksana akan
selalu menggunakan suatu pola Ing ngarso ing tulodo, Ing madya mangun karso, Tut wuri andayani yaitu di depan selalu dia akan memberikan
tauladan yang baik dengan melakukan contoh-contoh sehingga dapat
diikuti oleh masyarakat, dan di dalam selalu memberikan motivasi agar
semua masyarakat turut berpartisipasi dalam pembangunan, dan di
belakang memberikan dorongan-dorongan agar tujuan cepat tercapai. Pada saat sekarang sangat sulit mencari orang-orang yang mempunyai
sifat-sifat kebajikan, bangsa kita krisis dengan kepemimpinan. Saat
sekarang bangsa kita sangat membutuhkan seorang pemimpin yang arif dan
bijaksana yang dapat membawa bangsa ini selamat dari disintegrasi
bangsa, sebab tanda-tanda perpecahan sudah mulai nampak, timbulnya daerah-daerah yang ingin merdeka seperti Aceh, Irian Barat, Riau.
Mengatisipasi terjadi disintegrasi bangsa maka perlu pimpinan-pemimpin
bangsa ini melakukan koreksi total atas kebijakan yang telah dilakukan
dalam mengatasi multi dimensi krisis yang dialami bangsa ini. 4. Pengendalian Indra Manusia pada saat lahir, telah dibungkus dengan Triguna yaitu Satwam
Rajas dan Tamas dan juga membawa Sad Ripu yaitu enam musuh manusia
(kama, lobha, koda, mada, moha, matsarya). Pengaruh Triguna dan Sadripu
yang menyebabkan kesulitan manusia untuk mengendalikan indranya. Setiap
perbuatan (karma) manusia selalu dipengaruhi oleh sadripu, sehingga setiap mengambil keputusan selalu menyimpang dari
kebenaran. Pengendalian Indra sangat penting untuk menjalankan Dharma,
semua cobaan-cobaan yang dihadapi oleh manusia adalah akibat pengaruh
Indra. Krisna dalam mengajarkan Gita kepada Arjuna menandaskan perlunya
pengendalian alat-alat indra dengan mengembangkan sikap tidak terikat
pada keduniawian.Untuk mengendalikan Indra ini Trikaya Parisuda harus dijalankan secara konsekwen, berpikir yang jernih, berkata yang
sejuk dan berbuat yang bijak, tanpa pengendalian Trikaya Parisuda
sangat sulit kita mengendalikan Indra. 5.Tapa Di dalam mendekatan diri kepada Brahman, umat Hindu menggunakan
beberapa cara yang di dalam Weda disebutkan Catur Marga Yoga yang
terdiri dari Jnana Yoga, Karma Yoga, Bakti Yoga dan Raja Yoga. Untuk
Raja Yoga dapat dilakukan dengan Tapa, Semadi, atau Yoga yaitu dengan
melakukan konsentrasi dan melepaskan semua keterikatan-keterikatan
keduniawian dan mengendalikan citta atau pikiran dalam alam pikiran
sehingga Atma menyatu dengan Brahman. Pemusatan atau kumpulan pikiran
yang ditujukan kepada suatu obyek tertentu yaitu Tuhan Maha Esa. Yogas
Citta wrtini redhah artinya yoga adalah pengendalian citta atau pikiran
dalam alam pikiran. Kata tapa mempunyai arti penguasaan atas nafsu atau melakukan hidup suci, harus dapat menguasai dirinya
sendiri. Penguasaan atas diri sendiri artinya adalah penguasaan atas
panca indra dan pikiran. Keenam alat ini harus dikendalikan dengan baik
apabila kita tidak dapat mengendalikan dengan baik maka akan ditemui kehancuran dan penderitaan yang tiada taranya. Maka
pengendalian keenam jenis alat-alat ini di samakan seperti pengendalian
Sad Ripu yaitu enam musuh manusia yang dianggap mampu akan mencelakan
diri sendiri. Apabila seseorang melakukan Tapa sikap duduk dan tangan harus tegak lurus dan tangan terutama jari
tangan yaitu telunjuk akan beradu dengan ibu jari yang artinya adalah
ibu jari mewakili Brahman dan telunjuk adalah Atma, antara Brahman dan
Atman kita coba persatukan dengan memisahkan dengan jari tengah, jari
manis dan kelingking yang mewakili Satwam, Rajas dan Tamas sehingga
konsentrasi dapat dilakukan dengan baik dan sempurna. Apabila seseorang merasa melakukan perbuatan yang kurang baik dan
merasa berdosa berkewajiban untuk melakukan pembersihan diri yang
disebut wisuddha atau melakukan perisuddha dengan melakukan Tapa atau Brata. Karena perbuatan dosa dianggap menghambat dalam
melakukan pendekatan kepada Yang Widhi Wasa maka semua tingkah laku
yang dikerjakan baik berpikir, berkata dan berbuat harus disucikan
sehingga kita dapat dengan cepat mendekatkan diri kehadapan Yang Widhi
Wasa. Untuk mensucikan lahir dan bathin itu perlu upaya yang harus
dilakukan secara terus menerus, upaya ini yang dikenal dengan melakukan Tapa atau melakukan Prayascitta atau melakukan Brata yaitu
pengendalian atas indra dan pikiran. Adapun prayascitta, brata dan
parisuddha, ketiga istilah tersebut mempunyai arti yang sama pula
dengan Tapa dan fungsinyapun sama dengan Tapa. 6. Menjauhi Duniawi Setelah kita mengetahui cacat dan kelemahan pada benda-benda duniawi,
kita tidak ingin lagi memiliki benda-benda tersebut. Maka jika kita
ingin mencapai Brahman sehingga kita mendapatkan ketenangan, sifat yang
paling penting kita kembangkan adalah Wairagya yaitu sifat tidak
keterikatan atau pengunduran diri dari keduniawian. Dengan menjauhi
duniawi kita mempunyai kemampuan untuk mengarahkan pandangan ke dalam
batin dan hal ini memungkinkan kita mengarahkan perhatian dan pikiran
ke alam batin dan menghayati keindahan sehingga mendapat ketenangan.
Apabila kita melaksanakan Wairagya, kita pasti mampu mengendalikan
pikiran, apabila kita sudah dapat mengendalikan pikiran maka kita akan dapat mengendalikan indra-indra yang lain. Pengendalian pikiran
adalah paling sulit, karena pikiran setiap saat selalu berubah seperti
kuda, yang selalu bergerak di sampingpikiran sangat kuat dan keras
kepala. 7. Tanpa Kekerasan Tujuan hidup sebagai manusia adalah untuk mencapai kedamaian (Shanty),
untuk mendapat kedamaian kita harus tegakkan kebenaran (Satya), dan
dalam menjalankan kebenaran kita harus berbuat arif bijaksana (Dharma),
menegakkan Satya dan Dharma dengan cara-cara cinta kasih yaitu suatu
perbuatan (karma) tanpa kekerasan (Ahimsa). Akhir-akhir ini kita amati dan perhatikan bahwa dalam perjuangan baik
partai politik maupun kelompok maupun mahasiswa sudah mengarah ke
anarki yaitu suatu perjuangan dengan menggunakan kekerasan. Aksi-aksi
demo mahasiswa yang didukung masyarakat sudah melenceng dari arah
reformasi, tema-tema demo cukup menarik tetapi cara yang dilakukan di lapangan menggunakan kekerasan dan kadang-kadang sangat mengganggu
lalu lintas karena tidak tertib. Apabila demo-demo mahasiswa dilakukan
dengan tertib tanpa kekerasan, ini adalah merupakan pendidikan politik
rakyat, yaitu bagaimana cara berdemokrasi yang baik santun dan
simpatik. Perjuangan tanpa kekerasan yaitu Ahimsa diterapkan oleh Gandi di India dengan Swadesinya, dan berhasil dengan
baik sehingga dapat mengusir penjajah (Inggris) dari bumi India. Penutup Galungan merupakan momentum yang sangat baik bagi umat Hindu di samping
merayakan dengan bersuka ria, juga sebagai evaluasi sampai di mana kita
telah menegakkan Dharma dalam proses kehidupan ini. Apabila selama 6
(bulan) banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan dalam menjalankan
Dharma, maka dengan kesadaran sendiri umat Hindu melakukan koreksi,
sehingga kemenangan Dharma melawan Adharma dapat dicapai. Apabila kita tidak menggunakan Dharma dalam proses kehidupan
ini hasilnya akan mempersulit diri kita sendiri, tujuan kita mencari
Morsarthan Jagadhita akan menjauh yang kita dapat malahan Neraka. Ini
adalah akibat kita tidak konsisten dalam menjalankan Dharma, akibatnya
Dharma tidak melindungi kita malahan ikut memusuhi kita sendiri, ini
adalah bumerang bagi kita sendiri. Untuk menjalankan kehidupan ini bagi
umat Hindu selalu berlandaskan Dharma walaupun agak sulit di
aktualisasikan sebab kebenaran penuh resiko tetapi apabila kita tabah
dan sabar semua kita dapat jalankan dengan tenang, Yang Widhi Wasa akan
selalu melindungi dan menyelamatkan kita. Disamping hari Raya Galungan setelah sepuluh hari umat Hindu juga merayakan hari Raya Kuningan.
Selamat hari Raya Galungan dan Kuningan, semoga mendapat wara nugraha yang Widhi wasa. T.G. Putra Penulis adalah karyawan Pusat Pertamina
| Title | Author | Views |
| Intisari Ajaran Agama Hindu |
Hinduisme |
2,729 |
| Banten |
Putu Satria |
2,510 |
| Cerita Mayadenawa, Latar Belakang Hari Galungan |
Berbagai Sumber |
1,907 |
| Reinkarnasi |
Wisnu |
1,900 |
| Galungan, Kejayaan Dharma dan Rekonsiliasi Nasional |
I Made Titib |
1,891 |
| Moksa |
Yoga Adi Purwanto |
1,554 |
| Kebenaran Reinkarnasi |
Wisnu |
1,506 |
| Makna Siwaratri dan Kesejahteraan Sulinggih |
Budi Paramartha |
1,483 |
| Grahasta |
Wisnu |
1,399 |
| Tentang Dana Punia |
Wayan Catrayasa |
1,394 |
| Yoga Marga |
Yoga Adi Purwanto |
1,353 |
| Catur Asrama |
Wisnu |
1,257 |
| Galungan : Pesan Universal, Tradisi Lokal |
Balipost |
1,217 |
| Menengok Keberadaan Pura Buwit di Desa Tulikup, Gianyar |
Oka Suryawan |
1,205 |
| Makna Hari Raya Kuningan |
Berbagai Sumber |
1,189 |
|
|
|
|
|
|
|